
Zaver Mu karena terlalu bernafsu untuk membunuh Dimas Wu, malah sehingga membuatnya lengah dan memberikan kesempatan Dimas Wu untuk melawan dan pada akhirnya membuatnya terbunuh di tangan musuh bebuyutannya.
Kematiannya sangat menyedihkan dan mengejutkan.
Selain itu, Luna Leng yang telah terbang terbalik cukup lama, akhirnya terhempas ke tanah.
Tubuhnya seperti hancur terhempas, tiba-tiba hatinya sakit tersayat, kepalanya kosong sesaat,dan ketika dia sadar, dia langsung melihat ke arah Zaver Mu.
Zaver Mu mati di tangan Dimas Wu, Luna Leng melihat ini, matanya tersirat sebuah tatapan akan keterkejutan dan ketidakpercayaan. Dia seperti membeku, setelah beberapa waktu barulah dia mulai berdiri dan bergegas berlari menuju Zaver Mu.
Dia berlari ke arah Zaver Mu dan melihat bahwa Zaver Mu benar-benar sudah mati. Luna Leng langsung menangis, dia menangis parau, hatinya hancur, suaranya histeris kesakitan dan penuh amarah.
Tempat itu dipenuhi suara isak tangis Luna Leng yang histeris, dia menggila, menangis tanpa henti.
Dimas Wu yang berdiri sebelah hanya menatap mereka, dia telah membereskan Zaver Mu, batu besar dalam hatinya seakan telah hilang, hanya saja, dia juga kehilangan orang-orang disayanginya, oleh karena itu, dia tidak langsung menyerang Luna Leng, dan saat ini dia juga memanfaatkan waktu singkat ini untuk memulihkan dirinya.
Namun, tidak berlalu begitu lama, Luna Leng tiba-tiba berhenti menangis, dia menatap jasad Zaver Mu yang terbaring di tanah, kemudian dia berbalik badan menghadap Dimas Wu dab berkata: “Dimas Wu, aku akan mencabik-cabik tubuhmu.”
Pada saat ini, kedua mata Luna Leng memerah, wajahnya sangat mengerikan, aura bengis yang dikeluarkan tubuhnya sangat kuat, setelah selesai berkata, auranya seperti serigala yang mengaung, begitu ganas, dalam sekejap, dia seolah-olah berubah menjadi penyihir.
Dengan aura pembunuh yang ganas dan amarah yang mendidih, dia menggenggam pedang yuexin di tangannya dan menebasnya ke arah Dimas Wu.
Luna Leng memang seornag wanita, namun kekuatannya tidak kalah dari laki-laki, terlebih lagi saat ini dia benar-benar menggila, tubuhnya dipenuhi oleh aura ganas yang siap membunuh dan menghancurkan apapun, bahkan hanya dengan sekali tebasan ringannya bisa membelah bumi.
Teratai es berkembang mekar di udara, membanjiri seluruh pemandangan. Liehuo Hall yang besar, seolah-olah memasuki musim dingin dalam sekejap, terasa dingin dan sedingin es.
Walaupun kekuatan pedang ini tidak sekuat ketika dia dan Zaver Mu bersatu, namun ini sudah mencapai titik terkuat Luna Leng, kekuatan Luna Leng juga tidak bisa diremehkan.
Ekspresi Dimas Wu seketika berubah ketika ia melihat Luna Leng menebaskan pedang ke arah dirinya, tatapannya memancarkan cahaya, genggaman tangannya mengepal.
Tiba-tiba, semua jenis cahaya listrik meledak di tinjunya, sengatan listrik yang tajam berderit, dan kekuatan petir dan kilat yang bersinar menyelimuti genggaman tinjunya.
Tanpa keraguan, dia mengeratkan genggaman dan menyerang dengan tinjuannya.
Syut! Syut! Syut!
Dalam sekejap, kekuatan petir dan kilat yang begitu kuat dilepaskan beserta tinjunya, dan ruang sedingin es dipenuhi dengan cahaya listrik dan api yang menyilaukan. Petir dan kilat merobek udara dan menusuk segala sesuatu. Dengan kekuatan mendominasi yang tak ada habisnya, itu menyapu Luna Leng.
Pung!
Mereka saling menyerang di atas udara, saling bertabrakan dan menghantam. Hawa panas menyebar, mengurangi hawa dingin di udara.
Walaupun pedang Luna Leng ini sudah mencapai batas maksimal kekuatannya, namun Dimas Wu dapat menghadapinnya sendiri dengan tangan kosong, saat ini hanya tersisa Luna Leng sendiri, bagi Dimas Wu, dia bisa saja langsung menggunakan kekuatan petir dan kilatnya untuk menerobos pedang yuexin milik Luna Leng dan menerobos langsung ke tubuh Luna Leng.
Pung!
__ADS_1
Luna Leng terhantam serangan petir, tubuhnya terlempar, mulutnya menyemburkan darah segar. Pada akhirnya, dia terhempas keras ke tanah, dan suara hempasan tubuhnya mengelegar.
Jika bertarung sendiri, maka Luna Leng bukanlah tandingan Dimas Wu.
Luna Leng telah kalah. Dia terbaring terpuruk di tanah, malu. Tubuhnya terluka parah, tapi dia tidak memperdulikan hal ini. Dia masih dipenuhi dengan kebencian dan amarah. Matanya sangat merah. Kemarahan yang tak ada habisnya menyembur darinya, dan darah di seluruh tubuhnya juga mendidih dengan hebat, Dia sangat ingin berdiri dan melawan Dimas Wu lagi.
Namun, begitu dia bergerak, tulang-tulang di sekujur tubuhnya serasa hancur, remuk, dan rasa sakit yang hebat mengiritasi setiap sel di dalam dirinya. Dia memang memiliki semangat bertarung yang kuat, namun apa daya tubuhnya sudah tak berdaya lagi.
Ketika dia mencoba menggerakkan tubuhnya, dia sudah dengan sekuat tenaga mengerahkan seluruh tenaganya, namun organ dalamnya juga terluka parah, dia sudah benar-benar kehabisan energinya. Setelah mencoba bangkit berkali-kali, pada akhirnya Luna Leng menyerah dan terjatuh lunglai ke tanah.
Dimas Wu sama sekali tidak memiliki niat untuk melepaskan Luna Leng, dia melihat Luna Leng yang terkulai tak berdaya di tanah, Dimas Wu berjalan menghampiri Luna Leng.
Saat ini, Dimas Wu menjelma menjadi dewa kematian, aura pembunuh dan matanya dingin, setiap langkah yang diambilnya membuat gempa kecil yang menggetarkan, dan kekuatannya meledak-ledak.
Luna Leng tahu bahwa Dimas Wu tidak akan melepaskannya, maka dari itu dia pun tahu bahwa dia akan segera mati, namun, rasa dendam yang begitu besar dan keinginan membalaskan dendam Zaver Mu yang begitu kuat membuatnya tidak rela mati begitu saja, namun, itu hanya ada dalam pikirannya saja, saat ini dia benar-benar membenci dirinya sendiri karena sudah tak berdaya lagi untuk melakukan serangan.
Dimas Wu datang menghampiri Luna Leng, tanpa membuang-buang waktu lagi, dia langsung menghantamkan kepalan tinjunya ke arah Luna Leng yang terbaring di tanah.
Dengan satu tinjuan petir ini, sudah sangat jelas bahwa Dimas Wu ingin menghabisi Luna Leng hanya dengan satu kali pukulan.
Tinjiuan petir dengan kekuatan penuh, mengarah ke arah Luna Leng.
Wajah Luna Leng langsung berubah, keputusasaan dan kebencian yang membuatnya enggan mengaku kekalahan tumbuh di dalam hatinya. Dia dengan matanya sendiri melihat Dimas Wu berjalan mendekatinya yang siap menghabisinya, namun dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, dia benar-benar tidak berdaya.
Syut!
Pung!
Terdengar suara ledakan yang begitu kuat, Luna Leng dapat meliat jelas bahwa cahaya keemasan itu benar-benar dengan satu serangan menghancurkan serangan kilat dan petir Dimas Wu, yang lebih menakjubkan lagi, setelah cahaya keemasan itu menghancurkan serangan kilat dan petir itu, cahaya itu bergerak menuju ke arah Luna Leng.
Luna Leng sudah memiliki tenaga untuk melawan lagi, dia malah menerima cahaya keemasan itu, untuk saat ini, cahaya keemasan bukanlah sebuah serangan, melainkan adalah sebuah obat mujarab. Begitu Luna Leng menerima cahaya keemasan itu, tubuh Luna Leng pulih dengan cepat, wajahnya tidak lagi pucat pasi, rasa sakit di sekujur tubuhnya kini sudah berkurang banyak, dan lebih hebatnya lagi, Luna Leng mendapatkan kembali kekuatannya.
Melihat pemandangan ini, wajah Dimas Wu langsung berubah, dia mengerutkan alisnya, bagaimana bisa aura sederhana itu memiliki kekuatan magis, dan dapat menghancurkan kekuatan petirnya dan dengan cepat memulihkan tubuh Luna Leng yang tadinya terluka parah dan sekarat, dia tidak dapat membayangkan betapa kuatnya orang yang memainkan aura itu.
Ketika Dimas Wu masih berpikir keras tentang sosok yang mengendalikan aura sederhana itu, muncul sosok yang berjalan mendekati.
Sosok ini merupakan pria paruh baya, dia mengenakan jubah abu-abu, aura yang dipancarkannya sangat kuat, wajahnya terlihat sangat serius, bola matanya berwarna coklat dan tatapannya dalam, seperti pusaran air yang dapat membuat orang hanyut dan tersedot ke dalam, siapapun yang bertatapan dengannya, pasti akan dapat merasakan betapa hebatnya sosok pria baru baya ini.
Benar-benar sosok yang sangat menakutkan.
Namanya Aaron Tu.
Dia merupakan pengurus sekte Tianqi Syura hall.
Sekte Tianqi total memiliki enam hall, diantaranya adalah Syura hall yang selalu teratas dan unggul, Syura hall telah menjadi eksistensi tertinggi dari keenam hall sekte Tianqi, prestasi itu terjadi tidak luput dari kepemimpinan Aaron Tu.
__ADS_1
Kemampuan Aaron Tu, jika dibandingkan dengan kelima pengurus hall lain, dia masih unggul jauh, tetapi sampai saat ini masih belum ada orang yang tahu seberapa kuat Aaron Tu ini, itu karena selama ini dia belum pernah terkalahkan dan rata-rata lawannya tidak sebanding dengan kemampuannya.
Dimas Wu melihat Aaron Tu yang berjalan mendekat, dia juga tidak dapat mengendalikan adrenalin yang meningkat dalam tubuhnya, yang membuat dia mulai panik, bahkan tubuhnya seakan membatu, udara di sekitarnya seperti semakin menipis, dia benar-benar merasa sudah berada dalam sebuah sangkar yang menjerujinya. Semakin dekat Aaron Tu berjalan, maka semakin sulit Dimas Wu untuk bernapas dan semakin kesulitan untuk bergerak.
Kekuatan lawan yang dapat membuat seorang Dimas Wu tertekan, dan itu membuat Dimas Wu panik.
Luna Leng yang terbaring di tanah, kini sudah hampir sepenuhnya pulih, dengan perlahan dia bangkit, menghadap ke arah Aaron Tu dan berkata: “Apakah sejak dari awal kamu sudah sampai?”
Luna Leng selamat dari kematian, luka-lukanya juga sudah sembuh, tetapi dia tidak berterima kasih pada Aaron Tu, dia malah menayakan sebuah pertanya yang sangat tajam pada Aaron Tu.
Aaron Tu yang bediri tepat di depan Luna Leng menjawab: “Benar.”
Mendengar jawaban Aaron Tu, Luna Leng tiba-tiba mengerutkan alisnya, dan langsung marah, dia menatap Aaron Tu tajam dan berkata: “Kalau kamu sudah dari tadi sampai, kenapa kamu tidak menolong Zaver Mu?”
Luna Leng dan Zaver Mu saling mencintai selama bertahun-tahun. Kematian Zaver Mu merupakan pukulan dan kehilang terbesar bagi Luna Leng. Dan saat ini, ketika dia mengetahui bahwa Aaron Tu telah datang dari tadi, menurutnya Aaron Tu dapat menolong Zaver Mu, namun kenyataannya Aaron Tu tidak menolong Zaver Mu ketika dia kalah, kenyataan ini membuat Luna Leng terbakar api amarah.
Aaron Tu menatap dingin Luna Leng dan berkata: “Untuk apa aku menolongnya? Menolong orang yang tidak berguna seperti dia, menyia-nyiakan tenagaku saja, biarkan saja dia mati.”
Jawaban dari Aaron Tu sangat santai, seakan kematian Zaver Mu seperti semut mati.
Luna Leng mendengar itu, hatinya seakan mau meledak karena amarah yang meledak-ledak, matanya memerah menatap Aaron Tu dan berkata: “Apakah kamu masih mengingat masalah dan tidak rela karena aku lebih memilih dia daripada kamu?”
Raut wajah Aaron Tu masih tetap tidak berubah dan berkata: “Jangan bawa-bawa masalah sebelumnya, hanya saja aku merasa bukan keharusan bagiku untuk menolong dia.”
Nada bicara Aaron Tu masih dingin tak berperasaan, bahkan dia terlihat seperti sebuah robot yang tak memiliki perasaan.
Luna Leng menggigit bibirnya berpikir dan bertanya lagi: “Untuk apa kamu menolongku?”
Aaron Tu langsung menatap Luna Leng, serius menjawab: “Karena aku peduli padamu.”
Setelah mengatakan itu, tersirat kelembutan di wajah Aaron Tu.
Ekspresi Luna Leng tiba-tiba menjadi sangat rumit ketika mendengar ini, dia ingin meledakkan amarah yang tertahan di dadanya, tapi menghadapi Aaron Tu, dia tidak tahu bagaimana meluapkannya, dia hanya bisa diam saja.
Aaron Tu menatap Luna Leng sejenak, dan segera berbalik menatap Dimas Wu dan berkata: “Kamu membunuh orang sekte Tianqi, kamu benar-benar cari mati.”
Setelah berkata. Aaron Tu mengibaskan tangannya ke arah Dimas Wu.
Dalam sekejap, energi yang mengepul besar seperti gelombang dahsyat menyapu Dimas Wu.
Hanya dengan satu kibasan tangannya sudah bisa menciptakan sebuah kekuatan yang dapat mengancurkan bumi.
Pada saat ini, Dimas Wu merasa bahwa dirinya saat ini adalah perahu kayu nan kecil yang siap disapu oleh gelombang dahsyat Aaron Tu.
Pung!
__ADS_1
Tubuh Dimas Wu terlempar ke udara, mulutnya memuntahkan darah, dan darah itu muncrat ke udara.