
Setelah persidangan Miko dan Siska kembali kerumahnya,Tersirat jelas kemarahan diwajah Miko karena ternyata dari pihak Violin memiliki bukti bukti yang merugikannya.
"Sialan....ini semua pasti karena pengacara pria itu!"
Siska yang sedari tadi hanya diam akhirnya bertanya."Sayang apa pria muda tadi kekasih Violin?"
Pertanyaan Siska sebenarnya membuat Miko semakin geram tapi Dia masih bisa menahannya.
"Sepertinya iya"
"Siapa dia,Sepertinya dia bukan orang biasa?Tanya Siska yang merasa penasaran.
" Dia Bian,CEO TNW group."
Seketika kedua mata Siska terbelalak karena kaget."Kenapa pria muda sehebat dia bisa menyukai Violin?"
Siska semakin iri dengan Violin karena bisa dicintai oleh pria sekaya dan setampan Bian.
"Entahlah....." Jawab sarkas Miko yang merasa kesal jika ingat Bian.
"Sepertinya mantan istrimu itu memiliki dukungan yang kuat,Lalu apa langkahmu jika kau kalah?"
Miko menatap tajam kearah Siska istrinya.
"Aku harus menang Siska,Tapi jika sampai aku kalah aku tetap akan merebut Juna dengan cara apapun!"
Siska hanya bisa diam melihat ekspresi suaminya yang begitu menakutkan.
Keesokan harinya.
Dibandara Ngurah Rai,Bali.
Terlihat seorang gadis berpenampilan modis berjalan sambil menatik kopernya.
Gadis cantik itu terseyum saat sudah melihat orang yang akan menjemputnya.
Tivany pimcanok,24 thn.Gadis cantik berdarah Thailand indonesia.Yang merupakan teman kecil Bian waktu tinggal di Thailand dulu.Tivany adalah putri dari sahabat Papa Bian yang sama sama orang asli negri gajah putih itu.
Tivani yang sudah lama berkuliah diJerman akhirnya pulang keIndonesia setelah resmi menyandang gelar dokter spesilis bedah.
Tivany sejak kecil sudah menyukai Bian,Tapi tak berani mengungkapkan karena sikap dingin Bian padanya.
Tivani yang baru sampai langsung memutuskan untuk datang menemui Bian dikantornya.
Tak lama gadis cantik itu sampai diperusahaan pencakar langit TNW Group.
Seyum mengembang sebelum ia masuk kedalam.
Banyak pasang mata melihat dan kagum padanya.Selain cantik,tubuh Tivany bak model papan atas.
Alex yang sudah mengetahui siapa Tivany merasa terkejut dengan kedatangan Gadis berambut coklat itu.
"Nona ada disini?" Tanya Alex saat Tivany mendekat kearah ruangan Bian.
"Hay alex.Aku baru saja tiba dari Jerman.Apa Bian ada?Aku ingin menemuinya!"sapa Tivany dengan suara manjanya.
"Tuan sedang sangat sibuk Nona.Sebaiknya Anda pulang saja!"
Tivany tidak mendengar perkataan Alex dan langsung membuka pintu Bian.
Ceklekkkk.
"Biannnnnnm..." Pekik Tivany.
Bian yang sedang fokus pada layar laptopnya pun menoleh dan seketika merasa terkejut.
"Tivany.....kapan kau kembali?"
"Maaf Tuan,Nona sudah saya peringatkan tapi nekad masuk" ujar Alex.
"Hmm ,Kau bisa keluar alex"
Setelah Alex keluar,Tifany mendekati Bian dan langsung mencium pipi Bian.Cuppp...
__ADS_1
"Aku merindukan mu Bian!"
Bian merasa risi dengan Sikap Sahabat kecilnya itu.
"Kapan kau pulang?Apa kuliahmu sudah selesai?" Tanya Bian yang masih duduk dikursi kebesarannya sedangkan Tivany sudah duduk disofa.
"Aku baru saja tiba Bian.Dan sekarang aku sudah menjadi dokter bedah."
"Selamat Tivany akhirnya cita citamu terwujud"
"Hmmm,Apa kau sibuk hari ini.Aku ingin mengajakmu makan malam"
Bian nampak.berfikir sesaat.
"Maafkan aku,pulang dari kantor aku harus pergi kesuatu tempat"
"Kemana?Apa ketempat kekasihmu?" Tanya Gadis itu penuh Selidik,ada rasa khawatir jika Bian sudah memiliki kekasih.
Bian terseyum simpul tanpa berkata apapun.
Jelas sudah sekarang,lewat seyuman itu Tivany yakin kalau Bian telah memiliki Kekasih.Hati Tivany sungguh merasa sakit.
"Jadi benar ya kau sudah memiliki kekasih,Siapa dia?"
"Nanti kau juga mengenalnya!"
Tifany lalu mengingat cerita Bian dulu tentang cinta pertama Bian saat remaja.
"Apa dia wanita yang kau maksud dulu?"
"Kau masih ingat rupanya!" jawab Bian cepat.
Tifany merasa sangat terkejut,Dia sungguh tak mengira Bian masih setia dengan cinta pertamanya.Dan itu artinya wanita itu lebih tua dari usia Bian.Tivany semakin penasaran dengan sosok Violin.
"Apa boleh aku bertemu dan mengenalnya?" Tanya Tivany tanpa ragu.
Bian mengerutkan alisnya.Mencoba menimang nimang apakah baik mengenalkan Tifany dengan Violin.
"Baik,Ikutlah aku nanti,Tapi bawalah mobil sendiri karena aku cukup lama disana!"
"Oke tidak masalah."
Sorenya.Bian dan Tivany menuju Cofeeshop Violin.
Bian melihat Juna sedang bermain bola kecil dengan para bodyguard suruhannya diluar Coofee shop.
Bian pun menghampiri anak tampan itu.
"Siapa Anak itu Bian?"Tanya Tifany yang melihat Bian mendekati Juna.
"Dia anakku" Jawab Spontan Bian.
Tifani melebarkan kedua matanya.
"Jangan bercanda Bian.!"
"Siapa yang bercanda,Memang sebentar lagi dia akan menjadi Anakku!" jawab Bian santai
"Jadi dia adalah anak wanita itu?'Tanya Tifany yang lagi lagi merasa terkejut.
Bian hanya terseyum lalu berjalan kembali kearah Juna.Dan para bodyguard suruhannya langsung memberi hormat pada Bian.
" Selamat sore Tuan Bian"sapa salah satu dari mereka.
"Sore.Apa semuanya aman?" Tanya Bian penuh wibawa.
"Semuanya terpantau aman Tuan."
"Kerja bagus.Terima kasih kalian juga menemani Juna bermain"
"Sama sama Tuan.sudah tugas kami"
Bian terseyum kearah Juna yang masih fokus memainkan Bola.
__ADS_1
" Hay tampan,sedang main bola ya?"
Juna menoleh lalu memeluk Bian erat.
''Iya Om...Siapa tante ini?"Tanya Juna setelah melihat wanita yang berdiri disamping Bian.
"Dia tante Tifany,Teman Om Bian"
",Hallo tampan.Siapa namamu?" Tanya Tifani yang memang menyukai anak anak.
"Namaku Juna tante." jawab Juna dengan muka lucunya.
Tifany mengusap lembut kepala Juna.
"Om dan tante kedalam dulu ya.Kamu lanjutkan main lagi"
Juna mengangguk sambil terseyum manis.
Setelah masuk,Bian melihat Violin sedang sibuk melayani pengunjung yang sudah mengantri.
Sementara Siska melihat kesekeliling ruangan Cofeeshop yang terlihat tidak terlalu besar tapi nampak bersih dan nyaman.Dengan pernik dan aksen furniture khas anak muda jaman sekarang.
Bian mengajak duduk Tifani dikursi yang kosong.
Tak lama Violin yang sudah tidak repot tak sengaja memandang kearah Bian dan mendekatinya.
Bian yang melihat Violin mendekat terseyum simpul lalu berdiri.
"Kenapa duduk disini?" Tanya Violin yang sudah berdiri disamping Bian membelakangi Tifany.
Sontak Tifany menoleh,Dilihatnya wanita cantik bermata bulat bertubuh mungil dan masih terlihat sexi,berkulit putih dengan rambut panjang hitam yang dikucir kuda.Sungguh Violin terlihat seperti gadis muda yang belum memiliki anak.Tifany tak menyangka wanita yang dicintai Bian masih terlihat imut dan awet muda.
"Siapa dia Bian?" Tanya Violin setelah melihat Tifany yang nampak cantik dan fasionable.
"Sayang kenalkan dia Tifany teman dari aku kecil" ujar Bian.
Tifany mengulurkan tangannya lalu disambut Violin dengan seyum indahnya.
"Tifany Pimcanok"
"Violin."
"Sebentar ya aku ambilkan minuman dulu" Violin lalu berjalan kemeja bartender untuk membuat dua gelas minuman.
Tak lama Violin kembali sambil memvawa dua gelas minuman coklat ditangannya
"Silahkan Minum nona" Ujar Violin setelah meletakkan minuman itu keatas meja lalu duduk disamping Bian.
Bian yang sudah rindu,Menggenggam tangan Violin erat dan itu bisa dilihat oleh Tifani dengan jelas.
Tifany merasa sangat cemburu dengan kedekatan Bian dengan Violin.Tapi ia juga tak bisa berbuat banyak,sementara Violin merasa ada yang aneh dengan tatapan Tifany pada Bian.
Saat pengungjung berdatagan lagi,Violin meninggalkan keduanya dulu untuk membantu sang Kakak yang terlihat kerepotan.
Dari jauh Violin bisa melihat Sikap Tifany yang mencoba untuk dekat dengan Bian,Violin juga melirik saat keduanya terlihat sedang bercanda.Entah ada rasa sedikit sesak dihati Violin melihat Bian dekat dengan wanita lain tapi Violin masih bisa menutupinya.
Violin kembali ikut bergabung duduk disamping Bian.
Sesekali mereka berbincang akrab,Tifani lebih banyak mengajukan pertanyaan pada Violin.Dengan tenang dan lembut juga bersikap dewasa Violin menjawab Pertanyaan Tifany.
Bian hanya diam mendengarkan obrolan keduanya.
Tifany kini tahu kenapa Bian sangat mencintai Violin,selain baik dan murah seyum Violin juga sangat dewasa,lembut dan cerdas.Violin juga seorang wanita yang sederhana dengan sikap keibuannya.
Tak lama Tifany pamit pulang terlebih dulu.Ia merasa tidak sanggup lagi melihat kedekatan Bian dengan Violin.
,Cupp....
Tifani mencium pipi Bian didepan Violin,dan itu adalah hal biasa menurutnya.
"Aku pulang dulu ya Bian dan sampai jumpa lagi Violin." Pamit Gadis cantik itu lalu pergi dari tempat itu.
Violin hanya diam mematung setelah kepergian Tifany,Sementara Bian bingung harus bersikap bagaimana,Perasaannya langsung terasa tidak enak saat melihat ekspresi wajah Violin.
__ADS_1