
Kembali mundur ke cerita para miss nyinyir.
****
Sementara Santi puas berbelanja dan makan malam yg lezat walau sendirian dia menikmati kebebasannya.
Puas berbelanja dia pulang ke rumah barunya dan meletakkan belanjaan nya begitu saja, dia ambil salah satu baju tidur yang dia beli, segera mandi dan berganti baju, kemudian merebahkan badannya di tempat tidurnya yang empuk, senyum tak hilang dari wajahnya sambil memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa bertukar dengan Rini.
Lama berfikir dia pun mengantuk dan tertidur.
Keesokan harinya Santi bangun agak kesiangan, dia meregangkan tubuhnya, akhirnya dia bisa tidur nyenyak tanpa terusik oleh suami monsternya.
Ketika dia ingin melangkah ke kamar mandi tak sengaja melihat gawainya yang berkedip.
Ia memang mengatur mode senyap pada gawainya, agar tak terganggu.
Dia buka gawainya dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk.
"Duh banyak sekali, aku buka yang mana duluan ya?"
Akhirnya dia putuskan untuk membuka pesan dari suaminya dulu, karena panggilan tak terjawab yang paling banyak dari suaminya.
[ Sayang kenapa tak jawab call saya? ]
[ Sayang kamu dimana? saya besok nak kembali ke Malay, saya nak bersama kamu malam ni, cepat kirim alamat rumah barumu. ]
[ Sayang....hei.]
Santi membalas dulu pesan dari suaminya.
[ Iya bang aku share lokasi rumah ku ya.]
Santi pun mengirimkan lokasi rumahnya. Terbersit dalam fikirannya untuk mengerjai suaminya malam ini.
[ Baik sayang nanti sore setelah pulang kerja saya kesana ya..]
[ Iya abang aku tunggu.]
Lanjut Santi membuka pesan dari Rini.
[ Hai San, hmmm kamu gak angkat panggilan dari ku, kamu masih tidur.....hahaha....gimana ranjang baru? empuk? eh kapan aku bisa icip-icip suamimu...dah gak tahan niiiih, cepat balas pesan ku, aku tunggu.]
[ Ntar malam dia mau ke sini Rin, kamu siap-siap aja, minum jamu kuat mental ya...haha....tapi bagaimana caranya agar dia mau sama kamu?] belum di baca.
"Ish Riniii.....Rini....jadi perempuan kok kegatelan!!"
Kemudian Santi membuka pesan dari Indri.
[ San kamu di mana, abang nyari kamu tuh, siapin diri, belajar nakal sedikit lah....enjoy aja...enak kok...oke siap mental yaaaa....jangan pingsan!!]
[ Iya, aku sudah kirim alamat ke abang tadi.]
"Dasar punya teman otak m***m semua, walau aku dulu pernah melakukan tapi gak m***m-m***m amat ih....Ck..!!"
Ada pula pesan dari orang tuanya nya, tapi Santi hanya membaca sekilas saja, nanti saja dia telpon mereka fikirnya.
Dia pun pergi mandi dan berganti pakaian, kemudian memoles wajahnya sedikit, sambil memikirkan bagaimana caranya bisa bertukar dengan Rini malam ini.
Santi merasakan perutnya melilit, ah aku belum makan fikirnya.
Lalu dia membuka aplikasi delivery food.
" Hhhmmmm.....pesan makanan online aja ah, malas keluar, oke....makan ini, ini dan ini, plus minuman, selesai, tinggal menunggu." gumamnya.
Sambil menunggu makanannya sampai Santi menelpon orang tuanya.
[ Assalamualaikum San, kenapa tidak ada kabar sama sekali? Bapak kefikiran kamu terus ]
[ Santi baik-baik saja bapak, jangan khawatir.]
[ Bagaimana pernikahan kamu San, apa sudah di daftarkan ke catatan sipil? ]
[ Tidak bisa di daftarkan pak, abang punya istri sah di Malay.]
[ Hah?? Jadi kamu istri kedua?]
[ Enggak pak, aku istri ke empat.]
[ Apa....aduh naaaak bagaimana nasibmu naaaak.]
[ Sejauh ini baik-baik saja bapak, oh ya pak aku beli rumah mewah di kota, nanti kapan-kapan bapak dan mamak aku ajak ke sini.]
[ Lihat nantilah San, bapak kok jadi jengkel sama suamimu, tau begitu bapak tidak nikahkan kamu dengannya.]
[ Biar lah pak, kan dia mampu aja ngasih makan semua istrinya, aku saja di kasih kartu atm yang isinya milyaran.]
[ Ya sudah asal kamu bahagia, bapak ikut aja, tapi kalau kamu tak tahan lagi lepaskan aja San.]
[ Iya pak, tenang laaah.]
[ Baiklah bapak mau ke kandang sapi, mamak mu sudah pergi kerja dari tadi, bapak tutup, assalamu alaikum.]
[ Wa alaikumsalam.]
Santi terpaksa jujur pada orangtuanya, untuk status pernikahannya, hanya saja dia sengaja tidak bilang kalau ia sudah di jebak Indri, takut Indri akan cerita masa lalunya dulu.
Ting nong....ting nong
" Permisi.... delivery food.... permisiii.."
" Yaaaa,...." sahut Santi sambil membukakan pintu.
" Atas nama bu Santi?"
" Iya saya, berapa mas?"
" 235ribu bu."
" Oh ini 250ribu uangnya, kembaliannya ambil aja."
" Terimakasih banyak bu, saya permisi."
" Yaaa.... sama-sama."
Makanan sudah sampai Santi pun membawanya ke ruang makan.
" Asyiiik makan enak terus.. hhmmm tapi harus makan sendirian, kalau di resto gapapa banyak orang lain lewat dan makan, tapi kalau di rumah jadi ingat mamak dan bapak, duuuh, apa aku harus cari art, tapiiii....ck lihat nanti lah ."
Lagi asyik menyantap makanannya gawainya berbunyi.
__ADS_1
Di buka gawainya itu, ada pesan dari Rini, karena penasaran dia baca saja.
[ Nanti malam? asyiiik, ntar sore aku kerumah mu, kita atur nanti oke.]
Uhuk...uhuk...uhuk
"Gila ini orang.....ck memangnya bagaimana caranya....ah au ah gelap.!!"
Di letakkannya gawai di meja dan ia lanjutkan makan pagi yang kesiangannya.
Tak berapa lama 3 porsi makanan itu pun sudah pindah ke dalam perutnya.
"Huuufffh kenyang...aish jadi mager....!"
Santi pun memasukkan kotak bekas makannya ke dalam kantong plastik lagi, dan berjalan keluar rumah untuk membuangnya di tempat sampah, dan kemudian masuk lagi ke dalam rumah, lalu duduk di sofa ruang tamu sambil memegang gawainya.
" Hhmmm bermalas-malasan dulu ah, huuufffh apa lagi yang ku butuhkan buat rumah ini ya...peralatan dapur belum ada, bonusnya cuma sofa, lemari, ranjang, kulkas dan kompor gas, masih banyak yang ku butuhkan sedang kamarnya ada tiga yang besar-besar, kalau nanti Rini menginap di sini aku butuh satu kamat lagi yang harus aku isi, hhmmm satu kamar di atas harus aku isi...yah belanja bahan makanan dan minuman, satu ranjang dan lemari lagi, oke aku catet dulu, habis ini belanja." kata Santi bermonolog.
Dia pun mencatat apa saja yang ia butuhkan, kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, sambil tersenyum melihat rumahnya.
" Seperti nya aku harus cari 1 rumah lagi, untuk orang tua ku, ya di desa masih ada tanah kosong nanti aku tanya siapa tau di jual."
Dirasa sudah cukup untuknya beristirahat karena kekenyangan, ia pun bangun dari duduknya dan mengganti baju untuk keluar berbelanja.
Dengan menaiki mobilnya ia melajukan nya menuju pusat perbelanjaan, sesampainya di sana ia belanja semua kebutuhannya, dan semua di antarkan oleh pihak penjual ke rumahnya, dia menyuruh penjual untuk mengantarkan sekitar jam 2 siang menunggu dia kembali ke rumah dulu karena masih banyak barang yang mau dia beli.
Setelah selesai belanja, untuk barang yang besar-besar dia minta antarkan penjual, untuk barang yang kecil ia angkut sendiri dengan mobilnya.
Mobil sudah penuh Santi pun pulang dengan hati senang, entah sudah berapa uang dari kartu atm suaminya di habiskan hari ini.
Tuan Khan Amir hanya menggeleng saja beberapa kali mendapat notif penarikan uang dari kartunya itu, biarlah fikirnya yang penting nanti malam ia akan bantai istrinya itu habis-habisan.
Jam 2 kurang Santi sudah berada di rumahnya, sambil menunggu barang-barangnya di antarkan penjual ia membereskan belanjaannya dulu ke dapur.
"Huuufffh kerja sendirian, capek juga ya...ah mamak maafkan Santi selama ini serba sudah siap pakai, siap makan tak tau lelahnya mamak membereskan rumah selama ini....aku harus bisa berbakti pada mamakku.." katanya sambil mengelap keringatnya.
Jam 2 lebih 10 menit barang-barangnya tiba, kurir pun memencet bel rumahnya.
Segera Santi bukakan pintu untuk mereka.
" Kami mengantarkan barang atas nama bu Santi."
" Iya saya sendiri, tolong sekalian di angkat ke dalam ya."
" Baik bu, di taruh di mana?"
"Yang untuk kamar langsung ke kamar atas ya, satu lemari taruh di kamar bawah, masing-masing kamar sudah saya buka pintunya."
" Baik bu."
Mereka pun meletakkan barang-barang belanjaan milik Santi sesuai arahannya.
" Sudah semua bu silahkan di cek dulu, jumlah barang sesuai nota."
Santi mengecek semuanya dan sudah sesuai dengan nota.
" Iya sudah semua bang, ini uang lelahnya."
" Tak apa-apa bu kami sudah dapat dari juragan." tolak kurir itu.
" Gapapa, rejeki lebihnya abang."
" Iya sama-sama." kata Santi sambil menutup pintu rumahnya."
Lega semua sudah hampir lengkap, kemudian dia ke lantas atas mengecek kamarnya lagi.
" Oke sudah siap, tinggal pasang seprei. "
Kemudian ia memasang seprei pada spring bed yang baru dia beli.
Lelah mengerjakan nya, dia rebahan di spring bed itu, dan tak terasa ia pun tertidur.
Mungkin saking lelahnya tak sadar 1 jam dia tertidur, ia kaget dengan suara bel pintu.
Ting nong....ting nong.
Santi berlari ke bawah dan membuka pintu.
" Haaaiiiii.....aku dataaang." kata Rini.
"Hai....kamu dengan om Sion?" kata Santi melihat om Sion ada di belakang sedang memarkirkan mobilnya.
" He ehm...kan kita bertukar nanti." kata Rini sambil mengedipkan matanya.
" Ayo masuk. " kata Santi setelah om Sion mendekati mereka.
" Hhhmmmm sudah ada tambahan barang? kamu habis belanja?." tanya Rini sambil melihat barang baru yang ada di rumah Santi.
"Iya, ayo duduk, mau minum apa?" tawarnya.
" Nanti aja, kami baru minum, gampang lah nanti ngambil sendiri." jawab Rini.
" Apa kabar om? " tanya Santi pada om Sion sambil mengeryitkan dahinya.
" Kabar lemes." jawab om Sion tak semangat.
" Ih kenapa om, om biasanya cerewet, kok sekarang jadi pendiam? " tanya Santi lagi.
" Habisnya di suruh puasa 3 bulan aku sama Rini, kejam gak dia huh!! Mana masih 1 bulan lagi, kau bayangkan mau pecah sudah kepala ku!" jawab om Sion sambil menatap tajam istrinya.
" Hahaha....makanya jangan asal celap celup sosismu itu sayaaaaang, tenaaaang nanti malam kamu akan buka puasa." goda Rini.
" Serius, tapi kenapa kita ke sini kalau mau buka puasa? kan bisa di rumah gak usah kemana-mana."
" Hhhmmmm nanti kamu tau sendiri." jawab Rini sambil tersenyum pada Santi.
Santi bingung dengan jawaban Rini, apa om Sion gak tau rencana mereka fikirnya.
" Aku boleh lihat kamar nya gak San ?" tanya Rini sambil mengedipkan mata memberi kode pada Santi.
" Boleh ayo aku antarkan."
" Sayang di sini dulu ya, aku mau lihat kamar buat kita menginap nanti." kata Rini sambil membelai dada suaminya.
"Menginap??" tapi.."
"Sssst udaaah kamu diam aja, nurut sama aku, mau buka puasa gak?"
" Mau...mau..."
__ADS_1
"Oke diam di sini aja yaaa." kata Rini dengan nada suara nakalnya.
"Oke...oke." sahut om Sion tak sabar.
Santi dan Rini pun naik ke lantas atas untuk melihat kamarnya.
" Rin itu om Sion gak tau rencana mu? " tanya Santi masih bingung.
" Kita jangan kasih tau suami-suami kita San, apalagi suamimu, dia kan gak mau menyentuh wanita yang bukan istrinya kamu bilang kemarin kan."
" Udah ikuti permainanku nanti oke." lanjut Rini.
" Terus apa yang harus aku katakan pada suamiku?"
" Ya kamu bilang teman mu dari jauh terpaksa menginap karena sedang dalam perjalanan gitu aja, bilang cuma beberapa malam aja."
" Abang Khan Amir akan ke Malay besok jadi malam ini aja di sini, gak tau kapan akan kembali lagi."
" Kamu tenang aja, malam ini kamu nikmati bersama suamiku, tenang mereka berdua gak akan tau, kecuali kami buka mulut."
" Hhhh....apapun katamu lah Rin, pusing aku."
" Hahaha...sudah ayo turun, nanti pakai baju tidur yang ini, warnanya sengaja aku samakan biar mereka mengira tidur dengan istri masing-masing, oke.."
" Oke." sahut Santi sambil mengambil baju yang di berikan Rini, baru ia sadar kalau Rini mengubah warna dan model rambutnya sama seperti dia, kalau di lihat dari belakang akan susah membedakan mereka, walau Rini agak sedikit lebih bahenol dari pada dia tapi sekilas hampir sama badannya.
'Ck..ck..ck..Rini....Rini...otakmu salah program kali ya.' bathin Santi.
Hari sudah malam, Santi masih malas masak dia hanya pesan makanan online saja.
Ada banyak makan khas India yang ia pesan, dan tak lama suaminya pun datang.
[ Sayang aku di depan sebuah rumah ini betul rumah mu ]
[ Sebentar aku keluar dulu bang.]
" Suami mu San? "
" Iya, sebentar aku buka pintu."
Segera Santi membuka pintu dan suaminya masih di depan rumah.
" Bang...bang sini."
" Oh ya, sebentar aku parkir kan mobil dulu."
Setelah memarkirkan mobil tuan Khan Amir turun dari mobil dan di sambut oleh Santi.
"Mobil sapa tu?" tanya tuan Khan Amir.
" Mobil teman ku, dia menginap di sini beberapa hari, kasian suaminya kelelahan menyetir karena perjalanan mereka masih jauh."
"Oh...tapi mereka tak kan ganggu kita kan?" kata tuan Khan Amir sambil menaik turunkan alisnya.
"Ya enggak lah, mereka aku suruh tidur di kamar lantai atas."
"Oke, sayang aku lapar, makan apa kita malam ni?"
" Aku sudah siapin masakan India tuh di meja makan, ayo kita makan dulu, teman ku sudah menunggu kita."
" Baik."
Dengan bergandengan mesra keduanya ke ruang makan, Rini dan om Sion sudah menunggu di sana.
" Rini dan om kenalkan suami ku."
"Oh..ini abang Amir, maaf kemarin kami tak hadir karena ada kesibukan." kata Rini dengan tatapan senang melihat tuan Khan Amir sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan tuan Khan Amir, dan di ikuti om Sion.
" Oh tak apa, mari kita makan, saya dah lapar." kata tuan Khan Amir tak peduli sikap Rini yang aneh.
Om Sion pun masih tak semangat, ia ingin cepat-cepat makan dan ke kamar bersama istrinya.
Mereka pun makan bersama tanpa banyak kata-kata, sesekali Rini memberi kode lewat senggolan kakinya pada Santi.
Selesai makan, mereka berbincang sebentar dan ternyata umur om Sion dan tuan Khan Amir hanya terpaut usia 2 tahun, jadilah mereka lancar dalam berbincang membahas bisnis, karena tuan Khan Amir juga punya night club di India dan Malay, serta cabang di Singapura, om Sion jadi semangat lagi karena bisa berkenalan dengan pengusaha sukses itu.
Tuan Khan Amir juga menawarkan kerja sama bila di butuhkan nanti dan di sambut dengan senang oleh om Sion.
Malam mulai larut mereka berpamitan untuk tidur.
Sebelumnya Rini sudah memberitahu bagaimana cara mereka bertukar nanti, sebelum subuh mereka harus bertukar lagi.
Di kamar kedua laki-laki itu mulai mendekati istri mereka, tapi para istri minta agar lampu di matikan, walau tak senang para suami pun mengiyakan saja.
Saat lampu di matikan Santi dan Rini pamit dulu ke dapur dengan alasan mengambil air minum, saat itulah mereka bertukar tempat.
Tanpa di ketahui para suami mereka langsung rebahan di samping suami, Rini berpesan pada Santi jangan berbicara agar tidak ketahuan kalau suara mereka berbeda dan di iya kan saja oleh Santi.
Karena para suami sudah tak sabar lagi, mereka pun meng habiskan malam gila itu dengan pasangan orang lain...**Sensor**..
' Gila ini gila orang ini benar-benar monster' bathin Rini dia kelelahan sampai jam 3 dini hari.
Subuhnya mereka sudah bertukar tempat lagi, karena gak mungkin para suami meminta jatah lagi dan takut kesiangan nanti mereka ketahuan bertukar tempat.
Paginya Santi sudah bangun dan mandi, dia tersenyum melihat suaminya tertidur pulas.
Dia pun keluar kamar dan menyiapkan sarapan, Rini dan om Sion belum terlihat, mungkin mereka kelelahan semua fikir Santi.
Santi pun menyiapkan sarapan se adanya yang dia bisa, hanya roti sandwich dan beberapa frozen food stok di kulkasnya.
Suaminya keluar kamar dan sudah rapi, melihat sarapan sudah tersaji dia tersenyum.
Tuan Khan Amir mendekati Santi dan memeluknya dan belakang.
"Kamu hebat tadi malam." bisiknya di telinga Santi.
"Hhmmm....aku harus mengimbangi permainan abang kan? Udah ah jangan peluk-peluk malu nanti dilihat Rini, oh ya bang aku boleh tidak membeli sebidang tanah untuk orang tua ku di desa, selama ini mereka hanya buruh di peternakan milik orang bang." kata Santi sambil memelas.
"Boleh laaah, kau atur saja sayang, uang di atm card aku itu milikmu semua."
" Boleh?? asyiik terimakasiiih abaaaang." kata Santi tanpa sadar memeluk tuan Khan Amir.
" Ehem...ehem..."deheman berasal dari tangga lantai atas...
Nb
mohon krisannya yaaaa.
terimakasih...
__ADS_1
Nb