
"Makanya, kamu harus segera sehat, Ran! Biar bisa cepet jenguk anak kamu. Kalian nggak berjauhan kok, cuma pisah kamar aja. Jadi kamu nggak perlu khawatirkan anak kamu, ya! Sekarang fokus sama kesehatan kamu. Kalau anak kamu di sini, tapi kondisi kamu masih seperti ini, kasian juga dia. Kalau nangis, tetep kamu bakalan kesulitan nolongin dia. Mau gendong juga gimana? Perut kamu masih sakit, kan?" Laras mencoba membuat Rani berpikir positif.
"Iya juga ya, Ma." Ternyata ucapan Laras bisa mengena pada Rani. Seperti anak-anak, Rani juga butuh penjelasan yang masuk akal, sampai bisa menerima keadaan.
"Nah itu, makanya. Kamu cepat sembuh, biar cepat bisa merawat anakmu." Laras menggenggam putri bungsunya itu.
Rani mengangguk mantap. Dia sudah bertekad, untuk segera sembuh.
"Ma, aku pengen buang angin. Apa nggak papa? Di sini?" Rani sungkan kalau nanti buang angin berbunyi, atau berbau.
"Iya, nggak papa. Malah bagus kalau bisa buang angin, berarti pencernaan kamu berfungsi dengan normal." Laras mempersilahkan Rani.
"Maaf ya, Ma!" Rani mengeluarkan gas buangan, akhirnya merasakan lega.
"Iya, nggak papa. Tenang aja!" Laras kembali menenangkan Rani.
Tak lama kemudian, beberapa orang perawat datang ke ruangan Rani, mereka mengunjungi bilik sebelah Rani terlebih dahulu.
"Siap-siap dulu, nanti ada perawat ke sini." Laras mengingatkan Rani, yang hanya dijawab dengan anggukan saja.
Selanjutnya giliran Rani mendapat kunjungan.
"Selamat siang, Bu!" Perawat memberi salam dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat siang, Sus." Rani dan Laras menjawan dengan kompak.
"Bagaimana keadaannya, Bu? Ada keluhan?" Perawat kembali memberikan pertanyaan, sebagai bentuk kepedulian terhadap pasien, juga untuk menentukan jenis pelayanan yang akan diberikan.
"Nggak ada, Sus. Cuma masih agak sakit aja kalau tiba-tiba dipakai untuk duduk." Rani mengatakan apa keluhannya.
"Baik, dicoba ya, Bu. Untuk miring kanan kiri dulu. Kemudian duduknya pelan-pelan, jangan langsung duduk seperti orang sehat. Dari posisi miring dulu, baru kemudian duduk ya, Bu. Mari saya bantu!" Perawat menangani Rani dengan sangat baik. Rani dilatih untuk belajar miring, duduk, berdiri, juga berjalan-jalan di sekitar tempat tidur.
"Sementara cukup ya, Bu. Nanti sambil latihan sendiri. Kalau sudah merasa enakan, bisa berjalan ke kamar mandi, nanti kita latih untuk lepas kateternya." Perawat membantu Rani untuk berbaring lagi.
"Baik, Sus." Rani dan mamanya menjawab dengan kompak.
"Oh ya, maaf, Bu. Sudah keluar asinya belum ya?" Perawat kembali bertanya pada Rani.
"Belum dilihat, Sus."
"Ini sudah ada kok, Bu. Nanti tinggal dilatih aja, dikeluarkan. Dipencet-pencet sendiri. Kalau sudah mulai banyak, nanti dipompa pakai pompa asi. Asinya dikumpulkan ya, Bu! Seberapapun hasilnya, setiap dua jam sekali, dipompa, dimasukkan ke plastik khusus asi. Di kasih tanggal dan jamnya, nanti diserahkan ke ruang bayi, biar disimpan di freezer. Kalau jamnya minum asi, nanti perawat di sana tinggal memanasi dan memberikan ke bayinya Ibu." Perawat memberikan keterangan lebih jelas, tentang apa yang biasa dilakukan para perawat di ruang bayi.
"Baik, Sus." Rani sedikit lebih lega, mendengar penuturan dari perawat yang memeriksanya saat ini.
"Nanti, biasanya akan terasa sakit dan sedikit bengkak. Dikompres aja pakai air hangat, sambil terus dipompa asinya. Sebisa mungkin rutin tiap dua jam sekali ya, Bu. Anggap seperti sedang menyusui bayi. Meskipun malam hari, karena itu berpengaruh pada produksi asi. Supaya besok kalau bayinya sudah bisa lepas oksigen, Ibu bisa langsung menyusui bayinya. Nanti akan ada pemberitahuan dari perawat khusus bayi ya, Bu. Sekarang fokus untuk sembuh dulu, biar bisa lepas semua alat. Jadi bisa cepat ketemu bayi Ibu." Perawat kembali memberikan semangat pada Rani.
"Baik, Sus." Rani mengangguk mantap, meskipun air matanya menetes, tiap kali teringat bayinya yang bahkan belum dia lihat bagaimana rupanya.
__ADS_1
"Soalnya masuk ke sana harus steril, Bu. Nggak boleh pakai infus, apalagi kateter seperti ini. Nggak akan dibolehin sama perawat sana. Alas kaki saja harus pakai yang di dalam ruangan, nggak boleh pakai alas kaki punya sendiri. Nggak boleh menganbil foto ataupun video, selama bayi masih di ruangan itu. Pokoknya di sana benar-benar ketat peraturannya. Nggak ada yang boleh menengok, kecuali ibunya. Bapaknya saja kalau bukan karena hal yang sangat mendesak, tidak boleh masuk." Perawat kembali memberitahukan aturan yang ada di rumah sakit itu.
"Baik, Sus. Berarti saya harus lepas dari semua alat dulu, baru bisa ketemu sama anak saya, ya?" Rani merasa lebih bersemangat saat ini.
"Iya, Bu. Syukur kalau bayi ibu bisa lebih dulu lepas oksigen. Jadi bisa dibawa ke sini. Tapi itu kemungkinannya kecil sih, Bu. Mengingat bayi ibu sedikit kurang umur. Mungkin butuh waktu satu minggu, sampai paru-parunya benar-benar kuat untuk bernafas normal."
"Semoga saja secepatnya bisa lepas dari oksigen." Rani harap-harap cemas.
"Iya, Bu. Sekarang Ibu fokus untuk pemulihan, juga produksi asi harus diusahakan. Banyak makan protein, Bu. Pokoknya makanan dari sini, usahakan dihabiskan. Kami berusaha untuk memberikan makanan sesuai dengan kebutuhan pasien. Boleh juga kalau mau ditambah makanan dari luar, susu, buah, jus dan lain sebagainya juga boleh." Perawat memberi saran lebih pada Rani.
"Baik, Sus." Rani dan Laras mengangguk paham.
"Kalau begitu, kami permisi dulu ya, Bu. Kalau ada apa-apa, bisa pencet bel di sebelah sana!" Perawat berpesan sebelum pergi.
Namun tiba-tiba saja terjadi keributan di bilik sebelah Rani.
"Sus! Suster!" Suami dari pasien seruangan dengan Rani memanggil perawat yang akan meninggalkan bilik Rani.
"Ya, Pak. Ada apa?" Perawat segera ke bilik sebelah Rani, untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Tolong anak saya, Sus! Kenapa dia nggak bergerak? Dia juga nggak bernafas!" Si ayah bayi berteriak panik. Rani dan Laras bisa mendengarnya dengan jelas. Meskipun selebihnya, mereka hanya menguping saja. Laras juga tidak berani ikut melihat ke bilik sebelah, tidak mau dianggap mengganggu penanganan.
Dari apa yang di dengar, ternyata bayi dari tetangga bilik Rani meninggal dunia. Tanpa sebab yang jelas. Padahal sebelumnya, dia terlahir sehat dan normal semuanya. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari bayi itu. Jantung Rani berdegup lebih cepat. Dia takut kalau anaknya juga mengalami hal yang sama.
__ADS_1
Jangankan anak Rani yang masih butuh alat bantu, bayi yang dinyatakan sehat dan normal saja, tiba-tiba bisa meninggal, tanpa diketahui sebabnya.
"Ma! Gimana anak Rani ya, Ma! Aku takut kalau dia kenapa-napa. Aku benar-benar takut, Ma!" Rani kembali meneteskan air matanya.