
Waktu cepat berlalu,Hari ini adalah sidang kedua untuk kasus perebutan hak wali asuh untuk Juna.
Seperti kemarin Bian menemani Violin didampingi Team kuasa hukumnya dan banyak Bodyguard yang mengawal mereka.
Selama seminggu ini,Pengacara Hendra bersama teamnya mencari bukti yang kuat untuk menjatuhkan Miko.
Mobil mereka pun tiba didepan gedung pengadilan tinggi kota Denpasar Bali.
Bian turun dari mobil lalu mengandeng tangan Violin dengan aura wibawanya yang begitu kuat.
Mereka duduk berdampingan bersama pak Hendra dan rekan rekannya setelah sampai diruangan sidang.
Bian sempat melirik kearah Miko dan siska yang duduk disebrang mereka.
Pandangan Miko begitu tajam pada Bian.Sementara Bian membalas dengan seyum devilnya.
Sidangpun dimulai.Adu argumen dan bukti bukti pun tak bisa dihindari lagi.Violin menahan rasa marahnya mendengar ucapan pengacara Miko yang terlihat menyudutkannya.Bian terus berusaha memberi kekuatan dan ketenangan pada wanitanya.
Tiga jam berlalu.
Keputusan pun akan segera dibacakan.
Semua terlihat begitu tegang,Violin nampak menutup matanya sesaat untuk mengucapkan doanya.
Akhinya Hakim memutuskan Hak asuh Juna jatuh Ketangan Violin hingga Juna berusia 17 tahun dan bisa memilih untuk tinggal bersama siapa.Dan Miko diberi kesempatan untuk bisa mengunjungi Juna.Miko juga berkewajiban memberi uang untuk biaya sekolah dan kehidupan Juna.
Violin terseyum lega Sungguh dia begitu bahagia hingga tak sadar memeluk Bian.
Perlahan mereka meninggalkan ruangan itu.
"Kerja bagus,Nanti aku akan mentransfer bonus kerekening kalian" Ujar Bian pada para team kuasa hukumnya.
"Terima kasih Tuan Bian,Senang bisa membantu anda" Jawab Pengacara Hendra.
Violin begitu merasa penasaran dengan berapa bonus yang diberikan kepada para pengacara yang berjumlah 10 orang itu.
Para pengacarapun memberi hormat pada Bian lalu berpamitan pergi kearah yang berbeda.
Diparkiran Miko yang tidak terima langsung mendekat dan mencekal kuat pergelangan tangan Violin hingga Violin hampir terjatuh jika saja Bian tak menahan tubuhya.Dan para bodyguard Bian yang tadi sempat lengah langsung mencekal tubuh Miko agar menjauh dari Bian dan Violin.
"Apa yang kau lakulan Breng....k?" Geram Bian.
"Hahhhh Kalian jangan senang dulu,aku belum kalah,apapun caranya Juna akan bersamaku!"
"Ternyata kau tidak mau kalah ya,Apa kau berusaha melawan hukum?" Ucap Bian yang sudah memeluk Violin yang ketakutan.
"Aku tidak perduli.Juna adalah putraku.Dia harus bersamaku.Lepaskan aku kau jangan jadi pria pengecut yang berlindung dibalik para bodygurdmu ini" Ajek Miko pada Bian.
Bian pun memberi isyarat pada para pengawalnya untuk melepas Miko.
"Miko aku memberimu kesempatan untuk bisa mengunjungi Juna dua kali dalam seminggu Dan aku tidak akan menerima uang darimu,Apa itu belum ckup?" Ujar Violin yang kini sudah bediri tegak disamping Bian.
__ADS_1
"Tentu itu belum cukup Olin,Aku ingin selalu bersama Juna!" ucap Lantang Miko yang emosi.
"Kau gila,Jangan pernah bermimipi mendapakan Juna.Ucap Bian dengan seyum mengejeknya.
Bukkkk...
Tanpa menjawab Miko dengan gerak cepat memukul wajah Bian hingga Keluar darah diujung bibir pria tampan itu.
"Arrrhhhh...."Pekik Violin yang langsung mendekat Bian yang sedikit oleng.
Para bodyguard Bian menyekal tubuh Miko lagi.
"Aku akan ingat pukulanmu ini.Aku masih menghargaimu sebagai ayahnya Juna,Tapi tunggu pembalasanku Tuan Miko!" Ujar Bian dengan nada penuh penekanan dan sorot mata tajam.
"Aku tidak pernah takut melawanmu Bian!" Geram Miko.
Bian pun menarik tangan Violin untuk masuk kedalam mobil Dan segera melajukan Mobil Sportnya menuju rumah Violin.
Bian melirik kearah Violin yang terlihat takut dan cemas.
"Sudah jangan kau hiraukan ucapannya Sayang,Kita sudah menang atas kasus ini.Dia harus berfikir ulang jika ingin bertindak konyol" ujar Bian sambil mengenggam tangan Violin.Berusaha memberi ketenangan pada wanitanya.
"Tapi aku tetap merasa takut Bian.Miko itu orang yang sangat ambisius."
"Ada Aku yang akan selalu melindungi kalian,Jadi jangan terlalu khawatir.Ok"ujar Bian sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tak lama mereka sampai dirumah Violin.
Violin yang datang dari dapur membawa sebaskom air hangat berserta waslap dan salep.
Dengan lembut Violin mengompres sudut Bibir Bian yang membengkak karena pukulan Miko tadi.
Bian menatap lekat wajah cantik Bian yang seakan awet muda.
" Wajahmu tidak berubah Sayang dari dulu,Masih terlihat cantik dan imut"
"Jangan Gombal Bian....Masih sakit?" Tanya Violin memastikan kondisi bibir Bian.
"Ini akan langsung sembuh jika kau menciumnya" goda Bian.
"Bian jangan mesoom" kesal Violin.
Cup.....Bian dengan cepat mencium kilat bibir Violin yang membuat wanita itu terkejut.
Plakkkkk....Reflek Violin memukul lengan Bian.
"Sedang sakit masih bisa mesoom"
"Bibirmu ini canduku Sayang hehehe"
Violin menatap dalam Bian dengan ekspresi yang terasa beda oleh Bian.
__ADS_1
"Kenapa menatapku seperti itu Hmmm??" Tanya Bian.
Mereka duduk bersebelahan dengan jarak yang dekat.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Violin ragu.
"Tanyakanlah" jawab Bian.
Bian melihat keraguan dimata Violin.
"Kalau aku boleh tahu,berapa bonus yang akan kau berikan pada para pengacara itu?"
"100 Juta" Jawab enteng Bian.
"Apaa....???" pekit Violin yang kaget.
"Kenapa?''Bian merasa heran.
" Kenapa kau bilang,Bukankah itu nominal yang ckup banyak.Kenapa kau begitu murah hati?"ucap Violin.
"Itu tidak sebanding dengan Kebahagiannmu Sayang" Ucap Bian dengan seyum indahnya.
Mata Violin kini berkaca kaca.Ia sungguh merasa terharu dengan pengorbanan dan ketulusan hari pria muda nan tampan didepannya kini.
"Terima kasih...Aku tidak bisa membalas kebaikanmu ini" ucap lirih Violin.
Bian mengusap lembut Pipi Violin.
"Ada satu cara untuk membalasnya" Ucap Bian.
Kening Violin mengerut.
"Apa?"
"Mulai besok kau antar makan siang ketempat kerjaku.Dan itu harus masakanmu sendiri.Kau juga harus berdandan cantik untukku.Nanti biar supir yang mengantarmu ketempat kerjaku,Bagaimana kau mau?"
Dengan cepat Violin mengangguk mantab.
"Tentu aku mau,Hanya itu?"
Bian terdiam sesaat.
"Cium aku sekarang"pinta Bian jahil.
"Biannnnnnnn...Hentikan pikiran mesummu itu." Violin sungguh dibuat kesal dengan sikap mesum Bian.
Bian segera menarik tubuh Violin lalu ia peluk erat."Dengan cara apapun aku akan membahagiakan mu dan Juna.Jadi mulai sekarang jangan takut.Dan satu hal lagi bersandarlah padaku Violin Jika ada beban yang kau rasakan!"
"Terima kasih Bian" ucap Lirih Violin dalam dekapan Bian.
"Sama sama Sayang..." Cup......
__ADS_1
Bian mencium ujung kepala Violin penuh kasih sayang.