Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 30


__ADS_3

"Anak kita udah ditangani sama perawat, masih harus masuk inkubator, bernafasnya juga dikasih bantuan oksigen. Saat ini masih pakai oksigen normal, tapi kalau memang mebutuhkan, mungkin juga akan dikasih oksigen bertekanan, biar langsung sampai ke paru-paru dia." Rio menjelaskan gambaran kondisi anaknya.


"Semoga aja dia baik-baik saja." Rani meneteskan airmatanya. Saat ini, perasaan Rani lebih kacau lagi. Anaknya sudah terpisah dari dirinya, dan harus berjuang sendiri.


"Kita harus yakin, dia akan baik-baik saja. Dia memang lahir sebelum usianya, tapi berat badannya normal kok, sudah lebih dari 2,4 kg. Kata perawat tadi, tidak terlalu perlu dikhawatirkan. Hanya perlu menunggu sampai dia bisa lepas dari oksigen saja." Rio menenangkan istrinya.


"Syukurlah, terus aku harus gimana, Mas? Aku pengen lihat anakku." Rani mencoba duduk.


"Argh!" Ternyata bekas lukanya masih terasa sakit.


Laras dan Rio bergegas membati Rani berbaring kembali.


"Sudahlah, kamu jangan banyak bergerak dulu! Kamu harus istirahat sementara waktu, sampai kondisimu membaik." Laras menasehati Rani.


"Tapi, Ma. Aku pengen lihat anakku." Rani tetap mengotot, memang seperti itulah perasaan seorang ibu.


"Kamu belum bisa lihat anak kita, kalau kondisimu seperti ini, Yang! Masuk ke ruang NICU harus benar-benar steril. Sedangkan kamu, masih pakai infus, pakai kateter. Yang ada, kamu malah bisa membahayakan bayi-bayi yang ada di ruangan itu." Rio ikut menasehati Rani, yang sebenarnya sudah tau peraturan masuk NICU, hanya saja karena saat ini berbeda. Dia terdorong untuk segera bertemu dengan anaknya.


"Berarti sekarang kamu harus semangat pulih, supaya bisa cepat bertemu anakmu, Ran!" Laras menyemangati putri bungsunya itu.


"Betul, karena yang bisa melihat bayi di ruangan itu, cuma ibunya saja. Aku sebagai bapaknya pun nggak diperbolehkan untuk masuk ke sana lagi. Besok kalau kamu sudah pulih, kamu bisa minta ijin sama perawat untuk menjenguk an kita." Rio memberitahukan aturan lain yang diterapkan di rumah sakit itu.


"Terus sekarang aku harus apa, Mas? Anak kita makan apa?" Biasanya dia makan sari makananku, sekarang dia makan apa?" Rani kembali mengkhawatirkan anaknya.


"Makanya itu, kamu harus rileks dan tidak boleh stres, jadi nanti kamu bisa cepat keluar asinya. Sama perawat disuruh untuk memompa asi, setiap dua jam sekali, supaya asi cepat keluar. Seberapapun hasilnya, ditampung di wadah plastik asi, nanti diserahkan ke sana. Biar perawat yang akan memberikan asi kamu sama anak kita." Rio memberitahu apa yang harus dilakukan oleh Rani.

__ADS_1


"Tapi kita belum beli alat pompa dan lain sebagainya, Mas? Juga asiku belum keluar. Sekarang anak kita makan apa?" Rani kembali bertanya memastikan.


"Kata perawat tadi, bayi masih punya cadangan makanan, selama tiga hari. Jadi kamu harus berusaha agar asimu bisa keluar dalam waktu itu. Kalau belum keluar juga, nanti sama perawat akan dikasih asi milik bayi lain yang stok asi dari ibunya masih banyak. Tadi aku sudah tandatangan persetujuan." Rio menjelaskan apa yang dia bicarakan dengan perawat tadi.


"Tapi, Mas? Kalau dia dapat donor asi, terus gimana kalau di masa depan, dia suka sama orang yang ternyata saudara sepersusuan? Kasihan dia kan? Cintanya jadi tidak boleh diteruskan?" Rani berpikir jauh ke depan.


"Kamu nggak perlu khawatir, bayi kita laki-laki, dia pasti kuat. Perawat juga bilang kalau anak kita juga akan mendapat donor asi dari ibu yang punya bayi laki-laki. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan masa depan, tentang saudara sepersusuan atau yang lain sebagainya. Kamu harus berpikir positif! Anak kita baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu berpikir terlalu banyak. Tugas kamu sekarang harus segera pulih, juga harus rileks, supaya asimu segera keluar. Aku mau cari alat pompa sama wadah asinya dulu. Titip Rani ya, Ma!" Rio berpamitan.


"Iya, kamu tenang aja. Rani aman sama Mama." Laras tersenyum, saat ini dia justru bingung. Rio terlihat sangat perhatian dengan Rani, apa mungkin dia tega mengkhianati Rani? Tapi, hati orang memang siapa yang tau, kan? Semoga saja dugaan dia dan Fajar kemarin hanya salah paham saja.


"Trimakasih banyak ya, Ma. Saya mohon, Mama tetap sehat." Rio tersenyum hangat.


"Pasti! Mama bisa jaga kesehatan kok!" Laras tersenyum.


"Eh, tunggu dulu, Rio!" Laras menghentikan langkah Rio.


"Ada apa, Ma? Mau pesan sesuatu?" Rio membalikkan badannya.


"Iya, tolong ambilkan sekalian barang-barang yang dititipkan di tempat penitipan di ruang bersalin tadi! Mama nggak tega kalau meninggalkan Rani di sini sendiri."


"Baik, Ma. Nanti Rio bawa ke sini sekalian. Mama di sini aja, temani Rani. Nanti Rio bawakan makan siang sekalian."


Laras mengangguk. Rio melanjutkan langkahnya, meninggalkan ruang rawat inap Rani.


***

__ADS_1


Tak berapa lama setelah kepergian Rio, petugas gizi datang, memberikan jatah makan siang untuk Rani.


"Makan siangnya, Bu!" Petugas Gizi memberikan wadah makan pada Laras.


"Terimakasih, Mbak." Laras tersenyum, menerima tempat makan yang lebih besar daripada saat di ruang bersalin kemarin. Laras membuka tutupnya.


"Ran, lihat. menunya enak-enak banget. Ada buah sama susu juga ini. Dimakan ya?" Laras menawarkan Rani untuk makan.


"Emangnya aku udah boleh makan, Ma? Nanti aja lah, nunggu perawat datang. Takut kalau malah menyalahi aturan." Rani masih takut, karena dia belum lama dioperasi.


"Yasudah kalau begitu." Laras meletakkan jatah makan Rani di atas nakas.


Rani melihat ke arah tetangga satu kamarnya. Bayinya sudah ada di sampingnya, meski sambil duduk di ranjang, si Ibu bisa menggendong dan menyusui bayinya. Sambil melihat wajah dan mengusap-usap kepalanya.


"Beruntung banget dia ya, Ma. Bisa langsung bareng-bareng sama bayinya. Kalau aja kondisi Rani baik-baik aja, pasti Rani juga bisa melahirkan dengan normal seperti itu." Rani mengucapkan apa yang dia pikirkan.


Laras melihat ke arah tetangga Rani yang kebetulan tirainya terbuka sedikit.


"Kamu besok juga bisa seperti itu. Cuma harus bersabar sebentar. Semua demi kebaikan kalian berdua." Laras tau, apa yang dirasakan oleh putrinya itu.


"Anakku lagi ngapain ya, Ma? Wajahnya seperti apa ya? Mirip aku apa mirip Mas Rio, ya, Ma?" Rani kembali teringat dengan anaknya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi anaknya saat ini.


"Dia pasti ganteng. Dia juga pasti baik-baik saja. Kamu percaya saja, ada perawat yang baik hati, mereka akan menjaga dan memberikan yang terbaik untuk anak kamu." Laras kembali menenangkan Rani yang air matanya mulai menetes lagi.


"Aku lagi bayangin, Ma. Kalau dia nangis gimana? Apa perawat juga bakal menenangkan dia? Anak yang di rawat pasti kan juga banyak. Sedangkan perawatnya cuma beberapa. Apa anakku bakalan di dahulukan?" Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Rani.

__ADS_1


__ADS_2