Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 29 Dikembalikan pada Keluarga


__ADS_3

Ke esokan harinya pak Rinto mendapat kabar dari mata-matanya bahwa Lando sudah kembali dari liburannya dan sedang berada di rumah kekasih kembarnya.


Pak Rinto pun menyiapkan segala sesuatunya untuk keponakan yang ia pungut itu.


Sebenarnya kurir yang di suruh oleh Lando adalah mata-mata pak Salman sendiri, setelah mendapat perintah dari Lando ia menyampaikan pada pak Rinto, dan pak Rinto sengaja tak memberikan apa yang Lando minta agar Lando tak berlama-lama liburan.


Bangun kesiangan Lando tampak kelelahan, dia membuka matanya namun tak langsung bangun dari tempat tidur.


Ifa yang baru mandi memperhatikan Lando.


"Memikirkan apa kamu sayang."


"Hhmm? tidak....tidak ada...aku kembali dulu ke apartemen lalu mencari papih untuk meminta uang lagi."


"Sayang apakah kamu tidak mau bekerja? setidaknya mintalah pada papihmu salah satu usahanya, agar kamu punya pemasukan sendiri, aku ikhlas jika harus di madu dengan Ditha dan Ifa" kata Afi yang duduk bersandar di tempat tidur.


"Huuffff kerja..ah malas aku, harta papih banyak untuk apa kerja, memangnya papih kerja untuk apa kalau bukan untuk ku.?"


"Setidaknya harus ada sumber dana cadangan selain dari papihmu sayang."kata Ifa.


"Iya Ifa benar, sudah sana mandi dulu, kita makan siang, aku sudah lapar, aku masak sebisaku tadi."


"Baiklah" kata Lando sambil bangun dan berjalan ke kamar mandi.


Melihat Lando masuk kamar mandi, Ifa mengangkat dagunya menunjukan ke arah Lando, sedang Afi hanya menaik turunkan bahunya, kemudian memberi kode agar mereka keluar kamar.


Di luar kamar mereka berbicara dengan berbisik.


"Bagaimana? kamu yakin kita berdua nikah dengan Lando?" tanya Ifa.


"Memang kamu ada cara lain?"


"Apa tak ada harapan untuk om Salman?"


"Entah lah, atau kita cari om Sion?"


"Hmmm boleh juga lebih baik kita minta bantuan bos mucikari itu untuk mencari mangsa tajir lagi."


"Oke deal, kita lihat situasi Lando dulu."


"Oke, ayo kita tunggu di ruang makan saja."


Selesai mandi, Landopun menyusul si kembar ke ruang makan, selesai makan siang Lando pamit untuk menemui orang tuanya, untuk meminta uang lagi.


Lando sudah menghubungi papihnya menanyakan keberadaannya, pak Rinto menyuruh Lando untuk menunggunya di villa dekat perbatasan kota.


Setibanya di sana Lando langsung masuk ke villa. Dia lihat di ruang tamu sudah ada beberapa orang yang duduk di sofa, dipandangnya satu persatu, ia mengenal mereka sebagai pengurus villa itu tapi ada dua orang yang tidak ia kenal.


"Ada apa ini mang Irlan, bik Hera?"


"Ucapin salam dulu Lando." kata pak Rinto yang berjalan dari arah belakang Lando sambil menepuk pundak Lando.


"Assalamualaikum semua." sapa pak Rinto.

__ADS_1


"Wa alaikumsalam salam." jawab mereka serentak.


"Duduk Lando, ada yang ingin papih jelaskan."


Lando pun duduk, dan masih memandangi mereka satu persatu.


" Begini Lando, papih kira sekarang sudah waktunya kamu tahu." sejenak pak Rinto menarik nafas.


Dari arah dapur keluar bu Resti dan seorang pelayan yang membawa baki minuman untuk mereka.


Bu Resti pun ikut duduk di sofa, dan mempersilahkan para tamu untuk minum di iringi anggukan dari mereka.


"Hhhhmmm....jadi Lando, aku dan Resti yang kamu tau sebagai mamih mu ini sebenarnya hanya satu tahun pertama saja kami menikah, setelah itu kami bercerai, karena perjodohan antar sepupu, dan kami sudah coba jalani tapi justru pernikahan yang di paksa itu malah tidak sehat, kami sama-sama sudah menjalin hubungan dengan pasangan kami masing-masing, nah kamu bukan anak kami melainkan anak sepupuku yakni Irlan dan Hera"


"Apaaa pih?? ti tidak...tidak pih...ini tidak benar...!!"


"Mau tidak mau, terima tidak terima kamu memang bukan anak kami." sahut bu Resti.


"Aku hanya menyampaikan apa yang harus kamu ketahui, kamu sudah dewasa untuk dapat menerima kabar ini, satu lagi, pernikahan kamu dan Ditha tidak sah, karena bukan Yayan walinya, tapi justru ayah sambungnya yang bukan nasabnya."


"Tidaak Lando tidak bisa terima ini, kenapa pih..??."


"Jangan kamu berpikir yang tidak-tidak, sepupuku orang yang tak mampu menghidupi keluarganya saat itu, jadi aku ingin meringankan mereka dengan membantunya menghidupi kamu dan memberi mereka pekerjaan di sini."


"Tidak Lando tidak bisa terima ini pih, kalau hubungan ku dengan Ditha aku bisa terima tapi aku anak papih bukan anak mereka.!!" bentak Lando.


"Maaf Lando, itu fakta, dan jujur saja aku malu karena aku tidak sukses menjadikan kamu laki-laki yang bertanggung jawab, kamu terlalu liar, tadi malam saja kamu tak ubahnya seperti binatang, apa aku pernah mengajarkan kamu berbuat seperti itu??"


Lando hanya menelan ludah, ia tak bisa membela diri lagi.


"Sudah cukup, kamu aku kembalikan pada mereka, villa ini aku berikan pada mereka karena memang atas nama mereka, tanah di belakang villa ini pun sudah atas nama mereka, jadi aku menyerahkan mu tidak hanya badanmu saja, mulai saat ini kamu ikuti apa perintah orang tuamu, kamu ikut kelola villa dan tanah yang di belakang, mulai sekarang kamu mulai dari nol semuanya, kamu harus berusaha bagaimana menghidupi dirimu dan keluargamu kelak, dengan siapa kamu menikah aku tak peduli, tapi restu orang tuamu lah yang harus kamu dapatkan."sambung pak Rinto.


"Kalau kamu tidak percaya ini ada pak Wiro dan pak Min sebagai saksi kami mengangkat kamu menjadi anakku, dan ini berkas-berkasnya, di sana tertera apabila kamu sudah dewasa maka kami harus memberitahukan status mu."


Mendengar penjelasan pak Rinto, Lando hanya meremas rambutnya sambil menundukkan kepalanya, ia harus terima fakta kalau ia tak bisa melakukan apapun tanpa pak Rinto, sekarang sia-sia sudah hidupnya, tak mungkin ia kembali pada Ifa dan Afi, dia tak punya muka lagi kalau uang saja ia tak punya, tak ada cara lain kecuali mengikuti perintah pak Rinto untuk kembali pada orangtuanya.


Dengan lemas iapun pamit untuk pergi ke kamar.


"Maaf pih...mang eh ayah ibu...Lando ke kamar dulu, Lando harus belajar menerima semua ini."


"Iya nak semoga kamu bisa berubah menjadi orang yang baik, ayah mengharapkan mu." kata mang Irlan akhirnya buka suara.


Setelah Lando masuk ke kamar yang berada di lantai atas, pak Rinto pun melanjutkan perbincangan dengan semuanya.


"Maaf Lan aku harus kembalikan anakmu dengan keadaan seperti itu, maafkan kegagalan ku dalam mendidiknya."


"Tak apa bang, memang sudah waktunya Lando kembali pada kami, jangan abang merasa bersalah, karena kami pun ikut andil atas rusaknya moral anak kami, selama di villa ini kami hanya bisa membiarkan perbuatannya padahal kami harusnya menegurnya."


"Ya sudah, mulai sekarang kamu arahkan Lando ke jalan yang benar, jauhkan dia dengan wanita kembar itu, mereka itu lintah dan tidak cuma Lando saja yang di hisap darahnya, ada mucikarinya, nanti bila sempat kamu selidiki, kalau butuh bantuan ku aku akan berikan informasi tentang lintah kembar itu."


"Iya bang."


"Villa dan tanah belakang sudah menjadi milik kalian, aku cuma bisa bantu itu untuk kelangsungan hidup kalian ke depan, aturlah dengan baik."

__ADS_1


"Iya bang, terimakasih, itu sudah sangat banyak bang, pemberian abang selama ini sudah sangat membantu kami, sekali lagi terimakasih."


"Ya sudah aku dan Resti pamit, mungkin ini kali terakhir aku menginjakkan kaki ke villa ini, kita bertemu di tempat lain jika kamu butuh bantuan ku lagi."


Pak Rinto dan bu Resti pun berpamitan pada mereka, di ikuti pak Wiro dan pak Min.


Setelah mereka pergi sepasang suami istri itu masih duduk di ruang tamu.


"Bagaimana selanjutnya bu, apa kita bisa membuat Lando menjadi orang yang baik?"


"entah yah, sebaiknya kita coba, jangan sampai dia pergi jauh dari kita, usahakan dia tidak kemana-mana dulu."


"Kamu benar, ini sudah lewat jam makan siang, kamu siapkan lah, ajak Lando kalau sudah siap." aku ke kamar dulu menyimpan berkas-berkas ini."


"Iya ayah."


****


Di perjalanan pulang pak Rinto dan bu Resti berbincang sedikit.


"Sepertinya kita pun sudah bisa menjalani hidup kita masing Res."


"Iya kak, apapun yang terjadi kemarin jangan sampai merusak hubungan keluarga kita." sahut bu Resti sambil tersenyum lega.


"Kami benar, kamu tetap adik sepupuku...hahaha.."


"Apakah kak Mila tahu hal ini?"


"Jelas dia tahu, akhirnya aku bisa mengenalkan keluarga asliku pada dunia, dan kamu juga kan?"


"Iya kak, alhamdulillah akhirnya...bagaimana Ditha kak?"


"Dia sudah mendapatkan kembali haknya."


"Dan Salman?"


"Masih menunggu kesembuhan nya tapi dia sudah di perbolehkan pulang, ya begitu ketergantungan pada kursi roda, dia masih belum tau apa yang terjadi di perusahaan nya, belum tau siapa pemilik barunya, kalau dia tau dia pasti kaget, tapi biarlah kalau dia macam-macam aku akan maju membela Ditha."


"Kakak benar."


Karena asyik berbincang tak terasa mereka tiba di rumah.


***


Di dalam kamar Lando menyesali diri, bingung apa yang harus dia lakukan nanti, di raihnya gawainya ada banyak pesan dari si kembar, entah apa isinya, dia malas untuk membukanya, ia keluarkan sim card dari gawainya dan menghancurkannya.


"Sudah cukup kalian menghisap darahku, hidupku jadi tidak berguna gara-gara kalian, aku harus bangkit tanpa kalian, silahkan cari mangsa baru, aku tak peduli lagi." kata Lando sambil menggigit kesal pada sim card kecil itu.


Di luar kamar bik Hera tersenyum mendengar perkataan Lando, ada kemungkinan anaknya menjadi orang baik fikirnya, kemudian ia pun mengetuk pintu kamar untuk mengajak Lando makan siang.


Nb


mohon krisannya yaaaa...

__ADS_1


terimakasiiih


__ADS_2