Memaksa Restu

Memaksa Restu
Bab 18


__ADS_3

"Protein urine-nya sih negatif, Mas. Trus yang lainnya juga normal." Jawab Rani menunjukkan hasil labnya pada Rio.


"Oke syukurlah, berarti nggak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Semoga aja, Mas. Cuma masalahnya kalau kakiku terus membengkak gini, juga bukan tanda yang baik, Mas. Tetep aja masih khawatir. Wajahku juga bengkak nggak sih?" Rani menepuk-nepuk pipinya.


"Yaudah, kita ke ruangan Dokter Nita lagi aja, minta penjelasan lebih lanjut. Sebaiknya apa yang dilakukan, biar bengkaknya nggak semakin parah." Ajak Rio pada istrinya.


"Iya, Mas."


Mereka berdua kembali ke ruangan periksa. Menyerahkan hasil lab pada asisten dokter yang bertugas di depan ruangan Dokter Nita.


"Tunggu dulu ya, Bu!" Ucap sang asisten dokter, kemudian masuk ke ruangan Dokter Nita.


"Baik, trimakasih."


Rani dan Rio duduk di kursi tunggu yang masih kosong. Rani melihat ke kanan dan kirinya, dia merasa beruntung karena suaminya masih mau ikut campur dengan masalah kandungannya. Banyak juga ibu hamil di sekitar Rani yang datang seorang diri, atau didampingi perempuan lain. Entah saudara, atau ibunya.


"Trimakasih ya, Mas. Kamu mau peduli sama kondisi kehamilanku." Ucap Rani tiba-tiba.


"Kamu nggak perlu ngomong gitu, udah tugasku sebagai calon ayah. Aku harus tau juga perkembangan anakku, kan?" Jawab Rio sok bijak.


"Iya, Mas. Padahal dulu awal periksa, kamu aja nggak mau lho, aku ajak duduk nunggu di sini. Maunya duduk di sebelah sana." Rani menunjuk tempat tunggu yang bersifat umum.


"Bukannya aku nggak mau ikut nunggu di sini. Tapi di sana adem. Di dekat AC portabel, tuh!" Rio menunjuk AC portable yang memang terpasang di pojok ruang tunggu, dimana Rio duduk bermain HP waktu itu.


"Ooh, jadi itu alasanmu sebenernya, Mas?" Rani jadi merasa bersalah karena salah sangka dengan suaminya.


"Ya iya. Kalau disini, sempit, desak-desakan, ACnya juga di ujung sana! Nggak kerasa!" Rio menambahkan alasannya.


"Iya juga sih, Mas. Aku kira karena kamu nggak mau ikut masuk ke ruangan. Nggak mau tau perkembangan anak kita."


"Ya enggaklah! Toh dari awal juga aku ikut masuk ke ruangan kan? Lagian nunggu di sini dan di sana juga sama aja. Kalau kamu dipanggil, aku bisa denger juga."


"Iya juga sih, Mas."


"Makanya, jangan suka berprasangka buruk terus sama aku!"


"Iya, Mas. Maaf."


"Ibu Chintya Maharani!" Akhirnya nama Rani dipanggil juga. Karena dia sebenarnya sudah antrian awal, tapi disuruh cek lab dulu, jadi sekarang Rani dipanggil lagi. Didahulukan, daripada yang mengantri di bangku tunggu bersama Rani dan Rio tadi.


"Ya, Sus."

__ADS_1


Rani dan Rio segera memasuki ruangan. Di dalam, Dokter Nita sudah serius memperhatikan hasil lab Rani.


"Silahkan, Bu, Pak!" Dokter Nita mempersilahkan duduk.


"Trimakasih, Dok."


"Baik, Bu. Dari hasil tes urine dan darah, protein urine negatif, meskipun tetap harus waspada. Hasil tes darah juga bagus, semuanya normal. Cuma tekanan darahnya aja yang agak tinggi. Salah satu tanda dari preeklamsia." Dokter Nita memberikan analisisnya.


"Iya, Dok. Terus harus gimana ya, Dok? Biar normal lagi?" Mendengar kata preeklamsia, membuat Rani sangat khawatir.


"Untuk saat ini, coba minumnya air putih aja, Bu, sama kurangi konsumsi garam. Kalau mau, makan makanan yang bisa menurunkan tensi, makan timun, semangka, atau makanan lain yang bisa menurunkan tensi. Meskipun nggak turun, setidaknya stabil, jangan sampai naik. Kalau tensinya tambah tinggi, nanti bisa beresiko untuk ibu dan juga bayi. Kemudian usahakan tetap makan makanan bergizi seimbang, jaga berat badan juga, ini naiknya lumayan banyak ini, Bu, dari periksa sebelumnya." Dokter Nita memberikan saran pada Rani.


"Baik, Dok." Rani mengangguk paham.


"Kalau misalnya terjadi sesuatu, kondisi yang sangat darurat, sebaiknya langsung dibawa ke IGD saja ya, Bu! Misalnya kepala yang sangat pusing sampai tidak tertahan, mual muntah, mata berkunang-kunang atau kabur sampai tidak bisa melihat dengan jelas atau keadaan yang darurat lainnya. Apalagi sampai kejang. Harus segera dibawa ke IGD ya, Bu. Nanti biar segera ditangani dokter." Dokter Nita memberi pesan lagi pada Rani.


"Baik, Dok." Rani kembali mengangguk.


"Ada yang ingin ditanyakan dulu? Sebelum kita lihat kondisi janin?" Dokter Nita mempersilahkan Rani untuk tanya jawab.


"Preeklamsia itu sebabnya apa aja sih, Dok? Apa karena gen? Apa karena ada riwayat? Saya baru hamil pertama loh, Dok. Saya juga masih muda, masa saya bisa kena preeklamsia?" Rani menanyakan apa yang masih belum terlalu dia pahami. Meskipun bekerja sebagai perawat, tapi tetap saja, masih ada banyak hal yang belum dikuasai oleh Rani.


"Preeklamsia itu memang tidak terduga, Bu. Tapi beruntung, Bu Rani selalu melakukan kontrol rutin, jadi bisa diketahui lebih awal. Tidak mesti yang kena itu yang sudah berumur, tidak mesti juga yang masih di bawah 20 tahun. Tidak mesti juga yang sudah punya riwayat, Bu. Pokoknya benar-benar hal yang tidak terduga. Meskipun selama ini normal saja, memang kadang tiba-tiba menyerang, Bu." Dokter Nita menjelaskan.


"Coba kita lihat dulu kondisi janinnya. Silahkan berbaring dulu!" Dokter Nita memberi perintah pada Rani, untuk periksa lebih lanjut. Seperti biasa, Rani dibantu oleh asisten dokter untuk membuka bagian perut sampai yang dibutuhkan. Tak lupa diolesi dengan gel.


Setelah itu, Dokter Nita mulai menggerak-gerakkan alat USG, sambil memberikan sedikit tekanan pada perut Nita. Melihat di beberapa titik, semuanya di cek secara keseluruhan.


"Baik, ini posisinya udah bagus, udah mulai menghadap jalan lahir. Ketuban juga cukup, berat juga normal. Plasenta juga nggak menutup jalan lahir. Coba kita dengarkan detak jantungnya!" Dokter Nita mengeraskan volume, sehingga terdengar suara detak jantung janin yang ada di dalam perut Nita.


"Bagus, normal dan kuat ya. Secara keseluruhan, kondisi janin normal ya, Bu." Dokter Nita menyelesaikan pemeriksaannya. Asisten segera mengelap gel yang ada di perut Nita.


"Trimakasih, Dok. Berarti ini yang harus diwaspadai malah kesehatan saya ya?" Nita kembali menegaskan.


"Betul, Bu. Pesan saya itu tadi, kurangi garam, perbanyak minum air putih, makan makanan yang untuk menurunkan tensi, sama jangan banyak pikiran. Itu juga berpengaruh pada tensi." Dokter Nita kembali mengingatkan apa yang harus dilakukan oleh Rani.


"Baik, Dok. Terimakasih. Kalau ada, dikasih obat atau vitamin juga nggak papa, Dok. Saya kok takut kalau ternyata tensinya naik terus."


"Betul, Bu. Nanti saya resepkan. Jangan terlalu khawatir juga ya, Bu! Itu juga bisa berpengaruh pada tensi. Atau mau rawat inap saja, Bu? Supaya kondisinya bisa terpantau terus? Kalau diperlukan juga nanti akan diberi suntikan penguat paru-paru untuk janinnya. Supaya kalau terpaksa lahir sebelum waktunya, paru-paru janin sudah kuat." Dokter Nita memberikan saran pada Rani dan Rio.


"Gimana, Mas?" Rani bertanya pada suaminya.


"Kalau kamu mau ya nggak masalah sih, tapi kamu harus memajukan cuti kamu juga? Apa gimana prosedur rumah sakit tempatmu bekerja?" Rio menyerahkan semuanya pada Rani.

__ADS_1


"Kalau memang kondisi darurat tidak terlalu dipermasalahkan sih, Mas. Tapi masalahnya sekarang aku merasa baik-baik aja, cuma tensi dan beberapa bagian tubuhku aja yang membengkak ini. using juga cuma kadang-kadang." Jawab Rani.


Dokter Nita yang mendengar percakapan Rio dan Rani, ikut menanggapi.


"Jadi Bu Chintya bekerja di rumah sakit?" Tanya Dokter Nita pada Rani.


"Iya, Bu. Saya perawat biasa di rumah sakit umum dekat sini." Jawab Rani malu.


"Ya sudah, berarti tidak apa-apa, Bu. Kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti yang saya contohkan tadi, langsung ke IGD rumah sakit tempat bekerja juga tidak apa-apa. Tidak mesti harus kesini. Kalau memang saat ini dirasa kondisinya masih baik-baik saja, rawat jalan saja tidak apa-apa, Bu. Nanti saya berikan obat penurun tensi." Dokter Nita memberikan keputusan.


"Baik, Dok. Kalau begitu, saya rawat jalan saja dulu, Dok. Kalau memang darurat, saya langsung ke IGD. Tapi semoga tidak terjadi kondisi darurat, sampai waktunya melahirkan nanti." Rani akhirnya memberi keputusan.


"Aamiin, Bu."


"Baik, silahkan! Sehat-sehat ya, Bu!"


"Aamiin. Terimakasih, Dok."


Rani dan Rio meninggalkan ruangan Dokter Nita.


"Ingat pesan Dokter Nita ya! Kalau perlu, kamu ajukan cuti mulai sekarang aja!" Ucap Rio saat berjalan menuju kursi tunggu. Menunggu dipanggil untuk pembayaran dan lain sebagainya.


"Besok aja ajukan cuti kalau udah mepet lahiran, Mas. Soalnya aku pengen lebih lama istirahat setelah melahirkan aja." Jawab Nita, menolak saran dari Rio.


"Yaudah kalau gitu, ikuti saran dokter yang lainnya aja."


"Iya, Mas. Tapi gimana ya? Kalau terjadi hal buruk sama aku, trus kamu lagi nggak ada di rumah?" Meskipun tidak boleh terlalu khawatir, tapi nyatanya pikiran buruk tetap saja menghampiri Rani.


"Atau kita bayar orang aja? Untuk nemani kamu, cuma kalau aku lagi kerja aja." Ucap Rio tiba-tiba.


"Maksudnya gimana, Mas?" Rani masih belum paham.


"Kan kamu kerja, aku juga kerja. Kalau kamu lagi kerja sih nggak masalah, karena di rumah sakit akan ada banyak orang, dan itu juga tenaga kesehatan kan. Jadi kalau ada kondisi darurat, kamu bakalan cepat tertolong. Tapi kalau di kontrakan, dan aku sedang kerja, trus kamu cuma sendirian, nah kita cuma suruh nemenin kamu pas kamu di rumah aja. Dan pas aku lagi kerja. Jadi kamu ada temannya, misalnya terjadi sesuatu yang darurat, dia bisa langsung bawa kamu ke rumah sakit, atau minta pertolongan gitu." Rio menjelaskan idenya secara detail.


"Ya, bisa aja sih, Mas. Tapi emang ada yang mau? Aku nggak ada kenalan sama sekali. Temenku juga orang kerja semua." Rani berpikir sejenak.


"Kamu nggak usah khawatir, kalau kamu emang setuju, nanti aku carikan orangnya." Ucap Rio dengan mantap.


"Oke, Mas. Aku ikut kamu aja deh." Jawab Rani, tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.


"Oke kalau gitu. Nanti aku carikan orangnya." Ucap Rio sekali lagi, sambil mengulas senyum penuh arti yang tidak disadari oleh Rani.


***

__ADS_1


__ADS_2