
Tasyakuran putra dan putri kami Aryan Rizky Permana dan Aryanti Salsa Permata, Yafiq Miftahuddin
Semoga menjadi anak-anak yang sholeh dan solehah.
Acara tasyakuran yang di adakan di rumah pak Yahdi di selenggarakan bersamaan dengan di bukanya pabrik pengolahan besi tua dan limbah plastik yang letaknya bersebelahan dengan rumah pak Yandi.
Semua warga di undang untuk datang sekalian memberitahukan bahwa pabrik akan membuka untuk lowongan tenaga kerja hanya untuk warga lokal saja.
Semua warga menyambut dengan antusias, terutama untuk warga yang tak mempunyai pendidikan tinggi dan pengangguran.
Warga secara bergantian datang dan memberi selamat atas lahirnya ketiga cucu dari pak Yandi.
Tanpa terkecuali keluarga pak Trimo, Santi dan suaminya pun turut datang memberi ucapan selamat.
" Selamat ya Ditha, si kembar lucu sekali." ucap Santi.
" Oh kak Santi, apa kabar? Wah kakak hamil? Selamat ya semoga di beri kelancaran dan kesehatan sampai melahirkan nanti."
" Iya ini Tha, alhamdulillah."
" Di nikmati kak hidangannya."
" Iya Tha makasiih." ucap Santi kemudian berjalan ke arah meja dimana suaminya duduk.
" Sudah lihat bayi mereka?"
" Iya bang, lucu sekali, gemesin...adduuuh perutku kok sakit." kata Santi sambil meringis, mendadak perutnya kram saat hendak duduk.
" Sayang kamu tak apa-apa, aduh ayo..ayo kita ke rumah sakit."
" Kenapa Amir?" kata pak Trimo.
" Perut Santi tiba-tiba sakit pak."
" Ayo..ayo cepat kita bawa...bu bu...ayo kita kerumah sakit Santi sakit perut."
" Hah...tapi..!!?"
" Ayo sudaaah cepat." kata pak Trimo mengejar anak dan menantunya.
Lalu mereka pergi dengan menaiki mobil ke arah perbatasan kota.
" Ada apa itu tadi ribut-ribut?" kata pak Yandi.
" Santi anak pak Trimo mendadak sakit perut pak.!"
" Kok bisa, kenapa?"
" Lho mungkinkah kak Santi mau melahirkan ayah?"
" Santi hamil sayang?" tanya Aryo.
" Iya tadi ketika lihat si kembar, perut kak Santi terlihat besar, semoga di lancarkan gak kurang satu apapun." kata Ditha.
" Aaamiiin." ucap mereka serempak.
Acara kembali berlangsung dengan meriah, keluarga besar pak Yandi sangat berbahagia, segala cobaan yang mereka lalui telah berbuah manis pada akhirnya, tanpa dendam dan menyerahkan semua pada Allah akhirnya berbalas dengan kebahagiaan, di mana pun mereka berada mereka selalu berusaha menjadi bermanfaat bagi orang-orang sekitar mereka.
****
Di kediaman pak Derajat, pak Derajat terbaring lemah di tempat tidur, sejak bisnisnya di permainkan oleh anak-anak sendiri dia menjadi pesakitan dan tak ada satupun anak yang berada di samping nya saat ia sakit.
Harta yang ia banggakan dan tradisi yang ia yakini akan berhasil ternyata menjadi bumerang untuknya sendiri.
Anak-anaknya memang melakukan apa yang ia perintahkan namun akhirnya satu persatu terbongkar kalau mereka hanya menikah pura-pura saja, lalu semua pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Disisinya hanya istri yang juga sering sakit-sakitan yang masih setia mendampingi nya, istrinya yang sekaligus saudara sepupunya itu tak ingin meninggalkannya. Istrinya bersumpah akan tetap di sampingnya sampai akhir hayat.
Tok..tok...tok.
" Yaa.."
Dengan berjalan pelan-pelan istri pak Derajat membuka pintu.
" Selamat siang kami petugas dari rumah tahanan bu, bisa kami bertemu dengan keluarga pak Salman?"
" Siang ya saya sendiri ibunya, ada apa pak?"
" Maaf kami ingin mengabarkan kalau pak Salman sudah meninggal dunia di karenakan sakit bu."
" Innalilahi wa innailaihi roji'un." Istri pak Derajat terduduk lemas mendengar kabar duka yang di sampaikan petugas itu.
" Sabar bu, maaf kami sudah membawa jenazah di mobil ambulans, mohon di sambut bu."
" Ba baik." Istri pak Derajat menyuruh art dan penjaga rumah mereka untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Dikamar pak Derajat mendengar kabar duka itu hanya bisa meneteskan air mata, badannya sudah tak mampu lagi ia gerakkan.
Semua pekerja di rumah mereka menyiapkan acara pemakaman pak Salman.
Pak Salman meninggal karena sakit diabetes yang ia idap sudah lama setelah pemotongan kedua kakinya ternyata luka kembali basah dan menjalar semakin ke atas tubuhnya hingga tak bisa di selamatkan lagi.
Usai pemakaman, istri pak Derajat hendak meminumkan obat untuk suaminya, namun saat di bangun kan pak Derajat tak bergerak lagi, ternyata Allah pun telah menjemputnya.
" Innalilahi wa innailaihi roji'un, paaaak..!!"
" Nyonya sabar nyonya..."
Semua kembali berduka, Semua anak-anak nya di hubungi dan mereka datang untuk menghantarkan bapak mereka ke peristirahatan terakhir di sebelah makam pak Salman.
Keangkuhan dan kesombongan seakan tak ada artinya, hilang tak berharga, harta yang di pertahankan agar tak terbagi dengan orang luar dari garis keluarga justru habis oleh keangkuhan dan kesombongan itu sendiri.
****
" Alhamdulillah." ucap keluarga pak Trimo.
" Pak Amir, bayinya prematur kami pindahkan ke ruang perawatan bayi ya, harus di inkubator."
" Baik pak dokter." sahut tuan Khan Amir.
" Silahkan bila ingin di adzani langsung ke ruang rawat bayi ya."
" Iya bu bidan."
Tuan Khan Amir berpamitan pada istrinya untuk ke ruang bayi sebentar.
Santi di hantarkan ke ruangan untuk beristirahat.
" Bapak..mamak..." ucap Santi.
" Iya nak, bapak di sini, istirahat lah, kamu pasti lelah."
" Mau makan nak? makan dulu ya biar kuat."
" Iya mak, bayiku bagaimana mak?"
" Masih di rawat nak, karena belum waktunya lahir jadi masih belum kuat, kamu makan dulu biar cepat keluar asinya."
" Iya mak."
Tak lama tuan Khan Amir masuk ke dalam ruang inap istrinya.
__ADS_1
" Abang, bagaimana bayiku?" tanya Santi sambil makan untuk mengembalikan tenaganya.
" Dia baik sayang, cantik seperti kamu."
" Hah....cewek?"
" Iya.. alhamdulillah."
" Alhamdulillah." sahut Santi dan orangtuanya.
" Dia harus di inkubator dulu sampai benar-benar kuat sayang, namun kata dokter kondisinya bagus, kita baru bisa bawa pulang kalau berat badannya sudah cukup."
" Oh ya gapapa bang, demi kebaikannya."
Kemudian ada yang mengetuk pintu ruangan, masuklah perawat dari ruang bayi.
" Ibu, bagaimana keadaan nya baik?"
" Iya bu."
" Makan dan minum yang banyak agar ASI-nya cepat keluar ya, ini saya berikan pompa asi, nanti coba di pompa ya, kalau sudah bisa keluar, sedapatnya saja tolong di antarkan ke ruang bayi ya."
" Iya bu, terimakasih."
" Sama-sama, saya kembali ke ruangan."
Kondisi Santi baik-baik saja sehingga dokter sudah membolehkan dia untuk pulang, namun anaknya masih belum bisa ia bawa, tuan Khan Amir menyewa salah satu apartemen yang berada berdekatan dengan rumah sakit itu agar tak terlalu jauh untuk mengambil dan mengantarkan asi untuk bayinya.
Satu bulan lamanya anak Santi di rawat akhirnya berat badannya cukup dan bisa di bawa pulang.
Santi dan suaminya keluar dari apartemen yang mereka sewa untuk menjemput bayi mereka.
Setelah mengurus segala sesuatunya, mereka pun pulang dengan membawa bayi mereka keluar dari rumah sakit.
" Ayo kita pulang..ayo kita pulang." kata Santi sambil menggendong bayinya yang mungil.
" Terimakasih sayang, akhirnya aku jadi ayah." ucap suaminya sambil menyetir mobil.
" Terimakasih juga abang, sudah memilih aku untuk menjadi istri dan ibu dari anak abang."
" Ooeeek...oeeek." tangis bayi Santi sepertinya sedang lapar karena mulutnya mencari-cari ****** susu ibunya.
" Iya naaak..iya..."
Santi menyusui bayinya dengan bahagia, suaminya tersenyum melihat bayinya yang lahap menyusu.
" Sehat terus cantiiiik." ujarnya.
" Abi jangan genit-genit lagi ya biii, nanti cantik jewer kuping abi kalau genit-genit!!." ucap Santi sambil terkekeh.
" Ampun cantiiiik!!" sahut tuan Khan Amir sambil memegang sebelah daun telinganya.
Keduanya berbahagia segala perbuatan yang lalu menjadi pelajaran yang bisa di ambil hikmahnya, mereka sudah menjadi orang tua, mereka harus memberikan contoh positif untuk anak-anak mereka kelak.
***
Bisnis Aryo dan Yayan makin berkembang, Fitri kembali mengajar anak TK setelah Yayan membangun gedung sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu.
Ditha membuka usaha di samping rumahnya yang ia beri nama Twins Tailor, ia pun sedang hamil lagi karena si kembar sudah berusia 5 tahun.
Ditha sudah memeriksakan kehamilannya dan ternyata ia hamil kembar lagi.
Kebahagiaan tak henti-hentinya menghampiri mereka, semua berkat kesabaran Ditha dan Yayan dalam menjalani hidup.
Petik pelajaran dari cerita Ditha ini ya....semua orang pasti mendapat kesempatan kedua, tinggal bagaimana mengambil kesempatan kedua itu dengan baik, dendam berbalas dendam hasilnya akan tidak baik jadi lepaskan lah perasaan sakit hati dengan mengikhlaskannya dan menyerahkan peradilan pada yang Kuasa.
__ADS_1
Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di cerita mak ndut berikutnya...
Terimakasih banyaaaak!!