Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 42 Persahabatan yang Rusak


__ADS_3

Rini sudah menanyakan pada para suami menu makan malam yang mereka ingin kan, tuan Khan Amir lagi baik suasana hatinya jadi ia menyerahkan menu makan malam sesuka om Sion.


Rini bingung melihatnya dan tak bisa menebak apa yang menyebabkan tuan Khan Amir nampak sangat senang.


Jadilah ia order makanan dari resto ayam dan ikan bakar, kesukaan suaminya.


Makanan datang, Rini mengambilnya ke depan rumah, di bantu Santi mereka menata makanan itu di meja makan.


Masakan serba bakar itu pun seolah memanggil cacing-cacing di perut mereka.


Rini tersenyum melihat semua sudah tertata rapi, dia berfikir selain menyingkirkan Indri apa tidak sekalian saja menyingkirkan Santi, dia sudah mulai bosan dengan suaminya setelah mendapatkan apa yang dia cari lewat tuan Khan Amir.


Di sisi lain Santi pun berfikir, kalau Indri saja bisa mengkhianatinya, kemungkinan besar Rini pun sama. karena Rini lebih mengerikan dari pada Indri, bahkan dia bisa membuat orang kehilangan nyawa demi ambisinya.


' Sebaiknya aku hati-hati dan segera mencari jalan agar terbebas dari dua orang berhati i***s ini, aku jahat tapi tak separah mereka, aku masih punya orangtua yang menyayangiku. ' fikir Santi.


Masakan telah siap, dan waktunya makan malam, mereka berdua memanggil suami mereka masing-masing.


" Wah makanan favorit ku sayang?" tanya om Sion.


" Iya, aku kan harus memanjakan perut suami." kata Rini sambil menggelayut manja, berusaha memancing hasrat tuan Khan Amir.


" Sayang tadi aku transfer ke rekening yang kamu pegang kartunya, kau pakailah untuk bersenang-senang ya." kata tuan Khan Amir, sambil membelai paha Santi.


Santi hanya tersenyum melihat sikap orang-orang di sekitarnya.


" Ayo kita makan malam." ajak Santi.


Om Sion memperhatikan gerak gerik Santi.


' Aku harus membuktikannya malam ini, aku yakin yang bersama ku kemarin malam itu adalah Santi.'


Mereka pun makan malam bersama, terkadang Rini dan om Sion melirik pasangan yang di depan mereka, Rini pada tuan Khan Amir, om Sion pada Santi.


Tuan Khan Amir tak menyadari hal itu, yang ia tau hanya istrinya sudah mulai pandai melayaninya, dan sudah ia putuskan untuk meresmikan pernikahan ke catatan sipil, karena hanya wanita seperti Santi lah yang ia cari selama ini, ia berniat akan mengajak Santi ke Malay besok, Santi belum dia beritahu, karena takut Santi akan menolak ia ajak, ia ingin memberikan kejutan pada istri tercintanya itu.


Selesai makan malam, kembali para pria duduk di ruang tamu, Santi dan Rini bekerja sama membersihkan bekas makan malam mereka.


" Masakannya enak, kamu biasa pesan di resto itu Rin?"


" Iya itu resto favorit suamiku, eh San nanti malam siap-siap bertukar lagi ya."


" He ehm..." sahut Santi, Rini tak tau tadi siang dia sudah mulai menguasai permainan suaminya walaupun masih terasa sakit.


' Ya kamu nikmati saja malam ini sebagai yang terakhir Rin, setelah ini aku akan jauhkan kamu dari suamiku, sudah ku pastikan aku tak akan berpisah dari bang Amir, akan ku kuasai dia dan mempengaruhinya agar melepaskan Indri juga.'


" Sayang, tolong bikin kan kami minuman ya?!" teriak tuan Khan Amir.


" Iya bang, sebentar."


" Sini San aku saja." rebut Rini.


Tanpa persetujuan Santi, Rini segera membuatkan minuman untuk mereka.


Santi sudah paham tujuan temannya itu, dugaannya benar, Rini akan berbuat sesuatu yang tidak dia inginkan.


Rini pun membawa nampan berisi minuman ke ruang tamu.


Ia menata cangkir minuman itu di meja, karena posisi yang membungkuk semakin terlihatlah belahan dadanya padahal baju yang ia pakai pun sudah sangat rendah kerahnya, anehnya posisinya itu bukan di arahkan pada suaminya tapi justru di arahkan pada tuan Khan Amir.


Tuan Khan Amir bersikap biasa saja, karena ia tak suka hubungan yang tak halal.


" Sayang sini." ajak tuan Khan Amir pada Santi yang berjalan ke arah mereka.


Santi pun duduk di sebelah suaminya.


Rini tak memperdulikan itu toh malam ini dia akan bertukar lagi dengan Santi jadi tak masalah fikirnya, dia tak akan mmperlihatkan dulu rencana nya untuk menyingkirkan Santi, karena tujuan utamanya adalah Indri, dia harus membantu Santi dulu baru setelah itu Santi yang akan dia singkirkan.


Sudah lumayan lama mereka berbincang, tuan Khan Amir mengajak Santi untuk beristirahat.


Rini pun mengajak suaminya ke kamar atas.


Setelah menunggu lumayan lama, Santi tak juga memberi kode pada Rini, Rini pun berinisiatif untuk turun kebawah setelah mematikan lampu.


Dia lihat kamar Santi masih menyala lampunya, dan iapun mendengar suara yang aneh itu lagi.


Dengan geram Rini merasa di bohongi Santi.


Dia berjalan ke dapur di sana dia mengirimkan pesan pada Santi, kalau dia menunggu di dapur.


Lampu kamar Santi telah di matikan, dan Santi keluar dari kamarnya berjalan pelan ke dapur.


" Apa maksudmu San?" bentak Rini namun dengan berbisik.


" Hei kenapa kamu marah? "tanya Santi dengan berbisik pula.


" Bukannya kita sudah sepakat?"


" Ck dengar dulu, abang tak mau lampunya di matikan terus aku bisa apa hah?"


" Ya sudah kamu kekamar atas sekarang!" bisik Rini lagi sambil berjalan ke kamar Santi.


Santipun hanya menghela nafas dan pergi ke atas kemudian masuk kamar, dia sudah lelah melayanu suaminya tak mungkin lagi dia melayani om Sion.


Di dalam kamar atas Santi menghembuskan nafas panjang, dan mulai merebahkan diri di ranjang, ada sedikit cahaya dari luar rumah jadi dia bisa melihat posisi ranjang.

__ADS_1


Om Sion mulai merabanya, namun Santi merubah posisinya dengan membelakangi om Sion.


Om Sion tahu kalau itu kode penolakan, maka dia pun berbicara.


" Aku tau kalau kau Santi."


Uhuk....uhuk...uhuk


Santi terbatuk karena kaget.


Om Sion bangun dari ranjang dan menyalakan lampu.


Santi spontan duduk di ranjang dan berdiri hendak berjalan keluar kamar.


" Aku tau tadi malam yang bersama ku adalah kamu." om Sion menahan lengan Santi.


Santi memalingkan wajahnya ke arah lain.


" Kamu mau saja menuruti apa mau Rini, aku sudah terbiasa dengan permainan licik dia."


" Apa yang akan om lakukan sekarang, maaf aku tak kuat lagi, karena tadi...."


" Ya kamu sudah melayani suamimu kan? Dan Rini memaksamu bertukar lagi kan?"


"Maaf om, aku lelah biarkan aku keluar."


" Haha...aku tak memaksamu melayaniku kalau kamu tak mau, karena selama ini aku melakukan hanya atas dasar suka sama suka."


" Terserah om saja, terus apa yang harus om lakukan, maaf aku tak bisa bersama om malam ini."


" Hubungi suamimu suruh dia keluar kamar sekarang."


Santi pun menghubungi suaminya, harapan dia suaminya tak tertidur dulu.


Tak lama suaminya menerima panggilannya.


[ Assalamualaikum]


[ Wa alaikumsalam, abang aku butuh bantuan mu segera ke kamar atas ya.]


[ Oke]


Santi berdebar-debar membayangkan apa yang akan terjadi, untungnya tadi suaminya tak menyebut namanya.


Tak lama menunggu tuan Khan Amir pun sudah berada di lantai atas, Santi berada di kamar lain yang masih kosong.


Dia menunggu suaminya di depan pintu.


" Ada apa sayang? "


" Ya? "


" Abang merasa tidak kalau tadi tidak tidur bersamaku? Maksudku barusan ada yang masuk dan tidur di samping abang?"


" Iya, eh tapi kamu di sini? berarti tadi siapa?"


" Rini, dia ingin tidur bersama abang."


" Apa??" sentak tuan Khan Amir.


" Sssst...om Sion sedang ke bawah untuk mengurus istrinya yang binal itu."


" Lalu? Saya masih tak paham!"


" Abang bagaimana kalau kita pergi malam ini atau besok, Rini itu berbahaya."


" Saya memang nak ajak kamu pergi, tapi sekarang cam mana?"


" Kita tunggu kabar dari om Sion dulu abang, habis itu kita ke bawah dan bersiap pergi dari sini."


" Tapi rumah ini kamu sudah beli mana mungkin kamu tinggalkan."


" Tidak abang, sudahlah nanti saja ceritakan abang, yang penting kita pergi dari sini dulu."


2 jam mereka menunggu sambil duduk bersandar di belakang pintu akhirnya om Sion datang dengan badan penuh keringat dia hanya memakai celana panjang saja dan bertelanjang dada.


" Rini sudah aku buat tertidur dengan obat tidur yang ku campur di minumannya, untungnya dia mau minum tanpa aku harus bersuara, jadi dia gak curiga kalau yang bersamanya bukan bang Amir."


" Berarti kami sudah bisa pergi om?"


" Pergilah, biar aku yang urus s***n betina itu."


Tuan Khan Amir dan Santi pun turun dan masuk ke kamarnya, lampu kamar menyala jadi mereka bisa melihat kondisi di kamar.


Rini tertidur pulang dengan badan hanya di tutupi selimut, baju lingerie nya berserakan dan sudah robek-robek, Santi melihat itu dan mengalihkan pandangannya pada om Sion.


Om Sion hanya nyengir di pandang Santi seperti itu.


" Maaf aku sengaja membuatnya seperti beneran tidur dengan bang Amir." setengah berbisik.


" Oooh...anda fikir saya seganas itu? Seganas-ganas saya tak pernah bikin koyak baju, iiih!!" kata tuan Khan Amir protes.


" Ya udah abang kita siap-siap bawa cepat barang-barang abang, barang ku tak banyak memang, kan aku tinggalkan semua di apartemen mu."


" Oke saya dah siap, kita pergi sekarang?"

__ADS_1


" Iya bang, aku juga sudah siap, om kami pergi, mohon bantuan, kalau bisa jangan sampai kami bertemu Rini lagi."


" Sip kalian tenang aja, saranku pergilah yang jauh."


" Terimakasih." kata tuan Khan Amir dan Santi serentak, mereka pun pergi bersama-sama tapi naik mobil masing-masing.


' Biarlah barang-barang perabotan di rumah itu aku tinggalkan.' fikir Santi yang sebenarnya masih sayang dengan rumah itu.


[ Abang kita mau kemana?]


[ Kamu ikuti saja mobil ku sayang.]


[ Baik abang.]


Santi menelpon suaminya karena bingung entah kemana mobil suaminya itu melaju.


Sampai tiba di sebuah hotel, mereka pun memarkirkan mobilnya.


" Kenapa ke sini bang?"


" Besok pagi kita pergi ke Singapura, kita akan menetap di sana, kamu ikut saja apa yang aku katakan, demi keselamatan mu."


" I iya abang."


Malam itu pun mereka habiskan di hotel itu, hotel itu memang hotel milik bandara jadi akan memudahkan mereka untuk bisa segera pergi pagi harinya.


****


Jam 8 pagi Rini baru bangun, badannya serasa sakit semua.


" Duuuuh...sakit sekali..."


" Bagaimana? Enak di hajar semalaman?"


" Ap....apa? Ke...kenapa kamu ada di sini sayang?"


" Ya karena kamu ada di sini jadi aku sebagai suamimu juga harus ada di sini, memangnya aku harus ada di mana??!"


Rini melihat sekujur tubuhnya banyak tanda merah, perasaan dia tidur dengan tuan Khan Amir.


' Apa aku ketiduran sehingga lupa bertukar dengan Santi, berarti tuan Khan Amir tau kalau malam tadi aku bersamanya? Sial kacau.. kacau.!!' bathin Rini.


Rini hendak beranjak pergi ke kamar mandi namun di tahan oleh suaminya.


"Kamu mau kemana?"


" Aku mau mandi sayang, Santi dan suaminya kemana?"


" Gak usah kamu tanya lagi dimana mereka!!!"


" Maksudmu sayang??"


" Diam di situ!!" kata om Sion sambil menunjukan wajah Rini.


" Hei giliran siapa sekarang, cepat, dua orang sekaligus aja gapapa, dia sudah bangun!!" bentak om Sion sambil membuka pintu kamar.


Tak lama datang lah dua orang laki-laki tinggi dan besar, mereka tersenyum mendapat giliran masuk ke kamar karena sudah menunggu antrian dari tadi.


" Ap...apa maksud nya ini sayang??"


" Hahaha, dari malam tadi sudah berjam-jam dan 7 orang yang memakai tubuhmu!! Bukankah itu yang kamu mau?? tenang masih ada 35 orang lagi dalam jadwal antrian masih dalam perjalanan, nikmatilah sayang daripada cuma Khan Amir saja, bagus banyak sekaligus kan??"


Kedua laki-laki itu langsung melancarkan aksinya tak peduli om Sion masih berada di ruangan itu.


"Jangan....jangan....jangaaaan... sayang tolong!!...jangaaaan..... aaaaaa..."


Om Sion hanya tertawa melihat istrinya terpaksa meladeni kedua laki-laki itu.


Ada dua orang yang masuk kamar ingin melihat karena penasaran, dan tanpa di perintah mereka pun ikutan menyambar tubuh Rini yang meratap minta ampun pada suaminya.


Dua orang keluar kamar karena sudah selesai memenuhi hasrat mereka, dua orang lagi masuk, Rini pun bolak balik pingsan menerima perlakuan kejam mereka.


" Maaf kan aku....maafkan aku...Afi...Ifa...Ica..Femi...." dan banyak lagi mantan-mantan teman yang harus meregang nyawa berkat kelicikannya, ia sebut ketika ia siuman dari pingsan sambil menangis tak henti, namun itu tak menyurutkan para lelaki itu untuk melancarkan aksi mereka.


" Haha....kamu sudah beruntung aku mau ambil kamu jadi istriku, tapi apa yang kamu lakukan hah? Kamu kira aku tak tahu perbuatanmu selama ini, aku memang jahat tapi aku tidak pernah berbuat licik sampai orang lain kehilangan nyawa seperti yang kamu lakukan!!"


" Ampun sayang....ampuuun...." ratap Rini.


" Heh...akhirnya kamu minta ampun juga, aku ambil lagi semua yang ku berikan padamu, kartu atm dan seluruh aset yang kau beli dengan uangku!!"


" Sayaaaang...."ratap Rini tak bisa bergerak lagi.


" Untung sudah habis tak ada orang lagi, jadi kamu bisa beristirahat sekarang, ini makan yang banyak, siapkan tenaga mu, setelah ini 15 orang lagi akan datang kesini, jangan kamu mati dulu ya, hahaha!! " kata om Sion sambil keluar kamar dan menguncinya.


Di dalam kamar Rini menangisi nasibnya, menyesal sudah tak bisa lagi, dia mencoba bangun namun tak kuat, akhirnya dengan posisi tengkurap dia ambil kotak makanan yang di berikan suaminya.


Dia harus makan agar kuat, bila ada tenaga nanti dia akan mencari cara untuk kabur.


Nb


mohon krisannya yaaaa....


bagaimana kabar Ditha??


tetap ikuti cerita ini..

__ADS_1


terimakasiiiih...


__ADS_2