Mencintai Hot Momy

Mencintai Hot Momy
Cemburu


__ADS_3

Violin masih duduk disamping Bian dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan.


Harusnya tadi Bian memperingatkan Tifany untuk jangan menciumnya lagi,Apa lagi didepan Violin.


Bian yang merasa tidak enak memilih untuk keluar untuk menemani Juna bermanin sepak bola.


"Aku temani Juna dulu ya Sayang,Kalau mau pulang panggil aku diluar" ucap Bian lalu berjalan keluar menemui Juna.


Violin hanya terdiam lalu melanjutkan Pekerjaannya kembali.


Pukul Lima sore,Violin,Bian dan Juna Sudah sampai dirumah.


Dari mulai diCofeeshop sampai tiba dirumah Violin terlihat lebih banyak diam dan itu sangat dirasakan Bian.


Violin yang sudah mandi kini berada didapur untuk memasak hidangan makan malam.


Sementara Bian yang sudah mandi menemani Juna belajar diruang tengah.


Violin yang sedang memasak tercekat saat dua tangan kekar Bian sudah melilit dipinggang rampingnya dengan dagu Bian yang berada dibahu Violin.


"Bian apa yang kau lakukan,Aku sedang memasak,Lepaskan!" Ucap Violin sambil berusaha melepas diri.


"Kenapa dari tau kau banyak diam hmmm??Tanya pelan Bian.


Violin menjadi gugup seketika dengan pertanyaan Bian.


" Aku tidak apa apa"


Bian mengecup mesra tengkuk leher Violin membuat tubuh Violin menengang.


"Jangan berbohong,Aku sangat mengenalimu Violin.Kau cemburu kan dengan Tifany?"


Violin terkejut dengan ucapan Bian,Memang benar dia merasa cemburu tapi disisi lain dia merasa Tifani jauh lebih pantas untuk Bian.


"Aku tidak cemburu"


"Masih saja berbohong,Lalu kenapa kau dari tadi diam?" ujar Bian masih memeluk Violin.


"Apa kau tidak merasa tatapan Tifani berbeda padamu,Sepertinya dia memiliki perasaan padamu" ucap Violin yang sudah mulai terbuka.


Bian kini tahu kegundahan dihati Violin.Pria itu terseyum simpul lalu mencium puncak kepala Violin.


"Sebenarnya aku sudah tahu sejak lama kalau Tifani punya perasaan padaku" Ucap Bian santai.


Violin sedikit terkejut."Lalu kenapa kau tidak membalas perasaannya.Dia gadis yang cantik dan Baik Bian,Sangat pantas untukmu"


Bian membalikkan tubuh Violin agar berhadapan dengannya.


"Aku sudah bilang Sayang,Aku tidak tertarik pada wanita lain.Karena dihatiku ini sudah sangat lama terukir namamu." ucap Bian lembut dengan memandang manik mata Violin dalam.


"Tapi Bian,Aku hanya wanita biasa dan statusku adalah seorang Janda ber anak satu.Apa kau tidak takut orang luar mengejekmu jika kau bersamaku" ucap Violin serius.


Bian mengusap lembut pipi Violin yang menatapnya lekat.


"Aku tidak perduli dengan ucapan orang lain Sayang dan mengenai statusmu aku tidak masalah,Bukankah Janda itu lebih hot dan matang..." Ujar Bian dengan suara menggoda.

__ADS_1


"Biannnnn kita sedang serius....." Ucap Violin yang merasa kesal.


"Aku juga serius Sayang.Mulai sekarang jangan berfikiran macam macam Ok.Dan satu lagi jangan cemburu lagi jika melihatku bersama wanita lain Karena hatiku sudah menjadi milikmu" Ucap Mantab Bian.


"Aku benar benar bingung dengan cara berfikirmu Bian dan apa alasanmu bisa mencintaiku!" Ucap Lirih Violin.


"Suatu saat nanti kau akan tahu kenapa aku bisa mencintaimu sejak lama Sayang"


Violin menatap Bian dengan pandangan yang tak bisa dimengerti.Ada rasa penasaran yang begitu besar dibenak Violin tapi ia tak ingin mengatakannya.


Keduanya masih saling bertatapan hingga suara Juna terdengar membuat mereka menoleh bersamaan.


"Ma..Juna udah laper"


Violin gugup ia lupa jika sedang memasak.


"Ini karena kau,Aku jadi lupa jika sedang memasak!" Ketus Violin dengan tatapan kesal pada Bian yang hanya terkekeh.


"Perlu aku bantu!"


"Boleh,,,Kupas bawangnya!" suruh Violin.


"Siap Sayang........"


*Apa kata karyawan ku jika melihat Ceo mereka ini mengupas bawang tapi ini demi cintaku,Jadi tidak masalah"Guman Bian dalam hati sambil mulai mengupas bawang.


Tak lama makanan sudah siap tersaji dimeja makan.Mereka bertiga makan dengan lahap.Sesekali Bian menyuapi Juna membuat Violin merasa hangat seketika.


Setelah Selesai makan Bian mengantar Juna kemarnya.Sedangkan Violin membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan yang kotor.


Saat Violin sudah selesai dan hendak kekamar Juna,Violin melihat ponsel Bian yang berada diatas meja makan bergetar.


Violin yang penasaran mengambil ponsel itu.


Violin tanpa sadar membuka pesan yang masuk karena kebetulan ponsel Bian tidak memiliki sandi.


Tifany


Bian kamu ada dimana?Udah makan?Aku pengen ngajak kamu keluar malam ini.Apa kamu mau???"


Deg......


Seketika dada Violin terasa sesak,Entah kenapa ia tiba tiba merasa takut,khawatir dan merasa semakin tidak pantas untuk bersama dengan Bian.


Violin terdiam melamun sambil masih memegang ponsel Bian.Pikirannya terasa berkecambuk.


Hingga tanpa Violin sadari Bian sudah ada dibelakangnya,Melihatnya sedang memegang ponsel itu.


Bian langsung memeluk Violin dari belakang.


Sontak Violin tersadar lalu segera meletakkan ponsen itu dimeja.


"Apa yang kau lihat diponselku hmmm?" Tanya Bian lembut.


Violin masih terdiam dengan wajah sendunya

__ADS_1


Membuat Bian segera mengambil ponselnya lalu membukanya.


Bian terseyum simpul kearah Violin setelah melihat pesan dari Tifanka.


"Kau cemburu lagi?" tanyanya masih dengan memeluk Violin erat.


"Tidak...siapa yang cemburu" sangkal Violin.


"Ck.....masih tidak mau mengaku,Tenanglah Sayang,jangan berfikiran macam macam.Tifani memang begitu dari dulu suka mengirim pesan seperti itu.Aku anggap itu hanya perhatian sebagai seorang sahabat."


"Itu bagimu,Beda lagi baginya Bian..Dia ingin bersamamu!Kau bisa pergi dengannya,aku tidak pernah melarangmu!"Ucap Violin dengan wajah sedihnya.


Cup......Bian mencium pipi Violin.


" Aku hanya ingin bersamamu Sayang...Ayo aku temani tidur!"Ujar Bian lalu menarik tangan Violin kekamarnya.


",Biannnnnn kenapa kau tidur disini?"Violin mencoba melepas genggaman tangan Bian tapi terasa sulit.


Bian menghentikan langkahnya.


" Wajar jika aku tidur dengan calon istriku,Sudah ayo,atau mau aku gendong?"


"Aku bisa jalan sendiri"


"Kau mau langsung tidur atau mau lihat televisi dulu?" tanya Bian saat mereka berdua sudah diatas ranjang.


"Pergilah Bian,,,Dia menunggumu!Aku sudah lelah ingin langsung tidur" Ucap Violin lalu berbaring memunggungi Bian.


Bian terseyum ,merasa gemas dengan sikap Violin lalu ikut berbaring dan langsung memeluk tubuh Violin erat dari balakang.


"Aku suka jika kau cemburu begini Sayang..." bisik Bian tepat disamping telinga Violin.


"Bian.....aku tidak cemburu....Pulanglah!" ketus Violin.


Bian semakin mengeratkan pelukannya hingga Violin merasakan kehangatan dari tubuh Bian.Ada rasa nyaman dan tenang saat Bian memelukknya.


"Sudahlah...sekarang tutup matamu.Aku akan menemanimu disini dan aku tidak akan kemana mana"


Violin yang sudah sangat lelah malas untuk berdebat lagi.


Bian yang mengira Violin sudah tertidur membalik perlahan tubuh Violin hingga menghadapnya.Bian meletakkan kepala Violin tepat didadanya lalu mengusap lembut kepala Violin.


Violin yang belum sepenuhnya tertidur membuka matanya sambil terseyum simpul.


Tanpa sadar tangannya memeluk tubuh Bian membuat pria itu tersadar jika Violin belum sepenuhnya terlelap.


"Sayang kau belum tidur rupanya?" bisik Bian.


Bukannya menjawab Violin kembali menutup matanya.Membuat Bian terseyum bahagia karena ternyata Violin tidak menolak perlakuannya.


"Aku semakin mencintaimu Sayang.Good night Honey....."


Cup....Bian mencium bibir Violin kilat lalu memeluknya erat dan ikut terlelap tidur.


Untuk kesekian kalinya Bian menenami Violin tidur,Dan untuk kesekian kalinya pula Violin tak mampu untuk menolak kehangatan dan kenyamanan yang diberikan oleh Bian.

__ADS_1


Tanpa Violin sadari Bian sudah mengisi hatinya dan pelukan Bian sudah menjadi candunya.


__ADS_2