Menantu Bodoh

Menantu Bodoh
Bab 395 Penerobosan


__ADS_3

Zaver Mu pada dasarnya memiliki gangguan kekuatan dan saat ini terluka parah oleh thunder punch Dimas Wu, dia terluka sangat parah, tubuhnya mengeluarkan asap sesaat dia tersambar petir dan bahkan mengeluarkan aroma daging hangus, tubuhnya seakan hancur berkeping-keping, sudah cukup membuatnya menderitakan kesakitan yang amat sangat, yang membuatnya hidup segan mati tak mau.


Dalam tatapannya terdapat sebuah penderitaan dan sebuah ketidakrelaan dan kemarahan.


Dia yang notabenenya seorang ketua dari sekte Tianqi, tetapi dapat dikalahkan oleh Dimas Wu, yang membuatnya terjatuh ke gerbang kekalahan yang sangat dalam, inilah alasan yang membuat Zaver Mu merasa malu dan kehilangan harga dirinya, jika teknik menghisap energinya tidak ada kesalahan, maka sudah dipastikan bahwa Dimas Wu hanyalah seekor semut yang tak berdaya saat ini, tetapi yang membuatnya terheran adalah teknik penghisap energi tidak dapat membantunya menyerap energi Dimas Wu, tetapi malah menyebabkan dia mengalami pengalaman yang belum pernah terjadi sebelumnya yaitu kegagalan dan rasa malu, dan ini benar-benar membuatnya marah dan kesal.


Dimas Wu menatap Zaver Mu yang terkulai di tanah dengan tatapan datar, dan berkata dengan dingin: “Aku bertanya untuk terakhir kalinya, di mana kakek moyangku Larvis Wu sekarang?”


Saat ini, Dimas Wu sudah tidak dapat bersabar lagi, nada bicaranya keras dan tajam, aura pembunuh yang menggebu-gebu keluar dari tubuhnya, jika Zaver Mu bersikeras tidak menjawab pertanyaannya, maka dia akan menghabisi Zaver Mu.


Zaver Mu perlahan bangkit dari tanah dan bersandar pada tembok, dia dengan tatapan mengerikan menatap Dimas Wu, dengan sekuat tenaga membuka mulutnya dan berkata: “Apakah kamu pikir dengan mengalahkanku, maka kamu sudah dapat membuatku membuka mulut dan memberitahu keberadaan Larvis Wu? Bukankah kamu terlalu naif?”


Setelah mengatakan itu, ekspresi Zaver Wu tiba-tiba berubah dan tertawa dengan sangat keras, tawanya sombong, bahkan tidak menunjukan bahwa dia seorang pecundang yang sudah dikalahkan.


Aura membunuh dari Dimas Wu meledak-ledak, dan diapun berkata: “Sepertinya kamu benar-benar ingin mati!”


Zaver Mu sambil tertawa berkata: “Apakah kamu pikir kamu dapat membunuhku?”


Setelah berkata. Zaver Mu mengulurkan tangannya dan mengibaskan tangannya kepada tembok besar yang berada tepat di belakangnya.


Dalam sekejap dari tembok besar itu terbentuk sebuah lubang besar, seperti lubang binatang buas berlalu lalang, dan dengan cepat menelan tubuh Zaver Mu.


Zaver Mu dalam sekejap menghilang dalam lubang besar itu.


Lubang tadi dengan cepat menghilang dan tembok yang awalnya berlubang kembali tertutup lagi.


Itu terjadi hanya dalam sekejap mata,begitu cepat, bahkan Dimas Wu masih belum bereaksi atas peristiwa itu, Zaver Mu ditelan dan menghilang.


Dimas Wu mengerutkan keningnya dan dengan seksama memperhatikan tembok itu.


“Dimas Wu, anggap saja kamu beruntung kali ini. Tunggu ketika aku datang lagi, maka aku akan menghabisimu.” Walaupun Zaver Mu sudah menghilang, tetapi suaranya masih dapat terdengar dari dalam tembok.


Dimas Wu tidak memedulikan apa yang Zaver Mu katakan, dia hanya menatap tembok yang sulit ditembus itu.


Tidak peduli seberapa berat rintangan di depannya, dia harus keluar dari penjara ini, jika tidak, maka apapun tidak dapat ia lakukan, dan hanya bisa terbelenggu di dalam ruang kedap udara ini, dan hanya menunggu seseorang untuk mencabut nyawanya. Dia tidak bisa hanya berdiam diri saja, dia harus mencari dan menemukan jalan keluar, dengan begitu dia baru bisa hidup dengan tenang dan menemukan Larvis Wu.


Tanpa ragu lagi, Dimas Wu menghantam tembok dimana Zaver Mu gunakan untuk kabur tadi dengan tinjuan yang sangat keras.


Pung!


Sebuah hantaman tinjuan yang menggunakan energi yang sangat ganas, mengeluarkan suara ledakan yang menembus langit dan memekakkan telinga.


Namun yang terdengar hanya suara ledakan yang begitu keras, tembok itu masih tetap utuh tak bergeming, Tinjuan Dimas Wu kali ini seolah-olah seperti sebuah kerikil kecil yang menghantam batu besar, benar-benar tidak berguna.


Tembok ini jelas bukan terbuat dari bahan biasa, kekokohannya tak terbayangkan. Selain itu terdapat sihir pelindung di atas tembok itu. Dan Dimas Wu sudah menduga kenapa tinjuannya tidak memberikan dampak kepada tembok itu karena lapisan sihir yang melindungi tembok itu. Dan yang sudah dipastikan bahwa sihir itu adalah sihir pemblokir energi dan menghisap energi.

__ADS_1


Pembatas dan tembok adalah pertahanan ganda, penjara bawah tanah ini sangat sulit ditembus, sulit baginya untuk kabur.


Tetapi Dimas Wu tetap percaya bahwa di dunia ini tidak ada perisai yang tidak dapat ditembus terlepas dari seberapa kuat tembok tersebut, singkatnya, untuk menerobos pertahanan tembok tersebut, pertama-tama dia harus menerobos penghalang ini, baru setelah itu dia dapat melanjutkan ke langkah berikutnya.


Memikirkan hal ini, Dimas Wu mulai mengamati dan memperhatikan dengan cermat penghalang di penjara bawah tanah ini. Prinsip penghalang ini dan lingkaran sihir tidak jauh berbeda. Dia cukup memahami tentang lingkaran sihir ini. Dimas Wu percaya bahwa dia pasti akan menemukan titik lemah sihir ini.


Setelah meneliti dalam waktu yang cukup lama, ekspresi wajah Dimas Wu seketika berubah, terlihat sebuah kelegaan tersirat, dia beranjak dan berjalan menuju tepat di tengah penjara bawah tanah, dia duduk bersila dan mulai bermeditasi.


Dia memejamkan kedua matanya, dan berkonsentrasi, segera, dia mengeluarkan aura sejati, tenaga dalamnya, dan kekuatan guntur dan petirnya, dan menggabungkan semuanya.


Ketika semua kekuatan bergabung, tiba-tiba Dimas Wu membuka matanya dan membuka kedua tangannya.


Telapak tangannya tiba-tiba menghadap ke titik tengah dinding kiri dan kanannya.


Syut! Syut! Syut!


Dalam sekejap, kedua telapak tangannya mengeluarkan energi gabungan yang luar biasa, dari penjara bawah tanah terpancar cahaya petir yang menerangi dari bawah penjara bawah tanah.


Dua kekuatan, menuju pusat dua tembok, dibombardir dengan cepat.


Pung! Pung!


Dua suara keras meledak hampir pada saat yang sama. Seluruh penjara bawah tanah bergetar hebat seolah-olah terjadi gempa bumi. Dua kekuatan kuat menghantam bagian tengah dari dua dinding masing-masing, mengeluarkan cahaya petir dan api yang berkilau.


Ketika hantaman masih membombardir, terlihat bahwa penghalang di tembong mulai muncul, terdapat dua celah di antara penghalang itu.


Celah itu menghilang.


Dimas Wu melihat hal itu, segera meningkatkan serangannya, sekarang dia lebih terfokus menghantam ke arah di mana celah itu muncul, sekali lagi menyerang dan kali ini menyerang dengan serangan yang bertubi-tubi.


Serangan demi serangan tanpa henti, tanpa berhenti memborbardir.


Pung! Pung! Pung!


Satu persatu suara ledakan saling bersambutan, getaran semakin terasa di penjara bawah tanah, dan cahaya petir berkilauan.


Hanya saja, pada awalnya terlihat celah pada kedua tempat itu, namun saat ini, tidak peduli seberapa kuat serangan Dimas Wu, celah itu tak terlihat lagi, tembok penjara bawha tanah masih tak bergeming seperti sedia kala.


Semakin Dimas Wu menyerang, maka semakin kuat serangannya, semakin dia memukul, maka semakin ganas pukulannya, kekuatannya benar-benar tak tertandingi. Namun, penghalang itu tampaknya seperti pusaran tanpa dasar, yang mampu menyerap semua kekuatan.Tidak peduli seberapa kuat kekuatan Dimas Wu, dia tidak bisa lagi menimbulkan reaksi apapun terhadap penghalang ini.


Setelah menyerang begitu lama, tembok itu masih berdiri tegak, Dimas Wu mulai kesal, dia tahu bahwa jika serangan ini dilanjutkan, maka hasil yang diperolehnya akan sama saja, ini hanya membuang-buang waktu dan tenaganya saja. Yang membuatnya terengah-engah adalah serangan tanpa henti itu tidak membuahkan hasil.


Pada akhirnya, Dimas Wu menghentikan serangannya, segera mengatur suasana hatinya, selanjutnya, sekali lagi dia memejamkan matanya dan perlahan mengatur napas, mengontrol kekuatan yang sedari tadi berkecamuk.


Bergemuruh!

__ADS_1


Karena Dimas Wu yang tiada kata menyerah menyerang dan berlatih, maka sekitar penjara itu terdengar suara gemuruh dan sinar kilat.


Dimas Wu sangat beruntung karena mendapat berkah dapat melawan dan menyerap kekuatan Zaver Mu. Dia menyerap kekuatan Zaver Mu, ini merupakan kekuatan yang sangat besar dengan sempurna, Namun, dia tidak bisa menggunakan kekuatan ini dengan mudah dan tidak bisa mengendalikannya sesuka hati, Sekarang, dia ingin menstabilkan kekuatan ini terlebih dahulu.


Saat ini, Dimas Wu memiliki kekuatan Zaver Mu, kekuatan guntur dan kilatnya, wild power, dan energi sejatinya sendiri, kekuatan luar biasa yang bergabung dalam satu tubuh, benar-benar tidak terkendali. Dan Dimas Wu berusaha untuk menjinakkan kekuatan Zaver Mu, kemudian menggabungkan kekuatannya dan kekuatan Zaver Mu.


Ini merupakan proses tersulit, keempat kekuatan tersebut seakan saling berperang di dalam tubuh Dimas Wu, pada akhirnya, kekuatan guntur dan kilat mendominasi. Ia berhasil menelan energi sejati dan wild power dalam tubuh Dimas Wu. Dan kekuatan Zaver Mu yang telah stabil. Ini juga membuat guntur dan kekuatan petir Dimas Wu semakin besar dan menakutkan.


Kekuatan guntur dan kilat yang mengerikan berdampak pada tubuh Dimas Wu, menyebabkan tulang dan sel Dimas Wu berubah. Segala sesuatu di tubuhnya mulai memancarkan cahaya yang meledak-ledak, begitu cepat sehingga tubuh Dimas Wu hampir tidak bisa menahannya, seolah-olah tubuhnya akan meledak.


Dimas Wu sekuat tenaga menahan ledakan kekuatan dari dalam tubuhnya, menekan dan menjinakkan kekuatan guntur dan petir.


Menurut Dimas Wu, berdiam diri dalam penjara ini sama saja dengan dia menunggu kematian menjemputnya, maka dia mau tak mau memang harus memaksakan dirinya mengalahkan kekuatan yang ada dalam tubuhnya, menggunakan kekuatan itu untuk keluar dari penjara ini, dengan begitu dia masih memiliki harapan hidup.


Untuk harapan sekecil ini, dia rela menahan rasa sakit yang begitu besar akibat kekuatan petir yang saat ini menggerogoti tubuhnya.


Proses yang sangat menyiksa, bahkan wajah Dimas Wu saat ini sudah pucat pasi, keringat mengucur dari keningnya, matanya tetap tertutup, alisnya berkerut, terlihat dia sangat kukuh, tidak peduli seberapa sakit siksaan yang dirasakannya, dia tidak akan menyerah.


Waktu berlalu begitu lambat.


Suasana sepi menyelimuti penjara.


Geleduk! Suara gemuruh menggema.


Tiba-tiba, suara guntur terdengar lagi, dan tubuh Dimas Wu tiba-tiba meledak, tulang-tulangnya juga berderit, terlihat cahaya listrik yang masih menyengat tubuhnya. Kedua matanya terbuka, tersirat cahaya merah dalam tatapan matanya, seolah-olah seekor naga raksasa seribu tahun yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.


Akhirnya dapat menjinakkan kekuatan petir dan gunturnya, dia telah menerobos batas maksimal dirinya sendiri.


Dimas Wu saat ini benar-benar bukan Dimas Wu yang sebelumnya, auranya semakin kuat tak tertandingi, kini dia telah mengembalikan rasa percaya dirinya dan senyum kebanggaan terlihat jelas dari wajahnya.


Setelah beberapa saat, Dimas Wu perlahan berdiri. Dia menatap dalam-dalam ke tembok penjara, matanya penuh dengan keganasan. Baginya saat ini, tembok ini bukan lagi tembok sederhana, melainkan sebagai musuhnya yang sangat kuat.


Dalam menghadapi musuh, Dimas Wu benar-benar tidak dapat memberi ampun, matanya menjadi semakin memerah, cahaya merah itu sangat menakutkan, tatapannya bengis, dan genggaman tangannya semakin mengencang.


“Thunder punch”


Tiba-tiba, Dimas Wu berteriak dengan keras.


Mengikuti suara teriakannya, genggaman tangan Dimas Wu menyerang tepat di bagian tengah tembok


Boom!


Kekuatan guntur dan kilat yang bermutasi langsung menembus dinding ruang bawah tanah dan penghalang itu.


Segera setelah itu, hanya dengan satu ledakan keras, seluruh penjara bawah tanah runtuh dan berubah menjadi puing-puing.

__ADS_1


Penjara bawah tanah telah hancur, Dimas Wu berjalan keluar dari reruntuhan dan debu...


__ADS_2