
Keesokan harinya tuan Khan Amir, bangun pagi-pagi sekali, hari ini dia bersemangat sekali, ia ingin segera mengetahui apakah istrinya sedang hamil, di umurnya yang tak muda lagi, seorang keturunan sangat dia dambakan.
Sebelumnya tercetus keinginannya untuk mengadopsi beberapa orang anak, namun ia harus meminta kesediaan istrinya terlebih dahulu, untuk membantu merawat mereka.
Setelah sarapan pagi, Santi dan suaminya pergi ke kota untuk memeriksakan kesehatan Santi dan sekalian melihat rumah baru yang di beli lewat kenalan tuan Khan Amir, mereka tak mau lagi ke apartemen lama tuan Khan Amir, karena ada kenangan buruk yang tak ingin mereka ingat lagi.
Tiba di rumah sakit, tuan Khan Amir memarkirkan mobilnya di area parkir, lalu mengajak istrinya masuk ke rumah sakit dan mendaftar untuk konsultasi ke bagian kandungan.
Rupanya antrian sudah mulai banyak, mereka harus bersabar mengikuti prosedur yang ada.
Tiba giliran Santi di panggil, dengan gugup pasangan beda usia itu masuk ke ruang dokter kandungan.
" Selamat siang , silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu? tanya dokter itu dengan ramah.
" Saya ingin memeriksakan kehamilan dokter."
" Kapan terakhir haid?"
" Saya lupa tanggal persisnya dokter tapi seingat saya kurang lebih satu setengah bulan yang lalu dok, tapi saya kadang mengalami flek-flek gitu dok."
" Baik, saya USG ya, mari silahkan."
Bidan asistennya mengajak Santi untuk berbaring di ranjang, dan dokter pun memeriksa Santi.
" Suaminya tidak di ajak sekalian? biar lihat hasilnya."
" Maaf dok itu suami saya."
" Oh maaf ya bapak."
" Tak apa dok, selisih umur kami memang jauh."
" Ooh, maaf ya bapak."
" Tak apa dok." sahut tuan Khan Amir agak malu.
" Baik bapak bisa mendekat, saya jelaskan ya, lihat ini sudah ada kantongnya ya..nah ini yang seperti kacang ini, ini embrionya, atau calon babynya, tadi ibunya bilang kadang ada flek ya? warnanya apa bu?"
" Alhamdulillah." sahut Santi dan suaminya namun kembali bingung dengan kata-kata dokter.
" Warna agak pink ada merah sedikit, tadi pagi ada keluar lagi." jawab Santi.
" Baik, bantu bangun bidan Mira." kata dokter menyuruh bidan asistennya.
" Silahkan duduk lagi bapak ibu."
Santi dan suaminya kembali duduk di depan dokter.
" Bagaimana dok?"
" Iya tadi sudah di USG dan memang hamil, usia kehamilan 7 minggu, namun kandungan agak lemah, ini seperti baru habis perjalanan jauh ya?"
" Iya dok kami baru tiba kemarin dari Singapura, kenapa dok.
" Iya, seperti yang saya katakan tadi kandungan ibu lemah, jadi tidak bisa lelah akan ngeflek, ini masih trimester pertama jadi kalau bisa jangan terlalu lelah, dan maaf aktifitas suami istri di tahan dulu sampai kondisi kandungan benar-benar kuat, bisa ya bapak, demi babynya?"
Di jawab anggukan dan senyum malu-malu dari tuan Khan Amir.
" Maaf kalau boleh tau anak ke berapa ini?"
" Anak pertama dok." jawab keduanya serempak.
" Apalagi anak pertama, harus mau berkorban ya bapak, nanti kalau sudah trimester kedua di cek lagi apakah sudah kuat apa belum, semoga di kuatkan babynya dan bisa lahir dengan selamat dan sehat juga ibu nya."
" Aamiiin." sahut mereka serentak.
" Masih ada yang ingin di tanyakan?"
" Untuk makanan yang boleh sama yang tidak boleh dok?"
" Tak ada pantangan sebenarnya, kecuali ibu punya alergi pada makanan tertentu, usahakan semua yang di makan sehat, jadi bayinya dapat gizi yang baik, ibu gak mual atau muntah, pusing mungkin."
" Tidak ada dok."
" Berhubung kehamilannya ada keluhan keluarnya flek-flek itu tadi jadi usahakan rutin di periksakan ya, kalau ada sesuatu yang tidak di inginkan segera ke layanan kesehatan terdekat."
" Saya resepkan obat penguat kandungan dan vitamin ya." lanjut dokter.
" Sudah, ingat hati-hati jangan kelelahan, ini resepnya."
" Baik dok, terimakasih dok, selamat siang."
" Ya sama-sama, selamat siang."
Santi dan suaminya keluar dari ruangan dokter kandungan dengan bahagia.
Mereka pun keluar dari rumah sakit dan kembali menaiki mobil menuju rumah baru.
" Sayang kita jangan kemana-mana dulu ya, kamu harus istirahat total." kata tuan Khan Amir.
" Iya, tapi aku lapar."
" Hahaha..kamu mau makan apa?"
" Ikan bakar, sama sayur asam kayaknya enak."
" Oke, kita sekalian pulang saja, nanti melewati resto ikan bakar yang lezat."
" Oke, ingat kata dokter ya abaaang, istirahaaaaat!!" kata Santi sambil mengangkat telunjuknya.
" Iyaaaaa.....hahaha.... saya sayang kamu, terimakasih sayang." jawab tuan Khan Amir sambil mencium punggung tangan istrinya.
Diperjalanan ibunya Santi menelpon, ingin menanyakan hasil pemeriksaan kondisi Santi.
[ Assalamualaikum San.]
[ Wa alaikumsalam, mak.]
[ Bagaimana hasilnya nak?]
[ Alhamdulillah mak, Santi hamil, do'akan sehat terus ya mak.]
[ Alhamdulillah, naaak....mamak menunggu cucu dari mu, semoga sehat-sehat terus nak, terus gimana kalian kembali ke desa?]
[ Enggak mak, kami mau lihat rumah baru di kota, belum bisa ke mana-mana mak, harus memastikan kondisi kehamilanku baik-baik saja.]
[ Memangnya kenapa nak?]
[ Ada keluar flek-flek gitu mak, jadi gak boleh kelelahan.]
__ADS_1
[ Ya udah, kamu di kota saja dulu, nanti kalau ada apa-apa bilang mamak biar mamak aja yang kesana.]
[ Iya mak, Santi tutup dulu ya mak, mau makan siang, assalamu alaikum.]
[ Wa alaikumsalam.]
" Mamak sayang??"
" Iya bang."
" Hhmmmm....itu resto nya, mau makan di sini apa bawa pulang aja?"
" Bawa pulang aja, aku lagi gak suka makan di tempat keramaian."
" Oke sayaaaang kamu tunggu di mobil aja ya, biar saya aja yang turun."
Tuan Khan Amir memesan makanan untuk makan siang nya dengan istrinya.
Dengan kehamilan istrinya dia berjanji tak akan menjadi pria petualang seperti dulu.
***
6 bulan sejak acara di kapal pesiar, perut Ditha dan kakak iparnya semakin besar, mereka sengaja tinggal di satu rumah agar bila ada apa-apa bisa saling mengetahui.
Rumah Yayan di pakai sebagai tempat mereka berkumpul karena jaraknya paling dekat dengan rumah sakit, dan juga terdekat dengan desa orang tua mereka.
Pagi itu Yayan dan Aryo lagi asyik ngobrol di ruang kerja Yayan membahas perkembangan beberapa bisnis mereka termasuk bisnis di pulau seberang.
" Ya itu sebagian sudah di handle oleh orang tua almarhumah juga, jadi kita agak santai sedikit lah kak."
" Hhmm.... benar-benar, kita gak usah masalahkan disana ada untung atau enggak, niatkan untuk almarhumah lah, toh sudah dapat untung dari kapal yang kita pakai buat transportasi ke sana kan."
" Iya kak."
Asyik dengan obrolan bisnis tiba-tiba.
" Kaaaaak.....kak cepat kesini!!!" teriak Ditha.
" Heh apa tuh, ayo kita lihat Yo."
Yayan dan Aryo segera berlari ke sumber suara.
" Ditha kenapa??"
" Perut ku....perutku.... aduuuuh!!" ucap Ditha sambil bersimpuh dan memegang perutnya.
" Ayo Yo kita bawa ke rumah sakit, Fitri mana ya?"
" Iya kak, aku bawa dulu."
" Iya bawa ke mobil dulu nanti aku susul."
" Kaaak.....sakiiiiit."
" Iya, iya ayo kita ke rumah sakit ya."
Dengan bantuan Yanto dan Yana, Aryo membawa istrinya ke rumah sakit, sedangkan Yayan mencari istrinya ke kamar.
" Fit...Ditha di bawa ke rumah sakit, perutnya mules kayaknya.....Fit kamu gapapa?" tanya Yayan melihat Fitri berbaring menekuk kakinya.
" Perutku yaaang..... adduuuuuh!!"
" Ya Allah Fiiiit, ayo kita ke rumah sakit juga." ajak Yayan langsung memapah istrinya.
Yayan segera mengemudikan mobil menuju ke rumah sakit.
[ Assalamualaikum]
[ Wa alaikumsalam Yan ada apa?]
[ Bu....Ditha dan Fitri kayaknya mau melahirkan, ini kami sudah menuju ke rumah sakit.]
[ Ya Allah, iya nak, ibu dan ayah akan menyusul kalian.]
[ Iya bu, aku tutup, assalamu alaikum.]
[ Wa alaikumsalam.]
30 menit Yayan mengemudikan mobilnya akhirnya sampai di rumah sakit, kemudian memapah istrinya menuju ruang bersalin.
Di depan ruang bersalin Aryo sedang mondar mandir menunggu hasil pemeriksaan istrinya, ia bingung melihat kakak iparnya datang dengan memapah istrinya.
" Lho kak Fitri??"
" Mules juga Yo, aku bawa masuk dulu."
" Iya kak."
Yayan membawa masuk Fitri ke ruang bersalin.
" Iya pak, mari tidurkan di sana."
Yayan melihat Ditha juga berbaring di sebelah ranjang tempat ia membaringkan istrinya.
" Kak?"
" Iya, kalian bersabar ya...yang kuat ya."
" Bisa tunggu di luar ya bapak, kami periksa dulu istrinya."
" Iya bu bidan, tolong istri dan adik saya."
" Oh...ibu yang ini adiknya?"
" Iya bu, saya keluar."
" Iya silahkan, nanti kami panggil lagi, karena pasien pasti butuh support saat melahirkan ya."
" Baik bu."
Yayan keluar ruang bersalin dan bergabung dengan Aryo.
" Lagi di periksa." kata Yayan.
" Aku sudah hubungi ayah ibu kak."
" Iya aku juga, mereka sedang dalam perjalanan."
" Iya."
__ADS_1
Tak lama salah seorang bidan keluar.
" Suami dari ibu Ditha?"
" Saya bu, bagaimana dengan istri saya?"
" Pembukaan masih 7 pak, kita tunggu sampai pembukaan lengkap ya, tadi sudah di lihat posisi bayinya bagus jadi kemungkinan bisa lahir normal walau kembar, kita tunggu ya, suami ibu Fitri?"
" Iya bu saya."
" Kalau ibu Fitri pembukaan masih 5 pak, kalau bisa di bawa berdiri dan jalan dulu pak biar bisa cepat pembukaannya, silahkan bapak-bapak istrinya di dampingi di beri support ya."
" Baik bu." sahut keduanya.
Kedua calon ayah itupun masuk ke dalam ruangan dan mendekati pasangan masing-masing.
" Sssshhhhs....sakit kak!"
" Iyaaa..." kata Aryo sambil mengelus pinggang istrinya.
" Kamu bisa berdiri Fit?"
" Iya....tadi di suruh jalan-jalan supaya cepat pembukaannya... ssshhss..tunggu...masih kontraksi ini....ssshh....huuuufff!" sahut Fitri mengatur nafas panjang mengurangi rasa mules nya.
Lalu Fitri berdiri dan berjalan pelan-pelan keluar ruangan di papah oleh Yayan.
Sedang Ditha tidak di perbolehkan berdiri karena air ketuban sudah merembes.
Keduanya berjuang demi melahirkan si buah hati.
Satu setengah jam kemudian Ditha sudah tak tahan, dan ketika di periksa memang sudah lengkap, lalu dengan bantuan bidan dan support dari Aryo tak lama.
" Ooeeek...oeeeek.."
" Alhamdulillah....!!" kata bidan dan Aryo.
Bidan langsung membawa putra pertama Ditha untuk di bersihkan, sedang bidan yang lain masih menunggu di samping dokter kandungan yang menolong Ditha.
" Masih tinggi yang satunya." kata dokter.
" Kita tunggu dulu ya bu, sabar ya , atur nafas lagi."
Sementara di ranjang sebelah, Fitri pun sedang berjuang, efek jalan tadi pembukaan jadi sangat cepat, dokter pindah ke ranjang sebelah untuk menolong Fitri.
" Baik bu, kalau ada kontraksi dorong kuat yaaa..."
Tak lama.
" Ooooeeek...oooeeek.."
" Alhamdulillah, cowok juga..." kata dokternya.
" Alhamdulillah." sahut Yayan dan Fitri.
Lalu bidan membawa putra pertama Yayan untuk di bersihkan, bidan yang lain membantu membersihkan badan Fitri.
Dokter berpindah kembali ke Ditha.
" Su sudah sakit lagi dok." ucap Ditha sambil meringis.
" Iya sudah di bawah, dorong agak kuat ya."
Tak lama...
" Ooeeeek...oooeeek.."
" Lhaaa....cewek." kata dokter.
" Alhamdulillah." sahut semuanya.
Yayan dan Fitri senang melihat sang adik pun sudah selesai melahirkan, mereka menangis terharu.
" Baik setelah ini ibu-ibu kami pindahkan ke kamar rawat ya."
" Bu bisa gak kami di tempatkan dalam satu kamar?" pinta Yayan.
" Boleh-boleh nanti kami siapkan."
Fitri dan Ditha di tempatkan dalam satu kamar agar memudahkan mereka untuk saling menjaga.
Setengah jam kemudian datang lah orang tua mereka hampir berbarengan.
" Assalamualaikum."
" Wa alaikumsalam."
" Alhamdulillah sudah lahir?? Kami baru nyampe, agak macet tadi, ada truk yang kena musibah tadi."
" Ooh..." sahut Yayan dan Aryo.
" Mana cucu-cucu ibu?"
" Bentar lagi di antarkan bu, masih di periksa dokter anak."
" Ooh, kalian baik-baik saja?" tanya bu Silma pada anak dan menantunya.
" Alhamdulillah bu." sahut keduanya.
" Alhamdulillah." sahut keempat orang tua mereka.
Tak lama masuk tiga orang bidan, masing-masing membawa satu bayi.
" Naaaah....ini mereka... aduuuh.. langsung banyak." kata bu Silma.
Bidan menaruh bayi-bayi Ditha ke box di samping ranjangnya, dan bayi Fitri di box di samping ranjang Fitri.
Setelah memberi arahan untuk segera memberikan Asi, bidan pun keluar ruangan.
" Si kembar cowok cewek bu." kata Aryo.
" Alhamdulillah lihat yaaah lucunya." kata bu Silma pada pak Yandi.
Keluarga itu berbahagia dengan lahirnya anggota keluarga baru dalam keluarga mereka, dan tak henti-hentinya mengucap syukur.
Nb
Sudah hampir berakhir cerita ini yaa....
mohon krisannya yaaaa.
__ADS_1
jangan lupa mampir di cerita mak ndut yang lain ya...
terimakasiiih...