
Tuan Khan Amir mendekati Santi dan memeluknya dan belakang.
"Kamu hebat tadi malam." bisiknya di telinga Santi.
"Hhmmm....aku harus mengimbangi permainan abang kan? Udah ah jangan peluk-peluk malu nanti dilihat Rini, oh ya bang aku boleh tidak membeli sebidang tanah untuk orang tua ku di desa, selama ini mereka hanya buruh di peternakan milik orang bang." kata Santi sambil memelas.
"Boleh laaah, kau atur saja sayang, uang di atm card aku itu milikmu semua."
" Boleh?? asyiik terimakasiiih abaaaang." kata Santi tanpa sadar memeluk tuan Khan Amir.
" Ehem...ehem..."deheman berasal dari tangga lantai atas...
" Kalian sudah bangun, mari kita sarapan dulu." ajak Santi sambil tersenyum.
" Bagaimana pagi kalian? semoga suka berada di sini." sambung tuan Khan Amir.
" Ya di sini sangat nyaman abang." kata Rini.
Kedua pasangan itu pun sarapan bersama dengan senyum yang tak pernah luntur, tak ada yang menyadari kalau ada yang aneh dengan mereka.
" Abang, pergi ke Malay jam berapa?" tanya Santi saat mereka sudah selesai sarapan.
" Aku tunda dulu kepergian ku sayang."
" Hah?? Ke kenapa abang?" tanya Santi tiba-tiba dia khawatir kalau malam nanti tuan Khan Amir di rumahnya lagi maka ia harus bertukar lagi, karena dia masih takut meladeni kegilaan suaminya.
" Ya kalau saya boleh jujur, baru kali ini ada yang hebat melayani saya, yaitu kamu sayang." kata tuan Khan Amir, sambil memeluk Santi dari belakang tak peduli Rini dan om Sion melihatnya.
" Oh begitu?" sahut Santi sambil memaksakan senyumnya dan melirik ke arah Rini yang tersenyum dari atas paha Rini memberi kode jempol agar tak ketahuan om Sion yang berada di samping nya.
' Ish sial aku jadi terjebak permainan sendiri apa aku harus seliar Rini nanti, gak mungkin aku bertukar terus sama dia ck!' bathin Santi.
" Ada apa sayang ?" tanya tuan Khan Amir melihat sikap Santi yang mencurigakan.
" Tak apa sayang, apa kau tidak lelah setiap malam begituan terus?"
" Hahaha....kenapa kau tanya itu, sudah lah kamu tinggal kasih saya servis yang baik seperti tadi malam saja."
" Ih abang malu lah bicara hal itu di depan teman ku."
" Haha biasa aja kali San, para suami itu maunya memang begitu, buktinya akupun dapat servis yang baik dari istriku, hatiku sangat senang" sahut om Sion sambil mencolek dagu istrinya.
Rini pun melirik Santi sambil menyipitkan matanya.
Santi yang mendapat lirikan seperti itu hanya menunduk dan pura-pura hendak mengambil air minum.
" Apa abang sudah beritahu Indri kalau akan menunda kepergian? Atau istri abang yang lain? Apa mereka tidak menunggu abang pulang pada mereka."
" Kamu tau, semua istri saya hanya inginkan uang saya , jadi kalau mereka saya kasih uang mereka sudah diam tak tanya lagi apa saya nak pulang apa tidak, beda dengan engkau, saya lihat kamu juga belanja sesuai kebutuhanmu saja, servis pun hebat, saya merasa di butuhkan oleh mu."
" Begitu? hhhmmmm asal istri abang yang lain tak mempermasalahkannya aku pun tenang."
" Hahaha ini sudah ketetapan dari awal sejak mereka tau saya nak nikah lagi, saya akan berada lebih lama dengan istri yang saya ingin lama bersamanya jadi tak boleh ada yang protes, kalau nak protes maka saya akan langsung ceraikan."
" Oh,.." sahut Santi sambil menelan ludah.
" Saya dah bertemu istri yang cocok, mungkin saya akan mendaftarkan pernikahan kita di catatan sipil."
" Maksudnya bang?"
" Ya semua istri saya tak ada yang sah negara, saya nak cari dulu yang cocok selera saya."
" Sudah lah, saya nak berbincang dengan Sion dulu, soal kerja sama bisnis, ayo Sion kita ke depan." sambung tuan Khan Amir sambil mengajak om Sion, dan di ikuti oleh om Sion sambil berdiri dan tak lupa mendaratkan ciuman ke dahi Rini.
Tinggal lah Santi dan Rini di ruang makan.
Keduanya hanya saling pandang saja beberapa saat kemudian lanjut menghabiskan sisa sarapan mereka.
Selesai sarapan Santi masih duduk diam di kursinya sambil menatap piringnya yang telah kosong.
Saat melihat ke arah Rini, Rini pun sama melihat ke arahnya dan mengangkat dagunya memberi kode.
Santi menaik turunkan bahunya sambil menghela nafas.
" Rupanya servis mu pada suamiku hebat juga." kata Rini setengah berbisik dan memajukan badannya agak mendekat.
" Kamu juga, kita gak mungkin bertukar terus, dan bagaimana nanti kalau kamu tidak di sini aku harus bagaimana? Dia nanti menagih servis sepertimu." kata Santu yang juga setengah berbisik.
" Ck belajar nakal sedikit lah San kamu ini ah kayak gak pernah sama sekali aja, buktinya sama suami ku kamu bisa."
" Andai bang Amir benar-benar mendaftarkan pernikahan ku, itu artinya aku gak bisa mundur lagi Rin, sedang aku bilang ke Indri kalau aku hanya butuh 1 atau 2 tahun saja menjadi istri bang Amir."
" Hei kalau bang Amir memilih kamu itu bagus, kamu bisa pelan-pelan menyingkirkan istri-istri bang Amir lainnya, dan menguasai harta bang Amir, paham kamu!"
Mereka masih berbicara dengan setengah berbisik.
" Sayang, kamu bikin kan minuman untuk kami ya.!!" terdengar teriakan tuan Khan Amir dari ruang tamu.
__ADS_1
" Iya bang!" sahut Santi.
Kemudian melihat ke arah Rini dan mengangkat bahu lagi.
"Aku pertimbangkan lagi Rin atau aku akan belajar cara servis gilamu juga." kata Santi sambil menggeleng.
"Bagus...nanti aku ajarin."kata Rini sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Ish kamu...!! aku mau bikinkan minuman dulu, kamu mau? Biar aku bikinkan sekalian."
" Boleh kopi mochacino yah." sahut Rini sambil melangkah ke ruang tamu menyusul suaminya.
Rini bergabung dengan suami dan tuan Khan Amir di ruang tamu,
Tuan Khan Amir sebenarnya agak risih dengan pasangan itu, karena adanya mereka di rumah Santi membuat dia tak bisa berduaan saja dengan Santi.
Ia ingin mengulang lagi permainan mereka tadi malam, tapi karena ada tamu ia jadi kesulitan.
Santi keluar membawa nampan minuman buat mereka.
" Minum nya abang."
" Terimakasih sayang."
" Abang apakah Indri tau kalau abang membatalkan kepergian abang?"
" Aku tak sampaikan padanya, biar saja."
" Bagaimana kalau Indri bertanya padaku? Aku harus jawab apa?"
" Hei semua istri saya tak ada yang tanya saya pergi kemana, tapi mereka saya yang infokan nak datang kemana."
" Oh..."
" Kalau kamu tak percaya kau tunggu lah, Indri akan tanya kamu apa tak nanti, mereka sibuk shopping saja tak peduli saya kemana."
"Hmmm...ya sudah."
Rini dan om Sion hanya melihat saja berbincangan pasangan itu.
" Jadi abang Khan Amir ni banyak istri ya?" tanya om Sion.
" Hahaha...dari pada menjalin hubungan haram, lebih baik halalkan dulu, toh mereka tak ada yang nak ikut saya pergi kerja sana sini."
Uhuk...uhuk...uhuk
" Semua orang berhak menikmati hidupnya bang." sahut Rini setelah terbatuk-batuk.
" Wah bisa begitu ya?"
" Apa sih sayang apa kamu mau juga punya istri lebih dari satu? Memangnya kamu kuat berapa ronde?"
" Ck kamu merendahkan aku di depan temanmu." kata om Sion merasa percaya diri.
Mendengar itu Rini melirik ke arah Santi sambil mengangkat alisnya seolah menanyakan apa yang terjadi tadi malam.
Santi hanya menunduk dan meminum kopi susu nya.
Tuan Khan Amir mengepalkan tangannya melihat Santi menjilat sisa kopi di bibirnya.
' Ah istri malah memancing nafsu, kenapa harus ada pasangan ini di sini, mengganggu saja' gerutunya dalam bathin.
Tiba-tiba gawai om Sion berbunyi dan om Sion pun pamit untuk menerima sambungan telepon.
Tak lama om Sion kembali.
" Aku harus pergi, ada masalah di gudang."
" Oh bukannya kalian sedang dalam perjalanan jauh? bisnis kalian sebenarnya dimana?" tanya tuan Khan Amir.
" Ooh..itu..itu...cabang yang ada di sini." jawab Santi gugup.
" Iya bang, sebentar ya." kata Rini sambil menarik om Sion ke lantai atas.
Setibanya di kamar.
"Ada apa dengan gudang sayang? bukannya ada Dito dan Tio?"
" Barang hari ini tidak ada yang masuk, sedang stok sudah mulai habis."
" Sebentar aku cek."
Rini menghubungi anak buahnya untuk memberikan informasi di gudang, dan ternyata bisa di kendalikan.
[ Kalian awasi dan tolong atasi segera tanpa harus bos kalian yang turun tangan!! Sudah aku bilang kan kalau kami sedang bulan madu, jadi tolong jangan ganggu, kalau habis stok secepatnya cari sumber pemasok yang lain paham!!]
Setelah memberi instruksi tegas Rini pun menutup sambungan telponnya.
__ADS_1
" Tuh selesai kan sayang, bagaimana hal kecil seperti ini kamu tak bisa atasi hah?"
Om Sion takjub dengan tindakan tegas Rini.
" Wah kamu memang istri idaman makanya orang tuaku lebih memilih kamu jadi menantunya sayang." kata om Sion mulai memeluk Rini.
" Sudah ah ayo turun." tolak Rini.
'Ada apa dengannya tadi malam dia begitu agresif tapi sekarang kenapa menghindar.' bathin om Sion.
Mereka pun turun ke bawah tapi tidak menjumpai Santi dan tuan Khan Amir di sana, dan anehnya mereka mendengar suara nafas aneh dari kamar tidur Santi.
' Gila!! Aku terlambat turun' bathin Rini.
Om Sion pun mendengar itu dia tersenyum pada istrinya, dan memberi kode untuk ke kamar juga, tapi Rini menolak dia memilih ke ruang keluarga dan menyalakan tv.
Sampai tiba makan siang, Santi keluar kamar, dengan langkah kaki pelan karena kesakitan dia berjalan ke dapur, ia tak melihat kalau Rini ada di ruang keluarga sedang melihat tv dan memperhatikan nya.
Diam-diam Rini mengikuti Santi.
" Sakit hah??"
" Hah.....!!" Santi berpaling terkejut.
" Hei ngelamun kau!!"
" Apaan sih kamu, ngagetin saja."
" Ih ni orang siang-siang tetap bertarung, ckck."
" Apa??"
" Gak usah pura-pura San aku kenal betul suara-suara seperti orang lagi ngapain!"
" Kamu tanya bang Amir sana, jengkel aku!!"
" Hahaha aku paham Saaan, dia dari tadi nahan nafsu karena kami ada di sini."
" Ish aku gak sanggup Rin, sakit tau."
" Kamu kayak anak perawan aja."
" Ck gak perlu aku jelaskan, bukannya tadi malam kamu sudah buktikan sendiri."
" Iya siiih, coba kamu harus enjoy Saaan, enjooooyy..."
" Sudah aku coba tadi, tapi ah sudah lah, terus om Sion jadi pergi?"
" Enggak."
" Terus kemana sekarang?"
" Aku suruh tidur buat tenaga nanti malam lagi." jawab Rini santai.
"Gila kamu, kalau malam nanti aku di hajar lagi sama bang Amir mati lah aku jadi tape."
" Hahaha....serahkan padaku sayaaaaang."
" Apa harus bertukar terus?"
" Ya kita lihat saja dulu, nikmati dulu aja, soal nanti ya apa kata nanti."
" Terserah kamu lah Rin, untung aku tidak pingsan seperti kemarin tadi, ck.!"
"Hahaha...."
" Berhenti menertawakan ku!!"
" Iya...iyaaaaa, kita makan siang apa nih yang habis maratooon??"
" Order online saja deh Rin, capek aku mau masak."
" Okeeeee....butuh jamu kuat mentaaaal??"
" Jamu kepalamu itu Rin, sudah ah...kamu aja yang order, terserah menunya bebas."
Rini pun mengorder makanan via online.
Makanan datang, mereka berdua menyiapkannya di meja makan.
Tak lama om Sion turun dari lantai atas, dia kehilangan semangat untuk merayu istrinya, tapi begitu memandang Santi entah kenapa dia terbayang suara Santi tadi.
'Suaranya mirip dengan suara tadi malam? apa tadi malam itu Santi yang tidur bersamaku? aneh aku harus membuktikannya malam ini.'
Akankah kelakuan mereka terbongkar??
Nb
__ADS_1
mohon krisannya yaaaa,
terimakasih...