Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 11


__ADS_3

Saat sedang memikirkan kecurigaannya terhadap suaminya, tiba-tiba saja pintu depan dibuka. Rani segera pura-pura tidur.


"Yang?" Rio mengguncang tubuh Rani yang menghadap ke samping, membelakanginya. Rani segera menggeliat dan membalikkan badannya. Tak lupa mengedip-ngedipkan matanya, seperti mengumpulkan nyawanya.


"Hmm, Mas. Kamu udah pulang?" Tanya Rani dengan suara dibuat-buat serak, seperti orang habis tidur beneran.


"Iya, ini aku udah dapet alat tesnya. Sama aku belikan obat mual. Coba sana di tes dulu!"


"Oke, Mas."


Rani segera mengambil satu alat tes kehamilan yang dibelikan Rio. Kemudian membawanya ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Rani mencelupkan alat tes kehamilan ke dalam urine yang sudah dia tampung di wadah kecil bekas tutup obat batuk. Dia menunggu reaksi pada alat tes tersebut selama beberapa saat. Dia harap-harap cemas melihat warna merah yang bergerak dari bawah ke atas itu. Lama-lama warna merah itu memudar, meninggalkan garis di bagian tengahnya.


"Mas! Aku hamil!" Teriak Rani sambil membuka pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


"Beneran?" Tanya  Rio memastikan.


"Iya, Mas. Lihat nih, dua garis merah. Artinya aku positif hamil!" Rani bersorak senang.


"Syukurlah. Berarti aku emang laki!" Rio membanggakan dirinya.


"Mas, kok malah itu yang dipikirin sih?" Rani merasa heran dengan apa yang diucapkan suaminya itu.


"Loh, bener, 'kan? Apa ada yang salah? Kalau kamu bisa hamil kan berarti emang aku laki."


"Ya, enggak salah sih, cuma aneh aja respon kamu itu. Nggak wajarnya orang yang bahagia mau punya anak."


"Aku juga bahagia kok, tapi aku mengungkapkan dengan cara yang berbeda dari yang lain. Nggak masalah, 'kan?" Rio tidak merasa aneh sama sekali dengan apa yang dia ucapkan.


"Ya, nggak masalah, sih." Jawab Rani pada akhirnya.


"Yaudah, nanti kita periksa ke dokter. Aku temani. Mumpung aku masuk sore. Aku masak dulu buat kamu, ya." Ucap Rio lagi.


"Oke, Mas."


Dengan sigap, Rio memasakkan makanan untuk Rani. Termasuk juga menanak nasi. Tak berapa lama kemudian, masakan sudah siap.


"Sayang, ayo makan dulu! Udah mateng." Ajak Rio pada Rani yang masih di kamarnya.


"Oke, Mas."


Rani berjalan ke dapur, mengambil makanan di sana dan membawa ke ruang tengah.


"Kamu masih bisa makan, 'kan?" Tanya Rio penasaran.


"Kayaknya sih bisa, Mas. Tapi nggak tau nanti." Rani menyuapkan makananya. Baru beberapa suap, ternyata perutnya menolak. Dia segera berlari ke wastafel dapur lagi.


"Hoek!"

__ADS_1


"Hoek!"


Rio ikut membuntuti, dia memijit-mijit bagian tengkuk Rani, berusaha meringankan beban istrinya itu.


"Haduh, Mas. Makanannya balik lagi. Sakit banget tenggorokanku." Ucap Rani saat sudah mengeluarkan isi perutnya untuk kedua kalinya hari pagi ini.


"Nggak papa, namanya juga hamil muda. Emang suka seperti itu. Kita ke dokter aja sekarang ya. Kamu siap-siap dulu, aku habisin sarapan."


"Oke, Mas."


Rani kembali ke kamar, siap-siap mau ke dokter. Namun tiba-tiba Rio memanggilnya lagi.


"Yang?"


"Ya, kenapa, Mas?" Jawab Rani lemah.


"Kamu tadi telfon aku?" Rio datang ke kamar sambil melihat ponselnya.


"Iya, Mas. Aku mau nitip minuman yang seger, tapi ternyata aku denger bunyi HP kamu di rumah. Jadinya nggak jadi pesen apa-apa." Jawab Rani berbohong.


"Ooh, kamu nggak lihat-lihat HP-ku, 'kan?" Tanya Rio menyelidik.


Rani diam sejenak. Kalau dia bilang HP-nya terkunci sandi, bisa ketahuan kalau dia tadi coba-coba buka HP suaminya itu.


"Enggak, Mas. Ngapain lihat-lihat HP-mu? Emangnya ada apa di sana?" Rani mencoba memancing, sambil memperhatikan respon yang akan diberikan suaminya.


"Eh, ya nggak ada apa-apa sih." Rio tampak gelagapan sendiri, mendengar pertanyaan Rani.


"Nggak ada yang kusembunyiin, kok." Ucap Rio mencoba membela dirinya.


"Oke, gimana kalau kita sepakat, HP kita nggak usah dikasih sandi dalam bentuk apapun?" Rani memberanikan diri mengemukakan pendapatnya.


"Jangan, dong. Nanti kalau ada orang lain yang sembarangan buka HP kita gimana?" Rio keberatan.


"Yaudah kalau gitu, kita harus kasih tau sandi HP kita satu sama lain. Gimana?"


"Emangnya buat apa sih? HP kan privasi masing-masing?" Rio masih saja keberatan dengan ide dari istrinya itu.


"Astaga, Mas. Kita itu suami istri apa bukan sih? Emang masih ada privasi diantara suami dan istri? Bahkan barang yang sangat terjaga dari orang lainpun sudah kita buka satu sama lain. Harusnya nggak ada lagi yang ditutup-tutupi. Apalagi cuma HP." Rani mendadak jadi kesal dengan jawaban Rio yang tidak mau pro dengan keinginannya.


"Yaudah deh, kalau emang itu mau kamu. Nanti aku ganti jadi pola aja, biar gampang kalau kamu mau periksa-periksa HP-ku." Rio akhirnya mengalah.


"Nah, gitu kek dari tadi. Jadi aku nggak perlu marah-marah, 'kan?"


"Hmm. Yaudah deh, ayo berangkat periksa! Mau di mana? Di rumah sakit tempatmu kerja, atau dimana?" Rio mengalihkan pembicaraan.


"Nggak mau, Mas. Antrinya banyak banget. Ke rumah sakit khusus ibu dan anak di dekat toko mas itu aja." Rani memilih rumah sakit yang menurutnya lebih nyaman untuk ibu hamil.


"Yaudah, ayo berangkat!"

__ADS_1


"Kamu nggak mau mandi dulu? Bau masakan, loh!" Rani mengibaskan tangannya di depan hidung.


"Iya ya. Yaudah aku mandi bentar. Coba kamu hubungi RS-nya! Bisa daftar online, apa enggak?"


"Oke, Mas."


Rani segera menghubungi nomer rumah sakit yang tertera di sosial media rumah sakit tersebut. Tak lama kemudian, dia sudah mendapat balasan.


Rio kembali bertanya saat selesai dari kamar mandi.


"Gimana? Udah daftar?"


"Belum, Mas. Suruh daftar di sana langsung aja kalau periksa sekarang. Daftar online cuma buat yang mau pesan jadwal aja."


"Oke, yaudah kita langsung kesana aja."


Rio bersiap, dan mereka berdua menuju ke rumah sakit ibu dan anak yang dimaksudkan oleh Rani. Sesampainya di rumah sakit, Rani berjalan duluan ke pendaftaran, sedangkan Rio memarkir motornya dahulu.


"Mbak, mau periksa kandungan." Ucap Rani sambil menyerahkan KTP-nya.


"Umum atau BPJS, Bu?"


"Umum, Mbak."


"Sudah pernah kesini sebelumnya?"


"Belum."


"KTP suaminya ada, Bu?"


"Oh, bentar Mbak. Masih di parkiran."


"Baik, Bu. Nanti diberikan kalau sudah ada ya!"


"Ya, Mbak."


Rani duduk di kursi yang ada di depan loket pendaftaran. Tak lama kemudian Rio sudah menyusul.


"Gimana?"


"Lagi daftar, Mas. Butuh KTP-mu. Kamu bawa kan?"


"Iya, ini ada." Rio mengambil KTP dari dompetnya dan menyerahkan pada Rani.


"Mbak, ini KTP suami saya." Ucap Rani sambil menyerahkan KTP Rio di meja pendaftaran.


"Baik, Bu. Ditunggu sebentar, ya!"


Rani dan Rio menurut, mereka menunggu dengan sabar.

__ADS_1


***


__ADS_2