
"Kenapa nggak bicara di sini aja? Kamu susah-susah bisa masuk lho, kalau keluar, nanti nggak bisa masuk sini lagi." Laras tidak tau, apa yang akan dibicarakan oleh anak sulungnya itu.
"Yaudah, kita bicara di ruang penitipan barang aja, Ma. Biar nggak ketahuan sama satpam. Soalnya kalau di sini, takut kalau Rani jadi kebangun." Fajar masih tidak tega kalau Rani tau hal ini, karena sifatnya masih dugaan. Fajar tidak mau membuat kondisi Rani jadi semakin buruk.
"Oke, kita ke ruang penitipan barang aja kalau gitu. Rani mumpung lagi bisa tidur, semalem katanya nggak bisa tidur." Laras memastikan Rani benar-benar terlelap, dia membetulkan selimut Rani sebelum pergi. Sedangkan Fajar, mengambil parfum dari dalam tas Rani.
"Kamu ngapain bawa-bawa parfum Rani?" Laras heran.
"Nanti Mama akan tau." Fajar berjalan terlebih dahulu, meninggalkan bilik Rani, menuju ke ruangan penitipan barang. Disusul oleh ibunya.
"Jadi kamu mau ngomong apa?" Laras langsung bertanya saat sudah sampai di ruang penitipan barang.
"Ini tentang Rio, Ma. Tapi Mama jangan bilang sama Rani, ya! Ini masih kecurigaanku, belum terbukti. Dan juga sekarang kondisi Rani yang lebih penting." Fajar mewanti-wanti mamanya, sebelum menceritakan apa yang dia pikirkan.
"Oke, Mama bakalan diam, nggak kasih tau Rani dulu, sampai kondisinya sudah membaik." Laras berjanji.
"Iya, Ma." Fajar mengangguk.
"Jadi ada apa? Kenapa sama Rio?" Laras tidak sabar untuk tau lebih lanjut.
"Aku curiga, Rio punya perempuan simpanan." Fajar berkata langsung pada intinya.
"Kenapa kamu bisa curiga begitu?" Laras ingin tau lebih lanjut.
"Tadi pas di rumah Rio, ada bau semerbak parfum perempuan. Nggak mungkin kalau yang pakai itu Rio, soalnya tadi dia baru bangun tidur. Dan tadi juga, aku kan ikut ke toilet masjid, nah pas balik ke rumah Rio, aku papasan sama perempuan, dan wanginya sama seperti wangi di rumah Rio, Ma." Fajar menjelaskan penyebab kecurigaannya.
"Terus? Kamu mau apa untuk membuktikannya?" Laras bertanya kelanjutan cerita Fajar.
"Jadi tadi aku minta Rio buat bawain pakaian ganti sama parfumnya Rani. Kalau wanginya sama, berarti kemungkinan wangi di rumah Rio itu memang parfumnya Rani, dan Rio yang pakai. Tapi kalau wanginya beda, aku masih tetap curiga sama perempuan yang papasan sama aku tadi." Fajar memberitahukan rencananya.
"Yaudah, cepetan kamu buka itu parfum Rani, baunya sama apa enggak?" Laras tidak sabaran.
"Oke, Ma." Rio membuka penutup botol parfum Rani, kemudian mencium lubang tempat keluarnya parfum. Dia mengendus dengan seksama.
__ADS_1
"Gimana?" Laras penasaran dengan hasil penciuman Fajar.
"Beda, Ma. Beda banget. Wangi parfum Rani cenderung manis, kalau yang aku cium di rumah Rio dan bau perempuan tadi itu cenderung segar dan menusuk hidung." Fajar menutup lagi parfum milik Rani.
"Jadi bagaimana selanjutnya?" Laras ikut panik, menentukan langkah selanjutnya.
"Kita harus waspada sama Rio. Sambil terus melihat kejanggalan, meskipun agak susah, karena kita tinggal jauh dari sini." Fajar memutuskan.
"Iya, Mama setuju. Tapi kita coba pastikan dulu sama Rani, ini emang satu-satunya parfum dia, apa ada parfumnya yang lain. Takutnya kita terlalu curiga." Laras masih mencoba berpikir positif.
"Oke, aku serahkan tugas itu sama Mama."
Laras mengangguk.
"Sama tolong tanyakan, apa kamar mandi dia mampet? Tadi aku kebelet, tapi Rio langsung gelagapan pas aku tanya tentang kamar mandi. Katanya kamar mandi di rumah itu lagi mampet." Rio menambahkan, siapa tau keguguan Rio ada hubungannya dengan kecurigaannya.
"Oke, nanti Mama tanyakan." Laras setuju dengan permintaan putra sulungnya.
"Ma, itu barang-barang yang mungkin dibutuhkan Mama di sini." Fajar menunjuk tas ransel yang dia bawa tadi.
"Itu pakaian Rani, Rio yang ambilin tadi. Aku pura-pura bilang kalau Rani pengen ganti baju, juga ngerasa bau, jadi minta dibawakan parfumnya. Makanya Rio nggak curiga, kalau sebenernya aku lagi curiga sama dia." Fajar menuturkan.
"Baguslah kalau begitu." Laras memuji kehebatan anaknya menyelidiki sesuatu.
Setelah diskusi selesai, dua anak beranak itu segera kembali ke kamar Rani. Ternyata Rani masih belum bangun.
"Yaudah, Ma. Aku mau cari sarapan aja dulu. Nggak papa kan ya? Mama udah sarapan belum? Mau nitip apa?" Fajar bosan juga kalau harus berada di ruangan terus.
"Teh panas aja, sama air mineral, buat Rani kalau nanti minumnya habis. Mama tadi lupa nggak beli sekalian."
"Oke, Ma. Nanti kalau aku nggak bisa masuk, Mama yang keluar ya?"
"Iya, nanti kabari aja." Laras mengangguk.
__ADS_1
"Oh ya, Ma. HP sama dompetnya Rani juga ada di dalam tas situ, kalau mau cari sesuatu. nanti dibongkar aja, aku nggak tau Rio bawain apa aja sih." Fajar berpesan sebelum pergi.
"Ya, nanti Mama bongkar sendiri."
Fajar berjalan keluar ruangan, mencari sarapan, seperti yang dia ucapkan tadi. Sedangkan Laras kembali duduk, menunggui Rani.
"Mas Fajar udah ke sini ya, Ma?" Rani terbangun.
"Iya, dia bawain kamu baju ganti. Mau ganti nggak?" Laras menawari Rani untuk ganti baju, pasti tidak nyaman, memakai pakaian yang sama seperti kemarin.
"Mau, Ma. Udah lengket banget rasanya, bau." Rani menyambut baik tawaran dari ibunya.
"Yaudah sini, ganti baju dulu!"
Laras membongkar tas yang dibawakan oleh Fajar tadi. Memilih daster yang longgar untuk dipakaikan, supaya nyaman, juga mudah saat memasukkan botol infus ke lubang tangan. Memang cukup repot, tapi akhirnya berhasil juga.
"Mau pakai parfum?" Laras menawarkan.
"Mau, Ma. Sedikit aja, biar baunya nggak mengganggu orang lain." Rani mengangguk, menerima tawaran dari mamanya.
"Ini, kamu pakai sendiri aja! Biar bisa kira-kira." Laras memberikan parfum pada Rani.
"Makasih, Ma. Mas Fajar kok pengertian banget, pakai minta bawain parfum kesukaanku segala." Rani menyemprotkan parfumnya sedikit.
"Tadi Mama yang minta, siapa tau kamu mau pakai." Laras berbohong, padahal tadinya dia tidak tau apa-apa.
"Makasih banyak ya, Ma. Mama emang yang paling ngerti aku." Rani tersenyum, memberikan parfumnya pada mamanya lagi.
"Kamu pakai parfum apa sih? Wangi banget. Wanginya lembut gini." Laras mulai memancing jawaban dari Rani.
"Ooh, iya, Ma. Ini wangi kesukaanku, aku nggak pernah mau pakai coba parfum lain. Kalau Mama mau, di rumah, di kamarku masih ada, kok. Pakai aja nggak papa, Ma!" Rani menawarkan.
"Beneran? Ya besok kalau udah pulang, Mama pakai parfum kamu." Laras tersenyum, dia sudah mendapat jawaban yang dia inginkan.
__ADS_1
"Iya, Ma. Sayang juga kalau nggak kepakai." Rani juga tersenyum, tanpa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh mamanya.