
Rani mengangguk. Dia meneruskan menyantap makanannya.
"Mama udah makan apa belum?" Rani bertanya, disela kunyahannya.
"Udah kok, tadi Mama udah makan. Beli sarapan di warung belakang, soalnya mau ke kantin jauh sih. jadi ya udah, pilih keluar gerbang aja, beli makanan di luar gerbang situ." Laras bercerita, karena tadi Rani tidur, jadi wajar kalau dia tidak tahu.
"Makanan di luar suka nggak higenis, Ma. Kena asap kendaraan, debu juga. Mama nggak papa makan makanan seperti itu?" Rani agak heran, karena selama ini, Mamanya sangat rewel kalau soal makanan.
"Nggak papa lah, semoga aja nggak bikin sakit. Toh nggak setiap hari seperti ini." Laras menenangkan putrinya, tidak mau menambah beban pikirannya.
"Semoga saja, Ma. Soalnya kalau nggak biasa, biasanya perutnya yang protes, Ma. Meskipun kalau di mulut enak-enak saja."
"Aamiin. Udah, kamu makan aja dulu! Dihabiskan, biar bayimu juga tetap sehat!" Laras mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Ma. Ngomong-ngomong, Mas Rio belum kasih kabar apa-apa, Ma? HP-ku juga pasti dibawa sama Mas Rio ya?" Rani baru ingat dengan tasnya, harusnya dia mengabari Cindy, tapi kalau HP-nya tidak ada, tetep nggak bisa.
"Iya, HP kamu dibawa suami kamu. Semuanya, termasuk tas dan lain sebagainya, nggak ada yang ditinggal di sini. Tapi nanti kalau udah selesai urusannya, dia pasti langsung kesini kok. Tadi malam dia bilang begitu sama Mama. Takutnya kamu operasi hari ini kan?"
"Tapi paling tidak ya dua hari lagi operasinya, Ma. Tadi kata suster kan disuntik penguat parunya empat kali." Rani menanggapi, disela kunyahannya.
"Iya, kan semalam kami nggak tau, kalau prosedurnya seperti itu, Ran. Kami kira ya secepatnya operasi, nggak ada aturan-aturannya begini."
"Iya juga sih, Ma."
"Nggak papa lah, kan malah enak. Jadi tidak terlalu terburu-buru, misalnya ada persyaratan yang kurang. Soalnya biaya melahirkan itu nggak sedikit sih, Ran. Apalagi nanti kamu di operasi seperti itu. Pasti administrasinya juga ribet, kalau mau pakai jaminan kesehatan." Laras berusaha berpikir hal positif.
"Iya, Ma. Semoga aja Mas Rio bisa cuti dadakan, biar bisa mengurus semua syaratnya."
"Iya, betul. Fajar juga mungkin nanti ke sini. Mama suruh bawa dia perlengkapan bayi sekalian." Laras memberitahu Rani apa yang mereka persiapkan, supaya Rani tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi.
"Minta tolong kasih kabar ke Mas Fajar bisa, Ma?" Rani menghentikan kunyahannya.
"Kasih kabar apa?"
__ADS_1
"Kabari Mas Fajar, pakaian bayinya minta tolong dicuci dulu gitu, Ma. Biar nggak bikin iritasi. Toh dipakainya mungkin dua hari lagi, masih bisa lah, untuk mencuci dan menjemur. Takutnya Mas Fajar nggak paham, jadi pakaian bayinya nggak dicuci dulu dan langsung dibawa ke sini." Rani memberikan pesan yang harus disampaikan pada kakaknya.
"Oke, kalau gitu, Mama telfon si Fajar dulu. Biar nggak langsung dibawa ke sini." Laras paham dengan keinginan Rani.
"Oke, Ma!"
Laras segera menelfon Fajar. Tapi lama sekali tidak diangkat. Sampai akhirnya diangkat. Laras mengaktifkan mode loudspeaker, supaya Rani bisa mendengar.
"Halo, Jar. Kamu udah beli pakaian bayinya?" Laras langsung bertanya pada intinya.
"Udah, Ma! Ini udah diperjalanan mau ke rumah sakit. Emangnya kenapa, Ma?"
"Harusnya dicuci dulu, Jar. Kan buat bayi. Kulitnya sensitif."
"Trus gimana ini, Ma? Apa dimasukin ke laundry aja?"
"Dibawa ke kontrakanku aja, Mas. Biar dicuci sama Mas Rio." Rani menyahuti.
"Oke, Mas!"
"Yaudah, gitu ya, Jar. Kamu hati-hati. Mama tutup." Laras mengakhiri panggilannya, tanpa menunggu jawaban dari Fajar.
***
Di kontrakan, Rio baru saja bangun. Dia menggeliatkan badannya yang terasa pegal.
"Selamat pagi, Sayang!" Sapaan lembut terdengar di telinga Rio yang sudah mulai aktif.
"Selamat pagi juga, Sayang!" Rio tersenyum, merasa sangat bahagia, semalam sudah berhasil melepaskan hasrat yang selama ini ia tahan.
"Mau aku buatkan kopi, Mas? Mau sarapan apa? Aku masakin deh, hari ini aku ijin libur aja." Miranda menawari Rio dengan berbagai macam hal, selayaknya seorang istri pada suaminya.
"Sini aja! Aku masih pengen lama-lama dekat sama kamu!" Rio menepuk-nepuk pinggir kasurnya, meminta Miranda untuk duduk di sana lagi.
__ADS_1
"Ah dasar kamu itu, Mas. Nggak ada puasnya!" Miranda tersenyum genit, dia segera duduk di kasur, seperti perintah Rio.
"Iya, emang nggak ada puasnya! Akhirnya punya kesempatan lagi untuk menyalurkan keinginanku. Nggak perlu sembunyi-sembunyi seperti biasanya. Untung aja aku kenal sama kamu, meskipun cuma lewat facebook, jadi aku bisa melepaskan beban yang membuatku pusing kalau tidak tersalurkan." Rio mengusap-usap kepala Miranda yang duduk di sampingnya.
"Iya, Mas. Kalau dulu biasanya cuma bisa lewat video call, itu juga cuma sembunyi-sembunyi. Udah kaya orang gila aja aku, Mas. Nemenin kamu melepaskan keinginannmu. Sedangkan aku nggak dapat apa-apa. Kalau langsung seperti ini kan enak, kamu suka, aku juga suka. Untung aja kamu cariin tempat kerja yang deket sama kontrakan kamu, kadi aku bisa sering ketemu sama kamu, Mas." Miranda bergelayut manja. Rio mengangguk.
"Maaf ya, Sayang. Harusnya aku berani bawa pulang kamu sejak dulu. Toh Rani jam kerjanya pasti, jadi tinggal cari kesempatan kalau aku lagi dapat shift dua aja." Rio sesekali menciumi kepala Miranda.
"Yah, jam pagi aku juga kerja, Mas. Nggak bakalan bisa. Masa iya, aku ijin tiap hari. Kan nggak mungkin, aku kasih anakku makan pakai apa? Kasian orang tuaku juga, udah kurepotin karena njagain anakku, masa masih harus menanggung biaya hidup anakku juga. Aku nggak setega itu lah, Mas." Miranda melingkarkan tangannya di badan Rio. Menikmati lagi rasa kenyamanan bersama seorang laki-laki. Setelah menjadi janda, dia tidak pernah mendapat belaian laki-laki lagi.
"Kan kamu bisa minta aku. Aku ganti, gaji kamu karena libur sehari. Yang penting kamu mau layani aku." Rio tersenyum genit.
"Astaga, Mas. Kamu pikir aku mata duitan? Trus menjadikan ini sebagai profesi? Kalau aku ngelakuin ini karena mau duit, mending aku cari mangsanya yang om-om banyak duit, Mas. Tapi aku bukan perempuan seperti itu, aku melakukan ini karena aku emang cinta sama kamu, Mas!" Miranda tidak terima dengan ucapan Rio yang dirasa menyakitkan baginya.
"Maaf sayang, aku nggak bermaksud seperti itu. Aku cuma kepengen kita lebih sering bersama kalau ada kesempatan, meskipun artinya aku harus membeli waktumu." Rio bingung sendiri, menghadapi Miranda yang tiba-tiba saja jadi sensi.
"Iya deh, Mas. Nggak papa, aku cuma nggak mau kamu salah mengartikan cintaku sama kamu. Aku bener-bener tulus cinta sama kamu, aku juga sebenernya kepengen memiliki kamu seutuhnya, Mas. Bukan cuma sebagai pelarian seperti ini, gara-gara istrimu lagi nggak bisa memenuhi keiinginanmu. Aku takut, besok kalau istri kamu sudah pulih, sudah bisa melayani kamu lagi, kamu bakalan ninggalin aku, Mas. Kamu udah nggak butuhin aku lagi, jadi mungkin saja kamu akan meninggalkanku." Miranda mengungkapkan apa yang dia takutkan.
"Enggak lah, Sayang. Kamu tenang aja! Aku udah punya rencana, supaya kita lebih sering bersama, tanpa dicurigai oleh Rani." Rio tersenyum licik.
"Rencana apa, Mas?" Miranda bertanya penasaran.
"Besok aja aku kasih tau! Sekarang, kamu layani aku lagi ya?" Rio tersenyum genit, berharap mendapat kesenangan lagi, seperti tadi malam, sepulang dari rumah sakit.
Miranda tersenyum genit. Dia paham, apa yang diinginkan oleh Rio. Mereka berdua kembali melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Tok tok tok
"Rio!"
Tiba-tiba saja terdengar suara pria di luar pintu. Rio dan Miranda menghentikan aksi panas mereka.
"Mas? Ada siapa itu? Gimana ini?" Miranda berbisik panik.
__ADS_1