Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 13


__ADS_3

Rani tetap bekerja seperti biasanya, meskipun kadang memang merasa mual dan lain sebagainya, Rani masih bisa mengendalikan dirinya. Rani tetap aktif dan energik seperti saat sedang tidak hamil. Apalagi saat kehamilannya sudah mulai masuk trimester kedua, dia sudah benar-benar bugar.


Aura kecantikan Rani semakin terpancar saat dia sedang hamil. Dia tetap bisa merawat dirinya, supaya tetap nyaman dipadang, apalagi profesinya sebagai perawat yang dituntut untuk berpenampilan rapi dan nyaman dipandang.


"Ran, sini!" Ajak Cindy, teman dekat Rani di tempat kerja.


"Ngapain?" Rani yang sedang sibuk dengan berkas pasien hanya menengok saja.


"Jangan serius-serius gitu lah. Nanti kamu stres. Ayo, sini bentar! Ikut kita-kita." Ucap Cindy lagi.


"Iya, ayo kita joget dulu!" Sahut teman-teman Rani yang lain.


"Oke, oke." Rani segera berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati Cindy juga teman-temannya yang sudah siap berpose di depan kamera HP milik Cindy.


"Nah, gitu dong." Semuanya bersoran senang.


"Ya ampun, mau ngapain sih?"


"Joget-joget dong."


"Astaga, aku nggak bisa joget!" Rani menolak.


"Nggak susah kok. Coba lihat ini videonya! Cuma gerak-gerakin tangan doang." Teman-teman Rani terus membujuk Rani supaya mau ikut berjoget.


Rani melihat video joget yang lagi viral. Dan coba-coba mengikutinya.


"Eh, iya, gampang ternyata. Cuma gerak-gerakin tangan gini doang." Rani tersenyum senang, dia berhasil mengikuti gerakan sesuai dengan yang dicontohkan dalam video.


"Ya emang gampang kok. Udah siap? Kita mulai ya?"


"Oke!" Jawab kelima perawat yang sedang piket jaga siang itu. Mumpung sedang jam istirahat, mereka mnggunakan waktu untuk menghibur diri sesekali. Salah satunya dengan berswafoto atau joget-joget, ikut apa yang sedang viral saat itu.


"Hahaha."


Mereka tertawa, saat mereka berhasil mengikuti gerakan sesuai dengan yang dicontohkan. Meskipun Rani terlihat belum selihai teman-temannya, tapi dia menyukai hal itu.

__ADS_1


"Simpen ya?" Ucap Cindy yang empunya HP.


"Simpen doong!" Sorak yang lainnya.


"Nanti kirim ya!" Rani tidak malu-malu untuk meminta video joget yang mereka buat tadi.


"Siap! Yuk foto dulu! Bangsal Melati Squad!" Ucap Cindy lagi.


Semua segera berfoto selfie, dengan pose terbaik mereka.


"Coba lihat! Coba lihat!" Mereka penasaran dengan hasil fotonya. Yang pasti, mereka sebenarnya hanya peduli dengan wajah masing-masing. Harus terlihat bagus, nggak peduli teman-temannya berpose seperti apa.


"Wah! Bagus! Nanti kirim juga ya!" Ucap Rani.


"Iya siap! Yaudah, yuk balik bertugas!" Mereka kembali melakukan tugas masing-masing.


Cindy segera mengirim foto dan video tadi ke grup yang mereka buat.


"Udah ku kirim ya, geng! Nanti jangan lupa di upload, buat story!" Ucap Cindy dengan riang.


"Aku nggak lah, nanti suamiku marah." Jawab Rani berbeda sendiri daripada teman-temannya yang memang suka memamerkan apa yang menjadi kegiatannya di medsos.


"Alah, nggak papa kali. Nggak usah takut gitu. Lagian kan kita cuma joget nampak atas doang. Nggak sampai yang seluruh badan kelihatan." Cindy mengompori Rani untuk tetap eksis dan tidak usah takut dengan suaminya.


"Ya udah deh, nanti aku buat story." Rani akhirnya mengalah.


"Nah, gitu dong. Lagian aku juga nggak yakin kalau suami kamu itu matanya nggak jelalatan. Dia pasti juga suka tuh, sama cewek-cewek yang goyang-goyang, apalagi kalau pakai pakaian ketat dan terbuka gitu. Coba aja deh di cek, kalau kamu nggak percaya!" Cindy kembali membuat Rani jadi berpikiran buruk terhadap suaminya.


"Enggak ah, Mas Rio biasanya cuma main game aja, kok." Rani tetap membela suaminya.


"Astaga, Rani! Kamu kan nikah udah lumayan lama, masa nggak tau kebiasaan suami kamu? Mana ada orang main HP cuma ngegame doang? Nggak bakalan ada! Pasti juga lihat video-video, di WA, di FB, di Tik-tok, Ig. Dan nggak ada yang jamin kalau sosmed suami kamu itu bersih dari video yang tidak senonoh. Lagian kaya gitu juga sekarang udah banyak banget. Udah menjamur." Ucap Cindy lagi.


"Iya juga sih. Nanti cobalah kalau di rumah, aku mau lihat, Mas Rio suka lihat apa aja." Rani akhirnya terpancing juga dengan ucapan Cindy.


"Iya. Coba aja. Jadi, kalau suami kamu larang-larang kamu buat status, kan kamu juga punya pembelaan. Masa kamu nggak boleh eksis, tapi dia sendiri suka lihat cewek-cewek pakaian ketat dan terbuka."

__ADS_1


"Iya juga sih."


"Yaudah, buruan deh, di buat story. Nggak masalah, nggak bakalan mengundang kejahatan juga, kok." Cindy kembali mengompori Rani.


"Iya, iya. Aku buat story deh." Rani mengambil HP-nya dan segera mengupload foto fan video yang dibuat bersama teman-temannya tadi.


"Nah gitu, dong. Biar nggak dikira nomer mati, nggak pernah buat story sih." Cindy tertawa kecil.


"Ya ampun, yang komen banyak banget ini!" Rani kaget sendiri, dia baru saja up story, tapi sudah banyak yang komen. Akhirnya dia sibuk membalas nomer-nomer yang memberikan komentar di storynya.


"Ternyata seru juga ya. HP jadi nggak sepi-sepi banget kalau ada yang chat gini." Rani tersenyum sendiri sambil sibuk memainkan HP-nya.


"Ya emang gitu. Biar HP nggak kaya kuburan." Cindy tersenyum senang, berhasil membuat Rani lebih terbuka dengan dunia luar. Selama ini memang Rani jarang sekali membuat story di medsosnya. Jangankan foto, kata-kata saja sangat jarang.


"Iya juga sih." Rani tidak terlalu menanggapi Cindy lagi, dia sudah sangat asyik dengan HP-nya.


***


Sepulang kerja, Rani dan Rio sama-sama main HP masing-masing. Meskipun mereka duduk bersampingan, tapi mereka asyik sendiri. Sesekali Rani melirik ke arah HP Rio, mencoba melihat, apa yang sedang ditonton oleh suaminya itu. Ternyata benar apa yang diucapkan oleh Cindy, Rio asyik melihat video perempuan pakaian terbuka, berjoget-joget dengan asyiknya di depan kamera.


"Mas, kamu lihat apa sih? Serius banget!" Ucap Rani yang sebenarnya cuma mengetes saja.


"Eh, enggak. Ini lihat video orang mukbang. Bikin pengen." Jawab Rio berbohong.


"Oohh." Rani cuma ber-oh ria. Sekarang dia jadi tau, kalau memang Rio ternyata suka bohong.


Rani kembali pura-pura asyik dengan HP-nya. Dia mau tau, apakah Rio akan menegurnya, atau mendiamkannya saja. Rani sengaja tertawa dan tersenyum sendiri, seolah-olah memang benar-benar sedang asyik.


"Kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri? Lihat apa sih?" Ternyata pancingan Rani berhasil, Rio jadi memperhatikannya.


"Enggak, cuma seru aja ternyata, bikin video terus di upload. Yang komen banyak banget. Pada muji aku yang tambah cantik pas lagi hamil gini." Jawab Rani tanpa melihat ke arah Rio.


"Oh, jadi kamu udah berani bikin video joget-joget ya? Biar apa sih? Biar semua orang bisa lihat lekuk tubuh kamu? Biar dipuji? Hapus, nggak? Sekarang!" Rio marah-marah tidak jelas.


"Enak aja! Aku nggak seperti video yang suka kamu tonton itu!" Jawab Rani, membuat Rio terperangah.

__ADS_1


"Video apa, sih?" Rio pura-pura tidak tau.


__ADS_2