
"Kamar mandinya dimana? Udah nggak kuat nahan ini!" Fajar bangkit dari duduknya, dia memposisikan badan sedikit membungkuk, juga menahan bagian belakang dengan tangannya.
"Eh, em, anu, Mas. Kamar mandinya mampet. Nggak bisa dipakai buat uang air besar. Ikut ke kamar mandi masjid di depan itu aja!" Rio berbohong.
"Yaudah, di sana wc-nya aman kan?" Fajar memastikan.
"Aman kok, Mas." Rio meyakinkan, meskipun dia sendiri tidak pernah pergi ke masjid.
"Yaudah, aku ke sana dulu." Fajar segera berlari, dia sudah tidak kuat menahan hajatnya lebih lama lagi.
Rio menarik nafas lega, ia bergegas ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Yang, buka!" Rio mengetuk pintu kamar mandi pelan.
"Gimana, Mas? Kakak ipar kamu udah pulang?" Miranda membuka pintu kamar mandi.
"Belum, dia lagi kebelet. Trus aku suruh ikut ke kamar mandi masjid depan sana. Untung aku bisa berpikir cepat. Jadi nggak ketahuan kalau aku sembunyiin kamu disini." Rio menjelaskan apa yang terjadi, selama Miranda di dalam kamar mandi.
"Syukurlah, dia curiga nggak, kalau ada aku di sini?" Miranda berjalan keluar dari kamar mandi. Dia sudah mengenakan pakaian lengkap.
"Kayaknya sih nggak curiga." Rio mengingat-ingat pembicaraannya dengan Fajar tadi, sepertinya tidak ada yang menunjukkan kecurigaan.
"Bagus deh, aku pulang aja lah, Mas. Biar nanti kalau kakak ipar kamu balik lagi, aku nggak perlu ngumpet di kamar mandi lagi." Miranda memutuskan.
"Yaudah nggak papa, nanti malam tidur sini lagi. Si Rani kemungkinan operasi masih dua hari lagi. Jadi kita masih punya waktu untuk bersenang-senang." Rio tidak menahan Miranda.
"Oke, Mas. Nanti malam kabari lagi kalau udah di rumah, aku jalan aja ke sini." Miranda setuju dengan ide Rio.
"Siap, nanti malam kita lanjutkan yang tadi ya, Sayang!" Rio tersenyum genit sambil menjetikkan jari-jarinya di dagu Miranda.
"Ah, kamu itu, Mas." Miranda tersipu malu.
"Kamu cantik banget kalau tersenyum seperti itu. Membuat aku nggak bisa lepas dari kamu. Aku benar-benar tidak bisa menahan godaan, kalau sama kamu." Rio kembali menggoda Miranda.
"Gombal, ah. Pulang dulu, Mas." Miranda kembali tersipu malu, dia melenggang meninggalkan Rio.
"Hati-hati nyebrang jalan depan, Yang!" Rio berpesan singkat.
__ADS_1
"Ya, Mas!" Miranda pergi, meninggalkan rumah Rio.
"Gara-gara Fajar. Jadi gagal asyik-asyik kan!" Rio mendengus kesal sambil membereskan sisa kekacauan akibat pertempurannya dengan Miranda semalam.
Tak lama kemudian, Fajar sudah kembali. Dia langsung membuka pintu depan, tanpa ketuk pintu, maupun mengucap salam. Fajar langsung saja masuk ke ruang tengah, tempat tadi dia duduk selonjoran. Kopinya sudah mulai dingin, wanginya sudah berkurang. Bergantian dengan parfum wanita yang dia cium tadi saat pertama sampai di ruang tengah kontrakan Rio.
"Bau ini, seperti wangi perempuan yang berpapasan sama aku tadi pas mau jalan ke sini." Fajar bergumam sendiri.
"Atau jangan-jangan?" Fajar langsung berpikiran buruk. Dia curiga kalau wangi di ruangan ini memang bersumber dari perempuan tadi.
"Udah balik, Mas?" Rio mengagetkan Fajar yang sedang berpikir.
"Eh, iya. Udah." Fajar kembali meminum kopinya yang sudah tidak panas lagi. Dia mengeluarkan HP dari dalam waistbag-nya.
"Yo!" Fajar memanggil Rio.
"Gimana, Mas?"
"Ini, kata Mama, suruh bawain baju ganti buat Rani juga, lengkap sama handuk sekalian. Sama minta dibawain parfumnya Rani, soalnya dia ngeluh, bau banget." Fajar pura-pura membaca pesan dari Mamanya. Padahal dia hanya mengarang saja.
"Oh, oke, Mas. Aku siapin dulu." Rio tidak menaruh rasa curiga sedikitpun pada Fajar.
Fajar memainkan ponselnya, sembari menunggu Rio menyiapkan pakaian ganti untuk Rani.
"Mas, ini udah. Komplit semuanya di dalam tas ini." Rio meletakkan tas ransel di atas karpet.
"Parfumnya udah?" Fajar memastikan, jangan sampai penyelidikannya gagal, gara-gara Rio tidak memasukkan parfum Rani di dalam tas.
"Udah kok, Mas. Semuanya udah aku masukin, termasuk HP, sama dompet Rani, semua ada di dalam situ. Semalem aku lupa, nggak kasih ke Mama." Rio menjelaskan isi tas itu secara singkat.
"Oke, kalau gitu aku ke rumah sakit sekarang. Kasian Rani, pengen ganti baju. Pasti udah nggak nyaman." Fajar menyimpan ponsel dan bangkit dari duduknya.
"Oke, Mas."
"Oh ya, pakaian bayinya ada di tas, bareng sama pakaian Mama. Bentar, aku bongkar dulu." Fajar berjalan ke ruang tamu. Rio membuntuti, sambil membawa tas yang berisi pakaian Rani tadi.
Fajar segera mengambil pakaian bayi yang dia kumpulkan dalam satu wadah plastik.
__ADS_1
"Ini ya, aku taruh di sini." Fajar meletakkan kresek itu di meja.
"Oke, Mas. Mau bawa karpet atau apa gitu? Buat alas tidur Mama di sana?" Rio menawarkan.
"Nggak usah, aku udah bawa dari rumah, kok." Ajar menolak.
"Oke kalau gitu."
"Aku ke rumah sakit dulu. Nanti kalau udah selesai urusannya, cepet nyusul!" Fajar berpamitan.
"Siap, Mas."
Fajar pergi meninggalkan kontrakan Rio. Dia langsung menuju ke rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kontrakan Rio. Sesampainya di rumah sakit, Fajar agak kerepotan, membawa dua tas ransel. Dia berjalan langsung menuju ke ruang persalinan.
Seperti biasa, satpam langsung menghadang Fajar, apalagi karena membawa banyak barang. Beruntung satpam jaga berbeda dengan yang sift tadi malam, jadi dia belum pernah melihat fajar.
"Selamat pagi, Pak!"
"Selamat pagi juga, Pak. Boleh masuk? Istri saya mau lahiran. Ini saya bawakan pakaian bayi, kata perawat semalam, saya suruh bawakan perlengkapan bayi ke sini." Fajar beralasan, supaya diperbolehkan masuk.
"Baik, silahkan, Pak. Tapi tasnya yang tidak untuk keperluan persalinan, disimpan di ruangan sebelah sana, ya!" Pak Satpam menunjuk ruangan yang ada di dekat pintu masuk.
"Siap, Pak! Terimakasih." Fajar masuk ke ruang bersalin. Dia menyimpan salah satu tasnya, mengikuti perintah Pak Satpam.
Fajar bergegas ke ruangan tempat Rani dirawat, dia mendengar semalam kata Rio, Rani dirawat di ruangan paling ujung. Jadi Fajar langsung saja menuju ruangan paling ujung. Fajar ragu untuk masuk ke ruangan, karena bilik Rani tertutup tirai dengan rapat. Ia takut salah masuk ke bilik orang lain, mengingat ini ruang bersalin, takut juga kalau melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.
Fajar memilih untuk memanggil nomer mamanya. Dan ternyata suara dering HP mamanya ada di dalam bilik yang tertutup rapat itu. Langsung saja Fajar mematikan panggilan dan membuka tirainya.
"Fajar?" Laras kaget karena anaknya sudah sampaiĀ di ruangan.
"Iya, Ma. Tadi aku bilang kalau istriku mau melahirkan, jadi dibolehin masuk sama satpam." Fajar tau kalau mamanya bingung dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
"Dasar kamu itu!" Laras tersenyum karena Fajar pintar membuat alasan.
"Yang penting bisa masuk, Ma. Aku mau kasih berita penting."
"Berita penting apa?" Laras penasaran.
__ADS_1
"Kita bicara di luar aja ya, Ma?"