
Keesokan harinya, keluarga pak Subandrio sudah bersiap-siap pagi-pagi sekali untuk pergi ke pulau seberang.
Pak Subandrio malu untuk meminta pertolongan Aryo setelah kejadian kemarin, jadi Ia meminta Saiful untuk meminta bantuan pada Aryo.
Aryo berkata pada Saiful agar mereka langsung saja ke pelabuhan, ada kapal yang sudah di sediakan untuk mengantarkan mereka menyebrangi pulau dan ada awak kapal yang mengenal tetua warga di sana.
Dengan di temani Saiful keluarga pak Subandrio pergi ke pulau seberang.
Tiba di sana keesokan harinya di seberang, pak Subandrio tak sabar lagi ingin segera ke makam anaknya.
Tetua warga menyambutnya, dan menghantarkannya untuk beristirahat terlebih dahulu, namun di tolak oleh keluarga pak Subandrio.
Pasrah pada kemauan keluarga itu, warga menghantar kan mereka dengan menaiki kendaraan yang di kirimkan oleh Aryo ke pulau itu, sebagai bantuan alat transportasi bila ada turis yang ingin berkeliling pulau dengan cepat, selain kereta kuda ciri khas dari pulau itu.
Keluarga sedang larut dalam kesedihan jadi tetua warga yang mengantarkan mereka hanya diam sepanjang jalan.
Tiba di sebuah bukit yang indah ada sebuah makam yang di pagari dengan bambu yang di atur sedemikian rupa menjadikan makam itu tampak asri.
Pak Subandrio dan keluarga turun dari mobil dan berjalan mendekati makam.
" Ya Allah naaaak....anakku Rini....Riniii...malang nasibmu naaak, maaf kan papa..maafkan papa naaak." ratap pak Subandrio di samping makam anaknya.
" Hiks..hiks...huhuuuu....huuuu.." tangis bu Riri tak sanggup berkata-kata.
" Dik...hiks....hiks.." Ryan pun sama tak sanggup berkata-kata lagi.
Semua larut pada kesedihan.
" Mari kita bacakan yasin pak bu, hadiahkan pada almarhumah." kata tetua warga mencoba menghentikan duka dari keluarga Rini.
" Bapak benar, maaf kami terlalu larut pada kesedihan."
Lalu mereka bersama-sama membacakan yasin dan tahlil untuk almarhumah dengan harapan agar almarhumah di terima di sisiNya terlepas apapun perbuatan almarhumah semasa hidupnya.
Selesai berdo'a, tetua warga mengantarkan keluarga Rini ke rumah yang di tinggali Rini terakhir kali.
" Ini rumah nona Rini, silahkan...kami sangat menghormati nona Rini tak peduli seperti apa dulu nona menjalani hidupnya, yang kami tau nona sangat peduli pada kami dan membantu mengangkat nama pulau ini agar di kenal orang, lihat lah sudah banyak turis yang berdatangan, ekonomi warga di sini terbantu oleh ide dari nona Rini."
"Alhamdulillah, sebelum meninggal anakku sempat berbuat baik." ucap pak Subandrio.
" Iya pah, lupakan perbuatan adik yang dulu, kita sekarang bantu membesarkan apa yang adik rintis." kata Ryan.
" Sepertinya kita harus tinggal sedikit lebih lama di sini pah, suasananya aku suka." kata bu Riri sudah mulai berkurang rasa dukanya.
" Iya mah, sepertinya aku ingin menghabiskan masa tua ku disini, kalau bisa aku ingin di makamkan di samping anakku kelak bila aku tiada."
" Boleh pak?" tanya bu Riri pada tetua warga.
" Tentu saja boleh, rumah ini dan tanah yang di bangun villa itu milik nona Rini, kami hanya membantu menjaga saja, kami kembalikan pada ibu dan bapak, baik silahkan beristirahat di pulau ini, kalau butuh sesuatu jangan sungkan memintanya pada kami, besok kami akan kenalkan dengan para pekerja di villa."
" Baik pak, terimakasih."
" Sama-sama kami pamit, assalamu alaikum."
" Wa alaikumsalam."
Mereka beristirahat di rumah itu sambil menunggu esok hari, warga di dekat rumah sangat ramah, mereka mengirim kan beberapa makanan untuk mereka nikmati.
***
" Alhamdulillah kita sudah mendarat, ayo sayang." ajak tuan Khan Amir.
" Hhmm..." ucap Santi agak malas."
" Kenapa kamu kok tak semangat tadi katanya mau ketemu orang tua mu."
" Aku... khawatir nanti ketemu sama Rini, atau Indri."
" Ih kalau jumpa ya sudah, aku akan lindungi kamu sayang, aku bingung kenapa kamu ingin sangat makan masakan mamakmu padahal menu itu umi ku juga bisa."
" Ya namanya juga kangen bang."
" Ya sudah ayo, kita turun."
Akhirnya Santi menuruti suaminya walau dengan perasaan was-was.
Setelah turun dari pesawat, lalu keluar dari bandara, mereka menaiki mobil milik tuan Khan Amir yang dulu di titipkan di titipkan pada temannya.
__ADS_1
Mobil pun melaju ke desa, kurang lebih 2 jam perjalanan mereka tiba di rumah orang tua Santi.
" Assalamualaikum."
" Wa alaikumsalam, siapaa?"
" Santi mak."
" Ya Allah....Santiii."
Ibu nya Santi membuka pintu, lalu memeluk anaknya.
" Kemana saja kamu? bikin bingung mamak, walau sesekali ada uang di kirimkan tapi mamak gak cuma butuh itu Santi, mamak kangen kamu." ucap ibu nya sambil menarik tangan Santi dan mengajak nya duduk.
" Itu biar Amir yang jelas kan nanti mak, maaf, Amir yang ajak Santi pergi tanpa pamit." kata tuan Khan Amir.
" Ya sudah, kalian istirahatlah dulu, biar mamak siapkan makan malam ya."
" Iya mak, mak boleh minta masakin sambal terasi dan terong goreng gak? kalau lauknya terserah."
" Hah, tumben kamu pakai minta menu segala San?"
" Iya mak, makanya kami pulang, beberapa hari ini, Santi minta masakan dari mamak, walau umi sudah masak sesuai yang dia mau, tetep tak sama katanya, Amir kan jadi bingung."
" Lho..apa jangan-jangan kamu ngidam San?"
" Hah!!" sahut Santi dan suaminya berbarengan.
" Iya sayang?" tanya tuan Khan Amir senang.
" Entah bang, aku kapan dapat tamu bulanan ya?"
" Yah yang tau kamu sayang, abang mana mungkin mengingatnya." kata tuan Khan Amir dengan logat melayunya.
" Ih abang mah taunya ajak-ajak aja gak pake libur....ck!" gerutu Santi.
" Eheeemmmm..." pak Trimo berdehem mendengar obrolan anak dan menantunya itu.
" Bapak??" kata keduanya sambil berdiri menyalami pak Trimo.
" Kalian sudah lama?"
" Kemana aja selama berbulan-bulan?"
" Santi, Amir bawa ke Singapura pak, demi keamanannya, teman-temannya berusaha mengganggu hidupnya pak" kata tuan Khan Amir.
" Temanmu yang mana San?" tanya ibu Santi.
" Nanti deh mak ceritanya, Santi lapar."
" Oh ya sampai lupa mamak mau masak tadi."
" Ya udah kalian istirahatlah di kamar dulu sana." kata pak Trimo.
" Iya pak." kata Santi sambil berjalan ke kamarnya bersama suaminya.
" Huufff pegal sekali lama duduk." keluh Santi.
" Kamu yakin tak telat datang bulan sayang?"
" Entah bang, nanti deh aku ingat-ingat lagi, capek....abang gak capek?"
" Tak terlalu, abang kan biasa bepergian jadi tak masalah duduk lama."
" Iya baaaaang." kata Santi sambil merebahkan badannya.
Tuan Khan Amir baru menyadari kalau beberapa hari ini Santi sering mengeluh kecapekan walau pun tetap melayani suaminya dengan baik.
Sambil ikut rebahan Ia mencoba mengingat-ingat kapan dia tak bisa sentuh istrinya karena sedang datang bulan.
" Sayang ingat tak....." saat hendak bicara sambil menoleh ke istrinya, eh istrinya malah tidur.
'Deeeeeuuuuh....hilang sudah...' Puk..!! Tuan Khan Amir menepuk dahinya.
Satu jam Santi tertidur, masakan sudah siap ibunya mengetuk pintu kamar Santi untuk mengajak nya makan malam.
"Iya mak." sahut tuan Khan Amir.
__ADS_1
" Hhhmmm....aku ketiduran?" kata Santi merasakan bahunya di tepuk pelan oleh suaminya.
" Makan malam dulu, nanti lanjut tidur lagi."
" Iya bang."
Mereka berdua berjalan ke ruang makan dan duduk di kursi.
" Hhmmm...masakan mamak memang mantap." seru Santi sangat senang.
" Umi kan sudah masak macam ni kemarin lusa sayang, walau lauknya beda, sama-sama sambal terong juga."
" Entah lah bang, dalam fikiran ku, aku ingin mamak yang masak."
" Ih fix sudah...kamu ngidam sayang."
" Tau deh, makan dulu bang, yuk."
Mereka akhirnya makan malam, Santi bolak balik memuji masakan ibunya, tuan Khan Amir cuma pasrah sambil menikmati masakan mertuanya yang memang lezat dalam hati dia berdo'a semoga Santi hamil karena itu yang dia tunggu dari semua istrinya.
Istri-istrinya sudah ia ceraikan semua, tersisa Santi saja, dan pernikahan mereka sudah sah tercatat di negara, tuan Khan Amir tak mau lagi berpetualang seperti yang sudah-sudah.
Selesai bersantap malam, Santi membantu ibunya membersihkan meja makan, sedang suami dan bapaknya pergi ke ruang tamu untuk mengobrol.
Rumah orang tua Santi sudah nyaman, semua serba baru, rumah pun sudah di rehab berkat uang yang selalu di kirimkan oleh tuan Khan Amir.
Selesai membersihkan bekas makan mereka, Santi dan ibunya ke ruang tamu ikut bergabung dengan bapak dan suaminya.
" Jadi bagaimana ceritanya sampai kalian pergi ke Singapura?" tanya pak Trimo.
Tuan Khan Amir menceritakan apa yang terjadi, hubungan dia dan Indri tak lupa ia ceritakan.
Bapak dan ibu Santi hanya menggeleng kan kepala.
" Santi takut pulang mak." tambah Santi.
" Tenang nak, mereka tak akan ganggu kamu lagi."
" Maksud bapak?"
" Tak lama setelah kepergian mu, Indri meninggal, dia di tembak polisi karena tersandung kasus, terjebak gitu ceritanya, sedang Rini kata nenek Ety meninggal di pulau xxx dia di buang oleh suaminya ke sana, nenek Ety dapat kabar dari Aryo dan Ditha."
" Innalilahi wa innailaihi roji'un." sahut Santi dan suaminya.
" Pantas lah, ketika Amir nak talak dia, nomor kontaknya tak aktif lagi."
" Apa artinya kita boleh kembali ke sini abang?"
" Tentu sayang, bila kamu nak macam tu, abang akan kembali aktif lagi ke bisnis abang di sini, tapi besok kita periksakan dirimu ya sayang, beberapa hari ni kamu aneh sekali, oh ya abang ingat kapan kamu haid bulan lalu, ingat tak waktu kita ajak keponakan berenang bersama, kamu tak bisa ikut karena sedang haid?"
" Ooh iya...yang Abizar marah-marah karena dia maunya aku ikut berenang, anak laki-laki mana ngerti kalau wanita dapat haid, ck...iya ingat sekarang, berarti dah telat 3 minggu abang sekarangkan sudah minggu ke tiga."
" Alhamdulillah, semoga kamu hamil sayang, abang dah tunggu lama." kata tuan Khan Amir
" Aaamiiiin." sahut Santi dan orang tuanya.
" Sudah-sudah, ayo istirahat, sudah malam...ayo tidur, besok mamak masak makanan kesukaanmu lagi San, kamu banyak-banyak istirahat ya." kata ibu Santi.
" Iya mak."
" Ayo sayang, tidurlah lagi." ajak tuan Khan Amir dengan senyum tak lepas dari bibirnya.
Di dalam kamar Santi langsung rebahan.
" Abaaaaang istirahaaaaat." kata Santi memberi kode telunjuk pada suaminya.
" Iyaaaa....pahaaaam...abang pun ngantuk dah." sahut tuan Khan Amir paham dengan kode istrinya, lalu ikut rebahan sambil mengelus perut istrinya.
" Semogaaaa....ya Allaaaah.." katanya sebelum akhirnya tertidur.
Santi tersenyum melihat kelakuan suaminya, lalu ia tertidur.
Malam makin larut semua insan di bumi sudah terlelap.
Nb
Mohon krisannya yaaaa...
__ADS_1
terimakasih..