Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 8


__ADS_3

Setelah kejadian hari itu, Rio dan Rani akhirnya menikah dengan cara yang sangat sederhana, tanpa syukuran, apalagi pesta hajatan. Hanya menikah di KUA dan dihadiri keluarga inti saja. Tak pelak hal tersebut menjadi tanda tanya bagi tetangga Rani. Bahkan ada juga yang secara terbuka bertanya pada Rani yang kebetulan sama-sama sedang belanja di warung.


"Ran, kamu nikahan kok nggak pakai acara-acara, sih?" Tanya Bu Tinah, tetangga dekat Rani.


"Iya, Bu. Soalnya nggak ada biayanya, mending untuk bekal kehidupan setelah menikah." Jawab Rani sedikit berbohong terkait alasan sebenarnya.


"Oh, kirain ada yang disembunyiin. Kaya kakakmu dulu itu. Nikahnya kapan kita nggak ada yang tau, eh, tau-tau udah bawa balita aja." Bu Tinah kembali mengingatkan masa lalu.


"Iya loh, padahal anak perempuan, kan harusnya bikin hajatan yang meriah gitu, kalau emang nggak ada yang disembunyiin." Bu Sumini, pemilik warung ikut-ikutan menimpali.


"Nah iya, Bu. Saya aja kalau punya anak perempuan, pasti buat pesta besar-besaran kalau dia nikah." Ucap Bu Tinah lagi.


Rani tidak tahan dengan omongan tetangganya itu. Akhirnya dia memilih untuk menyudahi acara belanjanya saja.


"Sudah, Buk. Berapa ini totalnya?"


"Cepet-cepet amat, Mbak?" Sikap Rani tetap saja tidak elak dari komentar Bu Tinah.


"Iya, Bu. Pada belum sarapan soalnya." Jawab Rani berbohong.


Bu Sumini segera menghitung belanjaan dari Rani, kemudian mengatakan nominalnya. Rani segera membayar dan bergegas pulang.


"Duluan ya, Bu. Mari!" Ucap Rani sebelum pergi, meskipun tidak mendapat jawaban dari Bu Tinah maupun Bu Sumini.


Rani berjalan cepat menuju ke rumahnya. Dia tidak menoleh kanan kiri. Malas kalau harus menyapa para tetangga yang suka julid.


"Assalamu'alaikum." Ucap Rani seraya membuka pintu rumahnya.


"Wa'alaikumsalam. Kenapa wajahnya ditekuk gitu, Ran?" Tanya Mama Laras menyambut kedatangan Rani yang baru mau mulai belajar masak sendiri.


"Sebel, Ma. Di warung pada julid banget sama aku. Gara-gara nikah nggak pakai acara hajatan. Jadi mereka pikir aku sengaja sembunyiin sesuatu." Rani mendengus kesal.


"Ya emang kamu sembunyiin sesuatu, 'kan? Mereka ngomong fakta kok. Ngapain juga kamu jengkel?" Mama Laras justru bertambah menyudutkan Rani.


"Mama kok ngomong gitu, sih? Mama masih jengkel sama aku?" Rani kembali menyuarakan perasaannya.

__ADS_1


"Kamu nanya?" Ucap Mama Laras sebelum melengos pergi.


"Beneran deh kalau gini caranya. Aku nggak bakalan betah!" Ucap Rani sambil menghentakkan sebelah kakinya.


***


Malam harinya, saat Rio sudah pulang dari kerja, Rani menceritakan kejadian tadi pagi.


"Mas. Aku nggak betah lama-lama tinggal di sini." Ucap Rani bersungut.


"Emangnya kenapa? Kan ini rumah kamu?" Rio bertanya heran. Harusnya dia yang merasa tidak betah. Ini justru kebalikannya.


"Mama sepertinya masih jengkel sama aku. Masa, tadi aku cerita kalau ibu-ibu di warung pada julid sama aku, eh malah Mama nyalahin aku. Bukannya belain aku, malah belain ibu-ibu julid itu."


"Wajar lah, Yang. Kita emang salah sih. Mama kamu juga kalau lihat aku kelihatan banget nggak sukanya. Meskipun nggak pernah terucap, tapi dari sorot mata itu kelihatan banget kalau nggak suka sama aku." Rio juga ikut curhat.


"Butuh waktu berapa lama ya, Mas? Sampai semua bisa melupakan ini? Terlebih Mama." Rani menanyakan sesuatu yang tidak bisa dijawab oleh Rio.


"Nggak tau lah. Yang pasti nggak akan pernah lupa, tapi kalau sikapnya jadi lebih baik, mungkin butuh beberapa tahun." Jawab Rio asal.


"Apa kita bakal betah seperti ini terus, Mas? Apa kamu betah?"


"Trus gimana dengan aku, Mas?" Rani bertanya memelas.


"Kamu maunya gimana? Tinggal di rumahku? Rumahku sempit loh? Anggota keluargaku juga banyak. Apa kamu juga bakalan betah?" Rio memberikan tawaran.


"Aku pengen kita ngontrak aja, Mas. Atau ngekos juga nggak papa. Yang jauh dari sini, jadi aku nggak perlu ketemu sama tetangga sini yang pada julid." Rani mengutarakan keinginannya.


"Tapi nanti jadi menambah pengeluaran kita?" Rio nampak keberatan dengan ide Rani yang sekarang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Nggak masalah, Mas. Lagian kita berdua kan sama-sama kerja. Punya pendapatan semua. Kalau cuma buat bayar kontrakan kecil, atau kamar kos aja sih bukan masalah." Rani masih tetap kekeuh dengan keinginannya.


"Kita mau kos dimana? Kok kayaknya aneh gitu. Tempat kerja kita kan nggak jauh dari sini. Cuma sejam perjalanan pakai motor. Bilang apa sama Mama Laras?" Rio masih tetap keberatan dengan ide Rani.


"Ya, bilang aja kalau kita mau hidup lebih mandiri. Biar nggak ngerepotin Mama lagi. Kan kita udah beumah tangga, udah sepatutnya kita hidup terpisah dengan orang tua, 'kan?" Rani tidak mau kalah. Keputusannya sudah bulat.

__ADS_1


"Yaudah, terserah aja lah." Rio pada akhirnya mengalah.


"Nah, gitu dong, Mas." Rani tersenyum puas, akhirnya dia bisa menang.


***


Keesokan harinya, Rani mulai mencari-cari tempat kos di dekat rumah sakit tempatnya bekerja. Rani sengaja datang lebih awal dari jadwalnya masuk shift, karena mau mencari tempat tinggal baru yang cocok untuknya. Setelah berkeliling cukup lama, juga bertanya sana-sini, akhirnya Rani menemukan rumah kontrakan yang dia rasa cocok untuk dia tinggali.


Malam hari, sebelum tidur, Rani kembali berdiskusi dengan suaminya, terkait rumah kontrakan yang dia temukan tadi pagi.


"Mas, aku udah ada tempat kontrakan yang pas buat kita. Tempatnya bersih, harganya lumayan murah juga. Pokoknya pas banget." Ucap Rani dengan senyum riang.


"Dimana?" Rio menanggapi dengan tatapan masih tetap pada layar ponselnya.


"Di dekat rumah sakit tempatku kerja. Kan nggak jauh juga dari pabrik tempatmu kerja, Mas. Jadi enak kalau mau kerja dan pulangnya. Nggak capek di perjalanan."


"Oh, yaudah. Kapan kita mau pindah?" Tanya Rio, masih dengan fokus menatap layar ponselnya.


"Hari Minggu aja, Mas. Mumpung aku libur. Kamu juga libur kan? Nggak ada lembur?"


"Iya, aku libur."


"Oke, Mas. Nanti aku bilang sama Mama. Minggu kita pindah ke kontrakan."


"Ya, terserah kamu aja!" Jawab Rio singkat.


"Mas! Kamu itu lagi ngapain sih? Lihatin apa? Dari tadi sibuk banget sama HP? Istri ngajak ngomong penting aja responnya gitu banget!" Rani lama-lama sebal juga, melihat Rio yang terus asyik dengan HP-nya, padahal sedang diajak bicara hal yang penting.


Mendengar Rani yang protes, Rio segera menyimpan HP-nya.


"Iya, iya. Maaf Sayangku. Soalnya tadi lagi war. Jadi kalau kalah, nanti diomelin sama temennya." Rio beralasan.


"Kamu itu udah jadi suami loh, Mas. Kurang-kurangin itu main gamenya. Jangan dikit-dikit HP terus. Istrimu ini juga butuh perhatian, tau!" Rani mendengus kesal, masih belum bisa menerima alasan dari suaminya.


"Iya, maaf deh. Habisnya kamu ngajak ngobrol pas aku lagi war. Jadi ya, terpaksa aku jawab seperlunya."

__ADS_1


"Tuh kan! Emang lebih penting war ya, daripada ngobrol sama istri?!" Rani bersungut kesal, kemudian memilih untuk tidur, membelakangi suaminya.


***


__ADS_2