Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 43 Pergi Tanpa Pesan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Santi sudah bangun, dia tak bisa tidur nyenyak malam tadi, baru tertidur ketika sudah subuh.


" Sayang bersiaplah." kata tuan Khan Amir yang melihat istrinya sudah bangun."


" Abang sudah siap? Kita berangkat sekarang?"


" Iya kita langsung berangkat 1 jam lagi, kita langsung saja masuk bandara, nanti sarapan pagi di ruang tunggu saja."


" Baiklah bang."


Santi pun bersiap-siap mandi dan berganti pakaian, semua barang dia tata lagi di dalam koper.


" Kau sudah selesai?"


" Iya bang."


" Ayo kita keluar, oh ya mobil kita sudah aku titipkan pada teman ku, nanti siang dia akan ambil jadi tak usah kamu fikirkan."


" Iya bang, bagaimana dengan Indri bang?"


"Entah bagaimana nanti, saya sudah tak semangat melanjutkan pernikahan dengannya, berkali-kali saya katakan dia akan lama hidup dengan saya bilang kasih saya anak, tapi tak di gubris."


" Hah, terus bagaimana kalau aku pun tak bisa kasih abang anak? Apakah abang akan tinggalkan aku?"


" Sudah itu tak penting, yang jelas saya memilihmu untuk jadi istri resmi saya, ikutlah kemana saya pergi, kamu tak akan kecewa asalkan kamu tidak kecewakan saya."


Deg...


' Bagaimana kalau abang tau kalau aku sempat bertukar dengan Rini???'


Santi jadi gundah tentang hal itu.


" Kamu memikirkan apa?"


" Tak ada bang."


" Sudah lah ayo kita berangkat."


Dengan menggunakan taksi jemputan dari bandara mereka pergi memasuki area bandara.


Tuan Khan Amir sudah mengurus semua tanpa sepengetahuan Santi, entah bagaimana caranya tau-tau dia punya paspor.


Masuk ke ruang tunggu, di sana ada food court, mereka pun masuk ke salah satu nya dan sarapan sebelum terbang ke Singapura.


Tuan Khan Amir melihat Santi akan menyalakan gawainya.


" Stop jangan kamu nyalakan."


" Kenapa bang? Aku mau menghubungi bapak dan mamak."


" Ingat sayang kamu sedang pergi menyelamatkan diri, kalau bisa jangan ada yang tau."


" Tapi bang?"


" Apa yang kau khawatirkan? saya sudah meminta nomor rekening bapakmu saat kita menikah dulu, dan saya pula sudah transfer uang pada beliau, kau tenang saja."


" Setidaknya aku harus beri kabar kalau aku baik-baik saja bang."


" Nantilah, jangan pakai nomor yang itu, nanti kau bisa di lacak oleh Indri." kata tuan Khan Amir mengambil gawai Santi dan mengeluarkan sim cardnya dan membuang sim card itu kedalam tempat sampah.


" Abang tau kalau Indri tidak benar-benar baik kepadaku?"


" Iya...sudah habiskan sarapan mu, sebentar lagi pesawat akan landing dan akan flight kembali ke Singapura."


" Baiklah abang."


Tuan Khan Amir tersenyum, istrinya di India sudah ia ceraikan dan sudah pula ia beri harta yang cukup untuknya, tinggal istri yang di Malay dan Indri, dia akan gantung dulu status mereka barulah mereka akan dia tinggalkan.


Pesawat mendarat, pasangan itu mendekati pintu keberangkatan sambil menunggu penumpang turun dari pesawat, tak berapa lama, ada panggilan untuk para penumpang agar memasuki pesawat, merekapun antri masuk ke dalam pesawat.


Ini pertama kalinya Santi naik pesawat seumur hidupnya, ada rasa was-was dalam hatinya, tuan Khan Amir paham begitu melihat sikap gelisah Santi, dia pun memegang tangan Santi yang dingin seperti es, dan memberi senyuman nya pada istrinya itu agar tenang.


Santi hanya pasrah pada apa yang suaminya lakukan selama itu tidak sampai menyakiti dirinya.


Satu jam lebih penerbangan, mereka tiba di Singapura.


Sambil berjalan keluar dari pesawat tuan Khan Amir berkata.


" Mulai sekarang lupakan masa lalu, jadi lah orang baru, saya pun begitu, saya tak suruh kamu melupakan orang tuamu, tapi kita bantu mereka tanpa harus hadir di depan mereka, kamu paham? Setelah ini saya nak urus dokumen mu agar menjadi warga Singapura seperti saya, siapapun tak tau hal ini, saya dah lama menjadi warga negara ini, dan wanita yang akan menjadi istri sah negara lah yang akan saya bawa kemari."


Santi hanya tersenyum dan terharu mendengar perkataan dari suaminya.


Mereka telah keluar bandara, dan di sambut keluarga kandung tuan Khan Amir.


" Ini kakak kandung ku dan suaminya, ini anak-anak mereka."


" Assalamualaikum adik"


" Wa alaikumsalam salam kak."


" Ayo kita pulang, umi dan abi sudah menunggu."


" Baik kak"


Santi pulang bersama keluarga suaminya dan di sambut dengan sukacita.


Santi akhirnya menjadi warga Singapura dan tak pernah kembali ke desa nya lagi, orang tuanya tak tau dimana dia hanya tau kalau Santi sering mengirim uang dari nomor rekening yang tercatat di bank Indonesia, mereka juga tidak tau bagaimana caranya melacak keberadaan Santi dari nomor rekening itu, hanya do'a yang mereka panjatkan agar anaknya itu bahagia.

__ADS_1


****


" Buang wanita itu seperti dia membuang teman-temannya dulu." perintah om Sion pada anak buahnya.


" Kalau dia mati bagaimana bos?"


" Apa pedulimu hah? Kalau kamu kasian, kamu ambil saja!!"


" Maaf bos."


" Sudah.!! Kamu bawa dia ke pulau terpencil, kamu carikan dia rumah, urus kebutuhannya, nanti aku akan beri dia uang untuk melanjutkan hidupnya, tinggalkan dia setelah urusan mu selesai!! Ingat pastikan dia tak bisa kembali lagi ke sini!! Atau aku akan langsung menghilangkannya dari muka bumi ini!!"


" Baik bos."


Rini hanya menangis tak berdaya mendengar pengusiran suaminya.


Badannya di gotong ke dalam mobil tak ubahnya seekor hewan, dan di bawa entah kemana, dia tak bisa melihat ke arah jalan dengan posisi tidur.


Anak buah om Sion yang juga anak buahnya yang sering dia habiskan malam bersamanya dulu di utus untuk membuang dia ke pulau terpencil.


" Dito..kemana aku akan di buang?"


" Hhhh...jangan kamu tanyakan Rin, yang penting kamu masih bisa hidup."


" Maafkan aku Dito, harusnya aku menerima cintamu dulu, aku serakah, sekarang aku panen karma yang telah aku tanam."


" Istirahatlah, kamu sudah sangat lelah, maaf kan aku juga tak bisa menyelamatkan mu."


" Tak apa To semua salahku, terimakasih kamu telah upayakan agar aku masih bisa hidup walau entah dimana nanti."


" Hhmmm..minum lah dulu kamu pasti haus." kata Dito.


Rini pun meminum air yang di berikan Dito, entah kenapa setelah itu matanya sangat mengantuk, mungkin karena ia sangat kelelahan fikirnya, tak sanggup lagi menahan kantuknya Rini pun tertidur.


" Maaf kan aku Rin, aku tak sanggup untuk menjawab semua pertanyaan mu." kata Dito sengaja memberikan minuman yang ia kasih obat tidur.


Entah berapa lama perjalanan, mereka sampai di pelabuhan, Dito mengatakan pada para anak buah kapal kalau dia harus membawa wanita yang dia akui sebagai istrinya itu untuk mengobati penyakit nya, para anak buah kapal itu pun tak banyak bertanya mereka membantu Dito mengangkat tubuh Rini.


Kapal pun berlayar menuju pulau seberang.


Dito mengurus kehidupan Rini di sana, rumah sederhana beserta perabotan nya jauh dari hal-hal yang berbau kemewahan, yang selama ini Rini nikmati.


Sambil merawat tubuh lemah Rini, Dito ikut tinggal di sana selama 2 bulan, membantu apa saja yang harus Rini pelajari di sana, agar Rini terbiasa dan saat Dito kembali ke kota nanti Rini siap ia tinggalkan.


***


Dua bulan berlalu, sudah waktunya Dito meninggalkan Rini.


" Kenapa kamu gak tinggal di sini saja To?"tanya Rini, kondisi tubuhnya sudah sangat baik.


" Maaf Rin, kamu tau kan aku punya anak, tak mungkin aku meninggalkannya, sudah jangan membuat aku lemah Rin." jawab Dito menunduk, berat sebenarnya untuk meninggalkan cinta pertamanya itu.


" Andai bisa Rin, orang tua dan mantan mertuaku tak mau jauh dari cucunya, karena anakku lah pengganti mendiang istriku, jalani lah hidupmu di sini Rin, belajarlah bersabar dan ikhlas, aku di sana akan pelan-pelan melepaskan pekerjaan ku pada bos Sion, bila kita berjodoh pasti akan bertemu lagi, kau bersihkanlah jiwamu selama di sini Rin."


Rini menghela nafas panjang mendengar semua perkataan Dito, mungkin benar apa kata Dito dia harus belajar menjadi orang baik.


" Aku pergi Rin." Dito memeluk tubuh kurus Rini, tak ada lagi Rini yang bahenol, di ciumnya kening Rini kemudian ia lepaskan, mengambil ranselnya dan melangkah keluar rumah tanpa menoleh kebelakang lagi.


" Selamat tinggal Rin, bila ada jodoh pasti kita bertemu." ucapnya di atas kapal yang membawanya kembali ke kota .


Di rumah sederhana itu, Rini menangis terduduk, entah berapa lama ia menangisi kepergian Dito, kemudian ia bangkit dan berkata pada diri sendiri, dia akan berubah mulai sekarang, tak ada lagi Rini yang licik fikirnya.


Sejak itu Rini menjadi salah satu penghuni di pulau itu, dan terbiasa dengan kehidupan di sana.


***


" Abaaaaaang, kemana kamu!!" teriak Indri.


Dia bingung suami dan madunya itu seperti hilang di telan bumi, 2 bulan dia mencari, menyewa orang-orang yang bisa melacak keberadaan mereka tak jua ada hasilnya.


" Haaaiiiiish... lama-lama uangku habis untuk menyewa orang-orang yang b***h itu, aku tak tau nomor kontak istrinya di India dan Malay, Santi jua menghilang, orang tuanya juga tak tahu kabar Santi, ini gila benar-benar gila..!!"


" Apa yang harus aku lakukan sekarang?? Sudah tak ada klien lagi yang menggunakan jasa kawin kontrak padaku, bisa bangkrut kalau kalau begini!!" lanjutnya marah-marah sendiri.


" Om Sion? Ya om Sion mungkin tau kabar Santi, aku harus mencari om Sion." ucapnya lagi.


Karena tak punya nomor kontak om Sion, Indri akhirnya memilih pergi ke night club om Sion.


Jam 8 malam, Indri berdandan agak seksi, siapa tau bisa dapat job sekalian fikirnya.


Dengan mengendarai mobilnya Indri pergi dari apartemen suaminya menuju night club om Sion.


Kebetulan om Sion sedang berada di night clubnya.


Om Sion jelas sudah mengenal Indri, melihat Indri masuk ke sana, dia menebak-nebak apa yang Indri ingin kan.


" Malam om."


" Malam....apa kabarmu? Tumben kamu kesini."


" Yah pengen ganti suasana aja om, oh ya mana Rini om? Aku hubungi di nomor biasanya gak aktif lagi."


" Dia sudah bukan istriku lagi In....entah kemana dia pergi meninggalkan ku." jawab om Sion.


" Oh!! Dia pergi? Santi pun pergi om, begitu pula dengan suamiku."


"Hhmmm...?? Lalu apa tujuanmu kemari?"

__ADS_1


"Yah nyari suasana hiburan yang berbeda aja om." kata Indri berusaha menutupi tujuan awalnya.


"Oh...hehe...! Aku kira mau mencari informasi tentang teman-teman akrab kamu itu."


" Memangnya om tau?" tanya Indri sambil memesan minuman.


"Heemmm...andai aku tau, aku pasti beritahu, untuk apa aku simpan, kan bukan hal yang harus di rahasiakan juga, dan tak ada untungnya buat ku, kalau buat mu pasti kamu butuh informasi karena kamu ada hubungan dengan Khan Amir, iya kan?"


"Heeemmm....iya juga sih." kata Indri sambil terus minum.


" Hei dengan cara minum kamu itu nanti kamu bisa mabok!!"


" Biar lah om, sedikit menikmati hidup."


" Hahaha....memangnya hidupmu selama ini gak nikmat hah? Kurang harta yang di berikan Amir?"


" Enggak juga....masih banyak....mungkin 5 sampai 10 tahun lagi baru habis, tapi tetap aku butuh pemasukan dan hiburan untuk hidup kan om?" ujar Indri mulai mabok.


" Ck sudah minumnya berhenti." kata om Sion sambil menjauhkan botol dan gelas milik Indri.


" Ih om ini jangan larang aku minum, bukannya di sini tempatnya minum? tenang aku pasti bayar." kata Indri sambil meminta tambah pada bartender.


" Terserah kamu lah." kata om Sion sambil meninggalkan Indri sendirian.


" Om...om.." panggil Indri sambil menyusul om Sion dengan langkah seperti orang mabok berat, karena berjalan tak lurus dia terjatuh tepat di pangkuan seorang pria.


" Wah barang baru nih bos?? bohay juga dia, boleh dooong." kata pria itu pada om Sion sambil menaik turunkan alisnya.


"Terserah kamu, tapi jangan di sini, dia bukan barangku!"


"Bawa aja Gus...lumayan nambahin hiburan....kurang kalau cuma tiga ini sedang kita bertujuh." sahut temannya yang lain.


" Hmmm oke, ayo berangkat sekarang."


" Kalian....mau.... bawa.... aku kemanaa??" tanya Indri sudah hampir hilang kesadaran.


" Tenang sayang kita pesta, ada tempat hiburan yang lebih asyik."


Merekapun pergi, entah kemana, di tempat itu mereka berpesta, Indri sudah tak sadar apa saja yang dia lakukan.


Tiba tiba!!


" Diam di tempat kalian sudah di kepung!!"


" Polisi ayo kabur, hei kamu bawa perempuan itu, jangan sampai lepas nanti dia jadi saksi, kita bisa ketangkap bahaya!!"


" Oke aku bawa!!"


" Di sebelah barat mereka kabur dan!!"


" Kejar dan tembak di tempat!!"


" Siap!!"


Polisi mengejar mereka yang berusaha kabur.


Dor....dor...dor


Tembakan peringatan sudah dilepaskan.


Mereka masih berlari, berusaha menyelamatkan diri.


" Diam di tempat semuanya, atau kalian akan di tembak."


" Satu..!! Dua..!!...Tiga!!


Dor..dor...dor..


" Aaaaaaa..aaaa...aaaaa."


Tiga orang tumbang terkena timah panas.


Suasana masih gelap, yang lain masih dalam pengejaran, ketiga orang yang tumbang tewas di tempat dan di bawa ke rumah sakit terdekat.


Akhirnya yang kabur semua tertangkap dengan luka tembak di kaki dan paha.


****


Esok harinya muncul acara berita di televisi yang mengabarkan adanya penangkapan pesta s**s dan s***-***u di gudang bekas penyimpanan besi tua, ada tiga orang yang tewas tertembak, dan 8 orang lainnya terluka di kaki dan paha.


Di sebutkan dalam berita kalau yang tewas dua laki-laki dan satu wanita.


Yang wanita bukan terdaftar sebagai DPO tapi wanita yang tak di kenal, dari identitas nya ia berinisial IS..usia 27 tahun.


Karena tak ada keluarga yang mengakui dan menjemputnya akhirnya IS di makamkan oleh pihak kepolisian.


Om Sion mendengar hal itu, setelah mengeceknya dan ternyata benar.


" Indriana Sapitri." gumamnya sambil menggeleng kan kepala.


Akhirnya cerita tiga sahabat itu bubar.....


Nb


Mohon krisannya yaaaa....


Boleh di jempolin

__ADS_1


terimakasiiih....


__ADS_2