
'Ini tak boleh terjadi, aku harus kabari Rini, ah...jangan sampai mereka bersama.' bathinnya.
Karena membawa fikiran buruk saat hendak tidur jadilah dia mengalami mimpi buruk.
"Tidak...tidak bisa, aku tidak terima pernikahan ini, dia milikku....ya milikku!!"
"San...Santi.....hei Santi.."
Badannya di goyang-goyang masih saja meracau tak jelas, karena tak juga bangun, ibunya mengambil segelas air putih dan menyiramkannya ke wajah Santi.
"Hufffh....hufffh...uhuk....uhuk."
"Bangun kamu!!!"
"Mamak!! kenapa basah?? mamak siram aku??!"
"Iya, mimpi apa kamu?? Teriak-teriak tidak jelas hah? Siapa yang mau nikah hah? Kamu lihat itu hari sudah hampir siang? anak gadis kok bangun siang, yang mau melamar putar balik gak jadi melamar tau????"
"Mamak kok ngomong begitu, nanti jadi do'a bagaimana?"
"Itu salahmu bukan salah mamak, mamak sudah didik kamu dengan baik tapi apa hasilnya hah, kamu lihat Ditha, dia sangat rajin, jadi rejekinya melimpah, lihat dia sudah kaya sekarang, otaknya juga pintar!!"
"Mamak berhenti membandingkan aku dengan Ditha, selalu Ditha.... Ditha...Ditha...Dithaaa.... terus, sakit telingaku mendengarnya, aku juga bisa kalau aku mau!!"
"Ya sudah kalau kamu bisa, sana cepat jadi kaya biar banyak laki-laki yang mengejarmu, lihat wajah mu ke cermin!! Tak terawat!! sudah mamak bilang jangan pakai krim abal-abal itu!! Bahaya!!"
"Kalau mamak mau aku cantik ya kasih aku uang mak!! mamak tau upah ku kerja di bibi Amih tidak besar."
"Ya kau cari kerja di kota lah, cari yang lebih besar gajinya, percuma saja kuliah kalau cuma kerja di tempat si Amih!"
"Tidak semudah itu mak cari kerja di kota, mana tak ada uang saku pergi ke sana!!"
"Heh otakmu di pake, kamu kan kenal Aryo, kenapa tidak kamu minta pekerjaan padanya, dasar otak udang!!"
"Biar begini aku anak mamak!! kenapa malah ngatain aku begitu!! Tapi mamak benar juga, aku akan minta pekerjaan pada Aryo, aku kan sarjana, pasti posisiku tinggi nanti hehe." kata Santi kegirangan.
"Ya sudah, hari ini kamu kerja apa tidak??"
"Tidak ah mak, mamak bilang sama bik Amih aku gak masuk, mau cari kerja aja, tapi kasih aku uang saku ya mak?"
"Iya...sana siap-siap, siapa tau Aryo lagi di rumahnya di desa sebelah, pasti dia belum ke kota karena tadi malam dia masih di acara nya Silma."
"Huh jangan bicarakan itu mak, jengkel aku.!"
"Kenapa pula kamu jengkel, ada hubungan apa denganmu acara itu??"
"Sudah jangan tanya mak, malas aku."
"Sesukamu lah San, kamu mandi dan makan dulu sana, huh anak gadis bukan nya masak untuk orang tua, ini malah kebalikannya.!!" kata Mak Ila sambil melangkah keluar kamar Santi.
Santi pun segera keluar kamar menuju kamar mandi, setelah mandi dan berganti pakaian ia langsung makan.
Selesai makan, dia kembali ke kamar dan memeriksa semua dokumen pentingnya yang ia akan bawa nanti pada Aryo, melihat semua dokumennya dia tersenyum.
"Semoga Aryo mau menerimaku kerja di tempatnya, syukur-syukur Aryo nya juga mau dengan ku hihihi...., tapi bagaimana dengan Rini kalau Aryo mau denganku? Wah bisa-bisa di penggalnya aku, dia orang sadis, ck ish....ah apa kata nanti lah! Sepertinya akupun harus mencari Rini, hei bagaimana kalau aku minta pekerjaan juga pada Rini andai Aryo tak menerimaku, wah ide bagus, oke sekarang aku pergi." katanya berbicara sendiri.
"Bicara sama siapa kamu San"
"Bap...bapak!! ngagetin saja ih!" seru Santi.
"Lagian kamu kok bicara sendiri, kesambet nanti kamu."
"Bapak ih serem banget."
"Ah kamu memang tak beres San."
"Pak minta uang saku, aku mau ke kota cari kerja, biar cepat kaya seperti Ditha" katanya tanpa sadar padahal ia melarang ibunya menyebut nama Ditha.
"Bagus itu, sebentar bapak siapkan, tapi cuma ada 5 juta, cukup gak cukup kamu cukup-cukupin, atau kamu minta di tambahin sama mamak mu."
"Iya Santi sudah bilang mamak, takut mamak kasihnya sedikit."
" Ya sudah bapak mau ke kandang sapi dulu."
"Ya pak."
Dengan menggunakan sepeda motor Santi ke desa sebelah untuk menemui Aryo.
Setibanya di rumah orang tua Aryo ia parkir kan sepedanya di halaman.
Kebetulan Aryo ada di depan rumah sedang mengawasi para pekerjanya menurunkan gulungan kain.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam, kamu San."
"Iya, kamu lagi sibuk Yo?"
"Seperti yang kamu lihat, ada apa San?"
"Eeemmm.....aku ada perlu sama kamu."
"Kamu tunggulah di gazebo itu." kata Aryo menunjuk gazebo yang di depan rumahnya."
Santi pun berjalan ke arah gazebo dengan memajukan bibirnya, karena tidak mendapat prioritas dari Aryo, sedang Aryo meneruskan pekerjaannya sampai selesai.
__ADS_1
Begitu selesai, Aryo malah masuk ke dalam rumahnya, sekitar 15 menit datang pembantu rumah bu Laila keluar membawa jus untuk Santi.
"Silahkan di minum neng."
"Aryo nya kemana mba?"
"Mas Aryo mah biasa kalau habis kerja-kerja mandi lagi, walaupun pagi tadi sudah mandi."
"Oh, iya mba." kata Santi sambil meminum jus yang di berikan pembantu rumah Aryo.
"Enak gak neng? takut neng gak suka."
"Enak mba, terimakasih."
"Mba tinggal dulu ya neng."
"Silahkan mba."
Tak berselang lama setelah pembantu itu pergi, Aryo pun keluar rumah dengan memakai kaos hitam dan celana Levis, menambah gagahnya pemuda itu.
Melihat itu Santi menelan ludahnya, andai saja ia bisa menaklukkan laki-laki ini, dia akan menjadi wanita paling bahagia fikirnya.
"San...hei San...." kata Aryo sambil melambaikan tangannya.
"A oh...oh kamu sudah selesai mandi." kata Santi gugup.
"Hahaha....kamu kenapa, aku sudah duduk dari tadi kamu malah bengong, mikir apa kamu??"
"Am....em...enggak, oh ya Yo aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Di tempat kamu ada pekerjaan gak yang cocok buat aku."
"Haha kamu nyari kerjaan yang cocok? Hheeeemmmm, kalau yang sesuai dengan jurusanmu gak ada di tempat ku San, dan lagi di tempat ku membutuhkan orang-orang yang kreatif dalam mendesain motif, lah kamu kreatif apa, nyinyirin orang aja bisanya."
"Ah kamu meremehkan aku Yo, sial!"
"Nah tuh kamu aku nyinyirin gak terima juga kan, lah kamu nyinyirin orang boleh-boleh aja, haha kamu tak sadar kalau aku menguji kamu dari tadi, dari sikapmu datang dan duduk lama dan baru saja aku ngomong kalau kamu gak punya kreativitas saja kamu sudah gak terima, bagaimana aku bisa menerima orang sepertimu untuk bekerja di tempat ku yang di butuhkan orang yang super sabaaaaar hah!!"
"Jadi dari tadi aku sudah kamu tes walaupun aku belum ngomong kalau mau minta pekerjaan padamu?"
"Bukan sekarang aja San, dari dulu sejak kamu tamat SMA dan kuliah, sebenarnya aku sudah mau tawarin kerjaan pada kamu, tapi sifat kamu yang seperti itu tidak mungkin aku ambil kamu jadi karyawan ku, bisa-bisa karyawan ku yang lain kabur semua gara-gara sifat nyinyir kamu itu, maaf ya San aku tak bisa bantu, baik itu kerja pada ku atau ke tempat lain, tolong betulin dulu akhlak mu itu, semoga kamu dapat pekerjaan yang cocok seperti katamu tadi."
"Kurang aja banget sih kamu Yo, gak bisa apa kamu menghargai perempuan hah!!" kata Santi sambil berdiri dan bertolak pinggang.
"Hheeeemm....tergantung sifat perempuannya sih San, kamu butuh kaca cermin?? Tuh di ruang jahit bunda ku ada kaca besar, ngaca lah dulu!" kata Aryo tak kalah ketus.
"Oke Yo, aku tak akan mengemis pekerjaan padamu, aku akan buktikan kalau aku juga bisa sukses tanpamu dan mengalahkan Ditha, awas saja kalau kamu yang mengemis perhatianku, aku gak butuh!!"
"Huhh...!!" Santi pun pergi dengan terburu-buru menaiki sepeda motor nya.
Aryo hanya tersenyum melihat kepergian Santi, sebenarnya bisa saja dia membantu Santi, tapi karena sifat jahat Santi tidak mungkin dia membantunya, sama saja menolong ular kejepit fikirnya.
Mendapat penolakan dari Aryo Santi sangat gusar dan marah, tanpa sadar ia mengendari sepedanya dengan kecepatan tinggi, ketika di tikungan desa ada mobil yang akan lurus namun pelan sedang dia akan belok jadilah ia buru-buru mengerem namun tetap menabrak mobil itu, mobil berhenti namun Santi terjatuh di samping mobil.
"Heeeh!!! Naik sepeda kok ngebut mana mau belok lagu, memang jalan ini punya nenek moyang mu!!?"
"Kamu saja yang tak punya mata!!" maki Santi juga sambil berusaha berdiri, untungnya dia tidak sampai luka-luka, namun sepedanya jadi rusak, stang nya miring tak mungkin bisa ia naiki lagi.
"Santi!!" seru pengemudi mobil itu.
Karena namanya di sebut, Santi pun mengernyitkan dahinya.
Pengemudi mobil itu melepaskan kacamata hitamnya.
"Rini!!" teriaknya.
"Ah kamu kebiasaan ngebut terus, tidak bakalan kamu bisa menyaingi Valentino Rossi, dasar b***h!!" kata Rini sambil turun dari mobilnya.
"Haduuuh aku ngebut kalau cuma lagi kesal aja."
"Kesal sama siapa kau! Ck jadi rusak kan sepedamu, untung saja aku yang kau tabrak kalau enggak habis kamu babak belur."
"Mana ada orang nabrak itu untung hah!! Aneh!!"
"Hahaha....gimana nih jauh gak bengkelnya?"
"Ada yang dekat di jalan lurus sana."
"Oh ya sudah, sebentar." kata Rini sambil mengambil gawainya untuk menelpon anak buahnya.
"Kamu mau kemana sebenarnya?" tanya Rini lagi.
"Mau pulang lah, ini kan jalan ke rumah ku." kata Santi.
"Ah salah pertanyaan aku, kamu dari mana?" ulang Rini.
"Dari rumah Aryo, mau minta pekerjaan, tau gak kamu, kurang ajar si Aryo, dia tak mau kasih aku kerjaan."
"Hahaha..ya iyalah dia tak mau kasih kamu kerjaan, lah bisnisnya di dunia kain nah kamu jurusan otomotif gak cocok donk."
"Ish kamu, temen dia kan banyak dia harus nya bantuin rekomendasi kan aku."
"Iya juga yah.?!"
__ADS_1
"Kamu sendiri dari mana dan mau kemana?"
"Rencana sih mau nyari kamu, mau cerita-cerita aja, sudah lama kita gak kumpul-kumpul kan, reuni yuk."
"Boleh-boleh ayuk."
"Sekarang aja gimana?"
" Oke juga, gimana sepedaku?"
"Kita tunggu sebentar lagi, anak buahku akan datang untuk mengurusnya, kita tunggu di dalam mobil saja."
Mereka pun masuk mobil, menunggu anak buah Rini sambil makan cemilan yang Rini bawa di mobilnya.
Tak menunggu lama, anak buah Rini datang menggunakan pickup, dan menaikkan sepeda motor Santi ke atas pickup, lalu membawanya ke bengkel.
"Kalian urus sampai selesai ya, nanti aku akan beritahu kemana kalian harus antar sepedanya."
"Siap bos, berangkat bos!"
"Iya."
Kemudian Rini pun melajukan mobilnya ke kota, diperjalanan dia menelpon Indri dan Arlinta, untuk bergabung bersama mereka, sayangnya hanya Indri yang bisa ikut sedang Arlinta sedang berada di luar negeri di boyong suaminya.
Sesampainya di kota, Rini membawa Santi ke salah satu cafe, mereka masuk ke cafe itu memilih meja di pojok ruangan dan duduk sambil menunggu kedatangan Indri.
"Rin..... kira-kira kamu punya kerjaan untuk ku gak?"
"Hah, ya tergantung San, untuk keahlian kita gak ada San."
"Lah terus kamu kerja apa, kok bisa kaya banget sekarang?"
"Hehehe suami ku kaya Saaan, ah kau ini."
"Ck kasih aku kerjaan di sana laaaah."
" Serius kamu? Dunia malam lho San!"
"Hah, aduh...!"
"Hahaha..ya kalau kamu mau nanti aku antarkan ke suami ku, tapi jangan suami ku yang kau rayu ya, aku sumbat nanti lubangmu!"
"Ish kamu belum apa-apa dah main ancam."
"Ya kamu fikir-fikir dulu lah."
"Ah gak papa juga kali, aku kan juga sudah tidak......" kata Santi terputus.
"Hah, apa!!"
"Hihi...." Santi tertawa sambil nyengir.
"Yeeee.... sudah bolong kamu?? Sejak kapan?"
"Ish sssssst...." Santi menutup mulut Rini dengan tangannya.
"Sejak dia mau menjebak kakak kelasnya saat SMA." sahut Indri yang ternyata sudah sampai di sana begitu melihat kedua temannya dia langsung saja mendekati keduanya.
Keduanya pun menoleh pada Indri yang langsung duduk di meja mereka.
"Bisa diam gak sih loe!" kata Rini dan Santi serentak.
"Apa sih!!"
"Jadi kamu mau kerja seperti itu?" tanya Rini lagi.
"Gak papa, yang penting dapat uang banyak dan cepat kaya, biar bisa mengalahkan si Ditha.!!"
"Hah? Siapa Ditha? memang dia kaya? Jadi piaraan om-om?"
"Andai iya! Dia adik dari kakak kelas yang aku taksir, rumahnya berseberangan dengan rumah ku, ingat gak kamu waktu kalian ke rumah ku" sahut Santi ketus
"Hah oooh itu, iya ingat, terus kok dia kaya bukannya rumahnya saja jelek"
"Orang tuanya ternyata kaya, ish sialan, ingat gak yang aku ceritakan waktu itu, kalau Aryo suka dia !!"
"Aduh sial, bakal hilang dong gebetan ku!"
"Pasti, orang tua Aryo sudah meminta Ditha untuk jadi mantunya."
"Ini gak bisa di biarin aku harus bertindak, ayo kamu bantu aku ya??" kata Rini sambil memelas pada Santi.
"Wani piro?? Hahaha..."
"Ah kamu, kita barter, aku bantu kamu, kamu bantu aku, deal?? Tenang berapapun kamu minta aku kasih deh, atau habis ini aku kirimkan mobil ke rumahmu ya....ya...ya...pleeeease.!"
"Oke deal....!!"
Mereka bertiga pun melanjutkan pembicaraan di cafe itu hingga tak terasa malam pun tiba.
Nb
mohon krisannya yaaaah.
terimakasiiih....
__ADS_1