
"Mas, akhir-akhir ini aku kok tambah sering pusingnya ya. Trus juga pandanganku mulai kabur." Ucap Rani sesaat setelah menyusul suaminya ke dalam kamar. Dia memilih topik pembahasan lain, daripada membahas Miranda yang mungkin akan membuat suaminya marah lagi.
"Kamu udah coba tensi belum?" Beruntung, Rio merespon keluhan Rani dengan baik.
"Belum, Mas."
"Lah kenapa? Kan bisa, pas lagi jaga itu nyoba tensi diri sendiri?" Rio merasa heran dengan istrinya, sibuk merawat pasien, tapi tidak merawat dirinya sendiri.
"Kalau lagi di rumah sakit suka lupa, Mas." Jawab Rani tanpa beban.
"Apa mau ke IGD sekarang? Daripada tambah parah? Kata Dokter Nita kemarin kan gitu? Kalau semakin parah, lebih baik langsung dibawa ke IGD?"
"Nggak ah, Mas. Aku masih baik-baik aja kok. Udah, kamu mandi dulu aja, Mas. Aku siapin makan malam. Kamu mau makan apa?" Rani masih tetap berusaha melayani suaminya, meskipun kondisinya sudah merasa sangat payah.
"Apa adanya aja, Yang." Jawab Rio, tidak mau menambahi beban istrinya.
"Oke, Mas. Nanti aku masakin nasi goreng."
"Iya nggak papa, aku mandi dulu."
Rio bergegas masuk ke kamar mandi, sedangkan Rani berjalan ke dapur, memasak nasi goreng untuk makan malam. Karena di rumah hanya ada nasi, sedangkan lauk dan sayurnya tidak ada.
Tak lama kemudian, nasi goreng buatan Rani sudah siap. Rio juga sudah selesai mandi. Mereka berdua segera menyantap makan malam mereka dengan khikmad.
"Mas, kita belum beli peralatan bayi sama sekali, nih. Kapan mau beli? Kan aku udah lebih dari tujuh bulan, jadi nggak papa kan, kalau mulai beli peralatan bayi?" Rani membuka percakapan, setelah mereka menyelesaikan makan malamnya.
"Mau beli sendiri, apa beli online aja? Terserah kamu aja sih, kalau mau beli ke toko, aku anterin. Tapi kalau mau beli online juga nggak papa, kan nggak perlu capek jalan-jalan milih dan lain sebagainya." Rio bisa juga diajak berbicara serius.
"Kalau mau beli online takut, Mas. Kalau bahannya nggak bagus, nanti malah bikin kulit bayi kita iritasi gimana? Kayaknya mending beli langsung aja deh, jadi bisa milih, bisa pegang langsung bahannya seperti apa." Rani menimbang-nimbang antara dua piliha yang diberikan oleh Rio.
"Yaudah kalau gitu, mau beli kapan? Sekarang juga? Mumpung aku di rumah?" Rio menawarkan.
"Iya nggak papa, Mas. Sekarang aja, mumpung belum terlalu malam juga." Rani setuju dengan usul Rio.
"Yaudah, siap-siap aja, kita berangkat sekarang."
__ADS_1
"Oke, Mas. Aku beresin ini dulu."
"Biar aku aja, kamu siap-siap sana!" Rio berbaik hati menggantikan tuga Rani.
"Oke, Mas. Makasih ya." Rani menurut, dia kembali ke kamar dan bersiap-siap. Sedangkan Rio membersihkan peralatan makan dan peralatan masak yang kotor.
Setelah sama-sama siap, keduanya segera berangkat ke toko serba ada yang ada tak jauh dari rumah kontrakan mereka.
"Beli apa dulu ya?" Rani nampak berpikir.
"Baju, sama alat mandi." Rio memberi saran.
"Iya ya, yuk ke lantai atas!" Rani bersemangat sekali berjalan menuju eskalator, seperti tidak sedang membawa beban berat di perutnya.
"Ke pakaian bayi dulu ya, Mas." Ajak Rani.
"Oke."
Mereka berdua berjalan menuju ke tempat pakaian bayi. Dengan penuh semangat, Rani berjalan ke deretan pakaian bayi. Ia berjalan ke sana kemari memilih apa saja yang akan dia beli. Dari mulai baju, celana, popok, topi, sarung tangan dan kaki. Tak lupa juga membeli kain untuk bedong, kain untuk menggendong dan lain sebagainya.
"Mmm, kayanya udah, Mas. Tinggal alat mandi aja, sama alat kebersihan lain. Di sebelah mana ya?" Rani melihat-lihat ke sekeliling. Ternyata apa yang dia cari masih ada di lantai yang sama.
"Ke sana, Mas!" Rani menunjuk ke arah peralatan mandi bayi berada.
"Oke."
Mereka berdua kembali berjalan ke ujung bagian di lantai dua toserba itu. Rani segera memilih apa saja yang akan dia beli. Mulai dari peralatan kebersihan bayi, termasuk juga bak mandi dan lain sebagainya.
"Hhh, Mas. Kok nafasku jadi berat, ya. Rasanya sesak banget. Apa karena ruangannya yang penuh sama orang dan barang? Jadi udaranya kurang?" Di sela-sela memilih barang, Rani mengeluhkan kondisinya.
"Kamu kecapean, Yang? Dari tadi jalan-jalan terus." Rio melihat ke wajah Rani yang sudah mulai berkeringat.
"Enggak, Mas. Aku nggak capek, cuma tiba-tiba aja nafasku jadi sesak gini. Kepalaku pusing." Rani kembali mengeluhkan apa yang dia rasakan.
"Udah dulu belanjanya, ya! Kita pulang aja? Apa mau istirahat dulu?" Rio khawatir juga melihat kondisi istrinya yang jauh berbeda dengan saat berangkat tadi.
__ADS_1
"Kita pulang aja, Mas. Nanti keburu tokonya tutup."
"Yaudah, ayo kita pulang. Jalan pelan-pelan masih bisa? Apa aku gendong?"
"Jalan pelan-pelan aja, Mas. Kasian kamu kalau harus gendong aku yang gendut ini."
"Oke, aku bantu pengangin. Biar nggak limbung."
Rio cukup kerepotan, membawa barang mereka yang sangat banyak.
"Bentar, aku ambil troli dulu. Kamu tunggu sini aja, ya! Jangan kemana-mana!" Rio berpesan pada istrinya.
"Oke, Mas."
Rio segera berjalan cepat, mengambil troli yang ada di dekat kasir lantai dua itu. Kemudian segera kembali ke tempat Rani berada. Namun betapa kagetnya dia saat mengetahui Rani sudah berada dalam kerumunan banyak orang.
"Tolong panggil bantuan!" Teriak salah seorang di antara orang yang mengerubungi Rani.
Dengan langkah seribu, Rio segera mendekati Rani. Kepanikan tergambar jelas di wajahnya. Dia belum tau apa yang sedang terjadi pada istrinya. Dia segera membelah kerumunan yang ada.
"Itu istri saya! Tolong beri jalan!" Ucap Rio sambil berusaha merangsek mendekati Rani. Seketika orang-orang memberi jalan, sambil berbisik-bisik. Mengatai Rio dengan berbagai macam hal, sesuai dengan keinginannya masing-masing. Rio tidak mendengarkan itu, yang dia pikirkan hanya kondisi Rani.
"Sayang! Sayang!" Rio mengguncang-guncangkan tubuh Rani yang sedang kejang. Matanya sudah memejam. Lidahnya terjulur keluar, sedangkan giginya menggigit lidahnya sendiri.
"Jangan seperti ini, Sayang!" Rio berteriak panik. Dia takut kalau sampai lidah Rani putus karena digigit sendiri.
"Pak, Pakai ini!" Salah satu pegawai toserba memberikan karet yang sebenarnya untuk mainan bayi, untuk latihan menggigit.
"Trimakasih!" Rio segera menggunakannya untuk mengganjal gigi Rani yang terus saja berusaha menyatu antara gigi atas dan bawah itu.
"Tolong, bantuan! Siapa yang bawa mobil? Tolong saya! Istri saya harus segera dibawa ke rumah sakit!" Rio berteriak kepada siapa saja yang bersedia menolong.
"Pak, di bawah sudah ada ambulance! Akan segera dikirimkan brankar ke sini." Ucap salah seorang pegawai toserba pada Rio.
"Trimakasih banyak!" Rio merasa sedikit lega, meskipun dia belum tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Setidaknya Rani akan segera ditangani oleh tim medis.
__ADS_1
***