Memang Bukan Cinderella

Memang Bukan Cinderella
Bab 35 Jadi Horang Kayah


__ADS_3

Mereka bertiga pun melanjutkan pembicaraan di cafe itu hingga tak terasa malam pun tiba.


"Wah sudah malam aja, bentar lagi suamiku berangkat ke night club nya nih, oh ya San bagaimana kalau kamu sekalian aja aku antar ke night club?"


"What??" sahut Indri


"Mau kerja dia." jawab Rini.


"Iya maksudku di night club om Sion? Serius?"


"Iya In, aku butuh uang, pengen cepat kaya." jawab Santi.


"Ih apa gak ada tempat lain, yang berkelas gitulaaaah."


"Emang ada?"


"Ya banyak kalau mau, eh aku ada kenalan kalau kamu mau, kerjanya gak berat ya nemenin pas dia ke Indo aja."


"Maksudmu?"


"Macam sugar daddy gitu saaay."


"Haaaah??" sahut Rini dan Santi serentak.


"Iya kalau gak salah lusa dia datang, kemarin minta cariin orang ke aku, nah ini sah lho say, nikah siri dulu maunya, enak kan? jadi istri selama dia di Indo, jadi kamu nya juga gak kerja macam di night club gituuuu....."


"Wah bagus itu San, udah kamu terima aja."


"Hhhmmmmm.....aku fikir-fikir dulu deh, masih lusa kan datangnya?"


"Iya, oke cepat kasih kabar ya, kalau telat aku kasihkan Ian ben***g..."


"Hah dia sama laki-laki setengah matang pun mau?"tanya Santi.


"Ya enggak lah, si Ian kan sudah potong b****g nya...hihi."


"Ih g**a juga tuh lakik..!!" kata Rini.


"Hhhhmm..kalau gitu aku fikirkan dulu tawaran Indri...ya Rin, yuk lah kita pulang, eh kamu jadi kasih aku mobil kan?"


"Iya tapi kamu bantuin aku bikin kacau hubungan Aryo dan cewek itu ya, ah malas aku nyebut namanya."


"Beres lah itu." jawab Santi, dia sudah tak semangat untuk mengacaukan hubungan Aryo sebenarnya, ia ingin fokus untuk memperkaya diri saja.


"Oke aku antarkan kau pulang ya..."


"Gak usah aku naik taksi aja, di depan banyak tadi aku lihat, nanti suamimu nyariin kamu lagi."


"Ya udah yuk bubar, San cepat beri kabar ya!" kata Indri.


"Oke sip, nanti aku sampaikan ke orang tuaku dulu biar mereka gak kaget tau-tau aku nikah mendadak."


"Hahaha iya juga."


Mereka pun berpisah kembali ke rumah masing-masing.


Setibanya di rumah jam sudah menunjukan jam 11 malam.


Orang tua Santi masih belum tidur karena ke fikiran anaknya tak pulang sampai malam.


"Baru pulang kamu San?"


" Iya pak, Santi ke kota tadi, bertemu Rini persimpangan des."


"Bapak bingung saja San, kok yang pulang hanya sepeda motormu saja."


"Maaf pak, lupa kasih kabar."


"Terus bagaimana, apa kamu dapat kerjaan? Bukan nya tadi pagi kamu minta uang saku? Kenapa tidak menunggu bapak dan mamak dulu? Langsung pergi aja."


"Tadi itu aku ke rumah Aryo dulu pak, siapa tau di tempatnya ada kerjaan, eh gak di kasih, terus ketemu Rini, rencana mau kerja di tempat suaminya, eh malah di minta sama Indri untuk jadi iparnya, ingat kan pak dengan Indri?" jawab Santi sedikit berbohong.


"Kalau dengan Rini bapak ingat tapi kalau Indri bapak lupa, sebentar...oooooh iya yang pernah kasih oleh-oleh dari arab itu?"


"Iya pak, lusa saudaranya mau ke datang ke Indonesia, inginnya langsung nikah pak, orangnya gak mau cari pacar atau buat main-main, inginnya serius gitu."


"Bagus lah San, lagian kamu sudah dewasa takut ketuaan nanti gak nikah-nikah." sahut ibunya.


"Ya kalau orangnya serius, jangan di tunda-tunda San, bapak setuju."


"Terimakasih bapak , mamak, Santi mau mandi dan langsung tidur."


"Kamu gak makan dulu?" tanya ibunya.


"Gak mak, kan Santi dari cafe sudah jadi sudah makan lah, oh ini kue dari cafe tadi." Santi tau orang tua nya suka sekali kalau di bawakan sesuatu, terutama makanan.


Santi pun mandi dan masuk kamar tidurnya, di dalam kamar tidurnya dia tersenyum bisa mendapatkan restu dari orang tuanya untuk pernikahan itu.


Ingin segera mengabari Indri tapi karena sudah ngantuk akhirnya dia putuskan besok saja mengabari Indri.


\*\*\*

__ADS_1


Ke esokan harinya, pagi-pagi Santi sudah bangun, dan membantu ibunya memasak, melihat itu ibunya sangat senang.


"Akhirnya kamu ada perubahan San."


"Harus mak, Santi harus menyiapkan diri untuk menjadi seorang istri apalagi waktunya tidak banyak."


"Haha....coba kala dari dulu kamu seperti ini, kamu gak akan kebingungan, sewaktu-waktu di lamar orang kamunya sudah siap."


"Maaf mak, mak habis ini aku mau belanja keperluanku ya, untuk pernikahan nanti."


"Oh iya kamu belilah semua keperluanmu, nanti uangnya mamak kasih setelah sarapan."


"Iya mak."


Segera ia selesaikan pekerjaannya di dapur dan menyiapkan nya di meja makan, sementara menunggu bapaknya datang, ia mengirim pesan pada Indri bahwa ia menerima pernikahan tersebut.


[Serius kamu menerimanya? Tenang saja kamu gak akan rugi apapun.] balas Indri.


[ Tapi aku bilang pada orang tuaku kalau dia saudaramu In.]


[ Iya tenang aku sudah biasa melakukannya jadi sudah paham kondisi nya, memang harus begitu, kalau tidak nanti susah dapat restu.]


[ Oke, selanjutnya apa yang harus aku lakukan, aku tidak ada persiapan sama sekali.]


[ Kamu gak usah persiapkan apapun, semua sudah aku atur, setelah ini aku akan datang ke rumahmu, kita keluar mencari baju kebaya yang cocok untukmu, sudah dulu aku mau hubungi dia.]


[ Oke, aku tunggu kamu.]


Melihat Santi yang dari tadi cuma fokus dengan gawainya bapaknya penasaran.


"Apa perutmu akan kenyang kalau kamu main gawai terus?"


"Oh bapak sudah di sini?"


"Lihat saking terfokus pada gawai, bapak sudah di sini pun kamu tak tau."


"Hehehe...aku sedang bertanya pada Indri apa saja yang harus aku siapkan pada pernikahanku nanti pak."


"Terus bagaimana?"


"Kata Indri aku tak perlu siapin apapun, semua dia yang urus, ini perintah dari saudaranya itu."


"Wah sepertinya dia orang kaya." sahut ibunya.


"Pastinya mak, aku tak akan kalah dengan gadis seberang rumah itu tuh." kata Santi sambil memonyongkan bibirnya mengarah ke seberang rumahnya.


"Bagus, itu baru benar." kata orang tuanya serentak.


Merekapun menyelesaikan sarapan pagi mereka.


Kurang lebih 2 jam menunggu akhirnya Indri datang.


Anehnya Indri tidak datang sendirian, di belakang mobilnya ada mobil yang kelihatannya masih baru.


Santi pun menyambut kedatangan Indri dengan sumringah, sambil tengak tengok ke depan rumahnya berharap Ditha melihat itu semua, tapi sayangnya, rumah kursus jahit yang di dirikan Ditha setelah merehab rumah neneknya tampak sepi.


Santi pun mengajak Indri masuk dengan sedikit penasaran entah dimana tetangga seberang rumahnya itu.


Setelah menyuruh Indri masuk dan duduk, Santi memanggil orang tuanya.


"Assalamualaikum pak Trimo, mak Yah." sapa Indri sok sopan.


"Wa alaikumsalam Indri, apa kabar kamu lama gak kesini tampaknya sibuk sekali." kata ayah Santi.


"Begitulah pak, oh ya pak, Santi mungkin sudah bicara pada bapak dan mamak, tentang niat dari saudaraku."


"Iya In, dan kami merestui dia, kasihan nanti jadi perawan tua dia haha."


Indri dan Santi hanya saling tatap dan tersenyum.


"Begini pak, sebelum acara pernikahan besok, sebaiknya bapak mengenal dulu calon mantunya, namanya tuan Khan Amir, warga negara Malay tapi keturunan India, campuran gitu pak, usianya 45 tahun, saudagar kaya, ini fotonya pak."


Santi dan orang tuanya melihat ke foto yang diberikan oleh Indri.


"Wah tampaknya agak brewokan yah? Tapi memang khas orang sana seperti itu kan? Usianya 20 tahun lebih tua dari kamu San" kata pak Trimo.


"Iya pak ya, tapi kayaknya masih gagah." sahut Santi mulai ada rasa pada calon suaminya.


"Iya pastinya." kata Indri sambil tertawa dalam hati.


"Bagaimana pak ,mak kita teruskan rencana pernikahan nya?"


"Ya di lanjutkan aja In, untuk apa di tolak-tolak, pamali kan."


"Baik pak kalau begitu, itu mobil sudah di kirimnya untuk Santi sebagai bukti perkenalan saja."


"Hah!! Mobil? Untuk ku?? Dari dia?? Aku fikir dari Rini tadi."


"Tidak itu dari abang Amir, untuk mu, kalau Rini aku tak tahu, tadi Rini cuma bilang biar calon mu duluan yang kasih kamu mobil, kalau mobil dari dia biar setelah urusan kalian selesai saja katanya." kata Indri sambil mengedipkan mata.


"Oh iya deh gapapa."

__ADS_1


"Di dalam mobil sudah komplit keperluan untuk pernikahan nanti, kita tinggal cari kebaya buat kamu aja."


"Ayo deh kalau begitu biar cepat dapat kebaya kita pergi sekarang saja."


"Di turunkan dulu barang-barang dalam mobil San, nanti di intip orang bisa hilang perhiasannya."


"Hah!! ada perhiasan?? ayo bantu aku keluarin dari mobil dulu."


Mereka semua keluar dari rumah menuju mobil dan mengeluarkan isinya, Santi masih melirik-lirik ke rumah seberang, masih sepi aja.


"Huh kemana mereka sepi amat gak mau lihat apa tetangga lagi happy." gumamnya.


"Ada apa San? Kok ngomong sendiri." tanya Indri.


" Gak, gapapa." jawab Santi sambil nyengir.


Setelah semua barang selesai di masukkan ke dalam rumah, Santi dan Indri pun langsung pamit untuk membeli kebaya.


Langsung saja dengan menggunakan mobil Indri mereka berdua pergi menuju kota.


Sesampainya di kota Indri mengajak Santi ke sebuah butik khusus pakaian pengantin.


Setelah memarkirkan mobilnya keduanya turun dan masuk ke dalam butik.


Sambil melihat-lihat baju yang ada di butik ada seorang pelayan yang mendekati mereka, dan menanyakan apa yang mereka cari, setelah menyebutkan baju yang mereka inginkan pelayan itupun memamerkan beberapa baju kebaya yang ada.


Santi melihat salah satunya ada yang cocok langsung saja mengambilnya.


Selesai membayarnya di kasir Indri kemudian mengajak Santi ke Salon Spa, untuk melakukan perawatan, kebetulan salonnya tidak jauh jadi mereka hanya berjalan kaki saja, sementara mobil tetap terparkir di depan butik.


3 jam melakukan perawatan, Santi merasa segar, mereka pun kembali ke mobil.


"Duh Laper aku, waktunya makan siang nih, makan di mana In?"


"Di resto masakan India aja say....biar kamu gak asing dengan masakannya, bagaimana?"


"Boleh....boleh...Uh asyiknya mau kawin haha, eh dia nuntut aku harus perawan gak, aku kok jadi takut."


"Hahaha, kamu tenang aja dia gak bakal nuntut , kan dia juga gak perjaka...."


"Hah??"


"Hei umur segitu mana ada yang perjaka?? Dia duda Saaan."


"Haha..iya juga yah, syukurlah kalau gitu."


Tak terasa sambil bercanda sampailah mereka di resto yang menjual masakan India.


Santi agak kebingungan dengan menunya, dia pasrah pada pilihan Indri saja.


Makanan sudah tersaji merekapun bersantap siang.


Selesai bersantap siang dan membayar makanan, mereka lanjutkan perjalanan kembali ke desa.


"Bagaimana masakan nya cocok dengan mu?" kata Indri sambil menyetir.


"Gimana ya, agak aneh sih banyak rempahnya, tapi lumayan cocok laaah."


"Hahaha....sekarang gak ada waktu lagi untuk penyesuaian rasa, waktunya sebentar lagu kamu sudah nikah."


"Hhhhmmm....pasrah lah sudah, hahaha..." kata Santi di iringi tawa bareng Indri.


Sesampainya di rumah Santi, Indri tak bisa lama-lama karena masih ada kerjaan yang harus dia selesaikan, ada klien yang harus dia temui, ia langsung pamit tanpa masuk ke dalam rumah Santi.


Usai berpamitan Indri langsung melajukan mobilnya kembali ke kota.


Santi sangat senang, di depan rumahnya sudah ada mobil baru, dia mengelus mobilnya sambil tersenyum, kemudian masuk ke dalam rumahnya.


***


Di perjalanan Indri mendapat telpon dari tuan Khan Amir.


[Bagaimana rancangan perkahwinan saya, sayang sudah selesai?]


[Sudah siap abang sayang, abang percaya saja kerja Indri, abang jadi datang besok kan?]


[Hei, abang ada di hotel sekarang, kamu datang ke sini lah, servis abang dulu.]


[Baik abang, tapi tak bisa sekarang abang, masih ada hal yang harus aku lakukan.]


[Baiklah abang tunggu ye.]


[Baik abang.]


" Yes makin kaya aku....hahaha b***h kamu San....jual diri berkedok pernikahan, akhirnya kamu sama dengan ku, rasakan gara-gara perbuatan mu dulu menjebak aku dalam pesta perpisahan sekolah, aku harus kehilangan mahkotaku, jangan sebut Indri kalau tidak bisa merusak hidupmu!!" kata Indri sambil tertawa senang.


Ada dendam berbalas dendam lagi nih.....


Untuk sementara cerita fokus pada miss nyinyir yaaaa....


Nb

__ADS_1


mohon krisannya yaaaah


Terimakasiiiih....


__ADS_2