Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 31 Kembalinya yang Telah Pergi.


__ADS_3

"Assalamualaikum semua."


"Wa alaikumsalam" sahut mereka serentak dan melihat siapa yang masuk.


"Ka....kalian...kalian..."


Bu Silma berdiri dan kemudian jatuh pingsan...


Melihat ibunya pingsan Ditha langsung mendekat dan memeluk ibunya.


Yayan pun berlari mendekati ibunya.


"Rebahkan ibumu ke sofa panjang itu Yan." kata pak Rinto menunjuk sofa panjang yang ada di dekat jendela.


Pak Salman melotot melihat apa yang terjadi, sambil memandangi mereka yang datang satu persatu.


Seorang pria mendekat ke arah sofa di mana bu Silma di rebahkan.


Semua diam menunggu, sedangkan pak Salman kebingungan, andai ia tidak cacat mungkin ia sudah lari dari ruangan itu.


Tak berapa lama bu Silma pun siuman, kemudian menangis melihat pria yang berada di dekatnya.


"Abaaaaang....abaaaang....kau masih hidup....kenapa kau tinggalkan aku...." katanya sambil turun dari sofa dan memeluk kaki pria itu.


Pria itu pun yang tak lain adalah Yandi yang di kira sudah meninggal itu pun menurunkan badan nya pula dan memeluk bu Silma.


"Maaf aku harus pergi dari mu, ini semua ku lakukan demi keselamatan kalian, Salman dia itu licik." katanya sambil menangis dan memeluk bu Silma, kemudian memandang sinis pada pak Salman.


"Ayah..." ucap Ditha.


"Iya nak, kemarilah." kata pak Yandi sambil membuka satu tangannya.


Dithapun menurunkan badannya memeluk kedua orang tuanya.


Yayan hanya menangis dan memeluk Fitri istrinya.


Semua yang berada di ruangan itu tak dapat menahan air mata mereka, kecuali pak Salman yang kebingungan, ia ingin melarikan diri tapi dengan keterbatasannya ditambah lagi pintu di halangi oleh mang Karim dan Hadi, mereka sengaja berada di dekat pintu agar pak Salman tak berbuat hal yang tak di inginkan, walaupun di luar ruangan ada beberapa polisi yang menunggu.


Setelah beberapa saat mereka saling melepaskan kerinduan nya di iringi dengan tangisan itu akhirnya pak Yandi memapah bu Silma untuk duduk di sofa. di iringi dengan yang lainnya.


Pak Salman tertunduk menunggu di eksekusi oleh keluarga itu.


"Aku sungguh tak paham hal ini, aku kira aku hanya akan memperkenalkan Ditha sebagai direktur baru perusahaan ini pada Salman." kata pak Rinto membuka suara.


"Jadi begini." kata Yayan hendak menjelaskan, sambil melihat ke arah pak Salman.


"Ini berawal dari niat keluarga om Salman yang ingin menjodohkan ku, padahal beliau tau aku sudah beristri, lalu karena aku tidak menerimanya akupun pergi dari desa dengan bantuan temanku di luar pulau jawa, nah sesampainya aku di sana memang aku ikut bekerja di perusahaan temanku itu tapi bukan dia pemilik perusahaan itu melainkan ayah dan om Irham, aku juga kaget dan hendak memberitahunya pada Ditha tapi ayah bilang belum waktunya, maaf om Salman kami harus membongkar bisnis gelap om dulu agar bisa mengambil kembali hak kami yang om rampas dengan cara kejam." Yayan menarik nafas sebentar.


"Kapal carter yang membawa barang selundupan milik om itu adalah kapal kami, dan selanjutnya om tahu sendiri."


"Lalu bagaimana ceritanya orang yang di nyatakan meninggal karena kecelakaan tapi ternyata selamat dan masih hidup?" tanya pak Rinto.


"Itu biar ayah dan om Irham yang menjelaskan." jawab Yayan sambil memandang ayahnya.


"Ehemm...jadi begini, aku tau rencana busuk Salman dari salah satu anak buahnya, aku juga tak mengira dia membocorkan rencana bosnya sendiri, saat aku tanya kenapa dia bilang hidupnya tidak lama lagi jadi ia ingin berbuat kebaikan di akhir hidupnya dengan menyelamatkan ku dan Irham, saat itu ia menyuruh aku dan Irham bersembunyi, jadi dia dan dua orang temannya menggantikan kami menaiki mobil yang sudah di rusak remnya oleh mereka sendiri atas perintah Salman, mereka ikhlas melakukannya karena hidup mereka tidak lama lagi, kebiasaan pergaulan bebas hingga mereka mengidap HIV, lalu orang mengira kami yang meninggal karena kecelakaan itu, setelah itu terjadi perhatian Salman terfokus pada peristiwa kecelakaan itu, aku dan Irham pun melarikan diri keluar pulau berbekal dana keuntungan dari sewa tanah di luar pulau yang telah kami dapatkan sebelumnya, tapi kami sengaja tidak membawa semua berkas aset-aset kami agar tampak kalau yang kecelakaan itu adalah kami, kami kira aset-aset kami akan diserahkan pada keluarga kami tapi ternyata tidak, semuanya di kuasai oleh Salman, kamu benar-benar serakah Salman!!" kata pak Yandi menceritakan hal yang terjadi dan di akhiri makian pada pak Salman.


Mendengar penjelasan pak Yandi, pak Salman menghela nafas kasar, mata nya memerah menahan amarah.


"Kamu gila Salman!! Kamu tega merampas kebahagiaan ku!!"maki bu Silma tanpa menyebut pak Salman seperti biasa ia memanggilnya.


"Kau pisahkan aku dengan suami dan anak-anak ku, salah apa aku selama ini, kemudian kamu tega merampas hak kami, dan menipuku dengan menikahi ku....ceraikan aku sekarang juga, aku tak ikhlas hidup bersama binatang sepertimu!!" amuk bu Silma sambil menangis.


Pak Yandi mengelus punggung bu Silma menyuruhnya tenang.


"Salman aku tak peduli kondisimu sekarang kamu harus bertanggung jawab, secara hukum negara aku masih suami Silma, dan pernikahan kalian jelas tidak sah karena aku masih hidup, lepaskan Silma, paham kamu!!"


Pak Salman diam saja tak bereaksi apapun.


"SALMAN.!!!!" bentak pak Rinto.


"I iya..Silma Almira binti Fu'ad Salam aku jatuhkan talak kepadamu, mulai saat ini kamu bukan istriku." kata pak Salman lemah dan terbata.

__ADS_1


"Aku terima." kata bu Silma sambil menangis memeluk Ditha.


"Maafkan ibu nak, ibu memilih hidup bersama monster itu daripada membesarkan kalian."


"Tak apa-apa ibu, kita tak bisa menghindari takdir, sudahlah yang penting keluarga kita kembali lengkap lagi." sahut Ditha menenangkan ibunya.


"Kamu bisa mengerti sekarang kan Salman, semua berkas yang ada di brankas mu menguak semuanya, Ditha menyarankan agar dana yang seharusnya miliknya di pakai untuk menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan, karena ia kasihan pada karyawan-karyawan apabila perusahaan ini di tutup, aku melihat semua berkas aset-aset itu memang atas nama Yandi dan Irham jadi sebagai anak maka Ditha punya hak untuk mengatur harta ayahnya, dan surat-surat yang kamu tanda tangani saat di rumah sakit itu adalah surat penyataan penyerahan semua harta milikmu dan surat kuasa untuk pencairan dana yang ada di rekening mu yang mana semua itu memang milik keluarga Yandi, uang kamu sendiri habis tidak jelas kamu pakai buat apa." kata pak Rinto.


Mendengar itu pak Salman hanya menunduk namun di hatinya ia sangat kesal ternyata yang mengambil surat-surat itu adalah sepupunya sendiri.


Tak berselang lama setelah pembicaraan itu beberapa polisi masuk ke ruangan.


"Selamat siang, maaf kami mengganggu pertemuan ini, sudah saatnya kami membawa pak Salman untuk di tahan, mohon kerjasamanya." kata salah seorang polisi itu sambil menghormat.


"Baik pak, silahkan bawa." kata pak Rinto.


"Ti tidak...Rinto....Karim..tolong aku....aku sedang sakit....aku tak mau di tahan....tolong aku, Silma...Yandi..tolong...Rintooo." kata pak Salman sambil menggapai tangan pak Rinto yang berada di dekatnya.


Pak Rinto menepis tangan pak Salman dan berkata.


"Saatnya kamu bertanggung jawab atas semua perbuatan mu Salman, semoga Allah mengampuni mu!"


Pak Salman pun di bawa paksa oleh polisi ke luar ruangan dan pergi ke kantor polisi.


Setelah kepergian pak Salman yang di bawa oleh pihak kepolisian, suasana di dalam ruangan kembali mengharu biru.


Pak Rinto akhirnya menarik nafas lega karena merasa tugasnya sudah selesai.


"Baiklah semua sudah kembali, aku rasa aku sudah bisa melepaskan kewajiban ku, aku pamit ya, apabila ada yang di perlukan lagi jangan sungkan untuk meminta bantuan ku."


"Terimakasih atas bantuan om, kalau tidak ada om Ditha gak tau harus berbuat apa." kata Ditha menghampiri pak Rinto dan menyalaminya.


"Sama-sama Ditha, aku bertanggung jawab karena kesalahan menikahkan mu dengan Lando."


"Iya om, sekali lagi terimakasih."


"Baiklah om pamit, Yandi, Yayan, semuanya saya pamit, assalamu alaikum."


Pak Rinto pun keluar ruangan dan meninggalkan gedung perusahaan itu.


"Alhamdulillah kita sudah berkumpul lagi." kata pak Yandi.


"Maafkan aku abang, bukannya membesarkan anak-anak, aku malah menerima tawaran Salman untuk menikahinya." kata bu Silma sambil terisak.


"Sudah dik, kalau aku seorang wanita mungkin aku akan melakukan hal yang sama di saat kamu butuh pendamping hidup tak ada cara lain kecuali menerima pinangan orang, semua sudah berlalu, aku tidak bisa menyalahkan mu untuk hal itu."


"Sekarang kita bagaimana abang, abang tidak akan pergi lagi kan?"


"Tentu tidak, kita akan hidup bersama lagi, aku akan menebus semua kesalahan ku meninggalkan mu selama ini." kata pak Yandi sambil tersenyum.


"Yayan kamu sudah bisa kembali ke sini, lanjutkan pekerjaan mu di perusahaan yang di kelola Hadi selama ini, ingat berhati-hati lah kalau ada perusahaan nakal lagi yang hendak mengirimkan barangnya, harus diselidiki dulu." kata pak Yandi lagi.


"Iya ayah." sahut Yayan.


"Ayah ini berkas-berkas aset milik om Irham, di titipkan padaku." kata Ditha.


"Oh iya, Ham ambillah." kata pak Yandi pada pak Irham.


"Alhamdulillah, terimakasih Ditha."


"Sama-sama om."


"Baik Yan aku pamit mengecek semua aset ku, makin cepat makin baik, setelah ini aku ingin istirahat dulu sebentar."


"Hei cari istri lah kau....sudah tua juga..hahaha."


"Ish, entah si bunga desa apa sudah di petik dan layu ya??" kata pak Irham mengingat gadis yang dulu ia inginkan.


"Siapa om?" tanya Yayan.


"Anjani anak pak RT dulu."

__ADS_1


"Aaaaaaa...."kata Yayan dan Fitri serentak. Kemudian keduanya tertawa cekikikan.


"Kenapa kalian tertawa..ayo bayar denda karena menertawakan ku...!!" sentak pak Irham sambil pura-pura ngambek.


"Panteeesssss bu guru ngaji kita gak mau nikah-nikah rupanya ada yang titip hati." kata Yayan.


"Hah..serius, belum nikah, yess...yess....aku ke sana dulu..!!!" kata pak Irham semangat, kemudian berjalan terburu-buru.


"Hei tadi katanya ngurusin bisnis lamamu dulu, kenapa jadi plin plan kau.!"


"Ini urusan lebih penting, sudah jangan tanya, enak kamu masih ada Silma, lah aku??? bentar lagi karatan tau...!!" semprot pak Irham.


"Hahaha." semuanya menertawakan ucapan pak Irham yang sambil pergi dan sampai lupa mengucapkan salam.


Semua kembali bersama, pak Yandi berkata pada bu Silma kalau ia harus mengucapkan ijab kabul lagi jika ingin hidup bersama, bu Silma pun menurut saja.


Pak Yandi menyuruh Ditha untuk tetap memimpin di perusahaan, karena cara kerjanya sangat bagus.


Mereka pun berpamitan untuk pulang ke rumah bekas milik pak Salman untuk beristirahat.


Sedangkan Hadi , Yayan dan Fitri pergi ke perusahaan nya di sisi barat kota.


***


Di lain tempat si kembar kebingungan karena tak ada kabar dari Lando, nomor kontak pun sudah tidak aktif lagi.


"Sepertinya Lando tak bisa kita harapkan lagi Fa." kata Afi.


"Kamu benar, bagaimana ini papah mamah meminta uang terus , kita sudah menjual mobil ku untuk biaya hidup."


"Kita coba ke night club milik om Sion, semoga ada mangsa, aku sudah hubungin om Sion, dan aku sudah di suruh datang, ada beberapa pelanggan yang kangen akan servis ku." kata Afi tersenyum ,berjalan ke kamarnya dan mencari baju-baju saat bekerja di night club dulu.


"Hhhmmm...masih bagus." gumamnya.


"apa tidak ketinggalan jaman modelnya?" tanya Ifa.


"Sementara aja, kalau dapat uang nanti beli yang baru."


Hari sudah malam, Afi pun bersiap-siap, ia pun pamit pada Ifa untuk pergi, sengaja salah satu dari mereka saja yang pergi supaya nanti bisa bertukar posisi lagi.


Setibanya di night club, milik om Sion, Afi pun langsung mencari om Sion.


"Hai om..."


"Hai Fi...kau sudah datang.? lama sekali kamu di Berlin hah, kamu gak kangen om.?"


"Kangen lah om, tapi bagaimana lagi aku kan harus kuliah, mamah papah maunya aku berada dalam pantauan mereka jadi gak bisa bebas om."


"Hhhhmmmm.... bagaimana mau langsung kerja atau mau main sama om dulu.?"


"Yang mana aja deh om, asal dapat uang jajan om."


"Oke om coba pake dulu yaaaa.... sambil menunggu calon penyewa mu." kata om Sion sambil mengedipkan matanya.


"Wah sudah ada calon penyewa om, tajir gak om?" tanya Afi sambil bergandengan dengan om Sion menuju kamar yang ada di atas night club itu.


"Ya tajir laaaah.." kata om Sion sambil menarik Afi ke dalam kamar.


Dan mulailah perbuatan setan mereka...**Sensor**....


Tak berselang lama pintu di dobrak seseorang.


"Oh! Jadi ini yang kamu lakukan yah.....dasar s***n...!!" Orang itu merangsek masuk bersama beberapa orang laki-laki, dan menghajar om Sion dan menarik tangan Afi untuk di bawa keluar night club, kemudian dengan paksa memasukkan Afi yang telanjang bulat ke dalam mobil.


Ada apa lagi.....???


Nb


mohon krisannya yaaaa,


boleh minta jempolnya kaaah

__ADS_1


terimakasiiiih...


__ADS_2