
"Ah kenapa jadi begini, ya salahku juga dulu mengajak Indri pesta gila itu, padahal niatku agar Yayan ikut menikmatinya terutama hanya dengan ku...sial....sial..!! Ya sudah lah yang penting aku banyak uang sekarang, peduli amat sudah....iiisssh.!!"
Santi pun melajukan mobil nya niatnya mencari rumah dulu agar bisa ia tempati terpisah dengan Indri.
Akhirnya dia menerima menjadi istri kontrak dari suami sahabatnya sendiri.
Lelah berkeliling tak jua ia temukan rumah yang cocok, diapun mampir di sebuah cafe.
Lagi sedang asyik menikmati makanan ringan dan jus yang dia pesan tiba-tiba punggungnya di tepuk seseorang.
"Hai San, sendirian aja gak ajak-ajak."
"Eh Rin sama siapa kamu?"
"Tuh sama anak buah ku."
"Berdua saja?"
"Hheemm...." kata Rini mengangguk.
"Bagaimana pernikahan mu? Sorry aku gak datang, ada keperluan mendesak kemarin itu."
"Kacau Rin, aku di jebak Indri."
"Hah maksudnya?"
"Jadi....." Santi pun menceritakan apa yang terjadi padanya.
"Ah kok bisa begitu, yah itu sih gak jauh beda nasibnya dengan bekerja di tempat suamiku, cuma hukumnya sah aja karena nikah."
"Iya dan parahnya lagi kamu tau, abang Khan Amir itu adalah suaminya Indri sendiri."
"Hah?? apa??"
"Iya gila nggak??"
"Tapi ini salah ku dulu aku juga tak sengaja menjebak dia waktu pesta perpisahan SMA ku, padahal niat ku menjebak Yayan eh malah guru mesum itu yang kena, dan apesnya para penjaga villa yang kami booking juga ikutan nimbrung, habis lah kami di bantai mereka, kami semua dalam pengaruh obat kecuali para penjaga itu mereka memanfaatkan situasi dan kondisi kami."
"Yah panen karma dong kamu, hahaha....gimana kawin enak?"
"Enak..enak mulutmu Rin, kawin sama monster enak dimana?"
"Woooow jadi penasaran deh aku, mumpung suamiku kena hukuman, sepertinya boleh dong aku nyicip."
"Gila kamu Rin, kamu fikir dia mau sentuh wanita yang bukan istrinya gitu?"
"Yaaaa siapa tau kan dia tertarik padaku, eh bantuin dong."
"Kamu ya bukan nya fokus pada Aryo malah cari mangsa lagi."
"Ck...aku dengar Aryo pergi umroh sama orang tuanya."
"Hah masa? Wah gawat, mereka bakal ketemu keluarga Ditha di sana."
"Aduh trus gimana dong.?"
"Ya mau gimana lagi, mau kamu nyusul ke Arab sono?"
"Ih merinding aku, ingat tetanggaku katanya dosanya di perlihatkan ketika di sana, dosa ku dah numpuk, apa jadinya kalau aku kesana."
"Hahaha....takut juga kamu kan?!"
"Ya sudah, gimana tolongin aku ketemu suami mu dong, sekaliii aja."
__ADS_1
"Heh kamu lupa, kemarin kamu larang aku kalau sampai aku menggoda suamimu, sekarang kamu malah gatel sama suamiku, parah kamu Rin, itu gak adil tau?"
"Oke deh kita bertukar gimana?"
"Hah!! Gila kamu Rin."
"Ayo lah Saaan, nanti aku kasih mobil yang kemarin aku janjikan deh, gak usah nunggu masalah Aryo, ya San ya....pleeeease."
"Serius kamu!!"
"Iya, habis ini kita langsung ke showroom mobil deeeh."
Santi pun berfikir, dia bukan tak ingin mobil tapi dia kan butuh rumah, lumayan dapat rumah gratis fikirnya.
"Aku gak butuh mobil Rin, aku butuh rumah, tapi jangan terlalu dekat dengan keramaian, jadi kalau suamiku datang dan ngajak begituan teriakanku gak terdengar tetangga, malu Rin."
"Hah rumah? eeeemmmmm.... boleh, nanti aku bantu cari, oke deal ya, kalau aku cocok aku boleh pinjam suamimu lagi ya...aku belikan kamu rumah yang mewah deh."
"Yah walau idemu gila tapi gapapa lah."
"Yesss...sebentar aku suruh anak buahku mencarikan rumah untukmu, ceritakan padaku seperti apa suamimu biar aku pelajari cara menaklukkanya."
Mereka berdua pun berbincang panjang lebar sampai tak terasa hari sudah sore.
Gawai Rini berbunyi, dia pun menerima sambungan telponnya.
[ Halo bagaimana?.....dapat.... oke kamu sharelok dan tunggu disana, kami segera kesana.]
"Dapat rumahnya San, kita lihat dulu ya, ayo keburu malam."
"Ayo."
Rini memberi kode pada anak buahnya yang ada di cafe itu untuk mengikuti mereka, sedang dia naik mobil bersama Santi.
"Bagaimana San, cocok?"
"Cocok Rin, serius kamu mau belikan aku rumah ini?"
"Kita masuk dulu aja, lihat bagian dalam, pastikan kamu benar-benar cocok, tenang aja, aku serius kok."
"Ayolah masuk dulu."
Mereka berdua pun masuk, Santi terperangah melihat interiornya, rumah mewah komplit dengan isinya sebagai bonus pembelian.
"Bagaimana? deal?"
"Oke deal!!" sahut Santi girang.
"Kita tak usah bikin perjanjian, aku ikhlas kok beliin kamu."
"Terimakasih Rin." kata Santi sambil memeluk Rini.
"Oke, kapan kamu mulai tempati rumah ini?"
"Mulai sekarang saja, Indri sedang di apartemen suamiku, gak mungkin aku menyaksikan kemesraan mereka, huuuh!!"
"Ya sudah, tapi kamu belum bawa barang-barang mu."
"Gampang, nanti keluar sebentar beli kebutuhanku, bukannya tadi kita melewati mall dan butik, sebelum tikungan."
"Oh iya, lupa hehe...ya sudah aku urus pembayaran dulu ya."
Rini pun pergi meninggalkan Santi menuju kantor developer perumahan itu.
__ADS_1
Usai membayar Rini kembali ke rumah baru Santi.
"Sudah aku bayar San."
"Oh ya berapa harganya?"
"Hampir 1 M, ini kwitansinya. nanti untuk surat-surat kamu urus sendiri ya, di kantor developer nya ada notarisnya juga jadi sangat mudah."
"Wih mahal juga Rin."
"Maka itu jangan pelit-pelit berbagi suami oke..." kata Rini sambil mengedipkan matanya.
"iyaaaaaa.." sahut Santi agak berat, tapi ia ingin sedikit memberi sentilan pada Indri jadi dia mau saja menerima perjanjian dengan Rini.
Karena sudah hampir malam, Rini pamit pulang, sebelumnya ia berkata besok akan datang lagi untuk merundingkan ide nya tadi.
Sepeninggal Rini, Santi pun keluar rumah, untuk membeli kebutuhannya.
Sebelum berbelanja dia ke atm dulu untuk mengecek saldo yang ada di atm suaminya.
Terbelalak matanya melihat saldo yang tertera di sana, segera saja dia transfer uang yang ada di atm itu sebanyak harga rumah barunya, sambil tersenyum puas, tak lupa dia tarik tunai untuk belanja kebutuhannya.
***
Di tempat lain, tuan Khan Amir yang sedang asyik dengan Indri mendengar ada bunyi notifikasi M banking di gawainya, ia membuka aplikasi itu dan terkejut ada transfer 1M dan penarikan sebanyak 10 juta.
"Untuk apa dia mentransfer uang sebanyak itu?"
"Hhhhmmmm.....itu dia tadi minta rumah sayang, karena tak mau satu atap dengan ku, biar lah sayang, bukannya kamu sudah kasihkan kartu atm mu padanya, berarti tak masalah kalau di habiskan, biar lah....biar dia senang."
"Ah benar juga, untung saya tak kasih atm card yang utama."
"Hahaha....jangan kau bingung abang, dulu bukannya aku juga seperti itu, langsung beli rumah untuk orang tuaku."
"Ya tak apa, tapi kau ajarkan dia cara servis yang bagus laaah, masa iya 1 jam pingsan terus, saya berasa main dengan guling." gerutu tuan Khan Amir.
"Iya nanti aku bilang dia, maklum walau tak bersegel lagi tapi dia tak punya pengalaman banyak."
"Kau benar, ayo lah tidur, lusa saya harus kembali ke Malay, jadi besok saya nak Santi oke!"
"Oke, kau bilang padanya supaya siap-siap."
"Siap-siap apa?"
"Siap-siap obat penahan pingsan hahaha!"
"Memang ada?"
"Entah hahaha."
Mereka pun terlelap karena kelelahan.
Sementara Santi puas berbelanja dan makan malam yg lezat walau sendirian dia menikmati kebebasannya.
Puas berbelanja dia pulang ke rumah barunya dan meletakkan belanjaan nya begitu saja, dia ambil salah satu baju tidur yang dia beli, segera mandi dan berganti baju, kemudian merebahkan badannya di tempat tidurnya yang empuk, senyum tak hilang dari wajahnya sambil memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa bertukar dengan Rini.
Lama berfikir dia pun mengantuk dan tertidur.
Nb
mohon krisannya yaaaa...
terimakasih...
__ADS_1