
"Apa yang kalian lakukan?" Rani tidak bisa menahan diri untuk diam lebih lama. Dia menyaksikan sendiri suaminya berbuat tidak senonoh dengan asisten rumah tangga yang selam ini ia percaya.
Rio dan Miranda terperanjat, mereka yang sedari tadi membelakangi pintu, otomatis menoleh ke arah pintu.
"Rani?" Rio segera berdiri, melepaskan tindihannya pada Miranda. Mereka dalam keadaan yang benar-benar terbuka. Mereka tidak akan bisa mengelak ataupun membela diri lagi. Semua yang dilihat Rani sudah sangat jelas.
"Tega kamu, Mas! Kamu bermain dengan dia! Orang yang selama ini aku percaya menjaga Rangga! Dan kalian benar-benar tidak beradab, bisa-bisanya melakukan itu di samping Rangga! Kalian benar-benar kererlaluan! Dan kamu, Mbak. Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata kamu saja aja dengan perempuan yang pernah merebut suami kamu! Harusnya kamu sudah tau, bagaimana sakit hatinya kamu sebagai istrinya. Tapi, kenapa kamu juga melakukan hal yang sama? Hal yang benar-benar hina!" Rani menunjuk marah ke arah Miranda yang masih bingung mencari penutup untuk badannya yang terbuka.
"Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Ran!" Rio masih membela diri. Dia mengenakan celananya.
"Lalu seperti apa yang benar? Semua udah jelas. Kalian bermain di belakangku. Hal yang seharusnya hanya boleh kamu lakukan kepadaku, Mas! Aku istri kamu! Bukan dia!" Rani kembali menunjuk ke arah Miranda. Dengan sekuat tenaga menahan air matanya, dia tidak mau terlihat lemah.
"Tapi apa kamu pernah melayani kebutuhanku? Mana kewajiban kamu sebagai seorang istri? Kamu jangan cuma bisa menyalahkan seperti itu, dong! Kamu juga harus berkaca, apa kamu pernah melayaniku? Aku bahkan tidak ingat, kapan terakhir kali kamu melayaniku sebagai seorang istri. Apa kamu pantas disebut sebagai seorang istri?" Rio membalas dengan mendorong-dorong pundak Rani.
"Oh, jadi kamu nyalahin aku, Mas? Bukannya kamu sendiri yang bilang, yang penting kesehatan dan keselamatan anak kita? Semua yang kulakukan selama ini juga untuk keselamatan anak kita!" Rani sama saja, tidak mau disalahkan.
"Ini yang tidak aku suka dari kamu. Kamu egois! Juga tidak mau melihat kesalahan kamu. Kamu tau kan, di dunia ini ada hukum sebab akibat. Sebab kamu tidak pernah melayaniku, jadi aku mencari pelampiasan. Jadi, ini semua salah kamu!" Rio bertambah emosi.
"Kamu pikir kamu tidak egois, Mas? Demi kepuasanmu sendiri, kamu tega berkhianat sama aku, sama anak kita! Apa kamu tidak berfikir kalau aku juga menahan diri? Tapi apa aku mencari pelampiasan? Enggak! Kamu yang nggak bisa sabar! Sekarang, lebih baik kamu pilih aku dan Rangga, atau pilih dia!" Rani tidak ingin berlama-lama lagi. Semua bukti sudah sangat jelas.
"Aku pilih Miranda, juga Rangga!" Rio menjawab tanpa pikir panjang.
"Enak aja! Kamu sudah mengkhianati Rangga, dan kamu mau membawanya? Nggak akan kubiarkan!" Rani berjalan cepat, dia menggendong Rangga yang tetap tidur nyenyak, msskipun ada keributan di dekatnya.
"Rangga anakku! Kamu nggak berhak atas dia!" Rani bersiap pergi meninggalkan Rio.
"Dia juga anakku! Aku bapaknya!" Rio berusaha menarik Rangga dari gendongan Rani.
"Apa kamu pantas disebut sebagai Bapak? Dengan kelakuanmu yang seperti ini?" Rani memandang Rio dengan sangat hina.
"Terlepas dari kelakuanku, aku tetap bapaknya! Dan aku berhak atas dia!" Rio masih berusaha menarik Rangga, membuat bayi kecil itu menangis kesakitan.
"Lepas! Kamu menyakitinya, Mas!" Rani berusaha melepaskan tangan Rio dari tubuh mungil Rangga. Dia bahkan menendang bagian vital Rio, supaya dia mau melepaskan Rangga.
"Argh!" Rio berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Syukurin! Itu balasan untukmu! Biar nggak berfungsi sekalian!" Rani meluapkan amarahnya.
"Awas kamu, ya! Aku akan merebut Rangga melalui hukum!" Rio mengancam, meskipun dia masih meringis kesakitan.
"Kamu mau merebut pakai apa? Dari sudut pandang manapun, kamu tetap salah, Mas. Dan aku akan menyerahkan bukti rekaman perbuatan menjijikkan kalian berdua di pengadilan. Dan kamu nggak akan memenangkan hak asuh Rangga, sampai kapanpun!" Rani tersenyum puas, membalas ancaman Rio.
"Rekaman apa?" Rio bingung sekaligus kaget. Dia tidak tau kalau ada rekaman.
"Kamu tidak lihat itu, Mas?" Rani menunjuk kamera tersembunyi yang lampunya berkedip.
Rio benar-benar kelimpungan saat ini. Dia tidak menyangka kalau istrinya memasang alat perekam di kamarnya.
"Awalnya aku cuma mau mengawasi Rangga, tenyata aku malah menangkap basah perbuatan hina kalian berdua." Rani tersenyum puas.
"Mana HP kamu? Rekamannya pasti masuk ke HP kamu, kan?" Rio berusaha menggeledah tas Rani yang masih digendongnya.
"Hentikan, Mas! Mau apa kamu?!" Rani mengibas-kibaskan tasnya.
"Diam, kamu!" Rio tak kalah membentak Rani.
Rio dan Rani sama-sama menoleh ke arah suara.
"Mas Fajar? Mama?" Rani tidak menyangkan mereka akan datang tepat waktu.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Rio. Laras bisa menyimpulkan apa yang terjadi, saat melihat Miranda yang masih tergugu di atas kasur, bertutupan selimut, Rio yang hanya memakai celana boxer, Rangga yang menangis dan Rani yang penuh amarah.
Rio memegangi pipinya yang terasa panas. Tamparan perempuan setengah abad itu ternyata benar-benar menyakitkan.
"Sekarang, kalian berdua pergi dari rumah ini! Kalian nggak pantas ada di sini! Yang satunya pemulung, yang satunya sampah! Kalian berdua emang cocok!" Laras mengungkapkan amarahnya pada Rio dan Miranda. Sedangkan Rani berusaha menenangkan Rangga.
Rio mendekati mertuanya, ia berniat untuk membalas tamparan darinya. Namun sebelum itu terjadi, Fajar sudah terlebih dahulu melayangkan jotosannya ke wajah Rio.
Bug!
__ADS_1
"Argh!" Rio meringis kesakitan. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.
"Berani-beraninya kamu, mau menyakiti Mama?!" Fajar membela mamanya.
"Sekarang lebih baik kalian berdua pergi dari sini! Atau aku akan panggilkan warga, biar kalian berdua diarak keliling desa, dengan kondisi seperti itu!" Fajar mengancam Rio dan Miranda.
Tentu saja Miranda tidak mau hal itu terjadi. Dia segera memakai kembali pakaiannya, dan pergi meninggalkan kamar Rani.
"Bawa sekalian sampahnya!" Fajar melihat ke arah Rio.
"Ayo, Mas. Kita ke kosku aja!" Miranda menggandeng tangan Rio yang masih terdiam, bingung harus berbuat apa.
"Sana! Pergi yang jauh sekalian! Nggak usah muncul-muncul lagi!" Fajar kembali meluapkan kekesalannya.
Rio tak punya pilihan lain, selain pergi dari rumah itu.
"Bawa sekalian barang-barangmu!"
Rio mengemas barang sedapatnya, kemudian pergi meninggalkan rumah kontrakannya.
"Oh ya, Mas. Tunggu surat gugatan cerai dariku!" Rani berusaha kuat mengucapkan kata-kata yang sangat berat baginya.
Rio hanya diam, tidak menanggapi. Dia pergi menyusul Miranda, tanpa pesan apapun.
Setelah Rio pergi, Rani memberikan Rangga pada Fajar, kemudian memeluk ibunya dengan erat.
"Ma! Maafin Rani, Ma! Mungkin ini semua balasan, karena Rani nggak pernah mau mendengarkan kata-kata Mama! Rani nggak menyangka, umur pernikahan Rani hanya sesingkat ini, Ma. Bahkan kurang dari satu tahun. Apa ini semua karena cara Rani yang salah dalam mendapat restu dari Mama? Rani terlalu memaksakan kehendak Rani, sampai memaksa Mama untuk merestui kami. Maafin aku, Ma!" Rani terisak. Dia menyadari kesalahan terbesarnya.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Semua yang terjadi adalah kehendak Sang Maha Kuasa. Sekarang, kamu harus bisa menata masa depan, agar bisa lebih baik. Kita harus bersama-sama membesarkan Rangga menjadi sosok yang bertanggung jawab. Jangan sampai dia meniru perbuatan ayahnya!" Laras menepuk-nepuk punggung putrinya.
Rani mengangguk.
"Terkadang memang apa yang kita sukai, belum tentu yang terbaik untuk kita. Jadi, berusahalah untuk berpikir terbuka, tidak mengedepankan hawa nafsu dan kesenangan semata!" Laras memper erat pelukannya.
"Terimakasih, Ma. Karena Mama adalah sebaik-baik rumah untukku." Rani tersenyum, meakipun hatinya tengah teriris-iris.
__ADS_1
~ TAMAT ~