
Begitu sudah berada di dalam ruangan kliennya Ditha kaget melihat siapa klien Aryo tersebut....
"Kak Hadi?"
"Hai Tha, akhirnya....!!"
"Maksudnya apa ini kak? Sejak kapan kakak pindah ke kota?"
"Sejak Yayan meminta ku menghandle bisnis ini."
"Hah kak Yayan, dimana kakakku kak?" tanya Ditha sambil berkaca-kaca harapan cepat bertemu kakaknya lah yang ia ingin kan.
"Sabar Tha kakakmu masih di luar pulau, belum waktunya bergerak kesini, dia hanya membuka bisnis dari jauh dan memperkerjakan orang-orang yang ia percayai saja, aku juga kaget ketika mendapat kabar darinya, aku kira ada penawaran kerja ke rumah itu hanya permainan, karena hanya orang-orang tertentu saja yang di undang, ternyata Yayan mengirimkan utusan nya untuk mengajak kami."
"Kami siapa kak?."
"Aku dan istriku, ada lagi Indra dan istrinya, ya kamu tau kan kami semua teman sekelas saat SMA, dan kami sangat kompak."
"Terus aku harus bagaimana kak?"
"Sementara kau ikut dengan Aryo saja dulu." kata Hadi sambil menunjuk Yayan,
"Kakak sengaja mengajakku kemari menemui kak Hadi?" tanya Ditha pada Aryo.
"Iya, sengaja agar kamu merasa tidak sendirian Tha, tenang saja ada kami, aku juga baru tau saat kak Hadi pamit ke kota, ia di suruh memberi tahu aku oleh kak Yayan untuk melindungi mu, selama kak Yayan tidak berada di sini, melawan om Salman sendirian kamu tidak akan sanggup Tha."
"Terimakasih kasih kak" tangis Ditha pun pecah.
"Sudah kamu tenang saja, jalani hidup seperti biasa tanpa ada tekanan, kecuali ada kejadian lagi seperti kemarin maka kita akan bertindak." kata Hadi menenangkan Ditha.
"Kakak tahu yang terjadi kemarin?"
"Iya Tha kami punya mata-mata yang menjadi salah satu anak buah pak Salman, mungkin kamu ingat dia yang selalu bentak kamu supaya diam, sengaja di buat begitu agar yang lain tidak curiga kalau dia mata-mata kita, karena kamu hanya di antar pada keluarga pak Rinto jadi kejadian itu di anggap masih aman." kata Hadi menjelaskan.
"Oh iya kak, bisnis kak Yayan memangnya di bidang apa kak?"
"Ekspedisi ekspor impor Tha, sengaja memilih bidang ini karena pak Salman dan keluarga nya membutuhkan sarana ini untuk menggelapkan barang dari dalam maupun luar negeri, kita sebisa mungkin bisa menemukan bukti untuk menjatuhkan usaha mereka."
"Oh, iya kak, ini bukan bidang ku, aku tak ikut-ikut takut salah."
"Hahaha...yang ajak untuk kamu masalah itu siapa...?? Kita juga butuh ekspedisi untuk mengekspor barang tekstil kita kan?" kata Aryo.
"Ups iya hehehe...."
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan pembicaraan tentang pekerjaan, untuk sementara sepakat tidak membahas masalah Yayan, agar tidak ada yang mencurigai.
Kurang lebih 2 jam berbincang-bincang, Aryo dan Ditha pun pamit kembali ke perusahaan Aryo.
Setibanya di perusahaan dan masuk ke ruangan Aryo, Ditha pun kembali ke mejanya untuk membuat desain lagi atas perintah Aryo.
Sore hari akhirnya jam kerja telah berakhir, Ditha sudah menghubungi Yani untuk menjemput nya, sebelum keluar dari ruangan, Aryo berpesan untuk tidak membahas hal tadi siang sama sekali pada siapapun termasuk Yani, bukan tak percaya, tapi sedikit orang yang tau lebih baik.
Yani sudah menunggu Ditha di di depan gedung perusahaan Aryo, tak lama Ditha keluar dari gedung dan langsung masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju ke arah apartemen.
"Bagaimana hari pertama kerja, capek?"
"Capek duduk, hahaha."
"Pasti men scan kertas desain dan mengirimkan nya kan?"
"Hhmm iya...sebagian."
"Sebagian?? terus selain itu ngapain?"
"Membuat desain motif baru"
"Wah kalau itu aku buntu otak, gak sanggup otak ku, hahaha..."
Tak lama tibalah mereka di apartemen.
Ditha langsung masuk kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, sebelum ia ke dapur ia sempatkan mengirim pesan pada kakaknya.
[ Assalamualaikum kak, terimakasih.]
Hanya itu saja isi pesannya, ia yakin Yayan paham artinya, karena pasti Hadi pun sudah menceritakan pertemuan mereka.
Ditha pun keluar kamar dan menuju dapur menyiapkan bahan masakan untuk makan malam.
Yani pun keluar kamar dan menyusul Ditha ke dapur, mereka masak sambil bercanda, selesai memasak sembari menunggu adzan magrib mereka ke ruang tamu dan duduk menonton tv.
***
Di tempat lain, Hadi memberitahukan Yayan pertemuannya tadi siang dengan Ditha, dan mengabarkan apa yang sedang Ditha kerjakan.
"Ya biar Ditha bekerja secara normal Di, jangan kita libatkan dia pada kerjaan kita, oh ya kamu pastikan pengiriman barang dari om Salman nanti bocor ke pihak PolAir ya..."
__ADS_1
"Iya Yan tenang, aku sudah koordinasi kan hal ini, pengiriman kali ini jumlah nya sangat banyak jadi kalau tertangkap pasti kerugiannya sangat besar."
"Bagus...lanjutkan dan hati-hati, usahakan kita juga terlihat seperti korban."
"Oke aku tutup dulu, Assalamu alaikum."
"Wa alaikumsalam." klik.
Malam hari tepat jam 00.00 pak Salman dapat kabar dari pekerja nya kalau kapal ekspedisi carteran mereka di tangkap.
Pak Salman yang lagi asyik bersama Afi pun marah besar, barang kiriman kali ini sangat banyak, bila tertangkap otomatis dia akan rugi besar.
"Aaaaaargh sial, kenapa kali ini apes." ujar nya sambil melempar bantal."
"Ada apa om?" tanya Afi.
"Tak ada apa-apa, aku harus pergi."
"Terus aku om?"
"Terserah kamu mau bagaimana." kata pak Salman sambil memakai bajunya dan pergi dari Hotel.
Ia melajukan mobilnya sangat kencang, bingung hendak kemana, kalau dia pulang ia akan menghadapi omelan bu Silma.
Tapi ia harus bersembunyi karena polisi pasti mencarinya.
"Aaaaaarrgh, apes..apes..apes..!!" katanya sambil memukul setir.
Saking lajunya kecepatan mobil, tanpa ia sadari di persimpangan ada mobil truk besar melintas, dia pun tak dapat menghindari tabrakan.
"Aaaaaaaa...."
Bruuuaaaaaak......buuuummmm....
Mobil pak Salman menabrak sisi kanan truk dan langsung hancur pada bagian depan, pak Salman terjepit tak dapat bergerak dan tak sadar kan diri.
***
Ditempat lain, Yayan mendengar kabar kapal yang di carter pak Salman sudah tertangkap pun tersenyum.
'Sudah waktunya kau jatuh hai pembunuh!!' hehemmmmm..
Nb
__ADS_1
mohon krisannya yaaaaa..
terimakasih....