Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 46 Aku Titip Do'a


__ADS_3

" Selamat malam bapak ibu.., terimakasih sudah datang ke villa kami, dan selamat......" kata-katanya tiba-tiba terputus.


" Ar....Aryo!!??"


" Rini???" seru Aryo.


" Kamu Rini kan??" tanya Aryo memastikan.


Rini hendak mundur dan memutar kursi rodanya, namun di tahan oleh Aryo.


" Ada apa denganmu Rini, apa yang terjadi??" tanya Aryo yang berempati pada bekas teman kuliahnya itu.


" Hiks...hiks...maaf kan aku...aku banyak berbuat salah...aku mohon maafkan aku...hiks."


" Jangan seperti ini Rin, semua orang pasti punya kesalahan dan pasti di beri kesempatan kedua, jadi villa ini milikmu?" kata Aryo.


" Iya dari uang yang di berikan suami ku, aku kumpulkan tanpa sepengetahuannya dan ada lagi uang yang memang dia berikan sebelum dia membuang ku ke sini, aku memulai hidupku lagi di sini, menjadi Rini yang ingin menjadi orang baik."


" Baguslah Rini, kamu sudah mengambil kesempatan kedua itu dengan baik, sehingga pulau yang tak banyak di ketahui orang ini menjadi mulai terkenal sekarang."


" Benarkah? Tapi masih belum banyak yang datang ke mari, satu bulan ini saja baru kalian yang kemari." sahut Rini sambil menunduk.


" Iya Rin, kamu benar dengan memulai hidup yang baru, dan memberikan pekerjaan pada mereka setidaknya kamu sudah berusaha menebus apa yang telah kamu lakukan dulu, dari pelabuhan belum banyak kapal yang mengambil jalur ke pulau ini Rin, makanya aku dan kak Yayan penasaran, tapi tak apa Rin dari pulau seberang sampai ke sini tadi kami sudah buat dokumentasi nya, kamu gak usah khawatir nanti kami bantu untuk promosi pulau dan villa ini."


" Terimakasih Aryo, aku tak tahu bagaimana bisa membalas kalian di hidupku yang tak lama lagi."


" Apa...apa kamu bilang?"


" Ti..tidak...tidak apa-apa Yo.... aku permisi mau istirahat, kalian nikmatilah villa dan pulau ini, semoga memberi kesan baik dalam perjalanan kalian ya."


Tanpa persetujuan dari Aryo dan yang lain, Rini menepuk tangan pelayannya untuk mengantarkannya kembali ke rumahnya di belakang villa.


Sepeninggal Rini, Aryo menghela nafas...baru tersadar ketika Ditha menepuk bahunya.


" Aku bingung apa yang terjadi pada Rini sebenarnya, dia, Santi dan Indri sahabat akrab dan selalu saling bantu tapi kemana Santi dan Indri kenapa diam saja membiarkan sahabatnya menghilang dari kota?" kata Aryo pada Ditha.


" Sudah lah, nanti juga kita akan tahu ceritanya, jangan di paksa Rini untuk menceritakannya sekarang, kita nikmati saja dulu malam ini." sahut Ditha.


Mereka kembali menikmati malam yang indah di pulau itu, sampai jam 9 malam, bu Silma menyuruh Ditha dan Fitri agar segera beristirahat, Yayan dan Aryo pun mengajak istri mereka masuk ke kamar yang telah di siapkan untuk mereka.


Malam makin larut, semua masuk ke kamar masing-masing dan bersiap untuk beristirahat.


Semua tertidur dengan mimpi indahnya.


Tanpa terkecuali Rini, di kamarnya dia termenung.


"Benarkah dosaku akan terampuni dengan aku membantu mempekerjakan orang-orang disini? Ya mereka memang orang-orang yang kesulitan, semoga dengan kedatangan mereka pulau ini makin terkenal dan bisa menambah pemasukan untuk para penghuni pulau ini, aaamiiin.....ya Allah berikan pengampunan Mu pada hamba, di sisa hidup hamba ini." katanya sambil merebahkan tubuhnya.


Saat di tinggal Dito beberapa bulan yang lalu kesehatannya kembali drop, karena jauh dari sarana kesehatan dia tak dapat berbuat apa-apa, oleh warga dia di bawa ke dukun desa kecil mereka, dan di obati seadanya.


Karena tak ada perubahan, warga menyarankan untuk menyebrang pulau untuk di obati, beruntung dia ada uang jadi dengan bantuan warga mereka mengantarkan Rini ke seberang.


Di rumah sakit Rini mendapat vonis menderita kanker serviks stadium akhir.


Warga menyarankan agar dia mengobati penyakitnya dulu, namun Rini menolak, ia ingin agar warga yang mengantar nya membawanya kembali ke pulau mereka.


Dokter tak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah kemauan Rini, namun dokter memberikan terapi rawat jalan untuk Rini setidaknya ada usaha untuk mengobati sakitnya.


Kembali ke pulau, Rini punya ide ingin menjadikan pulau mereka sebagai pulau wisata, karena pulau itu memang sangat indah.


Dengan uang yang ada padanya dan bantuan dari warga dia bisa membangun villa-villa sederhana.


Keinginan agar bisa berbuat baik di sisa umurnya itulah Rini terpacu untuk mengukir nama baiknya agar ada yang mengenangnya saat dia telah tiada.


Sebelum tidur Rini mengambil buku diary yang dia taruh di bawah bantal.


Ia menulis pesan kepada Aryo dan Ditha.


Selesai menuliskan pesan itu ia dekap buku itu ia tersenyum dan kemudian tertidur lelap.


***


Tok...tok....tok...


" Ya siapa?" tanya Aryo, ada yang mengetuk pintu kamar dia dan Ditha seusai menunaikan sholat subuh berjamaah.


" Maaf...tuan..maaf....!!"


" Ada apa?" tanya Aryo lagi sambil membuka pintu.

__ADS_1


" Bu Rini tuan....ia...ia.. meninggal."


" Innalilahi wa innailaihi roji'un." sahut Aryo dan Ditha berbarengan.


" Panggil yang lain kak, kita bantu mereka." kata Ditha.


" Iya, kamu jangan mendekat dulu ya kamu sedang hamil."


" Iya kak, aku ke kamar kak Fitri saja."


Semua bergerak membantu mengurus jenazah Rini, mereka lihat Rini sudah terbujur kaku di tempat tidurnya.


Tetua warga berkata, tadi dia melihat ada buku dalam dekapan Rini, karena di tulisan terakhir ada nama Aryo dan Ditha di tulis di sana jadilah mereka memanggil Aryo untuk datang, tak lupa buku itu mereka serahkan pada Aryo.


Aryo memahaminya, dan mengatakan kalau Rini adalah teman semasa kuliah dulu, ia pun menerima buku itu.


Semua membantu untuk proses pemakaman, karena sebelumnya Rini pernah berpesan agar bila dia tiada ia ingin di makamkan di salah satu bukit di pulau itu, tetua warga sudah menyiapkan tempat untuk memakamkan Rini.


Apapun yang telah Rini lakukan sebelum dia berada di pulau itu para warga tidak memperdulikannya, yang mereka tau sejak berada di sana Rini adalah orang yang baik, jadi mereka menerima Rini dengan baik pula, sebagai ucapan terimakasih warga mereka pun mengikhlaskan agar Rini di makamkan di sana.


Usai memakamkan Rini, mereka mengirimkan do'a agar almarhumah di terima di sisi Nya.


Keluarga besar pak Yandi tak bisa berlama-lama di pulau itu, mereka harus kembali ke seberang, namun sesuai janji yang telah di katakan Aryo, dia dan Yayan mengabadikan momen-momen di pulau itu dan membuat video spot-spot terindah dari pulau itu untuk mereka bantu promosikan.


Terkadang Fitri dan Ditha juga membuat live streaming dari banyaknya yang menonton dan yang memberi komentar terlihat orang-orang banyak yang antusias dan penasaran pada pulau itu.


Saat mereka akan pergi dari pulau sudah beberapa pengunjung yang datang, kapal-kapal kecil pun banyak yang mengambil jalur pelayaran ke pulau itu.


Aryo dan Ditha senang melihat respon pengunjung baru, walau kepergian Rini menyisakan cerita sedih namun ia telah meninggalkan nama baik dan manfaat bagi warga pulau itu.


Keluarga besar pak Yandi kembali ke kota dan kembali ke kesibukan masing-masing, meninggalkan pulau yang sudah mulai ramai dengan para wisatawan dalam dan luar negeri.


Aryo sempat juga berpesan dia akan kembali untuk mengembangkan usaha di sana, agar supaya pulau itu menjadi lebih maju di bagian wisatanya, dan warga pun menyambut idenya dengan senang hati.


****


Kembali ke rumah mereka, Aryo dan Ditha sangat senang, acara mereka di lancarkan walau ada sedikit drama kesedihan namun mereka lega.


Aryo memegang buku diary milik Rini, ia belum sempat membacanya.


" Ada apa kak?"


" Kenapa ada sama kakak?"


" Kata tetua warga di pulau, di tulisan terakhir ada pesan buat kita."


" Berarti kita boleh membacanya kak?"


" Iya, ini sudah malam, kita istirahat saja dulu ya." kata Aryo sambil meletakkan buku itu di meja rias Ditha.


Aryo mengajak istrinya untuk berbaring, tangannya tak lepas dari perut istrinya yang mulai terlihat, anak-anak ayah lagi ngapain niih, kalian suka perjalanan naik kapal? nanti kalau kalian sudah lahir kita kesana lagi yaaa...sekarang kita bobo...!" katanya tersenyum, kemudian mencium kening istrinya.


" Sehat-sehat terus ya istriku.."


" Iya kak, terimakasih." sahut Ditha sambil tersenyum.


Malam makin larut mereka tertidur sambil berpelukan.


Pagi hari nya Ditha menyiapkan sarapan untuknya dan Aryo, Ditha masih belum bisa berdiri lama, jadi semua makanan art mereka yang memasak.


Aryo datang ke ruang makan dan duduk di kursi.


" Hhhhmmm... sepertinya enak."


" Hehe...tapi bik Imah yang masak."


" Tak apa sayang, aku juga sudah biasa dengan masakan bik Imah, ciri khas masakan bik Imah ya seperti ini, yang kata orang ndeso tapi lezat." kata Aryo sambil mengacungkan jempolnya.


Mereka berdua menikmati sarapan tanpa banyak bersuara.


Selesai sarapan, Aryo pergi ke ruang kerjanya, seperti biasa memantau pekerjaan dari rumah saja, dia sudah mengirimkan utusan ke pulau seberang untuk melihat apa saja yang bisa ia lakukan untuk pengembangan spot wisata disana.


Semua hasil kerja keras Rini akan dia bangun agar lebih bagus lagi.


Tiba-tiba Aryo teringat akan buku diary milik Rini, baru mau melangkah keluar ruang kerjanya, Ditha masuk dengan membawa kopi susu kesukaan Aryo, di ketiaknya terjepit sebuah buku.


" Minumnya kak, oh ya kak ini buku diary milik kak Rini."


" Iya kebetulan tadi aku juga mau ambil, sini sayang duduk kita baca sama-sama."

__ADS_1


Aryo mengajak Ditha duduk di sofa ruang kerjanya.


25 Nopember 2021


Malam yang indah


Assalamualaikum


Kepada Aryo dan Ditha


Aku tak tahu apakah esok hari nafas ini masih ada dalam ragaku yang lemah, banyak salah ku pada kalian dan mereka. Ku mohon do'a dan pengampunan pada kalian semua, dan terutama pada Allah.


Bila esok aku tak bernafas lagi mohon teruskan ada yang telah ku rintis di pulau ini, bantulah mereka yang mengais rejeki di pulau ini.


Aku sudah tak kuat lagi melawan penyakit yang menggerogoti badanku seolah sel jahat ini adalah hukuman atas dosa-dosa yang telah ku perbuat.


Andai kalian bisa menemukan orang tuaku, sampaikan mohon ampun dan maaf ku untuk terakhir kalinya.


Aku perbolehkan kalian untuk membaca lembar-lembar sebelum ini, agar kalian bisa menyampaikan maaf ku pada keluarga korban-korban ku dulu.


Aku akan segera menyusul kepergian Indri, dan tolong sampaikan pada Santi permohonan maaf ku, entah dimana dia sekarang aku do'akan dia bahagia.


Terimakasih...sekali lagi terimakasih, pertemuan kita membuka jalan untukku agar sempat meminta maaf sebelum ajal menjemput ku, besok adalah hari lahir ku dan mungkin hari terakhirku di dunia ini.


Aku pamit Aryo dan Ditha, semoga kalian bahagia selama-lamanya.


Aku Titip Do'a agar Allah mengampuni ku.


Wassalam



Rini Ariyanti binti Subandrio


" Wa alaikumsalam warahmatullahi wabarokaaatuh." kata Aryo dan Ditha berbarengan.


" Jadi Indri meninggal? kapan? ya Allah, di resepsi pernikahan kita dia sempat datang."


" Mungkin di ceritakan di lembar sebelumnya kak."


" Oh iya mungkin di ceritakan di lembar sebelumnya, tapi sudah lah, yang penting sekarang kita cari orang tuanya, untuk mengabarkan berita duka ini."


" Kakak tau dimana mereka?"


" Seingat ku, si Saifullah yang tau, karena dia sering mengantarkan Trio sahabat itu pulang, aku akan hubungi dia."


" Iya kak."


Aryo mengambil gawainya untuk menghubungi Saifullah teman kuliahnya dulu.


tuuuut....tuuuut....tuuuut.


[ Assalamualaikum Yo.]


[ Wa alaikumsalam Ipul...]


[ Ada apa bro.]


[ Kamu masih ingat rumah orangtuanya Rini kan?]


[ Ya masih lah, kan mereka paman dan bibi ku.]


[ Oh iya aku lupa, bisa antarkan aku kesana?]


[ Hah kenapa? Apa Rini menggodamu lagi, dia mengganggu kalian??]


[ Tidak, aku ingin menyampaikan berita duka, Rini sudah meninggal.]


[ Hah!!!? Innalilahi wa innailaihi roji'un, kapan? Dimana? Jangan bercanda Yo!!!]


Bagaimana reaksi orang tua Rini mengetahui anak yang mereka usir telah meninggal???


bersambung lagi yaaaa...


Nb


mohon krisannya yaaa..


terimakasih jempolnya...

__ADS_1


__ADS_2