
Semua masih diam terpaku ditempatnya hingga sebuah suara pukulan mengagetkan mereka.
Bughhhh....
Satu pukulan tepat diwajah Miko yang dilayangkan Bian.
"Bre.....k beraninya kau melakukan tes DNA...Apa maumu ha......??" Teriak Bian menatap tajam kearah Miko.
Miko terseyum miring sambil mengusap darah disudut bibirnya.Pria itu berusaha berdiri lalu mendekat kearah Bian.
"Kenapa kau begitu marah,,hmm apa karena aku sudah tau yang sebenarnya?" ucap Miko dengan seyum liciknya.
Bian mengeratkan rahangnya keras dengan kepalan tangan yang sangat kuat.
Miko beralih mendekati Violin yang masih mematung dengan tatapan tajam kearahnya.
"Jadi karena alasan ini kau berusaha menyembunyikan Juna dari ku Olin,,Tenang saja aku tidak akan merebut Juna darimu kau kan ibunya tapi dengan satu syarat?"
"Apa syaratnya?" Violin yang sudah menahan air matanya bersuara.
Miko semakin mendekat membuat Vero memegang bahunya keras dengan tatapan dinginnya.
"Kau harus kembali menjadi istriku Violin,kita bisa menjadi kekuarga yang utuh!"
Ucapan santai Miko membuat semuanya geram.
Dengan segala keberaniannya Violin mendekati Miko.
Plakkkkkk
Satu tamparan keras Violin dipipi Miko.
"Apa kau sudah lupa dengan penghianatan yang sudah kau lakukan empat tahun yang lalu?Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi kembali pada pria jahat sepertimu Miko.Aku sangat membencimu!" Ucap Violin penuh penekanan.
Miko menyeringai licik.
"Maka aku akan membawa soal ini ke meja hijau,dan aku pastikan Juna akan menjadi milikku!"
"Tidak semudah itu Miko,Aku tidak akan membiarkannya!" Ujar Veru yang sudah sangat emosi.
"Silahkan saja kalian berusaha,tapi aku punya pengacara handal yang akan membuatku menang!" .
Miko begitu percaya diri.
Violin begitu ketakutan.
",Heyyyyy Langkahi dulu mayatku!!teriak Bian sambil mendekati Miko.
" Kita buktikan siapa yang lebih kuat!Aku atau dirimu?Kau jangan sombong dulu tuan Miko.Violin itu calon istriku maka apapun akan aku lakukan untuk membuatnya bahagia.!"
Bughhhh
Kini Miko memukul wajah Bian hingga pria muda itu sedikit oleng dan berdarah diujung bibirnya.
Bian membalasnya hingga terjadi sebuah perkelahian yang imbang.
Veru,Violin dan Lisa hanya bisa melihat duel maut itu.
Hingga Bian mengeluarkan Pistolnya dari saku jasnya lalu ia arahkan tepat kewajah Miko.membuat semuanya terkejut,mereka tidak mengira Bian memiliki senjata berbahaya itu.
"Cepat pergi dari sini sebelum aku menghabisimu!!!"Ucap Bian dengan nada tinggi.
Miko terseyum miring.
__ADS_1
"Jadi kau menantangku anak muda..Baik sekarang aku akan pergi dulu tapi besok aku akan memenangkan hak asuh atas Juna dipengadilan!"
"Maka aku juga akan menyiapkan banyak pengacara handal untuk melawanmu,Bersiaplah karena kau akan kalah.Kita lihat siapa yang lebih kuat.Sekarang cepat pergi sebelum kesabaranku habis!"jawab Bian dengan suara tegasnya.
Miko.mau tidak mau harus pergi.
'Bersiaplah Olin"ucap Miko dengan seyum liciknya kearah Violin lalu pergi dari rumah itu.
Bian menghembuskan nafasnya kasar lalu melempar pistolnya kesofa.
Ia lalu memeluk tubuh Violin erat.Air mata Violin sudah tak terbendung lagi.
Getaran hebat tubuhnya membuat Bian mengusap lembut punggungnya.
"Tenanglah Lin Ada aku disampingmu.Kau harus percaya padaku!"
Veru mengusap lembut lengan Violin.
"Tenanglah Lin,Semua akan baik baik saja.Kakak akan melindungi kalian.!"
Violin melepas pelukan Bian.
"Tapi kau tak tahu siapa Miko,dia orang kuat dan berkuasa!" ucap Violin lirih pada Bian yang menatapnya lekat.
Bian terseyum simpul.
"Apa kau ragu padaku?Apa aku tidak terlihat kuat dimatamu?Tenanglah ini hanya masalah biasa untukku.Jadi kau tak perlu khawatir." ucap Bian santai.
Veru dan Lisa mulai mencurigai siapa sebenarnya sosok Bian.
''Aku benar benar takut dia mengambil Juna dariku!"
",Itu tidak akan terjadi Sayang.Percaya padaku!" ucap Lembut Bian sambil mengusap lembut air mata dipipi Violin.
"Sebaiknya kau obati dulu luka diwajah Bian,Violin.Kakak kembali keCofee Shop dulu.Dan kau harus menenangkan dirimu"
Veru dan Lisa pun pergi bersama.
Veru mengantar Lisa menggunakan mobilnya.
"Apa yang akan Kakak lakukan sekarang?" tanya Lisa didalam mobil.
"Aku akan menghubungi sahabatku yang seorang pengacara." Ucap Veru sambil fokus menyetir.
",Aku pikir Bian juga tidak akan tinggal diam.Kak sebenarnya siapa dia,kenapa aku merasa dia bukan orang sembarangan!" ucap Lisa yang sudah bersikap biasa didepan Veru.
"Hmm aku juga merasa begitu.Tapi aku cukup lega dia begitu menyanyangi dan melindungi Violin."
Keduanya lalu terdiam dalam perjalanan.
Sementara Dirumah,Violin sedang mengobati luka lebam diwajah Bian.
Mereka duduk berhadapan disofa diruang tengah.
Dengan lembut Violin mengompres lalu mengobati luka diwajah Bian.
Bian menatap lekat wajah cantik Violin yang terlihat murung.
Meskipun menahan sakit karena sentuhan dilukanya,Bian terseyum simpul membuat Violin merasa heran.
"Apa kau tidak kesakitan,kenapa kau justru terseyum Bian?"
"Aku senang karena aku bisa dekat denganmu.Rasa sakitku ini tidak ada apa apanya dibanding aku harus melihatmu terluka.Jangan menangis lagi Ok!"
__ADS_1
Violin menatap lekat kedua manik mata Bian.ada getaran hebat yang ia rasakan dihatinya.
"Harusnya kau tak perlu berkelahi dengannya"
"Apa kau menghawatirkanku?" tanya Bian.
"Sedikit"ucap Violin singkat.
" Terima kasih Sayang."Bian mengusap lembut pipi Violin."Tenanglah semua akan baik baik saja.Percayakan semua padaku!"
"Kenapa Kau begitu yakin,Tapi aku juga tidak memiliki banyak uang untuk menyewa pengacara hebat" Ucap Jujur Violin.
"Tenanglah itu menjadi urusanku.Apa aku ini terlihat miskin dimatamu?"
Violin mulai merasa penasaran dengan Bian.Ada sesuatu yang disembuyikan Bian dari dirinya.
"Aku tidak ingin memiliki hutang padamu!"
Bian menggelengkan kepalanya sambil terseyum.
"Mana mungkin aku menagih hutang padamu,Kau hanya perlu terus berada disisiku!"
Violin hanya terdiam.
"Jika nanti kasus ini selesai dan Kau sudah memiliki hak asuh atas Juna sepenuhnya maka secepatnya aku akan menikah i mu Violin."
Deg........Violin tertegun.
Ucapan pria muda didepannya sepertinya tidak main main.
Perlahan Bian mendekat kewajah Violin yang masih tertegun.
Cup......satu kecupan hangat dibibir mungil Violin.
Kedua mata Violin membulat dan tubuhnya mematung.
"Aku serius sayang" bisik Bian tepat disamping telinga Violin.
Bian lalu menarik tubuh Violin kedalam pelukannya.
"Sekarang tidurlah dipelukanku.Aku tahu kau begitu lelah" ucap Bian.
Violin hanya bisa patuh tanpa mengelak.Ada kehangatan dan kenyamanan yang ia rasakan.
"Kenapa kau memiliki senjata itu?tanya Spontan Violin.
" Aku sudah terbiasa membawa pistol dari dulu sayang.Untuk keselamatan ku saja.kenapa,kau takut?"
Bian mengusap lembut kepala Violin lalu menciumnya.
"Sudahlah tidurlah,ini sudah malam.Aku akan menjagamu malam ini!"
Violin yang memang sudah merasa ngantuk dan lelah perlahan tertidur.
Nafasnya mulai teratur.Bian terseyum melihat wanitanya sudah terlelap dipelukannya.
Bian perlahan menggendong tubuh Violin ala bridel kekamarnya.membaringkan lembut keatas ranjangnya.
Bian memyelimuti tubuh Violin.
Pria itu lalu pergi kekamar Juna,memastikan anak itu sudah terlelap tidur.
Lalu Bian dengan beraninya menyusul Violin tidur diranjang.Mencium kening Violin lembut.
__ADS_1
"Tidurlah dengan nyenyak sayang,semua akan baik baik saja selama aku ada disampingmu!"
Bian lalu memeluk tubuh mungil itu dengan erat.Reflek Violin memiringkan tubuhnya menghadap Bian dan memeluk tubuh Pria tampan itu.Bian terseyum simpul lalu ikut tertidur dengan posisi berpelukan.