Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 26 Kaki Hilang dan Rugi Besar.


__ADS_3

Drrrrrt.....drrrrrt....drrrrt


Ponsel bu Silma bergetar.


[Halo.] dengan malas bu Silma menjawab sambungan telpon.


[Selamat dini hari bu, maaf saya mengganggu istirahat ibu, saya dari kepolisian apakah saya bicara dengan istri dari pak Salman?]


[Ya benar saya sendiri.]


[Maaf saya memberitahukan bahwa pak Salman mengalami kecelakaan dan sekarang berada di Rumah sakit xxx, sementara masih di ruang IGD, mohon segera datang ya bu.]


[Hah, kecelakaan? bagaimana keadaan suami saya pak?]


[Bapak masih belum sadar, silahkan ibu datang ke rumah sakit ya bu, kami tunggu, ada yang harus kami jelaskan selain kecelakaan yang di alami bapak.]


[Ba..baik pak, saya segera datang.]


Bu Silma pun memanggil mang Karim untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


"Mang keluarkan mobil, antar saya ke rumah sakit."


"Siapa yang sakit nyonya?"


"Tuan kecelakaan, ayo cepat."


"Iya nyah."


Mang Karim segera mengeluarkan mobil dan melajukan nya ke rumah sakit.


Dengan waktu kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari desa ke kota, sesampainya di rumah sakit, bu Silma langsung menuju IGD, disana ada beberapa orang polisi, bu Silma pun bertanya dimana suaminya.


"Maaf dimana suami saya pak?" tanya bu Silma tergopoh-gopoh.


"Maaf ibu ini istri dari pak Salman?" tanya salah seorang polisi itu.


"Iya benar, bagaimana suami saya.?"


"Bapak masih di dalam bu, lagi di tangani dokter."


Tak lama keluarlah dokter yang menangani pak Salman.


"Bagaimana pak, keluarga korban sudah datang?"


"Iya dokter saya istrinya."


" Oh ya ibu, ibu harus bersabar ya, kami lakukan pertolongan semaksimal mungkin, kondisi bapak masih kritis karena kehilangan banyak darah, tapi sudah bisa di atasi bapak sudah mendapatkan transfusi darah, tinggal menunggu kesadaran nya pulih, tapi masalahnya kedua kaki bapak kemungkinan tidak bisa di perbaiki, karena kondisinya hancur , dan untuk keselamatan bagian tubuh yang lain agar tidak terinfeksi, kita harus mengamputasi kaki bapak, baik segera menandatangani surat persetujuan untuk melaksanakan tindakan operasi ya bu, agar secepatnya bisa kita lakukan operasinya, karena kalau terlambat pendarahan tak dapat di hentikan."


"Ba..baik dok..." ucap bu Silma lemas.


Bu Silma pun menandatangani, surat persetujuan atas tindakan operasi untuk pak Salman, sekaligus menyelesaikan urusan administrasinya.


Setelah selesai, pak Salman di bawa ke ruang operasi, bu Silma mengiringi di belakang nya setelah pak Salman masuk ruang operasi pintu pun di tutup, bu Silma duduk di depan ruang tersebut di dampingi beberapa orang polisi.


"Apa yang terjadi dengan suami saya pak?"tanya bu Silma masih lemas.


"Maaf bu, kemungkinan bapak kaget karena mendapat kabar kapal carteran untuk pengiriman barang nya di tangkap pihak Pol Air bu, jadi masih dalam kemungkinan bapak ingin kabur dan menyetir mobil dalam kecepatan tinggi dan menabrak truk besar yang melintas di perempatan, karena bapak menerobos lampu merah bu."


"Hah kenapa dengan bisnis suami saya pak? apa ada masalah? dan kenapa suami saya ingin kabur?"


" Kami dapat pemberitahuan ketika menolong bapak tadi bu, kami di perintahkan untuk mengamankan pak Salman karena barang yang di kirimkan barang selundupan hampir 80% dari total keseluruhan pengiriman bu."


"Ya Allah, ada apa ini, kenapa suami saya berbisnis haram seperti itu." ucap bu Silma sambil mengusap wajahnya.


"Maaf bu mulai saat ini bapak akan dalam pengawasan kami ya bu, mohon ibu kooperatif tidak melakukan di luar hal kewajaran ya bu, bantu kami dalam pengusutan kasus bapak."


"Ba baik pak saya pasrahkan kepada pihak yang berwenang saja."


Kurang lebih 4 jam operasi pak Salman pun selesai dan pak Salman di bawa ke ruang pemulihan.


Dokter bedah orthopedi keluar dari operasi.


"Bagaimana suami saya dok?"


" Kondisi bapak stabil bu, tapi masih belum sadar, sekarang berada di ruang pemulihan, untung segera di lakukan tindakan jadi bapak tak kehabisan darah, kedua kaki sudah di amputasi, ibu bisa urus bagian kaki untuk di kuburkan, biar kami yang menjaga dan memantau perkembangan kondisi bapak."


"Baik dok, saya permisi pulang dulu mengurus bagian kaki suami saya."


"Iya bu silahkan."


Bu Silma pun pamit pada polisi untuk mengurus bagian kaki suaminya, dan akan kembali bila sudah selesai.


Dengan bantuan mang Karim bu Silma membawa pulang bagian kaki pak Salman untuk di kuburkan.


Setelah di kuburkan bu Silma tak langsung kembali ke rumah sakit, karena sudah pagi ia berencana kembali ke rumah sakit setelah agak siang sedikit.


Karena kebingungan tak ada siapa pun yang mendukungnya sekarang, bu Silma pun menghubungi Ditha.


Tuuuut....tuuut... tuuut.

__ADS_1


[Assalamualaikum bu.]


[Wa alaikumsalam salam Tha, Tha kamu bisa pulang ke rumah ibu nak?]


[Ada apa bu?]


[Tolong ibu nak, ibu butuh dukungan, ayahmu kecelakaan, dan tersandung kasus pula.]


[Ya Allah, ba baik bu, Ditha akan datang.]


[Iya nak, ibu tunggu.]


Sambungan telpon pun di putus.


Ditha meminta pada Yani untuk mengantarkannya ke rumah ibunya di desa.


Kurang lebih 2 jam perjalanan, tibalah Ditha di rumah ibunya, Ditha pun langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati ibunya yang duduk bersandar di sofa.


"Assalamualaikum bu, ibu baik-baik saja?"


"Wa alaikumsalam, iya Tha, tapi ayahmu tidak baik-baik saja, ibu harus bagaimana Tha? Ibu bingung."


"Ditha juga bingung bu, apalagi yang bisa kita lakukan kecuali pasrah mengikuti proses nya."


"Kamu benar, andai ada kakakmu mungkin dia bisa bantu ya Tha."


"Mungkin bu, kok kita do'akan saja semoga semuanya baik-baik saja."


"Kita pergi ke rumah sakit lagi Tha siapa tau ayahmu butuh sesuatu, ibu sudah siapkan kebutuhan ayahmu di rumah sakit nanti, kamu baru datang, tidak lelah kan kalau kita pergi lagi?"


"Insya Allah tidak bu, ayo kita pergi."


Mereka pun bersiap untuk pergi, tapi begitu berada di depan pintu, beberapa orang laki-laki datang ke rumah.


"Nyonya, gawat nyonya, polisi mengungkap bisnis gelap bapak, sekarang kantor pun di pasang police line nyah, seluruh karyawan di larang masuk kerja nyah, semua berada di luar gedung, kita harus bagaimana nyonya, satu hari saja tidak ada pengiriman perusahaan akan bangkrut nyonya."


Bu Silma langsung lemas mendengarnya hampir saja badannya jatuh kalau tidak di tahan oleh Yani.


Melihat itu Ditha mengambil inisiatif untuk memberikan perintah pada pegawai pak Salman tersebut.


"Maaf pak kondisi ibu saya lagi syok, begini saja bapak perintahkan seluruh karyawan untuk pulang dulu, untuk sementara jangan ada aktifitas apapun, nanti saya akan hubungi bapak bila sudah dapat jalan keluar, saya usahakan secepatnya, tolong sampaikan pada seluruh karyawan untuk bersabar, harap kabari saya apabila ada perkembangan apapun."


"Baik non, kami permisi non."


"Iya pak terimakasih dan hati-hati."


Melihat kebijakan Ditha, bu Silma terharu, seandainya dia tidak menyepelekan anak-anak pastilah hal yang terjadi hari ini tidak sampai separah ini.


Setibanya di rumah sakit mereka langsung menuju ke ruangan dimana pak Salman di tempatkan.


Sebelumnya mereka sudah di beritahu kalau pak Salman sudah pindah dari ruang pemulihan ke ruang perawatan, karena kondisinya sudah sadar.


Di depan ruangan pak Salman ada beberapa polisi yang berjaga.


"Suami saya di dalam pak?" tanya bu Silma pada salah seorang polisi itu.


"Iya bu, silahkan masuk."


Bu Silma pun masuk di temani Ditha. Sedangkan Yani menunggu di luar kamar.


"Pah, bagaimana keadaanmu?"


Pak Salman hanya diam menatap langit-langit kamar, tak ada reaksi darinya.


"Pah??"


Pak Salman hanya menoleh sebentar kemudian kembali menatap langit-langit.


Air matanya menetes di sisi ujung matanya mengalir ke telinga, sigap Ditha menghapus nya dengan tissue.


Merasakan tangan Ditha yang menghapus air matanya pak Salman semakin terisak-isak.


"Dosaku banyak...dosaku banyak...maafkan....maafkan...!! Aaaargh.....aaaargh...."


Pak Salman mengamuk, dua polisi yang berada di luar masuk ke kamar karena mendengar teriakan pak Salman, dan mencoba menahan badan pak Salman yang meronta-ronta.


Ditha pun menekan bel darurat, tak lama datang perawat masuk ke dalam, dan menyuntikkan obat penenang.


Tak berlangsung lama pak Salman sudah tenang dan tertidur.


Dokter masuk ruangan dan mengajak bu Silma untuk mengikutinya.


"Silahkan duduk bu."


"Bagaimana kondisi suami saya dok?"


"Untuk sementara sepertinya bapak lagi terguncang jiwanya bu, di tambah lagi harus menerima kondisi tubuhnya , sementara jangan bebani fikiran apapun pada bapak, biar beristirahat total ya bu, kita lihat lagi nanti sambil menunggu kesembuhan luka bekas operasinya.


"Baik dokter, terimakasih atas bantuannya, kami permisi kembali ke ruangan suami saya dok."

__ADS_1


" Iya bu, silahkan."


Bu Silma dan Ditha pun kembali ke kamar rawat pak Salman.


Bu Silma mengajak Ditha untuk duduk di depan kamar.


"Bagaimana ini Ditha, perusahaan membutuhkan keputusan ayahmu, sedang ayahmu tak bisa di ganggu dulu, entah sampai kapan."


"Bagaimana kalau kita minta saran om Rinto bu?"


"Ah iya kamu benar, baik ibu hubungi Rinto dulu." ujar bu Silma sambil mengeluarkan gawainya dari tas.


tuuuut....tuuuut....tuuuut.


[Assalamualaikum Silma, ada apa?]


[Wa alaikumsalam Rinto, To aku butuh bantuan mu, Salman kecelakaan dia di rumah sakit xxx apa kau bisa ke sini?]


[Hah kecelakaan? baik....baik....aku kesana kebetulan aku tak jauh dari rumah sakit itu, oke tunggu aku.]


[Baik To dia di ruangan Bugenville no 13, langsung saja ke kamarnya.]


[Oke.]


Tak lama pak Rinto pun datang.


"Silma, bagaimana kondisi Rinto?"


"Kamu masuk lah dulu dan lihat lah."


Pak Rinto pun masuk dan melihat kondisi pak Salman, kemudian keluar lagi.


"Kenapa dia, kakinya....?"


"Iya To, duduklah aku butuh saran mu."


Bu Silma pun menjelaskan permasalahan nya dari awal hingga akhir.


"Hhhmmmm....gawat, tak ada yg bisa di selamatkan jika sudah berhubungan dengan hukum, satu-satunya cara harus melepaskannya, kita tak bisa menunggu Salman, oke aku ke sana dulu melihat apa yang bisa aku lakukan, apapun keputusannya nanti kalian terima saja, walau pun dengan cara harus menjual perusahaan, aku tak bisa bantu pendanaan karena semua dana sudah aku gelontorkan untuk pengoperasian kapalku."


"Kamu atur saja To, aku pasrah, jika harus menjual aset lain juga tak apa yang penting masalahnya selesai."


"Oke, aku pergi dulu."


Pak Rinto pun pergi ke perusahaan milih pak Salman melihat kondisinya.


Tak seberapa lama, pak Rinto menghubungi bu Silma.


Tuuuut....tuuuut


[ Halo To?]


[ Assalamualaikum Silma.]


[ Wa alaikum salam.]


[ Ini tak bisa di selamatkan Silma, kapal ekspedisi yang di carter Salman menuntut ganti rugi kapal mereka karena mereka tak tahu menahu akan status barang yang di kirimkan, perusahaan pailit, kita hanya bisa melepaskannya, nanti aku cari siapa yang mau beli, itupun tak cukup untuk menutup kerugian, belum lagi harus bayar pesangon seluruh karyawan gudang dan kantor, perusahaan relasi Salman semua angkat tangan takut tersandung kasus juga, kita sendirian, apa kamu tau dimana dan apa saja aset milik Salman?]


[ Aku tak tau To, sebentar aku suruh Karim menyusul mu, dia yang tau semua aset milik Salman karena mereka berdua sudah dari dulu berteman.]


[ Baik aku tunggu, suruh dia segera kemari, setidak kita bisa memberi harapan pada korban-korban Salman, aku tutup, assalamu alaikum.]


[Wa alaikumsalam]


Setelah menerima panggilan telpon dari pak Rinto, bu Silma menelpon Karim yang sengaja ia suruh standby di parkiran rumah sakit.


Tuuuuut....tuuuuut.


[ Assalamualaikum nyah.]


[Wa alaikumsalam, mang pergilah ke perusahaan tuan, mamang di tunggu pak Rinto, ada yang harus di urus, pergi sekarang ya.]


[ Baik nyah saya pergi.]


Mang Karim pun melajukan mobilnya ke perusahaan milik pak Salman. Di perjalanan menuju perusahaan mang Karim menghubungi Hadi.


Tuuuut...tuuuut.


[ Assalamualaikum paman.]


[ Wa alaikumsalam Di, siap-siap.]


[ Oke, info di tunggu.]...tut panggulan terputus...


Ada apa gerangan???


Nb...


mohon krisannya yaaa...

__ADS_1


terimakasih...


__ADS_2