
"Mas, besok Mama mau pulang. Gimana kalau cari asisten rumah tangga, gimana menurutmu, Mas?" Rani bertanya pada Rio, saat Rio sudah pilang kerja. Sedangkan Laras di kamar menemani Rangga yang sudah terlelap.
"Ya, bisa aja sih. Kamu ada gambaran, mau gimana sistem cari ART-nya?" Rio pura-pura bertanya. Padahal pikirannya sudah kembali ke rencananya dulu.
"Aku belum ada gambaran sih, kalau mau seleksi-seleksi juga repot. Butuh biaya, waktu juga tenaga. Kayaknya aku nggak bisa deh."
"Gimana kalau kita minta Miranda aja? Dia dulu juga pengasuh bayi, bisa beres-beres rumah juga. Jadi udah berpengalaman." Rio menjalankan misinya.
"Tapi dia kan kerja, Mas?" Rani ragu.
"Ya, kita minta dia pindah kerja di sini aja. Lagian kita juga bayar dia, kan? Siapa tau dia mau." Rio masih berusaha membuat Rani yakin.
"Yaudah, coba aja, Mas. Kamu minta tolong temen kamu, buat bilang sama Miranda, kalau mau, besok langsung ke sini aja." Rani akhirnya pasrah.
"Oke, nanti aku kabari pacarnya Miranda." Rio tersenyum penuh arti.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Miranda sudah datang ke rumah Rani. Rio sudah berangkat kerja, jadi Rani yang menanggapi kedatangan Miranda.
"Pagi, Mbak. Katanya Mbak butuh pengasuh bayi, ya?" Miranda langsung pada intinya.
"Oh, iya, Mbak. Mari silahkan masuk!" Rani mengajak Miranda untuk masuk. Miranda menurut, dia masuk dan duduk di ruang tamu.
"Iya, Mbak. Saya butuh asisten rumah tangga, sekaligus mengasuh anak saya. Tapi kalau saat ini, saya masih cuti, jadi paling tugasnya membantu pekerjaan rumah aja. Tapi kalau besok saya sudah selesai cuti, tugas utamanya mengasuh anak saya, Mbak. Mbak Miranda mau?" Rani berkata dengan sopan.
"Iya, mau banget, Mbak." Miranda mengangguk mantap.
"Mbak udah nggak kerja di laundry?" Rani memancing.
"Udah enggak, Mbak. Aku di berhentikan, soalnya kemarin sering bolos." Miranda tertunduk.
"Loh, kenapa emangnya?" Rani mencium bau tidak enak. Kalau di sana saja sering bolos, bagaimana nanti kalau mengurus Rangga?
"Eh, emm, anu, Mbak. Kemarin anak saya sakit, jadi saya sering ijin. Tapi sekarang udah sehat kok, alhamdulillah." Miranda kebingungan mencari alasan. Karena sebenarnya dia sering bolos karena menemani Rio di rumahnya, selama Rani di rawat di rumah sakit.
"Oh, Mbak Miranda udah punya anak, ya? Saya malah baru tau."
"Iya, Mbak. Anak saya udah dua, satu kelas 2 SD, satu TK, makanya saya butuh kerjaan banget, Mbak. Buat hidupi anal-anak saya." Miranda berharap mendapat belas kasihan dari Rani.
"Oh, gitu. Katanya pacar Mbak Miranda temannya Mas Rio ya? Saya kira Mbak belum menikah."
"Saya udah janda, Mbak. Suami saya pergi sama perempuan lain." Miranda tertunduk.
"Maaf ya, Mbak. Saya nggak bermaksud membuat Mbak Mira jadi sedih." Rani merasa bersalah.
__ADS_1
"Iya, nggak papa, Mbak. Yang lalu biarlah berlalu." Miranda tersenyum, meyakinkan Rani kalau dia baik-baik saja.
"Sekarang udah dapat yang lebih baik, semoga aja bisa segera jadi suaminya, Mbak, ya." Rani berharap dengan tulus. Ia masih belum tau bahwa pacar Miranda sekarang adalah Rio, suaminya.
"Hehe, aamiin, Mbak." Miranda tersenyum kikuk. Dalam hati dia merasa bingung, mau mengaminkan atau tidak.
"Yaudah, Mbak. Kalau begitu mulai sekarang aja ya, langsung kerja. Katanya Mbak udah pengalaman jadi asisten rumah tangga, sama ngasuh anak juga, kan?" Rani tidak mau membuang waktu lama-lama.
"Iya, Mbak. Saya udah pengalaman di bidang itu. Mbak nggak perlu khawatir, kerjaan saya bersih dan rapi." Miranda tersenyum lebar.
"Emangnya laundry?" Rani tertawa.
"Hehe, maklum, Mbak. Baru aja keluar dadi laundry-an. Jadi masih suka kebawa suasana."
"Yaudah nggak papa, ayo kita ke dalam! Kita lihat dulu ruangan dan barang yang ada di rumah ini." Rani bangkit dari duduknya terlebih dulu. Disusul oleh Miranda.
Rani mengenalkan ruangan, yang hanya ada beberapa saja, juga mengenalkan pada Laras dan Rangga. Ternyata Miranda orang yang supel, dia bisa cepat akrab, ia juga bisa bergerak dengan gesit. Rani dan Laras langsung menyukai cara bekerja Miranda.
***
Tok tok tok!
"Siapa ya?" Miranda yang sedang membersihkan ruang keluarga menyahuti.
Miranda mengingat sejenak, namanya nampak tidak asing, baru kemudian tersadar. Dia adalah kakak iparnya Rio.
"Ya, sebentar!" Miranda bergegas ke depan, kemudian membukakan pintu untuk Fajar.
"Silahkan masuk!" Miranda membuka pintu lebar-lebar, memberi jalan untuk Fajar.
Tapi Fajar hanya diam pada tempatnya. Dia mengingat wangi Miranda yang khas. Wangi yang ada di rumah Rani sebelumnya, juga wangi perempuan yang berpapasan dengannya saat itu. Fajar yang tidak memperhatikan wajah Miranda saat itu, tidak bisa mengingat rupanya dengan persis. Hanya wanginya saja yang dia ingat.
"Mas? Ayo, silahkan masuk! Mau saya tutup lagi, banyak debu yang masuk nanti!" Miranda membuyarkan lamunan Fajar.
"Eh, iya, Mbak." Fajar masuk ke dalam rumah Rani dan langsung menuju kamar.
"Ma, mau pulang sekarang apa nanti?" Fajar manawari mamanya yang sedang menenangkan Rangga karena menangis.
"Eh, kamu udah datang. Udah dari tadi? Kok Mama nggak denger suara motor kamu?" Laras menoleh ke arah Fajar.
"Mungkin karena bayinya nangis, jadi nggak denger."
"Bentar ya, nunggu Rani selesai dari kamar mandi dulu. Baru kita pulang. Kamu istirahat aja dulu. Minta sama Miranda, mau minum apa."
"Miranda siapa, Ma?"
__ADS_1
"Tadi siapa yang bukain kamu pintu? Kalau bukan Miranda."
"Ooh, jadi dia namanya Miranda." Fajar manggut-manggut.
"Iya, dia yang mau ngasuh Rangga, besok kalau ditinggal Rani kerja. Kalau sekarang, sementara dia bantuin kerjaan rumah." Laras menjelaskan pada Fajar.
"Jadi dia bakalan di sini terus setiap hari? Nginep?" Fajar memperlihatkan wajah kagetnya.
"Iya, ke sini setiap hari, tapi nggak nginep. Kenapa kok kamu kaget gitu?" Laras heran dengan sikap anaknya.
Fajar berjalan mendekat, dan berbisik pada ibunya.
"Jadi? Dia?" Laras tercengang mendengar bisikan Fajar.
"Sssttt! Ini masih belum pasti, Mama diem aja, ya!" Fajar menutupkan telunjuknya di depan mulut.
"Oke, nggak papa. Kita nggak usah kasih tau Rani dulu, Mama udah pesen sama dia, untuk pasang kamera tersembunyi di kamar. Jadi bisa sekalian menangkap basah, kalau dia berbuat macam-macam sama Rio." Laras membalas berbisik pada Fajar, dia tidak mau kalau Miranda dan Rani mendengar percakapan mereka.
"Iya, Ma. Gitu aja." Fajar mengangguk sepakat.
Tak lama kemudian, Rani membuka pintu kamar mandi.
"Eh, Mas Fajar. Udah dari tadi?" Rani menyapa kakaknya.
"Udah lumayan, Ran. Aku mau jemput Mama. Udah lama aku nggak serumah sama Mama, rumah udah kaya kapal pecah. Jadi, Mama aku bawa pulang lagi, ya." Canda Fajar.
"Iya nggak papa, Mas. Makasih banyak ya, Ma. Untuk selama ini." Rani memeluk ibunya.
"Sama-sama, Nak. Kamu jaga diri baik-baik, ya. Jangan lupa, pesan Mama dijalankan. Pasang kamera tersembunyi, jangan sampai ada yang tau. Termasuk suami kamu." Laras berbisik pada Rani.
"Iya, Ma. Siap."
"Yaudah, Mama pulang dulu, ya!" Laras melepaskan pelukan putrinya.
"Mas Fajar nggak mau istirahat dulu? Minum? Makan? Biar Miranda buatin." Rani masih ingin menahan mamanya lebih lama.
"Enggak ah, aku pengen cepet pulang aja. Udah mau kangen-kangenan sama Mama." Fajar kembali bercanda.
"Yaudah deh kalau gitu." Rani cemberut.
Akhirnya Laras dan Fajar pulang meninggalkan rumah Rani. Laras kembali berpesan tentang hal yang sama, sebelum pergi.
"Jangan lupa, pasang kamera! Kalau perlu di setiap ruangan." Bisik Laras pada Rani.
***
__ADS_1