
Sementara di tempat lain, Afi kebingungan atas apa yang terjadi dengan pak Salman, harapan bisa mengeruk harta pak Salman gagal, ia tak bisa menghubungi Ifa karena berada di pulau tanpa sinyal telpon.
"Ah kenapa harus aku yang bersama om Salman, apes....apes....tau gitu aku saja yang bersama Lando." gerutunya, uang di tangan sudah menipis, sedang orang tuanya meminta kiriman dana lagi.
Ia tak tahu ada masalah besar yang akan mengancam Lando pula, pak Rinto sudah merencanakan semuanya untuk kepulangan Lando nanti dari liburannya.
****
Di rumah sakit pak Salman sudah sadar, dia banyak diam, bu Silma duduk di sampingnya dan menyuapi dia makan.
Tak lama pintu kamar terbuka.
"Bagaimana kabarmu Salman." tanya pak Rinto.
"Hhhhh...." jawab pak Salman sambil menggeleng.
"Salman kau pasti sudah membayangkan kekacauan yang terjadi di perusahaan sekarang kan?" kata pak Rinto melihat kondisi pak Salman yang sepertinya stabil.
"Aku....aku...."
"Tidak ada yang bisa kau lakukan Salman, semua klien mu menarik saham mereka."
"Tolong kau bantu aku To, bagaimana pun caranya lakukan saja walaupun harus dengan menjual perusahaan ku."
"Ya itu sudah ku lakukan tanpa kau suruh, karena semua menuntut, termasuk kapal carteran kamu, karena mereka tidak terlibat bisnis mu, ini surat pernyataan kau tanda tangani lah." kata pak Rinto sambil menyodorkan map berkas yang harus di tanda tangani pak Salman.
Tanpa membacanya pak Salman menanda tangani nya, semangatnya sudah hilang, dengan bayangan hukum yang akan menjeratnya.
Melihat itu pak Rinto hanya tersenyum.
"Baiklah aku urus masalah ini sampai selesai, kau fokus saja pada kesembuhan mu."
"Hemmmm." sahut pak Salman, kemudian memejamkan matanya.
"Aku pamit Silma, assalamu alaikum."
"Wa alaikumsalam."
Pak Rinto pun keluar ruangan , dan keluar dari rumah sakit, segera kembali ke perusahaan, disana Ditha sudah menunggu bersama mang Karim, notaris dan beberapa pegawai kantor perusahaan pak Salman.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam." sahut yang ada di ruang rapat serentak.
"Kalian sudah hadir semua?"
"Iya pak, sesuai arahan bapak." sahut asisten dari pak Salman.
" Baik, tolong kalian dengarkan, tadi pak Salman sudah menandatangani pernyataan bahwa ia akan menyerahkan perusahaan kepada yang menanggung jawab atas semua masalah yang sedang terjadi sekarang, itu artinya secara otomatis pemilik perusahaan akan jatuh pada pemilik baru tersebut, ya beliau ada di antara kita sekarang, saya perkenalkan saudari Praditha Putri, saudari Praditha Putri juga sekaligus anak sambung dari pak Salman, di karenakan semua kerugian sudah di atasi olehnya maka anaknda Ditha akan meneruskan kepemimpinan di perusahaan ini, artinya perusahaan masih tetap berlangsung tidak di tutup, tapi saya belum melepas tanggung jawab dalam artian kontrol akan keluar masuknya barang masih dalam pengawasan saya, setelah saya pastikan bersih dari barang-barang selundupan dan berjalan sebagaimana mestinya baru perusahaan akan saya lepas pemantauan nya, dan saya serahkan pada anaknda Ditha seutuhnya, sampai disini kalian paham? apa ada yang ingin di tanyakan?" jelas pak Rinto panjang lebar.
"Tidak pak." sahut seluruh yang hadir serentak.
"Baik pak Marjo sebagai asisten dari pak Salman, pimpinan anda sekarang adalah anaknda Ditha, patuhi hanya perintahnya saja, bukan pak Salman lagi, anda paham?"
"Paham pak." sahut pak Marjo sembari menunduk kan kepala menghormat pada Ditha.
"Baik segera anda beritahukan pada seluruh karyawan untuk aktif kembali, dan jangan kaget karena perusahaan ini masih dalam pantauan pihak berwajib, jadi tolong pastikan barang yang masuk dan keluar harus benar bersih, saya minta salinan data semuanya, bawa ke ruangan pimpinan."
" Baik pak, terimakasih banyak kami masih sangat bergantung pada pekerjaan di sini, kami pastikan akan bekerja dengan baik, selamat pada bu Ditha, kami menunggu kepemimpinan ibu." pak Marjo pun berdiri dan membungkuk pada Ditha dan pak Rinto, kemudian pamit keluar melaksanakan perintah dari pak Rinto.
Rapat dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai berkas surat dari pak Salman, untuk keabsahan kepemilikan perusahaan atas nama Praditha Putri dan surat-surat lainnya, juga surat kuasa pemindahan isi dua rekening milik pak Salman, untuk menutup semua kerugian dan pengembalian hak Ditha dan Yayan.
Setelah selesai mengurus semua, pak Rinto pun berpamitan untuk kembali ke perusahaannya sendiri, dan meyakin kan Ditha kalau dia bisa menghandle semuanya.
Dibantu mang Karim, Ditha mulai paham apa yang harus di kerjakan, begitu pula Yani yang sudah lama ikut bekerja di perusahaan milik Aryo dengan keahlian yang di miliknya iapun membantu Ditha mengatasi semuanya.
Kemudian mang Karim pun berpamitan untuk kembali ke rumah sakit karena khawatir bu Silma akan membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
***
Di pulau xxx Lando sedang asyik menikmati liburannya bersama Ifa.
"Sayang indah sekali pulaunya ya, andai bisa berlama-lama di sini." kata Ifa sambil merangkul Lando.
"Iya tapi aku tak bisa hidup tanpa internet, ku rasa kita harus kembali sebelum dua minggu keuangan menipis nih, aku sudah kirimkan pesan kepada papih lewat kurir tapi kok kurirnya gak kembali lagi kesini." sahut Lando sedikit kesal.
"Yah gak seru ah, aku belum puas berada di pulau ini, apalagi bersama kamu."
"Afi sayang, kita hampir tiap hari nempel terus, bagaimana bisa kamu tidak puas-puas juga, aneh kamu itu."
Ifa memalingkan wajahnya sambil menepuk dahinya hampir dia keceplosan.
Kemudian memandang Lando lagi sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, kita kembali saja." dia berpikir mungkin harus bertukar lagi dengan Afi, karena lama-lama Lando mulai menyebalkan, apalagi uangnya masih ketergantungan dengan orang tuanya.
Mereka berdua pun kembali ke resort, mengemasi pakaian mereka dan bersiap untuk kembali.
Dengan menggunakan speed boat, mereka bisa kembali dengan cepat.
Berada di tempat yang sudah ada sinyalnya Ifa langsung mengaktifkan gawainya, ada banyak sekali pesan dari Afi yang masuk, dia fikir tak mungkin membukanya karena masih bersama Lando, Lando hendak membawa Ifa pulang ke rumah orangtuanya Lando, karena tak mungkin ia ke apartemen pasti Ditha tak mau menerima Ifa.
"Kenapa kita ke rumah orang tua mu sayang, kamu tidak pulang ke apartemen mu?"
"Iya tapi kemana kamu nanti kalau aku ke apartemen?"
"Ya seperti biasa sayang, aku kan punya rumah, ah kamu itu khawatir sekali."Ifa mencoba mengelak karena ia ingin segera membuka pesan dari Afi.
"Ya sudah aku antarkan kamu dulu."
"Gak usah sayang, arah kita berbeda, nanti kejauhan kalau kamu antar aku dulu, aku turun di sini aja, itu.... di pangkalan taksi itu." tunjuk Ifa ke arah pangkalan taksi.
"Oh oke."
Lando pun menjalankan mobilnya berputar balik di bundaran dan melaju ke arah apartemen nya.
Di persimpangan dia menghentikan mobilnya karena lampu sedang merah, sambil menunggu lampu berubah warna ia tak sengaja menengok ke mobil sebelah kanannya, dia pun kaget melihat siapa yang berada di mobil itu.
"Af..afi?? kok dia di mobil itu, bukannya tadi naik taksi??"
"Ini kok aneh, bajunya berbeda dengan yang dia pakai tadi dan itu memang mobilnya, gak mungkin secepat itu dia....?? hhhmmm aneh...aku ikuti saja dari pada penasaran." lanjut Lando bergumam sendiri.
Lando pun mengikuti mobil Afi, dengan jarak yang tidak terlalu dekat agar tidak di curigai kalau sedang membuntuti.
Tak lama mobil Afi menepi dan berhenti di belakang sebuah mobil, dan turun mendekati mobil tersebut.
Lando pun berhenti agak lumayan jauh namun tetap bisa melihat apa yang Afi lakukan.
Pintu mobil sebelah kiri terbuka Afi masuk tanpa menutup pintu dan berpelukan dengan seorang ibu yang ada di mobil itu.
Lando tidak bisa melihat dengan jelas apa yang Afi lakukan hingga akhirnya dia pun turun dan berjalan ke arah pohon yang di depan pertokoan namun dengan jarak yang lumayan dekat dengan Afi.
"Itu orang tuanya Afi..mereka tidak di luar negeri??"
Tak lama Afi keluar dari mobil dan kembali ke mobilnya, kedua mobil mulai bergerak, Lando pun segera masuk ke mobilnya dan mengikuti lagi mobilnya Afi, mobil orang tua Afi berbelok ke barat, sedang mobil Afi berputar balik ke utara, Lando tak pedulikan mobil orang tuanya Afi, dia hanya penasaran dengan Afi saja, dia pun terus mengikuti mobil Afi.
Setelah sekian lama Afi pun sampai di sebuah rumah.
Lando juga menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah itu, dari mobil ia memantau saja apa yang di lakukan Afi.
Afi memarkirkan mobilnya di halaman rumah itu, tak lama keluarlah Ifa, dan Lando tersentak melihatnya.
"Apaaaaa!! kembar?? yang mana Afi....it itu Afi masih pakai baju yang tadi saat bersamaku...terus itu siapa...!!"
Karena penasaran Landopun turun dan mendekati rumah Afi, baru kali ini dia tau kalau itu rumah Afi setelah lama berhubungan.
__ADS_1
Kedua saudari kembar itu masuk ke dalam rumah tanpa menyadari Lando berada di depan pintu rumahnya dan mendengar kan pembicaraan mereka.
"Fa asyik sekali kamu sama Lando, kenapa kalian tidak memilih liburan yang dekat-dekat saja!!" sentak Afi.
"Ah kamu juga lagi asyik dengan om Salman kan Fi, sudahlah walaupun om Salman tidak seperkasa Lando setidaknya uangnya banyak dan tak perlu minta-minta dulu seperti Lando, ah kau tau karena kehabisan uang terpaksa kami kembali!" kata Ifa tak kalah keras.
"Hah jadi kau pun tak dapat uang dari Lando Fi?"
"Maksudmu? jangan bilang kamu tak dapat dari om Salman juga Fa!"
"Om Salman pergi saat kami lagi asyik-asyiknya Fi, entah kemana dia sekarang, sama sekali tak ada kabar, aku mau menghubunginya khawatir dia bersama istrinya."
Mendengar pembicaraan kedua saudari kembar itu Lando hanya mengepalkan tangannya, gigi-gigi sampai berbunyi gemerutuk.
Menurut penafsirannya Afi bersama om Salman dan yang bersama dia yang di panggil Fa oleh Afi, entah Fa apa dia tak tahu, sebal karena mendengar pembicaraan kedua nya, Lando pun mendobrak paksa rumah yang tak terkunci dan masuk rumah dengan mata melotot.
Ia langsung menunjuk ke arah wanita yang dia kira Afi dari baju yang ia pakai.
Braaaaaakkkk....
"Afi kamu Afi kan?? dan kamu siapa hah!!!"
Keduanya sontak kaget dan berdiri kemudian merapatkan badan ketakutan.
"Ak...aku bisa jelaskan." sahut Afi dengan wajah pucat.
"Cepat katakan, kalian menipuku selama ini hah!! pantas saja uang yang ku berikan selalu kurang ternyata lintahnya kembar!!"
"Lando kamu jangan begitu, kami bukan lintah....wajar kami minta bayaran pada pelayan yang kami berikan." kata Ifa membela diri.
"Aaaaaargh....sejak kapan hah...sejak kapan!!"
"Du...duduk dulu sayang" rayu Afi sambil mencoba mendekati Lando.
Lando memundurkan badannya.
Afi pun kecewa melihat sikap Lando dan mulai menangis.
"Tolong jangan seperti ini sayang, kamu tahu kan aku sangat sedih bila kau menolak ku, baik aku akan ceritakan tapi duduklah dulu, hiks..."
Lando pun melemah karena ia memang tak tega kalau Afi menangis, dia mengikuti permintaan Afi untuk duduk.
'Huh dasar lemah.' bathin Ifa.
"Bagaimana ini bisa kamu lakukan padaku sayang, kamu tahu kan apapun untukmu akan aku berikan tapi kenapa kau sungguh tega."
"Maaf sayang, aku sebenarnya pun tak tega, tapi apa boleh buat, Ifa kehilangan kesuciannya, sedang aku sudah kau nodai, siapa yang mau terima kami dalam keadaan seperti itu? jadilah kami mengandalkan keadaan agar bisa punya hubungan, tapi sumpah hanya dengan mu kami berhubungan."
"Bohong, aku mendengar obrolan kalian tadi, kamu sedang asyik dengan om Salman kan?, kalian suka bertukar posisi kan.?"
Afi kaget dan bingung hendak menjawab apa, ia hanya memandang Ifa agar membantu menjawabnya.
"Sayang kami terpaksa, karena bisnis orang tua kami membutuhkan dana yang sangat besar, belum lagi kami harus menghidupi diri kami." kata Ifa sambil duduk merapat ke sisi kanan Lando sedang Afi di sisi kirinya."
Entah setan apa yang ada di kepala Lando dengan sikap kedua saudari kembar itu yang mulai melancarkan aksinya membangkitkan nafsunya ia pun luluh dan mau saja di tarik tangannya oleh si kembar masuk ke dalam kamar.....**Sensor**.....
"Jadi namamu siapa?" tanya Lando setelah berakhirnya permainan mereka.
"Ifa sayang, tidurlah kamu biar kamu bertenaga menghadapi kami."
Lando pun tertidur dalam pelukan si kembar.
Nb
mohon krisannya yaaaa..
terimakasih....
__ADS_1