
Di kediaman bu Silma, ia hanya di temani oleh Ditha, rumah bekas milik pak Salman itu sudah atas nama Ditha, sedang rumah bekas orang tuanya ia kembalikan atas nama ayahnya, begitu pula 2 villa milik ayahnya dan 1 villa bekas milik pak Salman sudah Ditha alih namakan menjadi milik Yayan, masalah nanti bagaimana ke depannya saja, Ditha hanya ingin fokus pada hobinya saja, berbekal pembagian uang hasil sewa tanah dari ayahnya ia bisa membuka usaha kursus jahit di rumah nenek yang sudah di renovasi, nenek tak mau ikut dengan bu Silma karena panggilan hati untuk tetap menjadi dukun beranak di desa nya tak ingin ia tinggalkan.
Untuk sementara ayah dan ibu nya masih berpisah rumah, karena lama berpisah dan adanya pernikahan antara bu Silma dan pak Salman, maka keduanya sepakat untuk mengulang lagi ijab kabul nya.
Saat kembali ke desa semua orang di desa kaget karena mereka merasa kemarin sudah menguburkan keduanya, semua bingung siapa yang mereka kubur saat itu.
Pak Yandi dan pak Irham pun pergi ke kuburan mantan anak buah pak Salman itu untuk merubah nama yang tertulis di batu nisan, setelah mengumpulkan warga dan menceritakan apa yang terjadi barulah mereka paham.
Di saat berkumpulnya warga dan keluarga pak Yandi, pak Yandi pun mengutarakan maksudnya untuk menikahi bu Silma lagi.
Warga pun memberi restu, terutama nenek Eti, beliau sangat terharu akhirnya menantu yang dulu ia bangga kan kembali, dengan begitu ia sangat mengharapkan agar bu Silma kembali menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak nya.
Begitu pula pak Irham, pak Tikno bekas RT dulu kebetulan ada di balai tempat mereka berbincang-bincang pun angkat bicara, sebagai sesepuh desa, sekaligus penanggung jawab makam di desa mereka.
"Mohon maaf bapak-bapak saya menyela."
"Silahkan pak Irham, ada apa?" tanya ketua RT yang baru.
"Saya ada permintaan, permintaan ini saya tujukan pada pak Tikno."
"Silahkan Irham." sahut pak Tikno.
"Mohon kiranya bapak sudi merestui saya untuk mengambil alih tanggung jawab hidup adinda Anjani pada saya pak" kata pak Irham sambil merunduk.
Karena memakai bahasa yang formal jadilah semua yang hadir tertawa mendengarkan kata-kata pak Irham.
"Ham...Ham...pidato mu itu lho benar-benar seorang bisnis man." kata pak Yandi.
"Sst berisik, aku bingung mau ngomong apa malah di ketawain." kata pak Irham sambil garuk-garuk.
"Bagaimana pak Tikno?" tanya pak Yandi mewakili pak Irham.
"Ya saya, setuju-setuju aja, kelihatannya Anjani juga menunggu terus entah kenapa kok gak pengen nikah-nikah."
"Memang saya sempat bilang titip hati, gitu pak hehe."
"Kapaan??" jawab pak Yandi dan pak Tikno serentak, karena bingung bukannya mereka di duga meninggal kecelakaan.
"Hehehe, waktu kita pergi setelah kecelakaan, aku memasukkan catatan di kertas yang ku selipkan di jendela kamar Anjani."
__ADS_1
"Ooooooo" kata yang hadir serentak, jelaslah Anjani gak bakal buka mulut karena dia bukan tipe wanita yang suka keluar rumah.
"Baiklah kalau begitu, karena kalian sudah menunggu sangat lama tapi alangkah baiknya kita segerakan saja, daripada karatan!!" kata pak Tikno di iringi oleh gelak tawa yang hadir.
"Bagaimana kalau kita gabungkan saja acara pernikahannya? ya sekalian selamatan kembalinya kami." kata pak Yandi.
"Wah bagus..bagus....bagus setujuuu" sahut semuanya.
"Baiklah karena sudah jadi kesepakatan, mohon bantuannya agar acara lancar dan sukses." kata pak Tikno.
"Baik pak." sahut semuanya.
"Baik kita bubar dulu, nanti kita bahas lagi bila sudah pasti hari pelaksanaan nya." kata pak RT.
"Baik bapak-bapak semua, terimakasih telah di terima kembali, saya akhiri assalamu alaikum warahmatullahi wabarokaaatuh."
"Wa alaikumsalam warahmatullahi wabarokaaatuh."
Semuanya pun membubarkan diri, satu dua masih ada yang membahas perbincangan mereka tadi sambil berjalan, ada juga yang menyumpahi kelakuan pak Salman, ada yang saling tegur jangan melakukan hal yang sama dan sebagainya.
Tak ingin berlama-lama menunda niat baik, tepatnya seminggu kemudian acara pernikahan itupun di gelar, karena ada dua pernikahan dan sekaligus acara selamatan kembalinya kedua mantan pemuda terbaik di desa itu maka acara di gelar sangat meriah.
Tampak kedua pasangan mempelai sudah duduk di pelaminan setelah acara ijab kabul sudah di laksanakan pagi harinya.
Sebenarnya bu Silma dan bu Anjani malu untuk membuat acara sebesar itu karena mereka sudah tidak muda lagi, apalagi bu Silma ia merasa bahwa Ditha lah yang pantas untuk menjadi pengantin.
Tapi apa boleh buat mereka mengikuti saja apa mau semua orang.
Acara terus berlangsung sampai malam, tamu terus menerus datang tanpa berhenti, pertama mereka ingin hadir pada acaranya, kedua penasaran karena yang menikah ada orang yang dulu di kabarkan meninggal, dan penasaran pada pernikahan kembar yang di langsungkan, jadilah acara itu viral sampai di unggah ke media sosial.
Ada jeda acara di antara waktunya sholat Magrib dan Isya, di jam itu di gunakan oleh keluarga pak Sudarmono untuk berbicara dengan pasangan pak Yandi dan bu Silma.
" Bapak dan Ibu, selamat atas pernikahan dan kembalinya bapak ke dalam keluarga lagi." kata pak Sudarmono.
"Sama-sama pak, mohon do'a restunya." sahut pak Yandi.
"Begini pak, mohon maaf kami menyela waktu dalam acara, yah sebenarnya kurang tepat waktunya tapi alangkah lebih baik apa bila di katakan lebih cepat, dari pada pulang bawa kegundahan."
"Apa kah itu pak?" tanya pak Yandi.
__ADS_1
"Iya ini.... masalah anak-anak pak, ya kita orang tua cuma bisa berusaha agar cita dan cinta kesampaian pak, si Aryo anak kami, ada niat pada putri bapak, apa mungkin kiranya kami bisa meminta putri bapak untuk jadi menantu kami." kata pak Sudarmono berhati-hati dalam memilih kata-kata.
Pak Yandi dan bu Silma saling pandang mendengar perkataan dari pak Sudarmono, mereka berdua pun tersenyum.
"Alhamdulillah, ya kami hanya ikut apa maunya anak-anak saja pak, apapun keputusan mereka, kami hanya bisa merestui." kata pak Yandi di iringi senyuman dan anggukan dari bu Silma.
"Alhamdulillah." sahut pak Sudarmono dan bu Laila bersamaan, kemudian bu Laila melambaikan tangan nya pada Aryo menyuruh Aryo untuk mendekat.
Aryo pun mendekat, melihat senyum dari kedua orang tuanya dan senyum dari kedua orang tua Ditha dia bingung, apa yang di bicarakan sebenarnya.
"Ada apa bun?"
"Ayo cium tangan calon mertuamu." bisik bu Silma
"O..oh..ap...apa bun?"
"Ih ayo cepat, ayah sudah melamar Ditha untuk mu dan di terima"
"Alhamdulillah.....terimakasih ya Allaaah." kata Aryo sambil bersujud sampai lupa menyalami calon mertuanya.
"Hahahaha." ke empatnya menertawakan kelakuan Aryo, Aryo pun sadar kalau acara resepsi masih berlangsung karena semua yang hadir ikut tertawa walaupun di jeda acara itu tak banyak yang datang.
Setelah sholat Isya acara mulai rame lagi yang datang memberikan restunya pada kedua pasangan itu.
Sampai jam 10 malam acara pun sudah selesai, semua sudah kembali ke rumah masing-masing, pak Yandi mengajak istrinya ke rumah lama mereka, sedangkan pak Irham sementara ke rumah pak Tikno dulu.
Berkat kesabaran pak Yandi dan pak Irham, akhirnya bersama lagu dengan cinta tertunda mereka.
Malam pun semakin larut me ninabobokan semua orang yang larut akan kebahagiaan, namun menyisakan satu orang yang terlihat tak senang, sampai larut malam dia membolak-balikkan badannya tak nyaman dengan apa yang ia lihat di dalam acara resepsi tadi.
'Ini tak boleh terjadi, aku harus kabari Rini, ah...jangan sampai mereka bersama.' bathinnya.
Nb
mohon krisannya yaaaaa.
boleh di jempolin
terimakasiiih...
__ADS_1