Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 38 Pernikahan di Mekkah


__ADS_3

Sementara di Mekkah keluarga pak Sudarmono dan keluarga pak Yandi sudah menyelesaikan ibadah umroh mereka.


Masih ada 3 hari lagi sebelum kepulangan mereka, mereka pakai untuk berwisata ke tempat-tempat bersejarah di tanah suci.


Di sela makan siang, pak Sudarmono kembali membicarakan rencananya untuk menjadikan Ditha sebagai menantunya.


"Iya pak anak kami pun sudah bersedia, setelah ia sholat istikharah di Masjidil Haram, dia sudah sampaikan pada kami kalau dia sudah mantap menerima Aryo."


"Alhamdulillaaaah." sahut semuanya serentak.


"Ayah bagaimana kalau kita laksanakan ijab kabul di sini saja? biar menjadi sejarah untuk pernikahan kami." usul Aryo.


"Wah ide bagus itu, bagaimana pak Yandi?"


"Saya ikut saja, apapun yang terbaik."


"Kalau begitu kita temui ustadz pembimbing kita ya, biar di bantu mengurus nya."


Kebetulan pak ustadz sedang berada di restoran itu, mereka pun mengajak pak ustadz berbicara tentang niat mereka, pak ustadz pun akan membantu, hingga tercapai kesepakatan, pernikahan akan di laksanakan 3 hari lagi pada pagi hari sebelum mereka pulang ke Indonesia sore harinya.


Merekapun segera mencari apa saja yang di butuhkan untuk acara tersebut, tak perlu pesta karena acara akan di laksanakan di salah satu mesjid di sana, pesta akan di laksanakan di Indonesia saja.


Sambil masih berwisata ke tempat bersejarah di tanah suci, mereka berbelanja oleh-oleh untuk tetangga dan sekalian suvenir pernikahan Aryo dan Ditha.


Selama sisa perjalanan mereka sebelum terucap nya ijab kabul, Ditha dan Aryo sama sekali tak berbincang-bincang, semua yang mereka ingin katakan mereka sampaikan lewat orang tua mereka, walaupun berada satu tempat, mereka bahkan berusaha untuk tidak sampai berdekatan apalagi sampai bertatapan, keduanya benar-benar menjaga diri sebelum hubungan mereka halal di mata agama.


Setiap waktu sholat tiba , semua anggota keluarga melaksanakan sholat mereka ikut berjamaah, tak lupa bagi Aryo dan Ditha menyematkan do'a agar pernikahan mereka di lancarkan dan mendapatkan perkawinan yang Sakinah Mawadah Wa Rohmah.


Setiap hari pak ustadz tak bosan-bosannya menceramahi kedua calon mempelai bagaimana mereka nanti menjalani kehidupan berumah tangga.


Sampai tibanya di hari yang telah di tentukan, acara pernikahan itu pun di gelar dengan sakral.


Ijab kabul di ucapkan oleh Aryo dengan lancar dan semua anggota keluarga mengucapkan hamdalah, Ditha pun mencium punggung tangan Aryo sebagai awal baktinya pada suami, pernikahan pun di tutup dengan sungkem pada orang tua kedua mempelai.


Karena waktu yang sangat dekat dengan kepulangan mereka kembali ke Indonesia, maka setelah acara selesai mereka pun bersiap untuk pulang.


Karena sudah halal, Aryo pun mulai sering berada di dekat Ditha, membantu Ditha mengangkat kopernya dan lain-lain.


Ditha hanya tersipu malu saja melihat sang suami melayaninya.


"Ya humairah, pipimu makin merah, apa kah panas? Mungkinkah telur akan matang kalau aku tempelkan ke pipimu?"goda Aryo.


"Kakak ih, jangan fokus padaku, fokus pada kepulangan kita dulu, nanti kita ketinggalan pesawat lho."


" Ya gapapa kita mbolang di sini."


"Ih sudah ah, aku ikuti ayah saja." kata Ditha sambil pura-pura ngambek, mempercepat langkahnya menyusul ayahnya.


Aryo tersenyum melihat kelakuan istrinya, dan menyusul langkah istrinya.


"Kalian ini kenapa to?" tanya bu Laila, jiwa opera lawaknya bergelora.


"Eeeeuuuw bunda kok tanya, emang bunda mau lagi manten baru? ayo aku ucapin ijab kabul lagi bun?"


"Maksud ayah, aku iri sama anak-anak?"


"Iya mungkin, secara yang manten baru ada 3 pasang, kali bunda mau ikutan."


Semua yang mau naik ke dalam pesawat tertawa, menertawakan mereka berdua, sedang tiga pasangan pengantin yang mereka maksud hanya tersenyum malu-malu.


Di dalam pesawat semua jama'ah bersholawat, ada juga yang memilih sholat sunah, karena sudah sore dan hampir magrib, perjalanan masih lama, mereka tetap khusuk melakukan ibadah.


Hampir 12 jam perjalanan sampailah mereka di desa, semua masih berkumpul di villa yang terdekat, hari kembali pagi, seluruh pelayan sibuk menyambut mereka, dan menyiapkan segala sesuatunya.


Ditha masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri, mereka sudah sarapan bersama ketika di bandara, jadi Ditha ingin beristirahat dulu fikirnya.


Selesai mandi dan berganti pakaian, dia keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Aryo sudah berada di sana.


"Kakak disini??"


"Iya, kenapa?"


"Iya tapi....tapi..ya Allaah!" Ditha menepuk dahinya.


"Kamu kenapa, kamu baik-baik saja?" kata Aryo sambil mendekati Ditha.


Ditha bingung apa dia harus mundur atau diam saja.


"Hei istriku kamu cantik."


"Apa Is...istri....hahaha, maaf kak aku lupa kalau kita sudah menikah."

__ADS_1


"Wah kamu masih jet lag, rambut mu bagus." kata Aryo membelai rambut Ditha.


Ditha masih risih, dia pun menepuk dahi lagi, karena merasa tak ada orang di kamar selain dia , jadi dia tak menggunakan hijabnya.


Melihat kelakuan aneh Ditha, Aryo hanya mengerutkan dahinya.


"Kamu istirahat lah dulu, aku mau mandi."


"Iya kak, pegal sekali kelamaan duduk."


Kemudian Aryo masuk kamar mandi, sedang Ditha naik ke ranjang dan merebahkan diri, ia ingin beristirahat sebentar.


Di ruang tamu masih penuh dengan barang-barang bawaan mereka.


Pak Yandi menyuruh art mereka untuk memasukkan koper dan kardus-kardus di masukkan ke salah satu kamar kosong di villa itu.


Kemudian semua beristirahat dulu sebelum kembali ke rumah masing-masing.


Keluar dari kamar mandi, Aryo melihat istrinya yang tertidur kelelahan.


Ia tersenyum akhirnya bisa bersama wanita yang ia inginkan. benar kata orang tuanya, dengan mengejar ridho Allah kamu bisa dapat semuanya, sedang apabila kamu hanya mengejar cinta kamu, kamu akan kehilangan semuanya.


Kepada Allah ia pasrahkan cita dan cinta, tak ada yang bisa menghalangi Allah jika Ia sudah berkehendak.


Pelan-pelan Aryo merebahkan diri di samping Ditha, sambil memandang wajah cantik dan teduh milik istrinya, ia tak berhenti tersenyum dan mengucap syukur, apa yang dia cita-cita kan tercapai, walau dengan kesabaran yang tinggi.


Terselip do'a dalam hatinya semoga rumah tangga nya jauh dari cobaan yang mengganggu ketentraman hidup mereka.


Memandang wajah istrinya yang tertidur tenang lama kelamaan Aryo pun ikut tertidur.


Sekitar 2 jam Ditha tertidur, dia terbangun karena suara berisik di luar, kembali dia kaget karena Aryo ada di sampingnya.


"Duh begini nih kalau nikah mendadak, bawaannya kaget terus karena belum siap mental." gumamnya sambil menepuk dahi.


" Lama-lama dahimu bisa cekung sayang kalau kamu tepuk terus. " kata Aryo.


Ditha hanya tersenyum mendengarnya, kenapa tadi dia ngomong sendiri, sampai gak sadar kalau orang di sampingnya sudah bangun.


"Orang-orang di luar kayak sibuk banget ya kak?"


"Hmm, iya, tadi kata bunda kita selamatan dulu, baru nanti pulang ke rumah masing-masing, untuk persiapan resepsi pernikahan kita."


"Oooh...ayo kita lihat apa yang bisa kita bantu kak."


"Aku ingin kita tinggal di rumah kakak yang pertama kali aku ke kota, di sana menyenangkan, barang-barang ku juga masih di sana."


"Iya di sana memang nyaman, dan tak jauh dari pekerjaan ku, apa kamu tetap akan bekerja di perusahaan mu sayang?"


"Hhmmm kayak nya enggak kak, aku kan sudah serahkan tanggung jawab pada kak Hadi, sedang kak Yayan sudah aktif di perusahaan ekspedisi nya di sini, jadi aku ingin kembali ke hobiku saja, enak kerja di rumah kak."


"Hahaha....kamu memang gadis pertapa."


"Ih kakak nih, aku mau intip apa yang orang-orang lakukan ya kak, sebentar lagi dzuhur kita sholat berjamaah."


"Ya udah, ayo."


Mereka berdua pun keluar kamar dan melihat kesibukan orang-orang, semua art rumah mereka berkumpul, dan mereka sangat sibuk menyiapkan acara selamatannya, di luar berdiri tenda-tenda dan karpet sudah di gelar.


Tak ada kursi di sana karena acara di adakan dengan lesehan, agendanya akan di isi ceramah oleh ustadz kondang.


Para pejabat dan warga di dua desa dan karyawan perusahaan mereka pun di undang untuk datang ke acara.


Setelah sholat dzuhur dan makan siang semua anggota keluarga sudah bersiap untuk memulai acara.


Tamu sudah datang satu persatu, ada pula yang rombongan, mereka masuk dan setiap orang mendapatkan oleh-oleh dari Mekkah, lalu masuk dan duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Tak berapa lama tempat acara pun sudah penuh, dan acara di mulai.


Semua yang hadir khusyuk mendengarkan ceramah dari ustadz, diselingi tawa ketika ada yang lucu dari ceramah sang ustadz.


Menjelang Ashar, ceramah selesai, para hadirin sudah mulai beranjak pulang, kembali ketika mereka pulang mereka mendapat kan kotak konsumsi untuk mereka bawa pulang.


Lega acara berlangsung dengan lancar, kedua keluarga yang baru bersatu lewat pernikahan Ditha dan Aryo lanjut melaksanakan sholat Ashar berjamaah, dengan Aryo sebagai imamnya.


Selesai sholat, mereka duduk melingkar sambil berbincang-bincang dan mendengarkan ceramah pendek dari pak ustadz tentang pernikahan menurut sudut pandang agama, Aryo dan Ditha manggut-manggut mendengarkannya.


Setelah selesai, pak ustadz berpamitan.


Pak Sudarmono dan bu Laila berpamitan hendak pulang ke rumah mereka.


"Kami kembali pulang ya pak Yandi, alhamdulilah semua dilancarkan, semoga selalu lancar dan bahagia sampai punya anak cucu, aaamiiiin."

__ADS_1


"Aaamiiiin." jawab yang lain serentak.


" Apa kalian bermalam dulu saja di sini pak Sudarmono? Bukannya masih lelah? "


" Ah sudah cukup istirahat tadi, di acara juga banyak duduk jadi sudah gak seberapa lelah. "


" Oh baiklah kalau begitu, kita harus banyak istirahat lagi, karena setelah ini persiapan untuk resepsi anak-anak. "


" Benar pak, ayo bun kita pulang dulu. "


" Iya ayah, Aryo...Ditha bunda dan ayah pulang dulu ya, nanti kita bicara kan lagi untuk resepsi kalian ya. " pamit bu Laila pada anak dan mantunya.


" Iya bunda. " kata Aryo dan Ditha bersamaan kemudian keduanya menyalami dan mencium punggung tangan orang tuanya.


"Baik semua, kami pamit, assalamu alaikum."


" Wa alaikumsalam."


Pak Sudarmono dan bu Laila pun berjalan keluar rumah dan menaiki mobil untuk pulang ke rumah mereka.


Semuanya kembali duduk dan bercengkrama, para art antusias mendengarkan cerita dari bu Silma , bagaimana perjalanan umroh mereka, terutama acara pernikahan Ditha dan Aryo yang di laksanakan pagi hari sebelum pulang ke Indonesia.


Mang Karim yang punya jiwa usil menggoda Ditha.


" Waaaah.....jadi malam pertama kalian di pesawat? Super jet lag dong. "


"Mamaang ih apa-apaan.!! " kata Ditha malu.


" Hahahaha......" semua yang hadir jadi tertawa, sontak saja pipi Ditha jadi merah.


" Ya humairah, pipimu makin merah." kata Aryo menggoda istrinya.


" Kakaak!! " teriak Ditha sambil memukul lengan Aryo.


"Aduh.....sakit tau pelan-pelan aku masih perjaka.!" kata Aryo sambil mengelus lengannya yang sebenarnya tidak sakit.


"Iiiih, bisa diam gak.?" kata Ditha hampir berbisik.


"Hahahaha...." kembali semuanya tertawa melihat tingkah pasangan baru itu.


Tak terasa adzan Magrib berkumandang, kembali semuanya bersiap-siap untuk sholat berjamaah, dan Aryo menjadi imam lagi.


Usai sholat mereka kembali dengan kesibukan masing-masing ada yang menyiapkan makan malam ada yang masuk ke kamar tempat di taruhnya kardus berisi sovenir, para pria hanya duduk sambil ngobrol di ruang tamu.


Tak berapa lama masakan sudah siap, mereka semua bersantap malam, semuanya duduk lesehan di ruang tamu, yang memang semua sofa di taruh di luar villa.


Tak ada perbedaan antar majikan dan art, mereka semua duduk di lantai, makan malam bersama-sama.


Usai makan tiba waktu nya sholat Isya, kembali mereka sholat berjamaah.


Malam makin larut, Ditha dan Aryo masuk ke kamar mereka.


" Alhamdulillah, hari ini lancar." kata Aryo.


" Iya kak, kita kembali di Indonesia dengan selamat, dan sehat tak kurang satu apapun, nenek juga kayaknya senang, walaupun masih haji kecil tapi setidaknya cita-cita beliau kesampaian."


" Alhamdulillah." sahut Aryo tak henti bersyukur.


" Sayang....bolehkah aku tunai kan kewajiban ku memberikan hak mu sebagai istri ku?"


" Insya Allah boleh kak." jawab Ditha sambil menunduk malu.


" Bismillah......" Aryo membaca do''a sebelum menyentuh istrinya, dengan harapan Allah mendengar dan mengabulkan do'anya agar di berikan keturunan yang sholeh dan sholehah....**Sensor**....


Walau lelah melayani suaminya Ditha tetap membersihkan diri dulu sebelum tidur, rasa sakit tak ia pedulikan lagi demi kesehatan, dia melihat suaminya sudah tidur.


" Kak bangun dulu."


" Hhhmmm apa? mau lagi? " kata Aryo sambil malas tapi tersenyum usil.


"Ih bukan itu, cuci lagi dulu baru tidur, ayo sana."


"Hhhmmm iya sayaaaaang." Aryo pun terpaksa bangun dan pergi ke kamar mandi.


Tanpa menunggu suaminya Ditha berbaring dan tertidur lelap.


"Deeeeeeeuwww....dia tidur..... hmmmm cantik." kata Aryo setelah keluar dari kamar mandi, dia pun mematikan lampu dan tidur memeluk istrinya.


Semua penghuni tertidur lelap terbuai dalam mimpi indah masing-masing.


Nb

__ADS_1


mohon krisannya yaaaa..


Terimakasih...


__ADS_2