
Setelah 1 bulan semua berjalan lancar begitu pula kesembuhan pak Salman, 1 bulan dia di rawat di rumah sakit di karenakan riwayat penyakit gulanya yang menjadikan luka bekas operasi lambat untuk sembuh.
Setelah ia di izinkan pulang maka bu Silma pun membawanya ke sebuah rumah di antara perbatasan desa dan kota.
Pak Salman menatap rumah itu, dia menjadi ingat rumah siapa itu dahulunya.
"Kenapa kita pulang ke rumah ini mah?"
" Ya rumah ini di beli dari uang pemberian orang yang membeli perusahaan mu pah, harta yang kau punya habis untuk menutup kerugian dan pesangon karyawan mu."
"Tap....tapi ini rumah...."
"Iya ini bekas rumah ku dulu bersama almarhum, kamu masih ingat kan, apapun keadaannya kita harus terima pah, belum lagi jerat hukum yang akan kau jalani nanti."
Pak Salman bingung dengan keadaannya, seingatnya hartanya sangat banyak tapi kenapa di katakan tak cukup untuk menutupi kerugian, kalau hanya perusahaan, villa dan rumah mungkin kurang tapi kan ada tanah di luar pulau dan 2 villa lagi, dan yang lain-lain, ia ingin membahasnya dengan istrinya tapi ia takut apabila ketahuan kalau semua aset tersebut bukan atas namanya.
'Ah kenapa bodoh sekali aku, seharusnya aku ganti nama kepemilikan dulu.' fikir pak Salman.
Pusing memikirkan kemana harus bertanya tentang aset-aset yang lain ia pun memilih beristirahat di kamar, sedang bu Silma pergi ke dapur menyiapkan makan siang.
Di dapur bu Silma merenung, mengingat kenangan nya dulu saat almarhum masih hidup, almarhum suami yang sangat penyayang namun disiplin, bu Silma tak pernah memikirkan hari ini ia belanja apa, semua sudah di sediakan oleh almarhum, ia tinggal meraciknya saja, kadang almarhum sudah memasakkan makanan untuk nya dan anak-anak, gizi anak-anak sangat di perhatikan makanya anak-anaknya sangat cerdas walaupun tidak sekolah yang tinggi.
'Abang, seandainya kau masih hidup, walaupun hidup sederhana aku sangat bahagia.' bathin bu Silma sambil terisak.
Uhuk...uhuk...uhuk...
Terdengar suara orang batuk dari arah kamar, bu Silma tersentak kaget dari lamunannya.
Segera ia berlari ke kamar sambil membawakan segelas air putih.
"Ada apa pah? Ini minum dulu."
"Tak apa-apa mah, mungkin kamar ini sudah lama tak di ada yang bersihkan jadi berdebu."
"Mungkin juga pah, tapi tadi sudah aku suruh pelayan yang bersihkan."
"Iya mungkin aku yang tak terbiasa dengannya."
"Aku ke dapur lagi, masakan belum siap."
"Iya mah."
Bu Silma pun kembali ke dapur, di tutupnya pintu kamar sambil menarik nafas panjang.
Masakan untuk makan siang sudah tersaji, bu Silma pun ke kamar untuk mengajak pak Salman makan siang.
Merekapun makan siang seadanya.
Setelah makan siang pak Salman menyuruh bu Silma untuk mengambilkan gawainya.
"Ini pah, hendak menghubungi siapa?"
"Rinto." jawab pak Salman singkat.
Tuuuut..tuuuut...tuuuuut
[ Assalamu'alaikum]
[ Wa alaikumsalam To]
[ Ada apa Man?]
[ Apa kita bisa bertemu? ada yang ingin aku tanyakan.]
[ Baik tapi aku tak bisa kesana hari ini, besok saja aku luangkan waktu ke rumahmu] jawab pak Rinto sengaja mengulur waktu, ada sesuatu yang ingin ia atur terlebih dahulu.
[ Baik lah aku tunggu]
[ Oke, aku tutup, assalamu alaikum.]
[ Wa alaikumsalam.] jawab pak Salman sambil menghela nafasnya.
Pak Salman masih memikirkan kemana larinya semua aset yang ia punya, kalau semua berkas itu sampai ke tangan Ditha atau Yayan akan berbahaya, fikirnya.
Belum lagi kasus hukum yang akan ia hadapi setelah ini, anak buahnya tertangkap semua tak ada lagi yang bisa ia lakukan, melarikan diri pun ia tak bisa tanpa bantuan orang lain, andai di tangannya ada uang mungkin ia bisa membayar orang untuk membantunya melarikan diri.
'Aaaaarrgh semua berkas aset itu tak boleh sampai ketahuan.' bathinnya, tapi siapa yang bisa ia suruh untuk ke rumah lama, kunci brankas hanya ia yang tahu pasti aman fikirnya.
Bu Silma melihat sikap aneh dari suaminya jadi penasaran.
"Kenapa kau terlihat tidak tenang pah?"
"Eeeh....enggak mah, oh ya mah apa benda-benda penting ku sudah di keluarkan dari rumah lama?"
"Maksudmu benda-benda penting seperti apa?"
"Ada surat-surat penting baik di meja kerjaku, di kamarku, dan ada brankas pula."
"Oh ituu....kalau tidak salah semua sudah mang Karim pindahkan ke kamar belakang, aku tidak mengeceknya, karena tidak ada kepentingan ku dengan semua benda itu."
Pak Salman pun menjalan kan kursi rodanya ke kamar belakang.
Bu Silma hendak membantunya tapi pak Salman melarangnya.
Akhirnya bu Silma masuk kamar tidurnya saja.
__ADS_1
Pak Salman masuk ke kamar belakang dan menguncinya dari dalam.
Ia cek semua surat-surat yang berada di atas ranjang kecil di dalam kamar itu, brankas di letakkan di atas sebuah kursi.
Di atas kasur tak ada berkas penting, hanya surat-surat lama saja, dan beberapa catatan medis miliknya.
Ia pun hendak membuka brankas miliknya, tapi aneh kuncinya dalam keadaan rusak.
'Hah gawat kuncinya sudah di rusak, apakah...??' fikirnya.
Tak sabar lagi ia pun membuka nya, daaaaan.....KOSONG.
"Aaaaaaargh.....kenapa kosong.....kemana semuanya???" ia pun mendorong brankas itu hingga jatuh ke lantai dan mengeluarkan suara benturan keras pada lantai.
Braaaaang.....
Bu Silma kaget dan segera ke kamar belakang.
"Pah....pah....ada apa?" panggilnya sambil memegang handle pintu.
"Pah kok di kunci...pah kamu kenapa? kamu baik-baik saja? buka pintunya!!"
"Aaaaaargh, habis sudah....habis sudaaaaaah!!!" teriak pak Salman.
"Paaaaah....pah.." dor..dor...dor....bu Silma menggedor-gedor pintu.
Mang karim yang kebetulan berada di halaman belakang rumah, kaget mendengar keributan yang ada di dalam rumah, ia pun berlari masuk ke dalam rumah.
"Ada apa nyah?" tanya mang Karim tergopoh-gopoh.
" Tuan mengurung diri mang." sahut bu Silma sambil terisak.
"Aaaaaargh..... Aaaaaargh.."
"Buka pintunya tuan! Tuan!!
"Kurang ajar....hancur sudah.. aaaargh."
"Bagaimana ini mang??"
"Minggir nyah biar saya dobrak."
Mang Karim pun mendobrak pintu kamar.
Terlihat pak Salman jatuh dari kursi dan duduk bersandar pada lemari sambil menjambak rambutnya dan matanya melotot.
"Tu tuan...??"
"Pah ada apa?"
Mang Karim hanya menelan ludah nya namun secepatnya berusaha mengendalikan perasaannya.
"Ayo tuan kita ke kamar depan."
Pak Salman di bopong naik ke kursi roda dan di bawa ke kamar depan, meski tak melawan tapi mulutnya masih komat kamit mengatakan sesuatu.
"Kemana hilangnya....kemana hilangnya...."
Bu Silma mengambil obat penenang untuk pak Salman dan meminumkan nya, tak lama pak Salman tertidur.
Mang Karim membereskan surat-surat di kamar belakang yang berhamburan dan mengembalikan brankas ke posisi semula, lelah membereskannya dia duduk di tepi ranjang.
Bu Silma datang ke kamar itu dan bertanya pada mang Karim.
"Apa tuan mengamuk karena berkas yang ada di brankas telah hilang?"
Mang Karim kaget dan berdiri.
"Se...sepertinya begitu nyah." jawabnya gugup.
"Ada apa mang? Ada sesuatu yang saya tidak boleh ketahui tentang tuan?"
"Maksudnya nyah?" mang Karim mencoba untuk menghindar agar dia tidak di curigai.
" Maksud saya mamang sudah mengenal tuan sebelum mengenal saya, apa ada sesuatu yang terjadi yang saya tidak ketahui."
"Hhhmmmmm....saya bingung nyah, maaf." sahut mamang sambil menghela nafas.
"Ya sudah, kita sama-sama capek, beristirahat lah mang, masih ada kamar di bangunan belakang rumah ini, mamang bisa menggunakannya untuk beristirahat, oh ya terimakasih atas kesetiaan mamang, walau kami sudah tak kaya lagi, mamang masih melayani kami."
"Ini sudah janji saya pada almarhum kang Yandi nyah, maaf."
"Hhhhhh....baiklah mang, saya mau istirahat dulu." kata bu Silma sambil berjalan ke kamar tengah.
Merekapun semua beristirahat, tanpa ada kegiatan apapun kecuali makan malam dan kembali beristirahat di kamar masing-masing.
****
Ke esokan harinya karena sudah cukup beristirahat pak Salman bangun pagi-pagi. Ia sudah rapi dan bersih, bu Silma pun sudah membuat sarapan pagi.
Setelah memanggil mang Karim, merekapun sarapan bersama. Mang karim memang hidup jauh dari istrinya, karena istrinya sedang merawat orang tua mang Karim, sekaligus orang tuanya karena rumah kedua keluarga nya berdekatan.
Setelah sarapan pak Salman memilih ke ruang tamu sambil menunggu kedatangan pak Rinto.
Ia sudah mengirim pesan pada pak Rinto kalau ia sudah siap, ia ingin membicarakan masalah perusahaan tapi tidak di depan bu Silma, pak Rinto pun paham dan bermaksud membawa pak Salman ke perusahaan saja, karena setelah itu dia harus berurusan dengan hukum yang telah ia langgar.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuannya bu Silma pun sudah siap, tapi pak Rinto menyuruh nya untuk pergi dengan mang Karim, tapi di jam berbeda dengan tujuan yang sama.
1 jam 45 menit pak Salman menunggu akhirnya pak Rinto tiba.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam."
"Kau sudah siapkan?"
"Seperti kau lihat aku sudah siap dari tadi." jawab pak Salman kesal.
"Hai bukan itu...hahaha....siapkan mental mu, walau bagaimanapun kau sudah kehilangan semua, dan ini akibat ulah mu sendiri, ingat itu Maaaan, ah kau bikin jengkel aku saja, untung kamu saudaraku, bila tidak..entahlah...jelasnya akupun jadi malu karena mengurusi pekerjaan mu yang seperti itu..paham lah kamu tak usah aku perjelas." kata pak Rinto panjang lebar.
Diam sebentar sambil memperhatikan sikap pak Salman.
"Pastinya kamu harus mempertanggung jawabkan nya di mata hukum Man, ah sudahlah....siap tak siap harus siap, kamu orang yang sudah dewasa pasti tau konsekuensinya apabila bermain seperti itukan." kata pak Rinto lagi sambil menyilang kan kaki, menyandarkan badan ke sandaran kursi dan melipat kedua tangan di dadanya.
Mendapat kuliah pagi dari sepupunya itu pak Salman hanya menunduk dan menarik nafas panjang, seolah-olah berusaha mencari keberanian dari dalam dirinya, andai bisa ikhlas melepaskan, karena ia berjuang mendapatkan semua dengan mengorbankan segalanya, fikirnya.
Pak Rinto menghela nafas, entah kenapa ia menangkap bahwa keserakahan masih ada dalam diri saudara sepupunya itu.
"Oke kita berangkat sekarang, dimana Silma?"
"Ada di dalam."
"Silma." panggil pak Rinto.
"Ya To?"
"Kami berangkat sekarang."
"Baiklah hati-hati." di iringi kode tangan oleh bu Silma dari belakang badan pak Salman dan di balas anggukkan kepala dari pak Rinto.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam."
Pak Salman dan pak Rinto pun pergi menuju bekas perusahaan pak Salman yang berada di kota.
Setibanya di gedung perusahaan itu, pak Salman hanya menatap ke megahnya gedung itu, sopir pribadi pak Rinto menurunkan kursi rodanya, dan dengan di bantu sopir pribadi untuk menurunkan pak Salman dari mobil.
Lalu bersama mereka memasuki gedung dan langsung menuju ruang kantor yang sebelumnya milik pak Salman.
Tak ada siapa-siapa di dalam ruangan itu, pak Rinto meletakkan kursi roda pak Salman di sisi sofa yang ada di sana. Pak Rinto pun duduk di sofa setelah menyuruh sopir sekaligus asisten pribadinya untuk membuatkan minuman hangat untuk mereka.
"Hhemmhh dimana pemilik yang baru heh, jam segini belum datang??" tanya pak Salman sinis, merasa dialah yang terbaik.
"Heh pemilik baru lebih disiplin dari kamu, dia tak datang dan tidak bersantai di ruang ini saja, dia akan mengecek ke ruang-ruang yang sekiranya perlu di kunjungi, semenjak dia yang jadi direktur di sini karyawan sangat segan untuk bermalas-malasan, karena pimpinan mereka yang akan datang pada mereka bukan tinggal panggil-panggil begitu saja, jujur aku salut dengan cara kerjanya." sahut pak Rinto tak kalah sinis.
1 jam mereka berada di ruangan itu masih belum ada tanda-tanda kemunculan direktur baru dari bekas perusahaannya, pak Salman mulai kesal.
Tak lama bu Silma datang, melihat itu pak Salman kaget dan gugup, karena maksud sebelumnya agar istrinya tak mengikutinya yang berarti akan terbongkar rahasia yang bertahun-tahun ia tutupi.
"Kenapa kamu kesini mah? tanyanya hampir tak dapat menyembunyikan ketakutannya.
"Aku khawatir akan keadaan mu pah, ingat kamu masih suka ngamuk tak jelas, dan ini aku membawa obat untuk mu karena takut ada apa-apa lagi." jawab bu Silma agak tenang namun semakin curiga dengan suaminya.
Tak lama masuk lah Ditha keruangan nya.
"Assalamualaikum semua."
"Wa alaikumsalam" sahut mereka serentak, dan spontan menoleh ke arah Ditha.
"Maaf sudah menunggu lama, masih ada yang harus Ditha periksa." kata Ditha sambil menyalami dan mencium tangan semua orang yang berada di ruang itu, karena mereka adalah orang tuanya, kemudian duduk di sofa.
"Ap...apa maksudnya ini, kenapa Ditha ada di sini??"
"Ya Ditha lah direktur baru perusahaan ini."
"Hah....." sahut pak Salman dan bu Silma bersamaan.
"Tidak...tidak bisa....tidak mungkin.." kata pak Salman sambil memundurkan kursi rodanya namun di tahan oleh pak Rinto.
"Salman bukan tadi sudah aku tanya apa kamu siap mental!!" sentak pak Rinto.
Akhirnya pak Salman pasrah walau berulang ia menarik nafas panjang.
Ketika ingin memulai pembicaraan, secara mengejutkan pintu terbuka dan datang lah beberapa orang masuk ke ruangan.
"Assalamualaikum semua."
"Wa alaikumsalam" sahut mereka serentak dan melihat siapa yang masuk.
"Ka....kalian...kalian..."
Bu Silma berdiri dan kemudian jatuh pingsan...
Siapa yang datang....??
Nb
mohon krisannya yaaaa
boleh minta jempol kaaaaah.
__ADS_1
terimakasiiih..