Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 19


__ADS_3

Dua hari kemudian, Rio pulang bekerja bersama seorang perempuan muda yang berwajah cantik meskipun karena make up-nya yang tebal. Rani yang membukakan pintu untuk suaminya, tentu saja sangat terkejut.


"Mas? Kamu sama siapa ini?" Tanya Rani seketika.


"Ini, yang aku janjikan sama kamu kemarin. Namanya Miranda, rumahnya nggak jauh dari sini. Dia yang akan nemenin kamu kalau aku lagi kerja." Rio menjelaskan siapa yang bersamanya saat ini.


"Halo, Mbak! Aku Miranda." Ucap perempuan itu, mengajak Rani bersalaman.


"Oh, ya. Aku Rani." Rani menyambut baik perkenalan dari Miranda.


"Iya, Mbak. Mas Rio udah mengenalkan Mbak Rani secara singkat." Ucap Miranda lagi.


"Oh gitu ya. Mbak Miranda nggak kerja atau gimana?" Rani bertanya lebih lanjut.


"Saya kerja di laundry sebrang jalan sana, Mbak. Tapi cuma dari pagi sampai sore. Jadi kalau cuma nemani Mbak Rani dari sore sampai Mas Rio pulang, nggak masalah. Nggak mengganggu kerjaan sama sekali." Miranda menjelaskan tentang pekerjaannya.


"Ya sudah kalau gitu, trimakasih banyak sebelumnya." Ucap Rani sambil tersenyum.


"Sama-sama, Mbak. Saya juga berterimakasih." Balas Miranda.


"Terimakasih untuk apa?"


"Terimakasih karena saya jadi bisa...." Miranda menggantung ucapannya. Dia nampak berpikir sejenak.


"Bisa dapat penghasilan tambahan!" Rio ikut menyahuti, takut jika Miranda mengatakan sesuatu yang tidak-tidak.


"Iya, Mbak. Trimakasih karena saya jadi dapat tambahan uang. Kata Mas Rio, saya akan dapat bayaran, meskipun cuma nemenin Mbak Rani." Miranda melanjutkan ucapannya. Meskipun sebenarnya buka itu yang ingin dia ucapkan tadi.


"Oh, ya. Tapi kami minta maaf, karena nggak bisa kasih banyak, cuma semampu kami berdua aja." Rani tidak menaruh rasa curiga dengan gelagat aneh dari dua orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Nggak papa, Mbak. Itung-itung juga biar saya nggak kesepian di kos sendirian." Jawab Miranda sambil tersenyum.


"Di sini kamu kos? Di sebelah mana?" Rani bertanya-tanya lebih lanjut, biar bagaimanapun, dia harus mengetahui lebih banyak tentang orang yang akan bersamanya untuk beberapa waktu ke depan.


"Iya, Mbak. Saya kos di sebrang jalan juga. Di belakang laundry itu kan ada kos-kosannya. Nah saya kost di sana. Jadi deket dari sini, cukup jalan kaki lima menit juga udah sampai." Jawab Miranda dengan detail.


"Oh gitu ya, udah lama kost di sana? Apa baru aja?"


"Belum terlalu lama sih, baru sekitar satu bulan. Soalnya juga saya belum lama pindah ke sini. Dulu saya kerja jadi pengasuh anak. Tapi kena kasus sama majikan, jadi saya pilih pindah aja. Dan akhirnya nemu kerja di laudry-an situ." Miranda menjelaskan sedikit tentang dirinya.


"Begitu ternyata. Di laundry-an nggak disediakan kos-kosan? Menginap di sana sekalian gitu? Kan biasanya ada yang sekalian ada tempat untuk menginap gitu?" Rani kembali bertanya-tanya.


"Itu, kos yang saya tempati juga pemilik laundry, Mbak. Cuma emang terpisah, laundry-an di depan, dan kos-kosan di belakangnya. Tapi itu pemiliknya sama."


"Oh gitu, ya. Kamu udah menikah apa belum? Di sini merantau atau gimana? Trus kenal sama Mas Rio udah lama apa belum? Kok bisa kenal sama Mas Rio? Gimana critanya?" Rani kembali bertanya, kali ini lebih dalam lagi, demi memuaskan rasa keingintahuannya.


"Eh, em, itu. Anu...." Miranda gelagapan mendengar pertanyaan dari Rani.


"Iya, Mbak. Dulu saya pernah menikah, tapi suami saya nggak tanggung jawab. Jadi kami cerai. Trus saya merantau ke kota ini, anak saya di desa, tinggal sama orang tua saya. Nah sekarang saya baru punya pacar, dan pacar saya itu salah satu temannya Mas Rio kerja. Jadi kami saling kenal." Miranda membenarkan, meskipun terkesan ada yang ditutupi.


"Oh gitu. Cuma pengen tau aja. Kalau gini kan jadi jelas. Bukannya aku curiga atau mikir aneh-aneh, cuma pengen tau aja. Kok kalian bisa saling kenal gitu. Padahal katanya baru pindah sebulan yang lalu, Mas Rio juga nggak pernah ke laundry kan, selalu cuci pakaian sendiri. Jadi kan wajar kalau aku tanya, kalian kenal dari mana?" Ucap Rani enteng.


"Yaudah nggak papa. Sekarang kan kamu udah tau, jadi ya nggak usah khawatir atau curiga." Lagi-lagi Rio yang menanggapi.


"Iya, Mas. Eh, ayo masuk dulu! Maaf ya, dari tadi malah nggak dipersilahkan masuk." Rani membuka pintu depan lebar-lebar.


"Eh, nggak usah, Mbak. Ini saya mau balik lagi aja. Katanya cuma mau dikenalin dulu, belum mulai bertugas sore ini, kan?" Miranda menolak ajakan Rani untuk masuk ke rumahnya.


"Yaudah kalau gitu, aku minta nomer HP kamu aja! Jadi nanti kalau aku butuh ditemani, bisa langsung menghubungi kamu." Ucap Rani kemudian.

__ADS_1


"Oke, Mbak."


"Sebentar!" Rani berjalan pelan menuju ke ruang tengah, mengambil HP-nya yang tergeletak begitu saja. Tak lama kemudian, Rani kembali lagi ke depan.


"Udah, berapa nomermu?" Tanya Rani lagi, saat sudah berada di depan Miranda dan Rio lagi. Miranda mendiktekan beberapa digit nomer HP-nya, sedangkan Rani menuliskan nomer Miranda di HP-nya.


"Oke, aku simpan nomermu. Nanti aku kabari lagi, kapan aku minta bantuan untuk menemani aku di sini." Rani menyimpan nomer ponsel milik Maharani.


"Baik, Mbak. Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Mbak." Ucap Miranda sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rani.


"Baik, hati-hati ya! Terimakasih banyak." Rani menyambut salam dari Miranda, kemudian melepaskannya.


"Iya, Mbak."


Miranda segera pergi dari rumah kontrakan Rani dan Rio sore itu. Sedangkan Rani dan Rio masuk ke dalam rumah.


"Dia bener pacar temen kamu, Mas?" Lagi-lagi Rani menanyakan hal yang sama.


"Ya bener lah. Ngapain juga aku bohong." Jawab Rio ketus.


"Ya nggak usah ketus gitu juga jawabnya, Mas. Kalau kamu bersikap seperti itu, malah bikin aku jadi curiga." Rani balas menjawab dengan ketus.


"Trus aku harus jawab gimana? Nggak usah banyak curiga! Kalau emang nggak setuju dia yang nemenin kamu ya nggak papa, nggak usah sama dia. Aku nggak mau cari yang lain. Kalau kamu mau ganti, cari sendiri! Aku capek. Udah di cariin yang paling gampang aksesnya ke sini dan lain-lain, masih aja nggak trima. Udah lah, males!" Rio bertambah sewot saja. Dia meninggalkan Rani yang masih berdiri di ruang tamu.


"Apaan sih, Mas? Kok jadi marah gitu? Aku nggak bilang kalau nggak mau sama dia kok." Jawab Rani setengah berteriak, supaya di dengar oleh suaminya.


Tapi sudah tidak ada jawaban.


"Apa aku emang keterlaluan?" Tanya Rani pada dirinya sendiri. Namun kemudian dia hanya mengendikkan kedua pundaknya.

__ADS_1


***


__ADS_2