Mencintai Hot Momy

Mencintai Hot Momy
Gugup


__ADS_3

Weekend datang kembali,Bian sedari pagi sudah berada dirumah Violin.Ada seseatu hal yang ingin ia sampaikan pada Violin.


Setelah menikmati sarapan pagi bersama,mereka duduk diruang tengah sambil menikmati acara televisi.


"Sayang" panggil Bian pelan,Violin menoleh seketika.


"Apa?"


"Nanti Siang kita kerumah ku.Sudah saatnya kau tau rumahku dan bertemu papaku" ujar Bian.


Deg............


Violin merasa terkejut.Jujur saja ia belum siap bertemu dengan orang tua Bian.Ada rasa ketakutan dan keraguan yang cukup besar yang ia rasakan.


Bian melihat ekspresi kegugupan diwajah calon istrinya itu lalu dengan cepat menggenggam kuat tangan Violin.


",Aku tahu perasaanmu.Tenanglah ada aku"


"Tapi Bian,Aku belum siap,Aku sadar dengan statusku" ujar jujur Violin.


Tatapan mereka saling lekat.


"Papa akan menerimamu.Jika aku bahagia dengan pilihanku maka papa tidak bisa menolakmu" tegas Bian.


"Aku ingin secepatnya menemukanmu dengan papa,Karena aku ingin secepatnya menikahimu.Kalian harus saling mengenal dulu" timpal Bian lagi.


Violin masih terdiam mematung.


"Aku mohon Violin.Ada aku yang akan selalu menemanimu.Ok" Ucap Bian penuh harap


Melihat kesungguhan Bian,Violin akhinya mengangguk pelan dan membuat Bian merasa lega.


Siang hari, Violin sudah terlihat cantik mengenakan dres selutut berwarna biru muda dengan sepatu flat dan tas slepang berwarna putih akan.


Mereka menuju.keCofeeShoop dulu untuk menitipkan Juna pada Verru tentu dengan penjagaan bodyguard Bian.


Mobil Sport merah yang mereka tumpangi melaju cepat menuju Kediaman Tanawat yang berada diperumahan elit ditengah kota Bali.


Dalam perjalanan Bian selalu mengenggam tangan Violin,Mencoba meredakan kegugupan yang dirasakan wanita bertubuh mungil itu.


Tak lama mobil itu memasuki pekarangan luas rumah yang sudah dijaga ketat oleh pria pria berbadan tinggi tegap.


Violin tertegun melihat rumah yang lebih tepatnya disebut seperti mansion didepannya saat ini.Rumah besar nan mewah memiliki tiga lantai,dengan tiang tiang penyangga super besar berlantai marmer cream dan didominasi cat warna putih dan ukiran disudut sudut dinding dan atap berwarna gold.


Violin tak menyangka jika rumah Bian semewah ini.Semakin jelas terlihat perbedaannya dengan Bian sekarang membuat Violin merasa nyalinya menciut kembali.


Bian menarik tangan Violin yang masih mematung.Bian bisa membaca apa yang ada dipikiran wanitanya itu.


Para maid sudah berjajar menyambut tuan muda yang datang membawa seorang wanita yang tentunya special.


Mereka membungkuk hormat membuat Violi. lagi lagi tertegun.


"Dimana papa?" Tanya Bian.pada pemimpin maid yang juga berdiri disitu.


"Tuan besar ada ditaman belakang sedang memberi makan burung jalak Bali kesayangannya Tuan muda" Ujar sang maind.


"Hmmm,Oh iya,kenalkan ini Calon istriku nama nya Violin.Jika ia datang kesini jangan pernah mengahalanginya"Ujar Bian yang membuat Violin membulatkan matanya.


Para main memberi hormat" Selamat datang dikediaman Tanawat nyonya Violin"Sapa ramah kepala main itu.


Violin hanya membalas dengan terseyum canggung.


Bian lalu kembali menarik tangan Violin menuju taman belakang,Violin memandang dekorasi dalam rumah yang terlihat lebih mewah dari luar.Banyak barang antik yang menghiasi rumah tersebut.Mata Violin terhenti saat melihat deretan foto yang menempel didinding dengan rapi.


Ada satu foto besar seorang wanita cantik terseyum yang menarik perhatian Violin hingga membuatnya terhenti dan Bian yang merasa heran pun menoleh lalu mengikuti pandangan mata Violin.


"Bian apakah itu....."


",Iya Sayang,Itu Foto Mamaku" ucap Bian pelan.


Violin memperhatikan foto itu"Sangat cantik" ucapnya.


"Mama memang cantik juga lembut sama sepertimu Sayang" Ujar Bian


Violin hanya membalas ucapan Bian hanya dengan tatapan lekatnya.

__ADS_1


"Ayo kita temui Papa"


Keduanya kembali berjalan menuju halaman belakang.


Dihalaman belakang yang luas itu terdapat taman kecil,Gazebo,Lapangan golf mini,Lapangan Basket, dan tempat khusus burung burung antik peliharaan Tuan Chaow tabawat.sedangkan kolam renang ada disisi rumah yang lain dan diroof toof lantai atas ada paviliun mini dan tempat bilyard,Tempat fitnes dan sarana latihan tembak tempat favorit Bian.


Dari kejauhan Violin melihat seorang Pria paruh baya yang sedang memandangi hewan peliharaannya.


Rasa gugup Violin semakin bertambah besar.


"Papa" Panggil Bian saat keduanya mendekat.


Seketika Chaow menoleh dengan wajah datarnya.Violin meremas kedua tangannya saat melihat Papa Bian mendekat.


"Sesuai permintaan Papa,Bian sudah mengajak calon istri Bian untuk menemui Papa"


"Dia Violin pa,", Ujar Bian lagi sambil memberi kode pada Violin untuk mengenalkan diri.


Violin mencoba tenang" Selamat Siang Om,Perkenalkan saya Violin"Ucap pelan Violin sambil menunduk.


Chaow melihat penampilan Violin dari ataa sampai bawah dengan tatapan yang tak bisa dibaca,membuat Violin semakin gugup dan takut.


"Selamat datang nona Violin.perkenalkan saya Chaow tanawat,Papa Bian.Mari kita berbicara disana" Ujak Chaow sambil berjalan masuk menuju ruang tengah.


Mereka pun duduk disofa ruang tengah.


"Jadi apa kegiatanmu nona?" Tanya Chaow dengan wajah datarnya.


"Saya membuka sebuah CofeeShop Om" Jawab Violin pelan.


"Lalu berapa usia putra mu saat ini nona?" Violin menatap lekat Chaow ia merasa terkejut dengan pertanyaan papa Bian itu.


"Hampir 5 tahun Om." jawab Lirih Violin.


Bian masih diam sambil memainkan Ponselnya.Dan tak lama Bian mendapat telpon penting sehingga membuatnya harus meninggalkan Violin sebentar membuat Violin semakin gugup sementara Pandangan Chaow masih terlihat datar dan dingin pada Violin.


"Nona tau kan siapa Bian?"Ucap Chaow ambigu.


"Tahu Om"


"Saya sangat mengerti Om,Saya sangat menyadari saya bukan pendamping yang sempurna untuk Bian.Saya hanya wanita biasa dan seorang Sigle Parend.Hanya ketulusan yang bisa saya berikan untuk Bian Om.Saya sudah mencoba untuk menjauhi Bian Om,Tapi ketulusan dan kebaikannya membuat saya bisa menerimanya,bukan karena status kedudukan atau materi Bian Om.


Chaow mendengar dengan seksama jawaban dari mulut Bian.


"Jika saya meminta nona untuk menjauhi Bian apa nona bersedia?"


Deg..........


Hati Violin seakan teriris dengan pertanyaan papa Bian.Violin nampak terdiam bingung harus menjawab apa,sungguh Violin sudah merasa berat jika harus melepas Bian.


Dengan keberaniannya Violin pun menjawab.


"Memang itu akan terasa sulit untuk Saya Om Tapi jika untuk kebaikan Bian.saya tidak bisa berbuat banyak." ucap Lirih Violin yang sudah menahan air matanya yang hampir jatuh,Kini ketakutannya seakan menjadi kenyataan.


Chaow terseyum simpul kearah Violin.


"Tapi sepertinya Bian begitu menyukaimu Nona.Untuk saat ini aku akan melihat dulu seberapa kuat ikatan kalian untuk menghadapi perbedaan kalian yang cukup besar kedepannya.Jika kalian mampu membuktikannya kepada saya maka aku akan merestui hubungan kalian."


Violin tertegun dengan ucapan Chaow,Pria paruh baya itu seakan memberi kesempatan padanya.Ada rasa lega dihatinya.


"Terima kasih untuk kepercayaan Om,Saya akan berusaha sebaik mungkin."


"Dengan satu syarat,Jangan membuat Bian Terluka dan dalam keadaan bahaya."


"Baik Om"


Bian pun kembali duduk disamping Violin,ia melihat mata Violin yang memerah.


"Papa tidak bicara macam macam pada Violin kan?" curiga Bian pada Papanya.


"Tidak Nak hanya obrolan biasa"


"Semoga papa selalu ingat janji Papa,Yasudah Bian ajak Violin dulu kekamar Pa"


Bian menarik tangan Violin untuk berdiri.

__ADS_1


"Saya permisi dulu Om" Pamit Violin.


*Dia wanita yang polos dan dewasa pantas Bian begitu menginginkannya*Gumam Chaow setelah kepergian Bian dan Violin.


Bian mengajak Violin menaiki tangga lalu memuju kamarnya.


Sebuah kamar yang luas dan mewah dengan cat warna hitam dan abu yang mendominasi seakan menguatkan sisi maskulin sipemilik.


Violin memandangi sekeliling Kamar Bian yang terlihat rapi dan juga harum.


Violin menatap dalam Bian yang sedari tadi sudah menatapanya curiga.


" Katakan apa yang dikatakan Papa tadi?"Tanya Bian saat keduanya duduk dipinggiran ranjang king size Bian.


Bukannya menjawab Violin langsung memeluk begitu erat tubuh kekar Bian membuat Bian terkejut sekaligus heran.


Entah tiba tiba ada rasa ketakutan dihati Violin yang begitu besar jika Bian meninggalkannya.Kini Violin sudah menyadari sepenuhnya tentang perasaannya pada Bian.


"Jangan pernah meninggalkanku Bian,Kau sudah mencuri hatiku.Aku Mencintaimu"


Deg......Bian membulatkan matanya seakan tak percaya ucapan Violin barusan.


Bian menatap dalam kedua mata Violin yang sudah menangis.


"Kau tadi bilang apa Sayang?" ujar Bian memastikan.


"Aku mencintaimu,jangan tinggalkan aku" Ucap mantap Violin


Seyum terukir diwajah Bian.


"Aku juga mencintaimu Sayang,Aku tidak akan meninggalkanmu"


Pandangan mereka saling terpaut.Ada rasa bahagia dihati msing masing.


Hingga tak sadar Bian sudah membuat Violin berbaring diranjangnya.


Cup.......


Ciuman dibibir Violin semakin dalam,Dan untuk pertama kalinya Violin membalas ciuman itu,Tangan Violin sudah mengantung dileher Bian.


Pagutan mereka semakin dalam,Tangan Bian pun sudah mulai nakal dengan perlahan membuka kancing dres Violin hingga terbuka setengah badan.


Bian menurunkan Bibirnya dan mulai berani menciumi leher putih dan dada sintal Violin.Memberikan begitu banyak tanda merah kepimilikan dikulit putih Violin.


Violin benar benar terbuai dengan sentuhan Bian,sampai tak sadar Bian sudah membuka penutup dadanya dan bibirnya sudah bermain diujung dada Violin.


Violin mendesah kecil dan tubuhnya bergetar saat Bibir Bian semakin nakal menghisap ujung dada Violin yang sangat disukai Bian.


Violin segera menyadari pergulatan panas mereka sebelum lebih jauh lagi.


"Bian hentikannn " Lengguh Violin menahan hasratnya.


Bian yang belum puas bermain itu menghentikan aksinya.


" Manis Sayang,Aku suka"Ucapnya spontan membuat rona kemerahan dipipi Violin.


"Sudah Bian,Kita sudah terlalu jauh,Kau sudah membuatku setengah telanjang Bian"


"Maaf Sayang,Aku juga pria Normal.Secepatnya aku akan menikahimu"


Violin hanya mengangguk,Dan Bian segera merapikan lagi bra dan dres Violin yang sudah ia buka tadi.


"Kau ini sangat nakal Bian,sudah berani menyentuh dadaku" ucap Kesal Violin.


Bian hanya terkekeh.


"Sepertinya aku ketagihan Sayang,besok boleh minta lagi ya!Buat Vitamin penyemangat" Ucap nakal Bian.


"Biann........Tidak boleh.Nanti kalau kita sudah menikah Kau boleh sepuasnya memainkannya"


"Ayolah Sayang,,,Sedikit saja.....Jangan buat aku lemas..." Rengek Bian.


"Udah ah Ayo kita pulang,Kasihan Juna pasti menungguku"


"Asal besok besok boleh ya Sayang sedikit aja" Ujar Bian yang masih nakal.

__ADS_1


Violin mendengus kesal,Beginilah jika berpacaran dengan pria muda.Pasti memiliki hasrat yang begitu tinggi yang susah untuk ditahan.Jiwa muda yang harus bisa Violin imbangi.


__ADS_2