Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 47 Pintu Maaf


__ADS_3

]Tidak, aku ingin menyampaikan berita duka, Rini sudah meninggal.]


[ Hah!!!? Innalilahi wa innailaihi roji'un, kapan? Dimana? Jangan bercanda Yo!!!]


[ Gak mungkin aku bercanda, aku sendiri ikut menguburkannya, keluarga ku saksinya.]


[ Ya Allah, apa penyebab meninggalnya Yo?]


[ Enggak enak membicarakan hal ini di telpon, aku minta kamu antarkan aku pada orangtuanya saja, nanti aku ceritakan semua.]


[ Oke, kapan kamu mau ke sana? mumpung aku lagu cuti.]


[ Kalau bisa siang ini juga, biar berkurang beban ku.]


[ Oke aku tunggu, di apartemenku saja ya, jaraknya lebih dekat.]


[ Oke nanti aku kabari lagi. aku tutup, assalamu alaikum.]


[ Wa alaikumsalam.]


" Bagaimana kak?" tanya Ditha begitu melihat Aryo menutup panggilan telponnya."


" Iya, Saiful akan antarkan aku ke rumah orangtua Rini, kamu gak usah ikut ya, di rumah saja."


" Iya kak."


Jam 11 siang, Aryo menyampaikan rencananya untuk pergi ke rumah orangtua Rini kepada bik Imah, memastikan agar bik Imah nanti menemani Ditha saat makan siang, karena Yana masih sibuk sekali jadi tak bisa menemani Ditha.


Ditha memaklumi sifat over protektif suaminya, ia hanya diam saja.


Arto berpamitan dengan Ditha, kemudian pergi menggunakan mobilnya melaju ke apartemen milik Saiful temannya.


Setibanya di sana, Saiful sudah menunggu di depan apartemen, dan kemudian Saiful naik ke mobil Aryo, mobil melaju ke arah selatan kota.


Kurang lebih 20 menit perjalanan, mereka tiba di rumah orang tua Rini yang sekaligus paman oleh Saiful.


Penjaga membukakan pintu pagar ketika tau yang datang adalah keponakan majikannya.


" Om ku ada pak Jo?"


" Ada mas, masuk aja."


" Terimakasih pak Jo."


" Sama-sama mas."


Aryo memarkirkan mobilnya dan mereka berdua keluar dari mobil masuk ke dalam rumah.


Suasana ruang tamu sepi, tak lama keluar seorang art.


" Oh mas Saiful to, mau cari tuan?"


" Iya mba, om dimana?"


" Masih di atas, sebentar lagi turun."


" Ipul tunggu di sini aja ya mba."


" Iya, silahkan, mau minum apa? Panas atau dingin?"


" Tidak usah mba, kami hanya sebentar, tidak lama-lama." tolak Saiful, dia memang tak pernah mau makan dan minum di rumah om nya itu.


" Baik, saya tinggal ke dalam."


" Iya mba."


Kurang lebih 5 menit pak Subandrio turun ke bawah, begitu melihat keponakan nya beliau langsung saja mendekati mereka.


" Pul? Tumben ke mari, pasti ada hal penting, ya karena kalau ada hal penting aja kamu ke mari kan!!" tanya pak Subandrio sinis.


Aryo tidak aneh dengan sikap orang tua Rini tersebut, begitu sifat anaknya berasal dari sifat orang tuanya.

__ADS_1


" Iya memang ada yang penting om, ini Aryo, om masih ingat kan? Dia ada kabar buat om."


" Hmm masih, kenapa Aryo? kamu sudah berubah fikiran? Terlambat, Rini sudah menikah dengan lelaki tua dan tidak kami merestui, dia kami usir, tapi kalau kami mau menikahinya kami akan fikirkan untuk menerima kembali Rini."


" Kedatangan saya bukan untuk itu om."


" Hehg kalau tidak untuk meminta Rini jadi istrimu gak usah kamu kemari, mengganggu istirahat ku saja." pak Subandrio hendak berdiri dari duduknya.


" Maaf om, hanya sebentar saja, saya akan pergi setelah menyampaikan hal ini."


" Katakan saja cepat!"


" Baik om, maaf kemarin lusa Rini meninggal dunia."


" Apa!! Jangan bercanda kamu!!" bentak Pak Subandrio.


" Untuk apa saya bercanda om, kematian bukan hal yang bisa untuk di bercandakan, maaf ini gawai milik Rini, semua bukti kematiannya ada di sana di rekam oleh tetua warga di pulau XXX silahkan om datang kesana untuk memastikan, saya sudah berbuat selayaknya sesama manusia pada almarhumah, selanjutnya terserah om, maaf ini buku diary milik Rini saya kembalikan pada om, sudah tak ada lagi yang ingin saya sampaikan, saya pamit om, assalamu alaikum." ujar Aryo sambil berdiri dan berjalan melangkah keluar rumah, dan di ikuti oleh Saiful yang tanpa berkata apapun ia meninggalkan om nya yang keras kepala.


Aryo dan Saiful kembali ke mobil dan melajukan nya kembali ke apartemen Saiful.


" Hhhhmmmm, maafin om ku ya, sifatnya sama sekali gak berubah dari dulu."


" Iya gapapa, semoga kabar meninggalnya Rini bisa menyadarkan beliau."


" Rini berbuat seperti itu karena dia kurang kasih sayang, dia melihatmu di perhatikan oleh orang tua mu dia sangat iri makanya ia ingin banget jadi bagian keluarga mu, dia sering curhat padaku tentang itu, soal ekonomi dia gak perduli, yang ia inginkan cuma kasih sayang, ketika bertemu dengan om Sion, figur ayah di temukannya pada om Sion tapi salah arah, om Sion malah memanfaatkan keadaan nya untuk bisa menikmati manis madunya, pergaulan bebas yang sudah terlanjur di lakukan karena pelampiasan ketidak pedulian orang tua menjadi pemicunya, entah bagaimana ceritanya dia bisa di pulau itu."


" Aku juga tidak tau persis Pul, buku diary milik Rini tak semuanya aku baca, aku cuma baca bagian akhir yang ada pesan untukku dan Ditha aja, bagiku lebih baik aku tak tau apa yang terjadi agar aku tidak terlibat lebih jauh, dan kematian Rini sudah membawa kisah baik pada warga di pulau itu, maka biarlah tetap seperti itu, tak perlu di cemari dengan cerita buruk masa lalunya."


"Oh ya Yo, kamu tau cerita Indri? dia juga meninggal."


" Aku tau karena di pesan terakhir Rini menyebutkan akan menyusul Indri, tapi sebab apa kematiannya aku tak tau."


" Dia mati tertembak ketika melarikan diri dari kejaran polisi saat pesta s**s dan s***-***u."


"Astagfirullaaaaah, ya Allah." Aryo kaget, untung dia dapat mengendalikan emosi karena sedang menyetir.


Namun tak lama mereka sampai di apartemen Saiful.


Aryo menepikan mobilnya.


" Aku tak tau kalau Santi, tapi kamu tau, Indri menikahkan Santi dengan suaminya sendiri, dia punya bisnis mengawinkan orang asing yang ingin kawin kontrak gitu, mungkin suaminya lebih memilih Santi dan membawa Santi entah kemana."


" Astaghfirullah, apa lagiii ini....ck!! Ya semoga Santi baik-baik saja walau sempat ikut nakal setidaknya ada orang tua yang mengharapkan dia."


" Iya, kita tak bisa apa-apa Yo cukup bantu do'a aja."


" Iya....Aku gak bisa lama-lama Pul, makluuum suami SIAGA...hehe..."


" Eeeaaa bau-bau nya calon ayah niiiih, ya udah salam sama istrimu ya, selamat menjadi orang tua baru."


" Hehe...iya makasih, aku pamit, assalamu alaikum."


" Wa alaikumsalam." Saiful keluar dari mobil, menutup lagi pintunya dan melambaikan tangan pada Aryo.


Aryo kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya.


30 menit ia tiba di rumahnya dan di sambut oleh Ditha.


" Sudah kembali kak? Sempat bertemu dengan orang tua Kak Rini?"


" Iya sempat, tapi cuma kurang dari 10 menit, gak betah lama-lama dengan orang keras hati dari dulu gak berubah, masa beliau mengira aku mau melamar Rini, ck." jawab Aryo sambil berjalan ke arah ruang makan.


" Kamu sudah makan?" lanjut Aryo.


" Sudah tadi di paksa bik Imah."


" Kok pake di paksa segala? Kamu gak mau makan?"


" Bukan begitu, aku fikir kakak pasti gak lama, ternyata benarkan, gak ada 2 jam kakak sudah kembali."


" Itu sama aja kamu mau menunda makan siang mu sayaaaang, apa kamu gak takut di demo sama si kembar?? satu lawan dua, kalah lho kamu." ujar Aryo sok meyakinkan.

__ADS_1


" Ish, mana ada kamusnya kayak gitu."


" Ya udah aku makan dulu, mau makan lagi?"


" Enggak ah, nemenin kakak makan aja, dah penuh lambungku."


Aryo tersenyum melihat istrinya bicara sambil mengelus perutnya.


\*\*\*


Di tempat lain, pak Subandrio melihat video rekaman prosesi pemakaman putrinya sambil gemetar...seolah gawai itu berubah menjadi seorang bayi mungil yang baru di lahirkan istrinya..... keringat mengucur dan tak terasa airmatanya pun mengalir.


" Rini....Rini....Riniiii..." bruuuugg


" Lhoh tuan...tuan...pak Jo....tuan pak Jo...!!!" teriak art rumah itu.


" Ada apa Win??" penjaga lari ke dalam rumah setelah mendengar teriakan dari dalam rumah.


" Tuan pak...pingsan!! Cepat pak!"


Penjaga rumah membopong tubuh pak Subandrio, dan berusaha menyadarkan nya, 5 menit kemudian pak Subandrio siuman, dan menangis meraung-raung.


" Riniiiiii.....kenapa naaaak.... Riniiiii...maafkan papa...maafkan papaaa naaak...!!"


" Sabar tuan, istighfar... istighfar tuan... Win bisa kamu hubungi nyonya?"


" Iya pak Jo."


Asisten rumah tangga pak Subandrio menghubungi nyonya nya untuk mengabarkan keadaan tuannya.


Dan nyonya nya mengatakan akan segera pulang.


Setengah jam kemudian nyonya rumah tiba dan dengan langkah terburu-buru dia masuk ke dalam rumah.


" Mana tuan?" tanyanya pada art nya.


" Di kamar nyah..."


Penjaga rumah mereka keluar dari kamar begitu nyonya rumah masuk ke dalam kamar.


" Ada apa pah, kenapa kamu jadi lemah begini??"


" Anak kita maah..anak kita...huhuhuhuuuuuu."


" Ryan?? aku baru bertemu dia tadi pagi, memangnya ada apa dengannya?"


" Bukan maaa....Rini mah...Riniiiii....Riniii..."


"Kita tak punya anak yang bernama Rini pah, ingat itu!!" sentak Bu Riri.


Pak Subandrio tak sanggup untuk menjelaskan apa yang terjadi, dia serahkan gawai milik Rini yang telah ia buka video prosesi pemakaman Rini.


Bu Riri mengambilnya dan memutar ulang video itu.


" Astagfirullaaaaah Riniiii....pah i ini...ini...paaaaaah.....apa ini...papaaah....Rini...Riniku pah....aaaaaa.....aaaaa...!!" Bu Riri spontan meraung-raung dan mengamuk tak terima.


Kedua orang tua itu berpelukan sambil menangis.


Art dan penjaga rumah mereka memandang di balik pintu tak berani mengganggu mereka, mereka pun paham yang telah terjadi dan ikut menangis.


Mereka menangis lumayan lama, kemudian pak Jo nekat masuk dan menyadarkan keduanya.


" Sudah tuan dan nyonya, jangan di tangisi, kasian almarhumah sudah tenang di sisiNya, lebih baik kita ke mengunjungi pusaranya dan mendo'akan non Rini.


Pak Subandrio tersadar dan menghela nafasnya.


" Kamu benar Jo, siapkan segala sesuatunya kita berangkat besok pagi, mah aku hubungi Ryan dulu." kata pak Subandrio melihat istrinya yang masih menangisi Rini.


" Iya tuan." kata pak Jo, lalu ia keluar rumahnya mengatur keberangkatan tuannya besok.


Nb

__ADS_1


mohon krisannya yaaaa...


terimakasih....


__ADS_2