Menantu Bodoh

Menantu Bodoh
Bab 356 Kekuatan Petir


__ADS_3

Kilatan petir yang tak terhitung jumlahnya semuanya menyambar tubuh Dimas Wu tanpa meleset sedikit pun.


Criingg! Criingg!


Seluruh tanah pun bergetar tanpa henti akibat dari sambaran petir yang menyerang dengan ganas. Suara gemuruh pun bergema masuk ke telinga. Di tempat yang begitu luas dengan cahaya terang yang menyilaukan mata, Dimas Wu yang berada di udara pun berubah menjadi sumber cahaya yang terang benderang itu.


Selain itu, sinar api dari tubuh Dimas Wu semakin lama semakin terang dan pekat. Cahaya petir juga semakin lama semakin terang hingga menusuk mata. Perlahan-lahan, seluruh langit berubah menjadi buram. Sinar api menyinari ke segala penjuru, asap tebal menyelimuti udara, suasana pun menjadi kabur.


Orang-orang yang ada di dalam villa pun semakin putus asa hingga tak ada lagi sedikit pun harapan untuk selamat. Semua orang pada dasarnya sudah bisa meyakini bahwa Dimas Wu pasti akan mati.


Sebelum terkena sambaran petir, Dimas Wu melangkah masuk ke dalam mara bahaya dengan satu kaki. Sekarang, ia menerima serangan bertubi-tubi yang begitu menyeramkan. Apa ia masih punya jalan untuk selamat? Sekuat apapun fisiknya, ia juga pasti akan hancur berkeping-keping dan mati tak bersisa!


Harapan semua orang pun langsung sirna. Setiap orang yang ada di sana pun membeku hatinya, sakit hingga mati rasa.


Seluruh villa pun ditutupi oleh keputusasaan yang begitu dalam.


Serangan petir yang begitu kuat bertahan hingga 10 detik. Kemudian, barulah perlahan-lahan berhenti.


Seiring dengan hilangnya petir, langit pun berangsur-angsur pulih dan kembali terang dan bersih. Suara gemuruh pun sudah pergi, cahaya petir juga telah berlalu, sinar api perlahan-lahan redup, angin pun berhenti bertiup. Dunia seolah kembali menjadi bersih.


Segalanya seakan tampak kembali seperti keadaan semula.


Namun, sebuah pemandangan yang membuat orang-orang terperanjat pun muncul.


Dimas Wu tidak hancur berkeping-keping. Tubuhnya masih utuh. Ia melayang di udara dan tidak bergerak sama sekali. Petir pun sudah hilang, tetapi ia juga tidak jatuh ke bawah. Ia seperti membeku di ruang itu.


Spontan, semua orang yang ada di villa keluarga Wu pun menjadi tegang dan khawatir. Mereka takjub, tetapi gugup dan antusias yang lebih dirasakan. Dimas Wu tidak hancur oleh serangan petir. Hal ini saja sudah merupakan suatu berkah dan keberuntungan. Hanya saja, walaupun Dimas Wu tidak kehilangan anggota tubuhnya, tetapi kondisinya saat ini, apakah masih hidup atau sudah mati, semua orang juga tidak mengetahuinya. Lagipula, jarak antara mereka dan Dimas Wu benar-benar terlalu jauh. Mereka saat ini tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa menunggu dengan sabar dan melihat apakah keajaiban akan terjadi.


Sedangkan Bella Tang dari awal sudah meneteskan air mata yang memenuhi wajahnya. Luka dan rasa sakit yang dialami Dimas Wu hari ini benar-benar terlalu dalam, terlalu banyak, terlalu ekstrem. Hati Bella Tang sakit hingga sesak napas. Ia saat ini juga hampir kehilangan separuh jiwanya, seluruh tubuhnya lemah tak berdaya. Ia menatap dalam-dalam Dimas Wu yang sedang melayang di udara. Hatinya tak berhenti mengirimkan doa dan berharap Dimas Wu bisa selamat.


Di sisi yang lain, setelah Maverick Tang melayang karena melepaskan serangan petir, akhirnya ia pun jatuh ke tanah dan mengalami luka parah.


Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri seluruh proses Dimas Wu yang terkena serangan petir. Ia tahu betul bahwa Dimas Wu pasti mati. Namun di momen ini, Maverick Tang malah terbengong. Orang lain tidak melihat dengan jelas, tetapi kesadaran Maverick Tang sangatlah kuat. Ia bisa merasakan dengan jelas bahwa Dimas Wu masih bernapas.


Dimas Wu tidak mati.


Kenyataan ini membuat hati kecil Maverick Tang mendapat pukulan yang begitu besar. Ia yang hanya terkena serangan petir sedikit saja sudah terluka parah seperti ini, bahkan langsung terjatuh ke atas tanah dan sampai sekarang belum pulih. Sedangkan Dimas Wu, serangan yang ia terima adalah serangan petir yang bertubi-tubi, tetapi ia ternyata masih bisa melayang di udara dan tidak mengalami apa-apa. Hal ini membuat Maverick Tang sangat tidak terima.


Ia tidak tahan lagi. Niatnya untuk membunuh pun sontak membara. Ia tahu bahwa ia tidak bisa membuang waktu lagi. Dimas Wu ini benar-benar sumber bencana baginya.


Begitu terpikirkan sampai sini, Maverick Tang segera bangkit berdiri. Ia menggenggam erat pedang kematian, lalu melompat ke atas menuju ke arah Dimas Wu yang ada di udara.

__ADS_1


Sesampainya di samping Dimas Wu, tanpa berkata apa-apa, Maverick Tang mengangkat pedang kematian, lalu mengarah ke kepala Dimas Wu dan membelahnya.


Kekuatan pedang kematian itu tiada bandingnya dan sangat ganas.


“Jangan!”


Melihat kondisi ini, Bella Tang seketika berteriak ketakutan dengan suara nyaring. Suaranya sangat menyayat hati. Air mata bercucuran dengan deras keluar dari matanya.


Bagaimanapun juga, suara teriakan Bella Tang tidak memberikan pengaruh apa pun kepada serangan Maverick Tang. Pedang kematian yang ada di tangan Maverick Tang tetap melayang ke bawah hingga menyentuh dahi Dimas Wu.


Akan tetapi, tepat di saat pedang kematian menyentuh kepala Dimas Wu, yang terdengar hanyalah suara “criinggg”. Seluruh tubuh Dimas Wu mendadak muncul cahaya petir yang sangat silau menusuk mata.


Jelas-jelas pedang kematian Maverick Tang menyentuh kepala Dimas Wu, tetapi seolah menyentuh batu berlian yang paling kuat. Ujung pedang sama sekali tidak melukai Dimas Wu, bahkan selaput antara jempol dan jari telunjuk Maverick Tang malah menjadi mati rasa. Tidak hanya itu saja, cahaya petir yang bersinar di kepala Dimas Wu ternyata tersalurkan ke tubuh Maverick Tang melalui pedang kematian.


Sontak, satu kekuatan yang mengerikan menghempaskan Maverick Tang hingga melayang.


Pada saat terhempas, Maverick Tang mengumpulkan tenaganya dan menahan dirinya hingga berhenti terbang. Ia berdiri di udara sambil melihat Dimas Wu dengan tatapan penuh ketakjuban. Ia benar-benar terperanjat. Hatinya melompat-lompat tak berhenti.


Orang-orang yang ada di dalam villa keluarga Wu semuanya juga tercengang.


Langit dan bumi pun menjadi hening.


Saat ini, mata Dimas Wu perlahan terbuka. Di saat ia membuka matanya, kedua matanya seakan tiba-tiba memancarkan dua cahaya petir. Namun demikian, cahaya ini menghilang dalam sekejap. Dengan cepat mata Dimas Wu kembali normal. Ia membalikkan badannya secara perlahan dan menghadap lurus ke Maverick Tang. Sorot matanya sangat tenang, seolah sama sekali tidak merasakan apa-apa.


Bella Tang malah lebih antusias hingga air mata yang mengalir turun dengan deras. Ia sebelumnya begitu cemas dan gelisah, tetapi sekarang begitu senang dan bahagia. Ia sangat antusias hingga tak henti-hentinya menitikkan air mata. Ini adalah air mata luapan kebahagiaan.


Dimas Wu tidak berkata apa-apa sama sekali. Beberapa saat kemudian, ia langsung mengangkat tangannya dan menggoyangkan ke arah Maverick Tang dengan ganas.


Seketika, kekuatan sinar petir yang bergerak zig-zag dan saling bertumburan pun keluar dari tangan Dimas Wu. Sinar petir itu bak naga yang keluar dari dalam laut, dengan kekuatan yang menggetarkan langit, ia meluncur ke arah Maverick Tang.


Ekspresi Maverick Tang pun langsung berubah. Tubuh Dimas Wu seolah terasuki oleh kilat dan petir. Pedang kematian miliknya menyentuh kepala Dimas Wu, tetapi pedang itu seperti membelah petir. Sekarang, begitu Dimas Wu menggoyangkan tangannya, keluar lagi kilatan petir. Semua ini terlalu tidak masuk akal dan membuat Maverick Tang benar-benar tercengang.


Tetapi, Maverick Tang tidak punya waktu untuk kaget. Ia segera menggoyangkan pedang kematian yang ada di genggamannya, lalu mengarahkannya ke kilatan petir itu.


Booommmm!


Begitu Maverick Tang melayangkan pedangnya, langit pun berubah warna. Suatu bayangan pedang yang putih menyilaukan dengan kekuatan yang begitu dahsyat melesat menuju sinar petir yang menyilang itu.


Criiinggg! Criiinggg!


Dua kekuatan itu belum sampai bertumburan, tetapi aura pedang yang kuat di sekitar, bagaikan bilah-bilah tajam, membelah tak beraturan di udara. Ruang itu seakan disayat-sayat hingga hancur berkeping-keping. Retakan-retakan pun mulai terlihat, sepertinya tempat itu pun bisa hancur kapan saja.

__ADS_1


Booommmm! Boomm!


Kekuatan kilatan petir Dimas Wu menyambar bayangan putih pedang kematian milik Dimas Wu dengan ganas dan mengeluarkan suara keras yang menggetarkan langit. Kekuatan petir itu tiada bandingnya, menyapu seluruh area dan memancarkan aura yang dahsyat. Kekuatan pedang kematian Maverick Tang pun seketika terbelah menjadi dua oleh kekuatan petir ini. Kemudian, seluruh bayangan pedang pun hancur menjadi debu dan menghilang tak berbekas.


“Tidak, tidak mungkin!” Maverick Tang sangat terperanjat. Ia terkejut hingga tak mempercayai apa yang dialaminya.


Di saat Maverick Tang masih sedang takjub, kekuatan petir yang dikeluarkan Dimas Wu sudah melesat melewati asap putih dan mengarah menuju ke Maverick Tang.


Maverick Tang tidak punya kesempatan untuk menghindar. Saat ia sudah tersadarkan, petir tersebut telah menghantam dirinya.


Tak lama, tubuh Maverick Tang pun melesat jatuh ke bawah bagaikan meteor yang jatuh dari langit.


Semua orang yang ada di villa keluarga Wu pun sangat bahagia dan takjub. Bagi mereka, Dimas Wu yang masih bisa hidup setelah menerima begitu banyak serangan petir yang bertubi-tubi itu sudah merupakan kejutan yang amat besar. Tak disangka, Dimas Wu masih bisa berubah menjadi lebih hebat karena serangan ini. Ia bahkan bisa mengalahkan Maverick Tang yang menggenggam pedang kematian dengan gerakan tangan saja. Hal ini benar-benar adalah mukjizat dan keajaiban!


Dimas Wu yang sekarang ini benar-benar luar biasa. Tubuhnya memancarkan aura kemenangan. Wajahnya sangat datar dan tenang, tetapi terlihat memiliki wibawa dan keagungan yang tinggi.


Setelah mengalahkan Maverick Tang, Dimas Wu turun ke bawah perlahan-lahan. Ia berdiri dan menghadap Maverick Tang. Tatapannya datar, sorot matanya tenang.


Maverick Tang mengambil napas sebentar, lalu bangkit berdiri. Ia melihat Dimas Wu dan berkata dengan tak percaya: “Kenapa kamu bisa mengeluarkan kekuatan petir?”


Kilatan petir sebelumnya tidak hanya tidak melayangkan nyawa Dimas Wu, malah membuat Dimas Wu memiliki kekuatan petir tersebut. Kenyataan ini membuat Maverick Tang tidak bisa menerimanya. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi.


Dengan wajah tanpa ekspresi, Dimas Wu berkata datar: “Aku sudah pernah bilang, ini adalah rencana Tuhan.”


“Tidak mungkin, ini benar-benar tidak mungkin. Aku tidak percaya aku tidak bisa membunuhmu.” Maverick Tang masuk ke dalam kondisi di mana mentalnya seakan terganggu. Setelah mengatakan hal ini, tubuhnya pun memancarkan kekuatan yang begitu ganas. Aura jahat dari tubuhnya semakin meluap. Ia menggertakkan gigi kuat-kuat, mengangkat pedang kemaatian, lalu melayangkan tebasan ke arah Dimas Wu.


Satu tebasan ini mengandung seluruh kekuatan Maverick Tang. Begitu kekuatan pedang ini melesat di udara, seketika langsung berubah menjadi satu pedang raksasa. Begitu pedang raksasa ini meluncur, ia langsung membelah langit. Langit dan tanah pun seakan terbelah menjadi dua. Kekuatan pedang ini tak bisa dikalahkan.


Menghadapi tebasan yang menyeramkan ini, raut wajah Dimas Wu tidak berubah. Ia mengangkat sedikit tangannya, lalu melepaskan pukulan dengan pelan.


Sontak, cahaya kilatan petir yang menyilang pun bersinar dari telapak tangan Dimas Wu. Kemudian, kekuatan petir yang begitu hebat keluar menuju ke arah pedang raksasa itu.


Criinggg! Criingg!


Kekuatan petir yang dikeluarkan Dimas Wu bertumburan dengan kekuatan pedang kematian dan mengeluarkan kekuatan yang menggetarkan dunia.


Seluruh langit seakan dilempari bom yang tak terhitung jumlahnya dan meledak dengan dahsyat.


Bahkan pedang kematian yang ada di tangan Maverick Tang pun retak dan hancur berkeping-keping.


Pedang kematian pun patah.

__ADS_1


Setelah kekuatan petir menghancurkan pedang kematian, ia lanjut menyerang tubuh Maverick Tang dengan kekuatan yang bisa menghancurkan langit dan bumi.


__ADS_2