Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 27 Kembali Pada Yang Berhak


__ADS_3

Setibanya mang Karim di perusahaan pak Salman, ia langsung masuk ke ruang kantor milik pak Salman, di sana sudah ada pak Rinto sedang memeriksa berkas-berkas aset yang terdapat di perusahaan.


"Assalamualaikum pak"


"Wa alaikumsalam, Karim."


"Apa yang bisa saya bantu pak?"


"Karim kamu lihat aku sedang mengumpulkan seluruh berkas yang ku dapat kan di brankas milik Salman untung aku bisa membuka brankasnya, tapi setelah aku hitung-hitung masih kurang untuk menutupi kerugian, seluruh klien Salman ingin suntikan dana mereka di kembalikan, ini list dana yang harus di kembalikan, dan ini laporan sisa keuangan, anehnya barang yang di kirimkan tak seimbang dengan habisnya dana keluar, ada dana yang habis tanpa tau untuk apa."


"Itu hanya tuan Salman yang bisa jawab pak, Setau saya tuan yang atur sendiri keuangan tanpa bantuan yang ahli di bidang itu."


"Jadi Salman tidak pakai staf keuangan."


"Iya pak."


"Duh repot, terus kamu tau aset di luar dari perusahaan?"


"Seingat saya selain rumah yang di tempati sekarang ada 3 villa, ada 1 hotel, 2 showroom mobil, tanah 1000 hektar yang di sewakan untuk sawit di luar pulau."


"Silma tau semua aset itu? kita harus punya surat kuasa bila ingin menjualnya."


"Sepertinya tidak pak, maaf karena aset-aset itu sebenarnya aset bersama tuan Salman, almarhum Yandi dan almarhum Irham."


"Hah, Yandi dan Irham? oh iya mereka berdua kan meninggal kecelakaan , kenapa aku mencium ada hal tidak beres? Kalau ini aset bersama berarti harusnya Silma tau, dia ahli waris dari Yandi terutama Yayan dan Ditha, mereka tidak tau?"


"Maaf pak sayangnya tidak."


"Apa yang di lakukan Salman? dia makan harta anak yatim, ini tak bisa di biarkan, segera kamu pisahkan mana saja harta milik almarhum berdua, berikan pada ahli warisnya, sisanya baru kita hitung cukup apa tidak untuk menutup kerugian dan pesangon seluruh karyawan, ayo segera kerjakan sebelum semua naik ke ranah hukum."


"Baik saya akan cari surat-surat nya di rumah, karena kalau tidak salah sudah atas nama masing-masing, jadi tak perlu repot membagi lagi."


"Bagus kalau begitu, segera kau ambil, dan beri tahu Ditha sebagai perwakilan dari almarhum Yandi dan Irham."


"Iya pak, saya kembali ke desa pak."


"Iya hati-hati, aku akan menghubungi klien agar bersabar, dan menahan pihak yang berwajib agar menunda penyelidikan sampai harta yang bukan milik Salman di pisahkan dulu."


"Iya pak, assalamu alaikum."


"Wa alaikumsalam."


Mang Karim pun keluar dari perusahaan, dan menaiki mobil kembali ke desa.


Di perjalanan mang Karim menelpon Hadi.


Tuuut....tuuut....tuuuut.


[Assalamualaikum paman, bagaimana?]


[Wa alaikumsalam, info bagus Di, pak Rinto tidak seperti yang kita takutkan, dia berpihak pada Yayan, aku kembali ke desa untuk mengumpulkan berkas aset milik mereka semua, nanti milik almarhum akan di kembalikan.]


[Bagus paman lanjutkan paman, aku tunggu info selanjutnya.]


[ Iya segera aku kabari, mungkin nanti Ditha akan di suruh ke perusahaan untuk menerima berkas aset milik kedua almarhum.]


[Iya paman, paman atur saja.]


[Baik aku tutup, assalamu alaikum.]


[Wa alaikumsalam.]


Mang Karim pun tersenyum puas, akhirnya keserakahan Salman dapat di hentikan.


****


Di tempat lain Yayan pun sudah mendapat info tersebut.


[Bagus!!, satu bulan lagi aku akan kembali, kita tunggu kesembuhan om Salman dulu]


[Oke Yan, kau atur saja, nanti aku informasikan lagi kalau hak kalian sudah di terima Ditha.]


[ Oke, Assalamu alaikum.]


[ Wa alaikumsalam.] klik.

__ADS_1


Yayan pun tersenyum dan memberitahu istrinya kalau mereka akan kembali.


****


Pak Rinto menghubungi bu Silma untuk segera datang ke perusahaan, ada hal yang harus ia jelaskan.


[ Ya Silma, antara kau dan Ditha harus ke sini.]


[ Aku tidak paham urusan perusahaan To, biar Ditha saja yang kesana.]


[ Baik suruh dia segera datang.]


[ Iya To.]


[ Oke aku tunggu, assalamu alaikum.]


[ Wa alaikumsalam.]


Di saat sedang menikmati makan siang di kantin rumah sakit bu Silma menyuruh Ditha pergi ke perusahaan pak Salman.


"Tha kamu berangkat ke perusahaan ayah sekarang di tunggu om Rinto, ibu tak mengerti urusan perusahaan, kamu lebih muda pasti cepat dalam mempelajarinya."


"Iya bu, Ditha pergi dulu."


Ditha dan Yani pun segera pergi ke perusahaan.


Di perjalanan Ditha memberitahu Hadi kalau dia sedang menuju perusahaan pak Salman.


[ ....]


[ Iya kak, apa yang harus Ditha lakukan.]


[ Kau terima saja apa yang di berikan oleh pak Rinto, tapi sebelumnya kamu cek dulu berkasnya.]


[ Iya kak.]


[ Ingat satu persatu, nanti kau juga pasti di bantu.] ujar Hadi karena selama ini mang Karim menjadi sopir sekaligus menjaga bu Silma, dan memberikan informasi pada Hadi.


[ Iya kak, aku sudah sampai di perusahaan, aku tutup dulu, assalamu alaikum.]


[ Wa alaikumsalam.]


Di pintu gedung perusahaan itu memang terpasang police line, menandakan bahwa perusahaan sedang berada dalam pengawasan, beberapa polisi juga berjaga di depan, karena pak Rinto sudah memberitahu mereka kalau Ditha adalah anak dari pak Salman maka Ditha di perbolehkan masuk.


Setibanya di ruang kantor pak Salman, Ditha langsung masuk dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Assalamualaikum om."


"Wa alaikumsalam, Ditha kamu sudah datang? Bagus lah, duduk dulu kita menunggu Karim tiba, ia mengambil berkas aset-aset keluarga kalian yang di luar dari perusahaan."


"Iya om."


"Hhmmmm....maaf Ditha, bagaimana pernikahanmu?"


"Maaf om, om tahu sendiri kan kami tidak bisa memaksakan perasaan kami, kalau pun tidak bisa bertahan mohon di maklumi om."


"Ya kamu benar, aku pun pasrah akan keputusanmu kelak, aku sudah suruh orang mengikuti kemana Lando, dia benar-benar anak tak tahu di untung, sudah bagus aku mau mengakuinya sebagai anakku."


"Maksudnya om?"


"Aku lelah Tha, mungkin sudah saat nya semuanya terbongkar, Lando bukan anakku, dia anak yang ku angkat dari keluarga ku, karena kasihan jadi aku asuh dia, aku sudah katakan pada orangtuanya, akan ku kembalikan dia pada mereka."


"Oh.."


"Pernikahanmu tidak terdaftar Tha hanya siri, mungkin juga tidak sah, karena harusnya kakakmu yang menjadi wali bukan Salman, iya kan?"


"I iya om, Ditha harus bagaimana om."


"Kamu tenang saja, nanti om urus, kamu bebas dari ikatan itu sekarang, Salman juga tak akan bisa melakukan hal-hal yang tak kita ingin lagi, semua anak buahnya sudah di tangkap."


"Terimakasih om." Ditha pun mengucap syukur. Yani hanya tersenyum dan menghela nafas lega.


"Tunggu lah setelah ini ada hal yang tak kau sangka selama ini akan terbongkar."


"Apa itu om, apa berbahaya?"

__ADS_1


"Bisa iya bisa tidak, kita harus memanfaatkan kondisi Salman sekarang untuk menyelesaikan nya, kalau nanti kondisi dia sudah stabil kita akan kesulitan, yah walau pun dia tak bisa sekeras kemarin lagi."


"Iya om, Ditha sangat berterimakasih sekali karena om mau membantu Ditha, iya Tha, om juga minta maaf karena sempat membuat kamu terpaksa menerima perjodohan itu, atas permintaan Resti aku pun melepaskan mu, sudah waktunya kami pun bebas menjalani hidup masing-masing, masalah tradisi keluarga harus di hentikan."


"Iya om."


"Sambil menunggu jika kamu butuh makanan atau minuman semua dan di pantry, sekarang semua karyawan di liburkan jadi kamu buat lah untukmu sendiri, pantry khusus pimpinan ada di ujung lorong."


"Iya om, Ditha ke pantry dulu." Ditha pun berjalan keluar ruangan dan mengajak Yani untuk mengikutinya.


Di ruang pantry Ditha membuat minuman hangat untuknya, begitu pula Yani.


"Akhirnya kamu bebas Tha, pak Rinto tidak seperti yang kita khawatirkan."


"Iya , alhamdulillah, tapi aku kasihan dengan om Rinto, entah apa yang terjadi dalam hidupnya, benar-benar rumit."


"Iya tapi aku yakin beliau bisa mengatasinya."


"Iya benar, intinya kan sampai Lando menikah nah setelah itu semua akan di bebaskan, contohnya ibu dengan om Salman, hanya istri pertama om Salman saja yang masih keluarga dari om Salman, selanjutnya pernikahan beliau bebas dengan siapa aja."


"Wah benar-benar rumit."


"Iya, ayo kita bawa minumannya kembali ke ruang kantor."


"Ayo."


Merekapun kembali ke ruangan, dan bertepatan dengan datangnya mang Karim.


"Non..sudah di sini?" tanya mang Karim persis di depan pintu ruangan.


"Iya mang, bagaimana mang?"


"Kita masuk dulu, kamu tenang saja, ada mamang."


"Baik lah, ayo."


Merekapun masuk ruangan dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Kamu sudah datang Karim? sudah di bawa semua surat-suratnya?"


"Sudah, lengkap semuanya, maaf saya terpaksa membobol brankas demi mendapatkannya."


"Tak apa, nanti kalau Salman mengamuk biar saya yang pasang badan, sudah muak aku dengan kelaluan nya, memalukan saja, entah apa yang terjadi waktu itu."


"Apa maksudnya ini om? mang?"


"Baik Ditha ini saatnya kamu tahu, harta yang di kuasai dan di nikmati Salman selama ini ada harta bersama almarhum ayahmu." nah ini berkas-berkasnya, dan sudah atas nama almarhum Yandi ayahmu, jadi kau terima kembali apa yang menjadi hak mu dan kakakmu, nah om titip berkas milik almarhum Irham teman ayahmu, setidaknya kita selamatkan dulu apa yang menjadi hak kalian, kau terimalah."


Ditha pun menerima berkas-berkas itu dengan berlinang air mata, sedih karena kakaknya tidak berada disisinya sekarang.


Atas suruhan Hadi iapun mengecek aset apa saja dalam surat-surat itu.


Melihat Ditha kebingungan mang Karim pun menjelaskan.


"Jadi Tha, harta milik tuan Salman hanya perusahaan ini, satu villa tempat acara pertemuan keluarga pertama kali kemarin dan rumah yang di tinggali sekarang, nah yang lain itu milik almarhum ayah mu dan almarhum Irham, dulu sempat ada debat antara Irham dengan tuan Salman, mengenai pembagian tanah 1000 hektar di luar pulau, sebenarnya tanah milik tuan Salman, di gadaikan tuan Salman pada Irham karena tak jua di tebus jadi di anggap milik Irham, karena tuan ingin menguasainya dengan berpura-pura mencarikan penyewa tanah makanya mereka berdebat, Irham tak.mau melepaskan nya karena sudah punya penyewa sendiri." mang Karim menarik nafas sejenak.


"Showroom mobil milik almarhum Irham, sedang hotel dan dua villa milik almarhum ayahmu, sedang tanah 1000 hektar itu pembagiannya 400 milik ayah mu, dan 600 milik almarhum Irham, nah keuntungan dari semua aset itu semua ada di rekening tuan Salman, itu yang tak dapat mamang urus. tapi buku rekeningnya mamang bawa ini, dompet tuan Salman di titipkan ke mamang juga oleh ibumu, ini dompetnya, isi masih lengkap."


"Bagaimana ini om?" tanya Ditha pada pak Rinto.


"Nanti om lihat dulu Tha apa bisa kita bekukan dulu dana yang ada di rekening tapi kalau keuntungan dari aset-aset itu bisa om urus untuk mengalihkan pencairannya agar bisa masuk ke rekening ahli waris. tenang saja."


"Karim apa hanya itu harta Salman? kalau hanya itu masih kurang dana yang di butuhkan."


"Iya pak, bagaimana? apa kita harus melepaskannya?"


"Iya terpaksa tak ada jalan lain."


"Maaf om, kalau kurang mungkin bisa keuntungan dana yang ada di aset milik kami di ambil untuk menutupinya, tapi maaf secara otomatis kami lah yang membelinya, kasihan kalau karyawan harus di PHK."


"Wah ide bagus, encer juga otak mu Tha, dengan begitu perusahaan hanya berganti pemilik saja tak usah di jual ke orang luar, baik om akan segera selesaikan surat-suratnya, nanti kita paksa Salman untuk menanda tanganinya, untuk sementara kita buat perjanjian untuk penggunaan dana talangan dulu, biar kuat dasar hukumnya, cepat hubungi notaris, Karim." perintah pak Rinto pada mang Karim.


"Iya pak."


"Baik aku akan hubungi pegawai kantor Salman, mereka harus terima keputusan ini."

__ADS_1


__ADS_2