
"Sudahlah, kamu jangan berpikir macem-macem. Atau kamu harus berpikir positif. Nanti Mama coba ke ruang bayi, Mama tanyakan kondisinya. Supaya kamu bisa tenang." Laras kembali menenangkan putri bungsunya itu.
"Baik, Ma." Rani mengangguk setuju.
"Yaudah, kamu makan dulu, ya! Biar kamu juga bisa segera pulih. Habis ini, Mama ke ruang bayi. Kamu nggak papa kan, di sini sendiri?"
Rani mengangguk.
"Iya, nggak papa, Ma."
***
"Gimana, Ma? Kondisi anakku?" Rani langsung menyambut Laras dengan pertanyaan, saat ibunya baru kembali ke ruangannya.
"Mama nggak bisa melihat langsung, karena yang boleh menjenguk cuma ibu atau bapaknya. Tapi alhamdulillah. Dia baik, kata perawat, dia menunjukkan perubahan yang lebih baik. Katanya, kalau kondisinya terus membaik, dia bisa segera lepas dari bantuan oksigen. Jadi bisa dibawa pulang." Laras menjelaskan kondisi bayi Rani menurut penjelasan perawat.
"Syukurlah kalau begitu." Rani menjadi lebih tenang.
"Makanya, kamu harus lebih semangat untuk sembuh. Karena anak kamu juga semangat untuk sehat." Laras kembali menasehati putrinya.
"Iya, Ma. Makasih banyak ya, Ma! Mama selalu ada dan mendukungku." Rani membuka kedua tangannya, menginginkan pelukan ibunya. Laras menyambutnya dengan baik. Dua anak beranak itu saling berpelukan hangat untuk beberapa saat.
***
Setelah beberapa hari dirawat, Rani dan bayinya diperbolehkan pulang. Beruntungnya, mereka pulang bersamaan. Tidak ada yang tertinggal dulu di rumah sakit. Seperti rencana awal, Laras ikut pulang ke rumah Rani, karena Rani masih membutuhkan perawatan, begitu juga dengan bayinya. Belum bisa kalau mengurus bayinya sendiri.
"Maaf ya, Ma. Kami cuma punya satu kamar. Nanti Mama tidur sama Rani aja, aku tidur di ruang tengah atau ruang tamu nggak masalah." Rio menggandeng Rani untuk berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Laras menggendong cucunya.
__ADS_1
"Iya, nggak papa. Malah enak kalau tidur sama Rani, sama cucuku sekalian. Jadi lebih mudah kalau mereka butuh sesuatu." Laras memaklumi.
Rani dibantu Rio untuk duduk di pinggir ranjang. Sedangkan Laras menidurkan bayi Rani di tengah kasur. Tak lupa memasang tudung bayi, supaya tidak terganggu nyamuk.
"Mama mau ke kamar mandi dulu, kamar mandinya bisa kan?" Laras teringat cerita Fajar tempo hari.
"Bisa kok, Ma. Silahkan, biar Rani sama Baby R aku yang jagain." Rio menjawab dengan mantap.
"Kamar mandinya udah dibenerin, Mas? Katanya Mas Fajar, kemarin itu sempet mampet ya? Pas aku lagi di rumah sakit." Rani ikut berkomentar.
"I - iya. Udah aku siram pakai garam dan air panas, jadi bisa lancar lagi." Rio sedikit gugup.
"Oke, syukurlah. Soalnya Mama sempet nggak mau nginep sini, kalau kamar mandinya mampet."
"Sekarang kan udah aman. Jadi nggak papa Mama di sini beberapa hari ke depan. Sampai kamu bisa mengurus diri sendiri, juga anak kita."
"Nggak papa, Ran. Nggak usah kamu pikirin, lahian di rumah ada Fajar, kok. Jadi biar dia yang urus rumah." Laras langsung menyahuti saat keluar dari kamar mandi.
"Makasih banyak ya, Ma." Rani tau, mamanya tidak mau kalau dia kepikiran.
***
Bayi Rani diberi nama Rangga, mereka mengadakan syukuran kecil-kecilan. Tanpa acara apapun di rumah, hanya berbagi nasi ke rumah tetangga.
Beberapa hari berikutnya, Laras masih terus mendampingi Rani. Sambil mengajari bagaimana mengurus bayi yang baik dan benar. Rio sudah kembali bekerja seperti biasa, sedangkan Rani masih punya waktu dua bulan untuk bercuti.
"Ran, kalau besok Mama pulang nggak papa, ya? Kamu udah bisa ngurus Rangga sendiri, kan?" Siang itu, Laras mengemasi barang-barangnya.
__ADS_1
"Nggak papa, Ma. Aku udah bisa sendiri, kok. Lagian Mas Rio juga sepulang kerja langsung pulang. Jadi bisa bantuin aku ngerjain kerjaan rumah. Aku fokus ngurusin Rangga, sama ngurus diriku sendiri." Rani tidak bisa menahan ibunya, karena memang sudah terlalu lama mengurusnya.
"Iya, Mama harap kamu tetap jaga kesehatan, ya. Karena ngurus bayi butuh tenaga ekstra. Kalau ada waktu untuk tidur, tidur aja. Urusan pekerjaan rumah nggak usah kamu pikirin. Biar Rio yang ngerjain. Atau kalau enggak, besok pakai asisten rumah tangga aja. Biar kamu ada yang bantuin." Laras memberi saran pada Rani.
"Iya, Ma. Nanti aku bicarakan sama Mas Rio. Soalnya besok juga aku kerja lagi, kan? Rangga butuh orang buat jagain. Aku nggak mungkin nitipin dia sama Mama. Karena Mama juga punya kerjaan. Jadi biar besok kami cari asisten rumah tangga aja, yang memang siap untuk bantuin ngurus Rangga." Rani setuju dengan saran ibunya.
"Iya, itu lebih baik. Tapi kalau saran Mama, besok kalau pakai pengasuh anak, kamu pasang CCTV di kamar, yang tanpa sepengetahuan dia. Jadi kalau dia melakukan hal yang buruk sama Rangga, kamu bisa mempolisikan dia. Karena ada bukti yang valid. Ingat, jangan sampai dia tau! Syukur kalau yang tau cuma kamu sendiri, Rio juga nggak perlu tau." Kecurigaan Laras pada menantunya itu kembali muncul secara tiba-tiba.
"Emangnya kenapa, Ma? Kan Mas Rio juga ayahnya Rangga. Dia berhak tau apa yang terjadi pada Rangga dong?" Rani merasa heran pada pernyataan ibunya yang terasa janggal.
"Mungkin ini waktu yang tepat untuk Mama cerita sama kamu, kamu sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya." Laras menghentikan aktifitasnya.
"Cerita apa, Ma?" Rani menaikkan sebelah alisnya.
"Sebenarnya, Mama sama Fajar menaruh curiga pada suamimu. Kami curiga kalau suamimu itu membawa perempuan lain masuk ke rumah ini, saat kamu di rumah sakit dulu. Tapi Fajar melarang Mama kasih tau kamu, karena ini masih kecurigaan tanpa bukti. Juga kami nggak mau kalau kamu jadi drop waktu itu." Laras menceritakan apa yang selama ini masih dia pendam.
"Kenapa bisa curiga gitu, Ma?" Rani heran.
"Iya, waktu Fajar ke sini itu, dia mencium bau parfum perempuan, tapi wanginga beda sama parfum kamu. Terus, juga katanya WC sini mampet, jadi si Fajar pakai toilet di masjid depan. Nak pas balik ke sini lagi, dia papasan sama perempuan yang wanginya seperti wangi ruangan sini." Laras menceritakan secara singkat.
"Kalau gitu, aku pasang kamera tersembunyi aja, Ma. Biar bisa terbukti, benar atau salah." Rani lagsung percaya dengan ibunya. Karena dia memang sudah menaruh curiga pada Rio sejak lama.
"Iya, itu lebih baik." Laras tersenyum, Rani mau menerima saran darinya.
"Besok Mama pulang sendiri? Apa mau dianter?" Rani kembali ke topik pembicaraan awal.
"Mama minta Fajar suruh jemput aja. Dia kan nggak sibuk-sibuk banget, jadi dia pasti mau." Laras memutuskan.
__ADS_1
***