Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 36 Sah !! Wanita Kontrakan


__ADS_3

" Yes makin kaya aku....hahaha b***h kamu San....jual diri berkedok pernikahan, akhirnya kamu sama dengan ku, rasakan gara-gara perbuatan mu dulu menjebak aku dalam pesta perpisahan sekolah, aku harus kehilangan mahkotaku, jangan sebut Indri kalau tidak bisa merusak hidupmu!!" kata Indri sambil tertawa senang.


Indri menuju ke rumah salah satu kliennya dengan urusan yang kurang lebih sama dengan Santi, jadi pekerjaan Indri sebenarnya adalah makelar calon pengantin untuk bersedia kawin kontrak.


Entah legal atau tidak yang jelas semua korbannya ikhlas melakukannya, terkadang pernikahan itu di lakukan sendiri oleh Indri kalau yang memesan pengantin justru menginginkan dia, khusus untuk Santi dia harus menjebaknya dulu, setelah itu dia akan tawarkan terus pernikahan itu demi embel-embel cepat kaya.


Selesai mengurus kebutuhan calon pengantin korban selanjutnya dia pun pergi menemui tuan Khan Amir, sebenarnya ia masih terikat kawin kontrak dengan tuan Khan Amir, tapi karena tuan Khan Amir masih ingin pendamping di Indonesia sedang kan Indri sudah mulai bosan jadilah mereka sepakat untuk berpisah setelah Indri mendapatkan istri penggantinya untuk tuan Khan Amir.


Pernikahan itu bukan tidak di ketahui oleh istri sah tuan Khan Amir, istrinya menyetujuinya karena tak mungkin baginya untuk mengikuti kemana tuan Khan Amir pergi berbisnis, sedang tuan Khan Amir sendiri tak bisa seharipun tanpa di layani nafsu tingginya, jadi lah kemana dia pergi dia harus ada istri, dan istrinya melarang menggunakan jasa wanita nakal, takut tertular penyakit.


Setibanya di hotel ia langsung menuju kamar tuan Khan Amir, Indri sudah biasa keluar masuk hotel itu dan menemui suami kontaknya itu.


"Assalamualaikum honey."


"Wa alaikumsalam, hai istriku, kau lelah tampaknya."


"Yah begitulah, aku harus mengurusi kebutuhan calon istrimu."


"Ah sebenarnya saya nak inginkan kau saja." keluh tuan Khan Amir.


"Ih bosan lah aku, tak apa lah kamu tambah satu istri lagi, lagian temenku butuh uang dia."


"Apa itu artinya kita boleh tak bercerai?"


"Hei istrimu sudah empat, kalau di tambah Santi jadi lima, tak boleh tu."


"Ah saya lupa kasih tau, Maryana meninggal kemarin habis aborsi, kurang ajar padahal aku ingin sangat anak tu, dia selalu saja aborsi kandungannya, jadilah tak tertolong lagi nyawanya karena pendarahan, ck!"


"Oh gitu, ya sudah kita tak usah cerai, aku juga tak berniat cari suami baru." kata Indri, sebenarnya dia juga menyayangkan apabila kehilangan tuan Khan Amir, karena tuan Khan Amir tidak pelit padanya.


Tapi tetap saja dia harus setir suaminya itu agak tak berlama-lama menjalani pernikahan dengan Santi.


"Aku masih lelah abang, aku istirahat dulu ya." kata Indri tanpa izin dia langsung tiduran.


"Ish kamu itu, aku sudah menunggumu dari tadi."


"Sabarlah bang, abang mau servis ku tak enak?"


"Ah kamu benar juga, ya sudah, tidurlah dulu." kata tuan Khan Amir pasrah.


\*\*\*\*


Keesokan harinya terlihat rumah Santi sudah di hias sedemikian rupa untuk acara pernikahannya, tersebar desas desus di desa kalau Santi hamil duluan karena pernikahan itu terkesan mendadak.


Tapi Santi tak mengindahkan hal itu karena yang penting baginya ia akan cepat kaya.


Dengan mobil yang telah terparkir di halaman rumahnya ia bisa menyombongkan diri.


Sayangnya rumah tetangga seberang nya masih saja terlihat sepi, entah kemana mereka fikirnya.


"Kamu sudah siap San?" tanya ibunya.


"Sudah mak, abang pun sudah di perjalanan kata Indri, mungkin setengah jam lagi sampai, oh ya mak, orang seberang rumah pada kemana? Aku tak melihat mereka lagi setelah acara pernikahan itu."


"Mamak juga tanya kemarin pada bik Amih, ternyata mereka semua pergi sekeluarga ke Mekkah, Umroh sekeluarga, beruntung sekali mereka."


"Huh....nanti kalau aku ada uang mak, mamak pun akan aku Umrohin."


"Yang benar kamu San, wah mamak jadi senang."


"Iya mak, berdo'a lah."


"Aaamiiiin."


Setengah jam berlalu, tibalah calon pengantin pria di rumah Santi, acarapun di gelar dengan lancar.


Pengantin bersanding di pelaminan sederhana karena acara dadakan jadi mereka tidak bisa melaksanakan acara yang mewah.


Selesai acara, dan berkenalan lebih dekat antara keluarga, tuan Khan Amir hendak membawa Santi ke apartemen nya, tak nyaman baginya menginap di rumah mertua barunya.


Santi ikut saja kehendak suaminya, baginya lebih baik dia cepat pergi menikmati malam pengantinnya di apartemen suaminya.


Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat menikmati rasa jadi istri orang kaya.


Mereka semua pun berpamitan untuk kembali ke kota.


Dengan menaiki mobil yang terpisah, Indri tersenyum.


"Kau layanilah si monster ranjang itu, aku liburan dulu sebentar, hahaha....!!" kata Indri di dalam mobilnya sendirian, ia melajukan mobilnya ke arah yang berbeda, ia harus menyiapkan pernikahan kliennya lagi.


Setibanya di apartemen, tuan Khan Amir menyuruh Santi untuk membersihkan diri dulu bergantian dengan nya.


Santi takjub akan kemewahan apartemen milik suaminya.

__ADS_1


"Iya abang, aku mandi dulu ya, oh ya abang habis ini kita jalan-jalan dulu kan? ini masih siang, kita makan di luar ya."


"Makanan banyak di dapur sayang, kita makan di apartemen saja, kalau kurang nanti kita delivery lagi saja, aku ingin berdua saja dengan kau." kata tuan Khan Amir sambil menaik turunkan alisnya.


Melihat itu Santi tersipu dan langsung saja menuju kamar mandi yang ada di kamar tidur.


Setelah Santi selesai mandi, tuan Khan Amir pun mandi juga.


Santi menunggu di ranjang dengan pakaian yang di berikan oleh Indri, ia risih sebenarnya tapi karena hal itu bukan pertama kali baginya jadi tak masalah.


Tuan Khan Amir keluar dari kamar mandi, dan melihat Santi yang sudah menunggunya, tanpa berganti pakaian ia langsung saja melemparkan handuk dan mendekati Santi....**Sensor**...


Entah berapa lama, mereka akhirnya selesai, Santi terduduk di ujung ranjang sambil terisak, dia tak habis fikir bagaimana bisa menikah dengan monster, sangat kasar sampai-sampai ia dua kali pingsan saat melayani suaminya, walaupun ini bukan yang pertama kali tapi tetap ia kesakitan karena suaminya sangat kasar.


Santi bangun pelan-pelan dan dengan tertatih ia pergi ke dapur untuk makan, ia sangat lapar sekali.


Ini sudah jam 10 malam fikirnya, semoga suaminya tidak bangun dan mengajaknya lagi.


Di dapur dia membawa gawainya untuk mengirim pesan pada Indri.


[Gila In, kamu nikahkan aku dengan monster hah!!] centang satu.


'Ah kemana Indri, ini aneh, apa dia menjebak aku, kalau begini aku bisa mati jadi tape!' bathinnya.


Ada banyak makanan ada di dapur, walau sudah dingin semua setidaknya ada nasi di magic com yang masih hangat.


Ia pun makan malam sendirian, selesai makan, karena sudah kenyang dan lelah, dia pergi ke kamar dan tidur di sebelah suaminya.


Baru dua jam tertidur, Santi merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah perutnya, dia tak bisa bergerak karena ada yang berat di atas tubuhnya, ketika ia membuka matanya, dia terbelalak tak mengira apa yang terjadi, bahkan tak perduli dia sedang tertidur nyenyak suaminya melakukan itu lagi...**Sensor**...


Tak ayal dia menangis dan berkali-kali minta ampun, namun tak di gubris, dan kembali ia pingsan tak sadarkan diri.


\*\*\*


Keesokan harinya Santi bangun kesiangan, entah berapa jam dia pingsan ia pun tak tau.


'Aku tidur apa pingsan ya? ini jam berapa kenapa sudah terang sekali.' bathinnya.


Ia ingin bangun tapi badannya sakit semua, akhirnya ia paksakan untuk bangun dan dengan tertatih ia pergi ke kamar mandi.


Selesai mandi dan berganti baju, ia ke ruang makan, sepi tak ada orang, suaminya pun entah kemana, di lihat di meja makan ada hidangan yang nampaknya masih baru, karena berbeda menu dengan yang kemarin.


Dia melihat ada catatan kecil di meja makan.


'Ish love you..love you, dasar monster, apa aku bisa tahan kalau begini, benar-benar bisa mati jadi tape.' bathin Santi.


Selesai makan di membuka gawainya, masih tak ada tanda-tanda balasan dari Indri, kemana dia fikir Santi.


Hingga 10 hari berlalu, setiap hari tak ada perubahan, ia merasa jadi alat eksploitasi oleh suaminya.


Walaupun di beri uang banyak tapi tetap merasa seperti di penjara, ia tak bebas keluar apartemen, dan memang tak boleh keluar, ada saja alasan suaminya agar dia tidak minta keluar dari apartemen nya.


Indri sudah kembali dari liburannya, dan mengunjungi Santi ke apartemen.


"Hai." sapa Indri setelah Santi membuka pintu apartemen nya.


"Hai In." sahut Santi dengan muka masam.


"Duh pengantin baru kenapa begitu amat mukanya?"


"Kau?? Apa kau tau kalau bang Amir itu monster gila?"


"Hei kenapa kamu berkata begitu pada suamimu."


"Kamu tau dia bahkan tak beri aku kebebasan sedikit pun, diapun H******x, lama-lama aku bisa mati jadi tape In."


"Hahaha....Itu hanya masalah cara aja San, coba kalau kamu enjoy gak bakal deh kayak gitu."


"Kamu gak tau In...ih bagaimana aku menjelaskannya." kata Santi sambil mengacak rambutnya sendiri.


"Hahaha...menurutmu laki-laki seperti apa yang sudah beristri tapi masih mencari istri tapi istrinya pun ikhlas di poligami?"


"Mak.....maksud mu?"


"Ya bang Amir punya istri di Arab sana, di Malay juga, dan di sini juga."


"Yang jelas Indri!!....kamu tidak mengatakan ini sebelumnya, sebelumnya kamu hanya bilang kalau dia duda."


"Iya...dia memang duda, mantan istrinya banyak."


"Ap.....apa?? Indri!!!" bentak Santi.


Tak lama datang lah tuan Khan Amir, melihat Indri sudah datang dia pun tersenyum.

__ADS_1


"Kau sudah pulang dari liburan mu sayang." katanya sambil memeluk Indri tanpa sungkan di depan Santi.


"Apa...apaan ini??" tanya Santi bingung sambil menatap keduanya.


"Oh ya...aku istri bang Amir juga San." jawab Indri santai sambil tersenyum.


"Hah!!!" sontak Santi kaget. Namun di balas senyuman dari kedua pasangan yang ada di depannya.


"Aku rindu kamu honey."


"Iya bang, bang boleh aku pinta satu hal saja?"


"Apa itu sayang?" tanya tuan Khan Amir juga sambil merapatkan tubuhnya pada Indri di hadapan Santi yang masih bingung dan kesal.


"Berilah Santi kebebasan, aku kan sudah pulang."


"Hahaha...hanya itu...boleh...boleh...Santi kamu boleh pergi kemana saja kamu suka, aku nak lepas rindu pada Indri, oh ya ini kartu atm kau pakai lah buat bersenang-senang oke sayang." katanya sambil memeluk Santi pula.


"Terimakasih sayang." kata Indri memeluk tuan Khan Amir dari belakang hingga wajahnya berhadapan dengan Santi.


Santi menatap Indri masih dengan amarah.


"Abang kamu mandi dulu lah, aku mau berbincang sedikit dengan Santi sebelum dia pergi jalan-jalan."


"Baiklah, abang tunggu kamu di kamar ya?"


"Iya abang."


Tuan Khan Amir pun masuk ke dalam kamar tidurnya.


"Apa maksudmu ini Indri?!"


"Hei madu duduklah dulu."


"Ck!!" sahut Santi sambil duduk pelan ia masih kesakitan.


"Masih sakit San, kan sudah sepuluh hari, kenapa belum terbiasa juga kamu?"


"Gila kamu, bagaimana terbiasa aku bahkan tidak di beri kesempatan menyembuhkan diri dulu sebelumnya sudah di hajar lagi." gerutu Santi.


"Hahaha...itu pula yang aku rasakan saat kau jebak aku saat kita merayakan pesta perpisahan dulu, lupa kamu kalau aku meratap meminta ampun padamu saat itu?" kata Indri sambil menetes kan airmata.


"Hah??"


"Aku memang nakal San, tapi untuk satu itu aku benar-benar menjaganya, biar aku bisa menjadi wanita yang baik-baik, suatu menjadi istri dari pria baik-baik pula, tapi apa yang kamu lakukan saat itu hah!! Kamu biarkan aku di pakai pria gila yang memperlakukan aku seperti b****g, apa yang bisa aku perjuangkan lagi setelah itu San?"


"Ja....jadi kamu balas dendam In?"


"Menurutmu? Tapi aku kan tidak sepertimu memberikan sesuatu yang berharga dengan gratis, abang masih punya hati dengan memberimu uang, sedang aku saat itu.....ah kamu tau sendiri!!"


"Maaf kan aku In." Santi sudah mulai paham apa yang terjadi.


"Sekarang terserah padamu San, mau sementara atau selamanya aku tak peduli, yang jelas jangan minta aku berpisah dengan suamiku yang juga suamimu."


Santi hanya menunduk, tiba-tiba ia bingung, kalau dia mundur dia akan malu pada semua orang di desa terutama orang tuanya. Kalau dia tetap bertahan maka ia harus berbagi dengan Indri.


"Begini saja San, kau jalani saja dulu, sekitar satu atau dua tahun, bila kau sudah tak kuat lagi kamu boleh mundur, yang penting kan kamu punya uang sekarang, aku juga tak akan biarkan abang Amir membiarkan mu miskin."


"Ba....baik lah In....tapi aku minta tempat tinggal yang terpisah dengan mu In, yang milikku sendiri."


"Baiklah kamu atur saja, sekarang kan kamu bisa pergi jalan-jalan, nah kamu cari saja rumah yang kamu ingin kan, kau lihat saldo atm yang baru di kasih abang, siapa tau cukup untuk beli rumah, cari rumah yang agak jauh dari rumah orang jadi kalau abang pakai kamu, orang lain tak mengira kamu sedang di siksa oleh abang, hahaha."


"Gila kamu In, kamu sendiri kenapa bisa kuat."


"Kan sudah aku bilang, harus enjoy."


"Ish, baiklah aku pergi, aku tak mau menyaksikan kemesraan kalian, sampaikan pamitku pada bang Amir."


"Hhhmm....iya, selamat bersenang-senang."


Santi pun masuk ke kamar untuk mengambil tas dan kunci mobilnya, kemudian pergi keluar apartemen suaminya.


Di dalam mobil dia menghela nafas.


"Ah kenapa jadi begini, ya salahku juga dulu mengajak Indri pesta gila itu, padahal niatku agar Yayan ikut menikmatinya terutama hanya dengan ku...sial....sial..!! Ya sudah lah yang penting aku banyak uang sekarang, peduli amat sudah....iiisssh.!!"


Santi pun melajukan mobil nya niatnya mencari rumah dulu agar bisa ia tempati terpisah dengan Indri.


Akhirnya dia menerima menjadi istri kontrak dari suami sahabatnya sendiri.


Nb


Mohon krisannya yaaaaa.....

__ADS_1


terimakasih...


__ADS_2