
Setelah menunggu Juna sampai tertidur kembali,Bian keluar kamar menuju ruang tamu bersamaan dengan Violin yang baru keluar dari kamarnya.
Pandangan Bian tak beralih melihat
penampilan Violin yang memakai kaos pendek dan celana pendek selutut.leher jenjangnya yang putih begitu terlihat karena wanita itu menyepol keatas rambut panjangnya.Terlihat lebih muda dari usianya.
"Sudah mandinya??"tanya Bian yang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya didinding sambil melipat kedua tangan didadanya.
Violin hanya mengangguk sambil berusaha menghiraukan pria itu.
" Ambilkan aku handuk,aku juga ingin mandi.gerah......!"
Violin menoleh cepat sambil melotot kearah Bian.
"Apa???"
"He....kenapa malah melototiku,cepat ambilkan aku handuk,ini kan hampir malam jadi buatkan aku makanan!!
Wanita itu semakin merasa sebal,Pria semakin seenaknya sendiri memerintahnya.
Dengan wajah yang cemberut Violin kembali kekamarnya lagi mengambil handuk untuk Bian.
" Ini...mandi saja dikamar juna..!!ucap Violin dengan nada kesal.
"Aku akan mandi dikamarmu setelah kita resmi menikah...!!!''ucap Bian dengan santainya sambil berlalu meninggalkan Viollin yang tertegun degan ucapan pria muda itu.
" Ucapan pria itu semakin ngawur saja"gumam Violin dengan wajah cemberutnya.ia pun segera menuju kedapur untuk membuat hidangan makan malam.
Violin lebih suka masak nasi goreng dengan campuran sayuran,sosis dan telur.
Setelah beberapa saat selesai memasak dan meletakkan dimeja makan,Violin kekamar Juna.
Violin tadi juga sempat menelepon kakaknya untuk memberi kabar kalau panas Juna sudah turun.
"Makanannya sudah siap.ayo makan...!" ucap Violint yang sudah berdiri disamping Bian yang sedang duduk menemani Juna yang sedang tidur.
"Ayo,aku sudah lapar..!"
Bian pun langsung berdiri dan berjalan mendahului Violin.
__ADS_1
"Nasi goreng ya,aku juga suka..." ucap Bian yang sudah duduk.
Mereka berdua makan dengan suasana hening.Violin hanya diam berusaha menghiraukan Bian yang dari tadi menatapnya.sedangkan Bian terseyum simpul memandang kearah Violin seakan dia tahu apa yang ada dipikiran wanita itu.
"ini sangat enak...aku jadi merindukan masakan ibuku...!ucap Bian memecah keheningan.
"Kalau kau rindu kenapa tidak meminta ibumu memasakkan untukmu?" jawab Violin spontan.
Raut wajah Bian berubah menjadi datar.
"Ibuku sudah meninggal saat aku berusia 10 thun."
Seketika Violin merasa tidak enak dengan pria dihadapannya.ia menyesali ucapannya.
"Maaf aku tidak bermaksud membuatmu sedih.." ucap Violin sambil menundukkan kepalanya.
Bian terseyum melihat rasa penyesalan diwajah wanitanya.
"Tidak apa apa.Setidaknya sekarang ada kau yang akan memasakkan makanan untukku setiap saat!!"ujar Bian penuh penekanan.
Violin langsung tersedak mendengar ucapan pria muda didepannya.
"Setiap Saat kau bilang.......apa maksudmu..??"ucap violin setelah merasa baikan dengan nada malas.
" iya setiap saat,karena mulai sekarang aku akan sering berada didekatmu dan Juna."jawab Bian dengan menaikkan alisnya.
Violin mencoba diam tidak mau meladeni ucapan pria itu yang terdengar konyol baginya.bagaimana mungkin seorang pria yang baru dikenalnya selama dua minggu ini akan berada didekatnya terus.
Setelah selesai makan Violin membawa piringnya kedapur untuk mencucinya,tapi tiba tiba Bian berada dibelakangnya dengan jarak yang sangat dekat sambil memajukan wajahnya sejajar dengan wajah Violin.
"Aku saja yang mencuci piringnya!!" ucap Bian Lirih sontak membuat violin kaget dan langsung berbalik.
Deg...
Pandangan mereka beradu sangat dekat.hati keduanya berdesir kuat,tapi dengan cepat Violin tersadar dan langsung mendorong tubuh Bian untuk menjauh dan dia berbalik lagi melanjutkan cuci piringnya.
"minggir biar aku saja!kau kan sudah capek memasak jadi biar aku yang membereskan ini.duduklah!!'perintah Bian yang sudah berdiri di samping Violin.
Wanita itu pun menurut dan membiarkan pria itu membereskan semuanya,ia lebih memilih pergi kekamar putranya melihat keadaannya.
__ADS_1
Sampai dikamar Violin mengusap lembut kening putranya.membuat juna membuka matanya pelan.
" Mama dimana om Bian?"pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir mungil putranya saat terbangun dari tidurnya."
"Om disini tampan....." suara bian dari belakang violin.
"Om,Jangan tinggalin Juna ya....Juna bahagia bisa bersama om....apalagi kalau om mau jadi papa Juna." ucap anak kecil itu dengan lirih.
Sontak kedua bola mata Violin melebar mendengar pernyataan putranya itu.ia tak menyangka Juna sudah sangat cocok dan dekat dengan pria itu.
Lain halnya dengan Bian yang terseyum kemenangan dan melirik kearah wanitanya.
"Om tidak akan meninggalkan Juna dan dengan senang hati Om akan menjadi papa Juna....oky...tapi malam ini Om harus pulang dulu.ada hal yang harus om kerjakan,kau mengerti tampan..!!"
Juna mengangguk pelan meskipun dia sebenarnya tidak mau Bian pulang.
"Om besok kesini lagi...kau harus sembuhya..mimpi indah boy....!!!" ucap Bian sambik mencium kening Juna lalu berjalan keluar kamar.
Violin yang melihat kasing sayang pria itu pada putranya yang begitu besar membuat hatinya merasa tersentuh.
Violin lalu berjalan mengantar Bian sampai didepan pintu.
"Terima kasih untuk waktu dan perhatianmu pada Juna.dan hati hati dijalan."ucap Violin yang sedikit menundukan kepalanya.
Bian terseyum lalu berdiri mendekati Violin.
" Aku sudah menganggapnya seperti putraku sendiri,sebenarnya aku tidak ingin pulang aku ingin selalu didekatmu dan Juna tapi ini belum saatnya."ucap Bian dengan memandang lekat kearah Violin.
"Apa maksudmu??" cepat pulang ini sudah malam!!"
"Nanti kau juga tahu maksudku.....Kau ini mengusirku ya..yasudah aku pergi dulu,Tidur yang nyenyak dan mimpikan aku Honeyku...." ucap Bian lalu keluar dari rumah itu.
Tapi baru beberapa langkah kakinya terhenti dan menoleh kebelakang.
"Jangan pernah berani menemui pria lain...karena aku tidak suka!!!!"
ucapnya lantang lalu pergi berlalu.
Violin dengan cepat menutup pintunya.
__ADS_1
"Dasar pria gila.....memangnya siapa dia berani mengatur hidupku......yaTuhan aku akui dia sangat tampan,berada didekatnya sangat menguras pikiran dan hatiku yang selalu berdebar kuat,Tapi aku masih tidak mau memikirkan hal ini....bagaimana ini...bagaimana caranya aku bisa menghindarinya....ahhhhh" gumamnya sambil tangannya memegang kepalaya yang terasa pusing.