
"Besok kalau udah pulang dari rumah sakit, pulang ke rumah Mama aja, ya. Mama rawat kamu dan bayimu di rumah Mama aja." Laras kembali memancing Rani, untuk pertanyaan kedua Fajar.
"Nggak di kontrakanku aja, Ma? Mama nginep kontrakanku, tidur di kamarku. Biar Mas Rio tidur di ruang tengah. Soalnya biar kalau kontrol juga dekat sama sini, kalau pulang ke rumah, kayaknya jauh banget. Repot kalau mau kontrol." Rani tidak setuju dengan keinginan mamanya.
"Mama sih mau aja, di kontrakan kamu. Tapi katanya Fajar tadi, kamar mandi di rumahmu mampet. Jadi, kayaknya nggak nyaman gitu." Laras bergidik, membayangkan kamar mandi mampet, pasti jorok dan kotor.
"Loh? Apa iya? Kemarin sore masih baik-baik aja, kok. Nggak ada tanda-tanda mau mampet juga." Rani heran, kenapa tiba-tiba WC-nya tiba-tiba mampet.
"Ya nggak tau, tadi Fajar mau pakai kamar mandi, kata Rio WC-nya mampet, jadi si Fajar ikut ke toilet masjid depan kontrakan kamu itu.
"Yaudah kalau emang mampet, besok aku minta tolong Mas Rio aja, biar minta tolong orang buat benerin, Ma."
"Yaudah kalau emang gitu. yang penting semua normal, Mama mau tinggal sementara di rumah kamu, sampai kamu pulih." Laras memutuskan, meskipun dalam hati dia jadi menaruh curiga pada Rio.
***
Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, akhirnya kondisi Rani sudah memungkinkan untuk dioperasi.
"Do'akan Rani ya, Ma!" Rani berpamitan pada Laras.
"Pasti, Nak. Semoga semuanya baik-baik saja. Kamu dan anak kamu bisa keluar dengan sehat dan selamat." Laras mengusap-usap kepala anak bungsunya itu.
"Aamiin, Ma. Doakan aku ya, Mas!" Rani meminta doa pada Rio juga.
"Tentu saja! Kamu harus kuat. Demi anak kita!" Rio menyemangati.
Rani mengangguk. Perawat mendorong brankar Rani, masuk ke ruang operasi. Rio dan Laras menunggu di luar ruang operasi dengan gusar. Mengingat kondisi buruk bisa saja terjadi pada Rani ataupun bayinya. Berkali-kali Laras berdoa, untuk keselamatan dan kesehatan keduanya.
Setelah beberapa saat kemudian, bayi Rani sudah keluar terlebih dahulu.
"Keluarga Bayi Nyonya Rani!" Perawat mencari keluarga Rani.
__ADS_1
Laras dan Rio bergegas menemui perawat.
" Saya neneknya, Sus. Bagaimana kondisi cucu saya, Sus?" Laras langsung memastikan.
"Bapaknya ada?" Perawat mencari Rio.
"Saya, Sus. Saya bapaknya bayi ini!" Rio angkat bicara.
"Silahkan ikut saya dulu! Untuk mengurus administrasi dan lain-lain. Terkait kondisi bayi, akan kami jelaskan nanti, kalau bayinya sudah masuk di inkubator. Kita harus cepat!" Perawat itu nampak terburu-buru.
"Baik, Sus! Ma, aku ke sana dulu!" Rio berpamitan, mengikuti perawat ke ruang khusus bayi yang butuh penanganan khusus.
Laras mengangguk. Dia hanya bisa menatap kepergian cucunya itu. Sambil terus berdo'a, semoga semua baik-baik saja. Laras juga masih belum tenang, karena Rani belum juga keluar. Mungkin karena dia baru dijahit lagi. Laras mondar-mandir, tidak bisa kalau duduk dengan tenang.
Setelah menunggu beberapa waktu, perawat mendorong brankar Rani, keluar dari ruang operasi. Laras langsung menyambut perawat dengan pertanyaan.
"Bagaimana kondisi anak saya, Sus?"
"Baik, Sus. Yang penting anak saya bisa selamat." Rani tersenyum lega. Bebannya terasa rontok seketika.
"Mari, Bu. Kita ke bangsal, khusus ibu pasca melahirkan." erawat mengajak Laras untuk ikut serta bersamanya.
"Tapi barang-barang masih di ruang bersalin, Sus?" Laras ragu, antara mengambil barang, atau ikut Rani ke ruangannya.
"Bisa diambil nanti, setelah tau ruangannya, Bu." Perawat membuat Laras jadi yakin, langkah mana yang harus dia pilih.
"Baik, Sus."
Mereka segera berpindah ke bangsal, khusus untuk ibu-ibu pasca bersalin. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh satpam yang ikut mengekor di belakangnya. Setelah Rani dipindahkan ke ranjang bangsal, perawat memberikan pemberitahuan yang harus diikuti oleh Rani.
"Bu, ini sudah kami beri obat pereda nyeri ya. Tapi kalau misalnya, ada kondisi yang buruk, misalnya keluar banyak darah dari bekas luka, atau terasa sakit yang tidak tertahan, langsung hubungi perawat saja, ya!"
__ADS_1
Laras mengangguk.
"Nanti akan ada perawat yang datang. Memandu latihan berbaring miring kanan, kiri, duduk, berdiri, juga jalan pelan-pelan. Supaya darahnya tetap mengalir dengan lancar. Tapi nanti saja, menunggu perawat memberi arahan." Perawat memberi penjelasan apa yang harus dilakukan oleh Rani nantinya.
"Baik Sus." Laras mengangguk paham. Kemudian perawat berpamitan. Giliran Satpam yang memberikan penjelasan pada Laras.
"Baik, Bu. Di ruangan ini, boleh untuk menginap, maksimal satu orang penunggu. Boleh menggelar tikar atau yang semacamnya untuk tidur penunggu. Tapi sebelum jam tujuh pagi, sudah harus bersih, tidak ada gelaran lagi. Karena untuk mempermudah petugas kebersihan membersihkan ruangan. Selain itu, kalau jam tujuh pagi, penunggu diharapkan keluar dari ruangan, untuk pemeriksaan tim dokter. Supaya tidak mengganggu. Nanti pintu utama bangsal ini saya kunci. Akan di buka lagi kalau sudah jam 11 siang, baru penunggu boleh masuk lagi, kalau ada yang membesuk juga boleh. Yang penting tidak menimbulkan keributan, karena bisa membuat pasien jadi terganggu. Bisa dipahami ya, Bu?" Satpam menjelaskan dengan runtut, terkait aturan di bangsal itu.
"Bisa, Pak." Laras mengangguk.
"Kemudian, untuk wastafel dan kamar mandi ada di sebelah sana ya, Bu. Untuk pasien dan penunggu, kamar mandinya sama. Jadi harap dijaga kebersihannya, karena digunakan untuk orang banyak." Satpam kembali memberikan petunjuk, dia menunjukkan kamar mandi yang terletak di pojok ruangan. Sebenarnya tanpa diberitahukan pun, sudah terluhat kalau di sana adalah kamar mandi. Tapi mungkin saja itu memang prosedur yang harus dilakukan oleh satpam.
"Kalau sedang ditinggal penunggu, dan butuh bantuan, pencet bel di samping ranjang itu. Nanti perawat akan datang untuk membantu. Jadi penunggu tidak perlu khawatir, selama ditinggal, pasien tetap aman." Satpam tersenyum.
"Baik, terimakasih, Pak." Laras membalas dengan senyuman yang tulus.
"Kalau begitu, saya permisi dulu!"
"Trimakasih, Pak." Laras kembali mengangguk.
"Ran? Gimana perasaan kamu?" Laras duduk di samping ranjang Rani.
"Aku baik-baik aja kok, Ma. Gimana kondisi anakku, Ma? Dia baik-baik aja, kan? Tadi di ruang operasi, aku nggak dikasih lihat bayiku. Langsung dibawa keluar. Aku takut bayiku kenapa-kenapa, Ma." Rani mengkhawatirkan kondisi bayinya.
"Tadi langsung dibawa ke ruang khusus bayi, mau dimasukin inkubator katanya, kita tunggu kabar dari suami kamu, ya!" Laras menenangkan perasaan Rani.
"Mas Rio belum ada kabar, Ma? Dia tau kalau aku di sini?"
"Belum, bentar! Mama kirim pesan ke dia dulu." Laras mengambil ponselnya, dan mengirim pesan pada Rio, memberitahukan ruangan yang dipakai Rani saat ini.
Tak lama setelah itu, Rio datang ke ruangan Rani.
__ADS_1
"Gimana kondisi anak kita, Mas?" Rani langsung bertanya, tidak sabar menunggu kabar dari Rio.