Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 22 Tamu yang Mencurigakan 2


__ADS_3

Ke esokan harinya setelah sarapan pak Rinto pergi lagi, tak lupa ia mengingatkan bu Resti untuk mengantarkan anak dan menantunya ke apartemen selatan kota.


Setelah mengantarkan kepergian pak Rinto, bu Resti memanggil Lando dan Ditha ke ruang tamu.


"Kalian bersiap-siaplah, kita ke apartemen yang di selatan kota, jangan banyak membantah, mamih lelah jika kalian bersikap seperti anak kecil, hidup mamih tidak hanya untuk mengurusi hidup kalian terus-menerus, cepat lah beresin barang yang mau kalian bawa, mamih tunggu."


"Baik mih."


"Iya Tan.."


Ditha memang tak punya apa-apa yang mau dia bawa, hanya beberapa baju yang kemarin di belikan oleh bu Resti.


bu Resti mengikuti Ditha ke kamar tamu.


"Ditha ini tas, masukkan baju-bajumu ke dalamnya, nanti di sana kau belilah lagi baju ya, kau ambil kesempatan tinggal di apartemen untuk bisa keluar dan bekerja, selebihnya kau atur saja dengan Lando, tante tidak akan ikut campur urusan kalian, mengenai Salman biar om Rinto yang mengaturnya."


"Baik tante, terimakasih, maaf kalau nanti Ditha dan Lando akan mengambil keputusan untuk hubungan kami, mohon di pahami tante."


"Ya yang memang terjadi ya terjadilah, mungkin di mulai dari kamu perjodohan tradisi ini akan berakhir."


"Iya tan, semoga."


Sudah selesai memasukkan baju-baju yang ingin ia bawa, Ditha dan bu Resti keluar kamar dan keluar rumah menuju mobil dan menunggu Lando keluar dari kamarnya.


Tak lama Lando pun keluar, dia menaiki mobilnya sendiri, sedang Ditha naik mobil milik bu Resti. Mobilpun berjalan beriringan.


Tepat 1,5 jam perjalanan tibalah mereka di apartemen selatan kota milik pak Rinto.


Apartemen itu memang di siapkan untuk Lando apabila ia sudah menikah, bu Resti mengantarkan mereka ke ruang apartemennya di tingkat ke lima, tak lama dengan menaiki lift sampailah ke apartemen mereka, bu Resti membuka pintu dengan password yang hanya bu Resti dan pak Rinto yang mengetahuinya.


Setelah berada di dalam apartemen Ditha dan Lando takjub melihat interior apartemen.


"Oke kalian tinggal di sini, setelah ini kalian jalani hidup kalian dengan baik, Lando tolong jangan bawa hal yang kotor ke apartemen ini, paham kamu!! apapun yang kau suka lakukan di luar saja,ingat!!"


"Iya mih."


"Baik mamih langsung pergi, mungkin 1 bulan lagi baru mamih pulang, mamih ingin refreshing dulu, sumpek dengan keadaan rumah, toh papih kamu juga tak ada di rumah, ya sudah mamih pergi ya."


Ditha menyalami ibu mertuanya itu, dan setelah memberitahu password pintu apartemen, bu Resti pun pergi meninggalkan mereka berdua.


Tak lama setelah kepergian bu Resti bel pintu apartemen di pencet seseorang.


Ting nong....ting nong...


Landopun membuka pintu.


"Hai sayaaaaang.....akhirnya kau pindah juga ke sini." sapa Ifa


"Afi, haaaiii....kenapa kau sudah ada di sini?"


"Hahaha surprice doooooong." jawab Ifa sambil mengalungkan tangannya ke leher Lando, sambil melirik pada Ditha dan memberikan senyum liciknya.


Ditha melihat itu hanya mengernyitkan dahinya.


"Sayang aku laper niiih, makan di luar yuk.."


" Ayo....Tha aku keluar, gak usah di tunggu, apapun yang ingin kau lakukan ya lakukan saja, mau jalan-jalan atau apa terserah kamu."


Lantas dengan saling rangkul kedua nya pergi meninggalkan Ditha yang melongo, kemudian ia sadar dan senang.

__ADS_1


'Yess semudah ini bisa bebas....tapi ada yang aneh....dia seperti bukan Afi... kenapa ya, ah mungkin hanya perasaanku saja, biar lah..aku hubungi Yani dulu.


[ Assalamu alaikum Yan, aku berada di Apartemen xx tapi alamat pastinya aku tak tau, kalau kau tidak sibuk datang ke sini ya. ] pesan terkirim.


Kurang lebih 10 menit Ditha mendapat balasan dari Yani.


[ Wa alaikumsalam, iya Tha aku ke sana, tapi gimana, apa kau bisa keluar? maksudnya bebas keluar?]


Dan di balas oleh Ditha.


[ Iya, nanti aku ceritakan, kau ke sini aja dulu, Lantai 5 no 80A tak jauh dari lift belok kiri.]


[ Oke, aku langsung berangkat, aku tau apartemennya hanya berjarak 2 blok dari perusahaan bos Aryo.]


[ Owh, oke aku tunggu.]


Hanya dalam 15 menit Yani pun tiba di apartemen, di dalam lift dia sempat memberi pesan pada Aryo kalau Ditha ada di salah satu apartemen, Aryo pun menyuruh Yani untuk mengecek kebenarannya, tapi jangan sampai Ditha atau keluarga pak Salman tau kalau pemilik bisnis apartemen itu adalah Aryo sendiri.


Ini di lakukan demi keamanan Ditha agar tidak di bawa pergi lagi, akan lebih mudah memantau kalau Ditha berada di apartemen itu.


Setiba di nomor apartemen yang di sebutkan Ditha, Yani pun memencer bel.


Ting nong...ting nong.


Ditha segera membuka pintu setelah melihat di layar monitor siapa yang memencet bel.


"Assalamualaikum, Tha."


" Wa alaikumsalam, Yan."


Kedua sahabat itupun saling berpelukan.


" Alhamdulillah, aku baik-baik saja."


"Masuk lah."


"Oke, kamu dengan siapa di sini?" tanya Yani setelah duduk di sofa.


"Harusnya dengan Lando, tapi dia lagi keluar sama kekasihnya."


"What??"


"Apa kak Aryo tidak cerita tentang pernikahan ku?"


"Belum, aku di larang ikut campur, kemarin aku menyelesaikan kerjaan di kebun dulu, kata bos kalau sudah selesai aku akan di beri tugas, entah tugas apa aku tidak tau."


"Maaf Yan, aku lagi gak semangat untuk menceritakan nya, eh tapi tadi aku merasa aneh, aku rasa kekasih Lando ini berbeda dengan yang datang ke rumah orang tuanya kemarin."


"Aneh bagaimana?"


"Entah kalau wajah sih sama."


"Apa mungkin kembar? tapi masa Lando tidak tau? memangnya mereka baru kenal?"


"Sepertinya tidak karena kemarin dia bilang sudah lama berhubungan, dan berencana untuk menikah."


"Ih aku kok pusing mendengarnya, tapi asyik juga kalau di selidiki, jiwa detektif ku jadi meronta-ronta nih, hahaha....maklum cita-cita tak kesampaian."


"Masih hobi ngepoin orang kamu? hahaha..."

__ADS_1


"Ssst itu makanya aku berhenti kerja di perusahaan, atau lebih tepatnya tidak kerja langsung, alias jadi pengintai hahaha, bos Aryo yang suruh."


Saking asyiknya berbincang-bincang, gawai Yani berbunyi beberapa kali tapi tak di buka oleh Yani, Yani kemudian menyadarinya.


"Astaghfirullah, bos Aryo kirim pesan banyak banget, aku gak sadar." ucapnya sambil menepuk dahinya.


Yani pun membuka gawainya dan membuka pesan dari Aryo.


[ Yan....aku tugaskan kamu untuk melayani Ditha, Yono sudah aku beritahu tugas mu ini, jadi kamu usahakan agar Ditha mau menerima kamu, nanti Yono pun aku tugaskan untuk menjadi sopir pribadi Ditha.]


[ Laporkan padaku setiap hal di sana ]


[ Ingat jangan kamu bicarakan hal yang tidak seharusnya kamu bicarakan, paham!]


Yani pun membalas pesan dari Aryo.


[ Oke bos ]


Yani pun melanjutkan pembicaraan dengan Ditha.


"Jadi bagaimana selanjutnya? apa yang kau lakukan Tha?"


"Ya melanjutkan hidup dengan sewajarnya, bekerja dan tidak berleha-leha aja, tapi aku gak bakal betah di sini."


'Kesempatanku ini.' bathin Yani.


"Aku temani kamu di sini ya, kalau Lando datang dan bertanya bilang saja kamu butuh asisten biar tidak sendirian, sedang dia aja boleh pergi dan datang bersama siapa aja sesuka dia kok."


"Wah kamu benar juga, oke kamu di sini aja, tapi bagaimana dengan Yono?"


"Tenang sudah di atur, nti Yono kan bisa jadi sopir pribadi mu misalnya."


"Hah di atur? siapa yang atur? tapi kamu kan bisa nyetir."


"Oo oh itu, ya tak apa bergantian dengan ku, yang penting aku tak terlihat meninggalkan suami aja, hahaha." ucap Yani sambil tertawa menghilangkan gugupnya, hampir saja dia keceplosan kalau ia dapat perintah dari Aryo.


Jelas dia harus ada pengganti, karena dia penasaran siapa wanita yang di maksud Ditha punya hubungan dengan Lando, ia harus selidiki hal ini.


Mereka berdua pun melanjutkan pembicaraan sambil melihat-lihat sekeliling apartemen.


Puas berkeliling, Yani berpamitan sebentar, ia hendak pulang terlebih dulu untuk mengambil baju-baju karena Ditha ingin dia menginap di apartemen.


Kalau Lando tidak kembali pasti dia hanya sendirian, lebih baik kalau Yani menemaninya dari sekarang.


Sepeninggal Yani, Lando kembali tapi hanya sendiri, entah dimana Afi.


Lando masuk ke kamarnya dan mengambil beberapa pakaian, kemudian keluar lagi.


"Aku pergi beberapa hari mungkin 2 mingguan, kau terserah mau kemana dan mau ngapain tak usah meminta izin dari ku."


"Baik lah terserah padamu, aku juga akan mengajak teman ku menginap disini, daripada aku sendirian di kota ini."


"Terserah." kata Lando sambil berjalan pergi.


Nb


mohon krisannya yaaaaa


terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2