Mencintai Hot Momy

Mencintai Hot Momy
Terkejut


__ADS_3

Terima kasihnya bagi yang masih setia menunggu.


Maaf Author ucapkan,Karena kesalahan pengaturan waktu keluarnya novel baru,Jadi sekarang Author harus menulis 5 novel sekaligus.Jadi harap maklum ya.... hapy reading ya......


@@


Pagi menjelang,udara terasa segar dan sinar mentari mulai masuk kedalam celah ruangan.


Violin yang merasa ada sesuatu yang berat menindih perutnya pun perlahan terbangun.


Matanya membulat sempurna saat melihat wajah Bian tertidur pulas disampingnya.Ia begitu terkejut dengan keberanian Bian.


Violin terpaku dengan ketampanan Bian,


Perlahan tangannya mengusap lembut pipi Bian dan menatap lekat wajah tampan itu."Sangat tampan"gumannya dalam hati.


Bian yang sebenarnya sudah bangun dari tadi dengan cepat menahan tangan Violin yang berada diwajahnya.


"Sudah puas menatap wajah tampanku Sayang" ucap serak Bian yang sudah menatap tajam kearah Violin yang sudah merasa gugup dan malu.


"Kenapa kau tidur disini?" ucap Violin dengan suara ketus.


"Aku ingin menjagamu.Ternyata kau sangat imut saat tidur"


Rona merah muncul dikedua pipi Violin.


"Biannnnnmm jangan menggodaku!"


"Jangan malu Sayaaang,,"


"Sudahlah aku mau bangun melihat Juna"


Saat hendak bangun Bian menahan tubuh Violin hingga terbaring lagi.


"Tunggu Sayang kau harus memberiku kecupan pagi yang hangat dulu!''


Violin spontan memukul lengan Bian.


" Bian jangan macam macam!"


"Aku hanya minta satu macam.Ayolah...jika tidak aku tidak akan melepasmu dari ranjang"


Violin bingung harus bagaimana,Wanita cantik itu masih merasa canggung.


"Ayo lakukan,disini!" perintah Bian tegas sambil menunjuk kearah bibirnya.


Dengan terpaksa Violin melakukannya.


Cup......satu kecupan kilat jatuh kebibir sexi Bian.


Setelah melakukannya Violin langsung beranjak dari ranjang.


"Morning sayangku dan terima kasih ya" Ucap Bian dengan seyum penuh kemenangan.


Violin melirik Bian dengan wajah cemberutnya lalu berjalan kekamar sang putra.


Tak lama Violin kembali dan mendapati Bian sedang duduk dipinggiran ranjang sambil memainkan ponsel pintarnya.


"Aku ingin mandi Sayang,Mana handuk untukku!" ujar Bian melihat Violin masuk.

__ADS_1


Violin sungguh dibuat heran dirinya sekarang seakan akan sekarang sudah bersuami.Tapi entah kenapa dirinya juga tak mampu untuk melawan perintah Bian.


Violin mengambil sebuah handuk dari dalam lemari lalu memberikannya pada Bian.


"Aku akan berangkat kekantor dulu tapi nanti siang aku akan mempertemukan mu dengan orang hebat yang akan menolong kasusmu!" ujar Bian lalu masuk kedalam kamar mandi.


Violin hanya diam dengan banyak pertanyaan dikepalanya.


Violin segera pergi kedapur untuk membuat sarapan lalu segera memandikan Juna.


"Selamat pagi Uncle Bian!" Sapa Juna yang sudah terlihat tampan saat duduk disamping Bian yang juga sudah terlihat rapi dengan setelan jasnya.


"Pagi tampan."jawab Bian dengan seyum manisnya.


"Kenapa wajah Ungle merah merah?" tanya Juna polos.


Violin dan Juna mampak kaget dengan pertanyaan anak berumur 4 tahun itu.


"Hmmm sayang,Om Bian habis jatuh jadi mukanya merah merah gitu.Sekarang kita sarapan ya,Nanti kamu terlambat kesekolah Lho." ujar Violin berbohong.


Bian hanya terseyum tipis mendengarnya.


Memang luka akibat perkelahiannya dengan Miko semalam masih begitu terlihat.


",Ayo Boy,Uncle antar kamu kesekolah"


"Ayo Om,Let's go.....!" Semangat Juna lalu mencium pipi kiri Violin.


"Belajar yang tekun ya Sayang" ucap Violin sambil mengusap lembut kepala putranya.


Tak kalah Bian juga mencium Pipi kanan Violin sebelum pergi.


Segera Bian menggandeng tangan mungil Juna kedalam mobil mewahnya.


Hati Violin begitu bahagia melihat seyum indah Juna saat bersama Bian.Sungguh mereka terlihat sangat kompak.


Tak lama setelah Bian dan Juna pergi,Violin yang sudah bersiap berangkat keCofee Shop dikejutkan dengan kedatangan beberapa pria bertubuh tinggi besar dengan pakaian yang sama yaitu stelan jas hitam dan aerphone yang terpasang ditelinga kiri mereka.


"Siapa Kalian?" Tanya Violin yang merasa heran bercampur takut.


Salah seorang dari mereka maju.


"Selamat pagi Nona Violin,Kami Bodyguard yang diutus Tuan Bian untuk menjaga anda dan putra anda.Mulai sekarang anda tidak diperbolehkan menaiki motor,karena kami akan mengantar anda kemana saja dengan mobil yang sudah disiapkan tuan Bian"


Sungguh Violin dibuat terkejut sekaligus merasa bahagia,Bian begitu perhatian dan khawatir padanya.


"Kenapa tadi Bian tidak bilang padaku!"


"Mungkin ini kejutan untuk anda Nona,Mari kami antar!" Ujar salah satu bodyguard itu.


Mau tidak mau Violin pun berangkat keCoofee shop dengan orang orang tersebut.


Sampai DiCofee Shop,Kak Veru dibuat terkejut dengan kedatangan adiknya dengan pria pria yang terlihat menyeramkan itu.Para bodyguard itu lalu berjaga diluar cofee shop dan ada satu orang yang berjaga didalam.


"Kenapa kau datang bersama mereka Violin?'Tanya Veru yang merasa heran.


"Mereka suruhan Bian Kak,Katanya untuk menjagaku dan Juna!"


",Wah...Bian kelihatannya begitu mengkhawatirkan kalian.Dia pasti tahu Miko orang yang cukup nekad.Kakak jadi penasaran apa perkerjaan Bian,Lin.Sampai bisa menyewa mereka!"

__ADS_1


"Entahlah kak,Aku juga tidak tahu,Ayo kita lanjut bekerja Kak."


Mereka pun mulai disibukkan dengan pekerkaan diCofeeShop.


Siang Hari,Waktunya Juna pulang Sekolah.


Seperti biasa Bian sendiri yang menjemput Juna.Tapi kali ini Bian tidak sendiri dia datang bersama satu dua orang pria paruh baya yang berpenampilan rapi mengenakan Jas Formal seperti Bian.


"Mamaaa",Pekik Juna lalu memeluk.Violin.


"Kau sudah pulang sayang,Ayo ganti baju mu dulu" perintah lembut Violin.


Setelah Juna pergi kebelakang Bian mendekat.


"Kita kita bicara disana Violin" perintah Bian pada Violin.


Violin yang masih bingung mengikuti Bian duduk bersama dua orang tadi juga diikuti Veru.


"Perkenalkan mereka adalah Pengacara pribadiku yang akan mengurus Kasus Hak asuh Juna.Mereka adalah pengacara handal yang sudah sangat berpengalaman." Jelas Bian mantab.


Violin lagi lagi dibuat terkejut dengan sikap Bian,Pria muda itu benar tak main main dengan ucapannya semalam.Violin sungguh dibuat tercengang dengan keseriusan Bian.


Sama halnya dengan sang adik,Veru juga dibuat terkejut,pasalnya ia tahu salah seorang dari mereka kerap muncul ditelevisi sebagai pengacara hebat.


"Perkenalkan Saya Hendra dan ini Putut rekan saya Nona.Kami akan menangani kasus anda bersama team kuasa kami yang lain." Ucap Pengacara yang bernama Hendra sambil mengulurkan tangannya.


Violin dan Veru secara bergantian bersalaman dengan Hendra dan Putut.


"Jadi Nona,Mulai sekarang kami akan sering menghubungi anda untuk menanyakan latar belakang dan kehidupan anda dan putra anda untuk mendalami kasus ini.Kami juga akan berusaha sebaik mungkin agar Hak asuh Putra anda jatuh ketangan anda secepatnya!"jelas Pengacara Putut.


" Benar Nona Anda hanya perlu memberikan semua bukti yang anda punya untuk memberatkan pihak lawan dan sisanya biar kami yang akan mengurusnya."Timpal pak Hendra.


"Terima banyak karena bapak bapak mau membantu saya" ujar Violin sopan.


"Sama sama Nona,itu sudah menjadi tugas kami."


Stelah beberapa saat Bian pun berpamitan pergi bersama para pengacara itu karena ia harus kembali kekantor.


"Sayang Aku harus kembali kekantor dulu,Siapkan makan malam untukku ya!" Ujar Bian lembut.


"Iya,hati hati"jawab Violin dengan seyum indahnya.


Sebelum beranjak dari Cofeeshoop,Bian seakan memberi kode pada para bodyguard suruhunannya untuk menjalankan tugas dengan baik.


Violin menatap kepergian Bian dengan pengacara pengacara itu.


"Lin,Apa kau tidak merasa curiga dengan Bian?Siapa dia sebenarnya hingga rela mengeluarkan begitu banyak uang untuk menyewa bodyguard dan pengacara mahal itu,Apa kau tidak ingin tau siapa dia Lin?" ujar Veru yang memang sekarang semakin penasaran dengan sosok Bian yang misterius.


Violin menatap dalam Veru.Pikirannya berkecambuk.


"Sebenarnya aku juga ingin tahu Kak,tapi sepertinya Bian sengaja menyembunyikan jati dirinya,Mungkin belum waktunya aku tau siapa sebenarnya dia,Yang menjadi fokusku sekarang adalah Juna Kak."


"Kau benar,Tapi sepertinya kau harus banyak berterima kasih padanya Lin.


"Aku tahu kak"


Violin merasa bingung sekarang harus bagaimana.Dilain sisi perasaannya untuk Bian baru sebatas nyaman dan tenang,semantara dilain sisi Bian semakin terlihat serius dengan melakukan semua hal yang membuatnya selalu merasa bahagia,aman serta kagum.


Violin pun mencoba membuka hati nya untuk menerima perasaan Bian yang terlihat begitu tulus padanya.

__ADS_1


__ADS_2