
Sudah Dua hari berlalu,Ucapan Bian masih mengganggu pikiran wanita itu.beberapa malam bahkan Violin sulit untuk tidur.DiCofee Shop pun Violin juga banyak melamun.
.
Siang itu suasana Cofee Shop terlihat lebih sepi.
"Kenapa Lin,sepertinya kau ada masalah?apa kau tak ingin bercerita pada kakak?" ucap Veru yang membuyarkan lamunan wanita cantik itu.
"Tidak ada apa apa kak...kakak tenang
saja?!!" ucap Violin yang menutupi perasaannya.
"Apa soal pria yang bernama Bian itu??"
"Bukan kak,kenapa aku harus memikirkan pria itu...??" jawab Violin menyakinkan kakaknya.
Juna tiba tiba mendekati mamanya dengan wajah yang lesu.
Violin heran melihat raut wajah putranya yang terlihat pucat.
"Badanmu panas sayang....ayo kita pulang saja''ucap Violin sesudah memegang dahi putranya.
" Cepat bawa Juna pulang Lin,kalau.nanti sore panasnya belum turun kamu hubungi kakak kita bawa Juna kerumah sakit.!"
ujar Veru yang juga terlihat khawatir dengan kondisi keponakannya.
"Iya kak!"
Violin langsung bergegas pulang.
Sesampainya dirumah Violin langsung memberi obat turun panas dan mengompres kening Juna yang sudah ia baringkan diranjang.
"Cepat sembuh sayang...mama sangat
mengkhawatirkanmu...!!''
Violin duduk disamping ranjang putranya sambil menggenggam kuat tangan putranya.
Sampai tak sadar Violin tertidur disamping ranjang putranya.
Ting tong...
Suara Bel rumah membangunkan Sisil yang sudah terlelap satu jam lamanya.
Sisil segera berjalan menuju pintu depan sambil mengusap usap kedua matanya.
Ceklek
Kedua mata Violin membulat melihat siapa yang datang kerumahnya.
__ADS_1
" Kau......."
"Bagaimana keadaan Juna?Tadi aku keCoffe Shop tapi kakakmu bilang Juna sakit.apa boleh aku masuk...??" ucap pria tampan yang tak lain adalan Bian.pria itu sengaja membawa mainan untuk Juna.
Violin mencoba mentralisir hatinya ,,Violin berusaha bersikap biasa didepan pria itu.
"Silahkan duduk,harusnya kau tak perlu repot repot kesini...!ujar Violin yamg sudah duduk berhadapan dengan Bian.
" Dengan senang hati aku datang kesini...apa boleh aku melihat Juna??"pinta Bian spontan.
Violin tak bisa menolak keinginan pria muda itu.
"Tentu,mari ikuti aku...!!!"
Bian berjalan mengekori Violin.melihat tubuh wanita yang dicintainya dari belakang rasanya Bian ingin sekali memeluknya.Perasaan yang ia pendam selama ini seakan sudah tak bisa ia bendung lagi tapi Bian langsung sadar karena ini bukan saat yang tepat.
Sampai dikamar Juna,Pria itu langsung duduk disamping anak kecil yang masih tertidur pulas itu.Bian mengusap lembut kening Juna yang mulai berkeringat.
"Cepat sembuh tampan,Om sudah ada disini...!!!"
Seketika mata Juna terbuka,ia melihat Pria yang sudah ia rindukan ada disampingnya.
"Om Bian....kenapa om menghilang kemarin,aku merindukanmu om..!!" ucap Lirih Juna yang membuat Violin sangat terkejut.tanpa ia tahu ternyata putranya merindukan pria yang coba ia hindari itu.
"Maaf dua hari ini Om sibuk....mulai sekarang om akan selalu menemui Juna.." ucap Bian sambil melirik kearah Violin yang terlihat gugup.
"Iya,, kamu cepat sembuh ya..oh ya ini om bawa mainan,semoga kau suka....!!" ujar Bian sambil menyerahkan kotak mainan.
Wajah Juna langsung berbinar melihat hadiah dari Bian.
"Terima kasih Om.."
Violin lalu keluar kamar untuk membuatkan minum untuk Bian.
Tak lama Violin kembali dengan secangkir kopi ditangannya.
Violin tertegun melihat kedekatan putranya dengan pria muda itu.
"Minumlah...!!" ucap Violin sambil meletakkan secangkir kopi dinakas samping Bian.
"Terima kasih" jawab Bian sambil mengambil kopi itu dan pelan pelan menyesapnya.
Violin menyentuh kening putranya.ia sangat lega panas putranya sudah turun.
Satu tangan Violin mengusap lembut kening Juna sambil berdiri sedikit membungkuk disampinh Bian.
Reflek Bian menggenggam satu tangan Violin yang berada di samping ranjang.
Deg.
__ADS_1
Jantung Violin bergetar kuat,hatinya merasakan sesuatu yang beda saat pria itu menyentuh tangannya.
Kedua matanya membulat memandang Bian yang duduk disampingnya sambil terseyum simpul kearahnya.
Violin mencoba melepas genggaman tangan pria itu tanpa menganggu fokus putranya yang sedang menatapnya.
Tapi semakin kuat genggaman tangan pria itu membuat Violin menyerah sampai Bian melepaskannya sendiri.
"Sayang tidurlah lagi mama akan bicara sebentar dengan Om Bian...!!" ucap Violin yang terseyum lalu melirik kearah Bian dan keluar kamar diikuti pria itu.
Belum sampai ruang tamu,Bian sudah menarik tangannya dan memojokkan tubuhnya kedinding.Kedua tangan Bian mengunci pergerakan tubuh Violin.
"Apa yang kau lakukan Bian,Cepat lepaskan aku....!!"
"kalau aku tidak mau bagaimana??" ucap Bian dengan sorot mata tajam yang begitu dekat dengan wajah Violin.
Violin susah menelan salivanya nafasnya mulai tak beraturan karena pandangan tajam pria itu.
"Tolong jangan buat aku takut..."
"Hanya sebentar,aku sudah sangat lama menunggu saat saat denganmu seperti ini Violin...Dan dengarkan aku baik baik,Mulai besok aku akan datang kerumah ini setiap hari....!!!"
"Apa kau gila???"
"Iya aku memang sudah gila karena mu...Dan satu hal lagi aku sudah menganggapmu itu sebagai Calon Istriku....." ucap Bian penuh penekanan.
Violin mengelengkan kepalanya pelan.
"Kau sudah tidak waras.....cepat lepaskan aku...!!
Bukannya memindahkan tangannya,Bian justru mendekatkan bibirnya kebibir Violin seakan ingin mencium bibir wanita itu.Violin tak bisa berkutik dia hanya bisa memejamkan matanya.
Bian terseyum melihat expresi wajah wanitanya itu dari jarak yang begitu dekat.
Bian pun mencium mesra kening Violin.membuat wanita itu membuka matanya dan terperanga.
" Belum saatnya aku mencium bibirmu Sayang.....!!!"ucap Bian sambil terseyum smrik.
Violint semakin membulatkan matanya mendengar kata Sayang untuknya.
"Mandilah....aku kan menemani Juna dikamarnya.ini sudah sore!!!'ucap Bian yang sudah memindahkan tangannya.
" Kenapa kau jadi memerintahku....!dasar menyebalkan...harusnya aku yang menyuruhmu cepat pulang karena sudah berani mencium keningku....!!!"ucap Violin yang sudah berjalan menuju kamarnya.
"Aku akan pulang nanti malam setelah kau memasakkan aku makan malam!!"
Violin ternganga sambil menoleh lagi mendengar ucapan pria itu.ia benar benar bingung menghadapi pria muda yang sudah berani menciumnya.
Sedangkan Bian hanya mengangkat kedua alisnya kearah Sisil yang sudah emosi dan merasa sebal.
__ADS_1