
Arkan perlahan membuka matanya, ia mendengar seseorang yang menangis disampingnya.
Dilihatnya Kanaya yang sedang meringkuk membelakangi Arkan, Arkan pun terkejut dengan apa yang dilihatnya ia kembali mengingat kejadian semalam. Arkan telah merenggut kesucian Kanaya dengan paksa.
"Kanaya," Perlahan Arkan menyentuh kepala Kanaya ia benar benar menyesal telah merusak masa depan Kanaya.
"Kanaya maafkan aku, ini semua salahku aku minta maaf."
Kanaya semakin menjadi menangis sesenggukan mendengar permintaan maaf dari Arkan.
"Segampang itukah Kakak minta maaf, Kak Arkan sudah merusak masa depanku." Teriaknya.
Ia juga bingung harus berbuat apa pada Kanaya yang menangis histeris dihadapannya.
Kanaya mencoba bangkit dan duduk kemudian ia berdiri dengan susah payahnya merasakan sakit di selangkangannya, perlahan ia melangkah dengan berjalan meninggalkan Arkan yang masih duduk di atas tempat tidurnya.
"Argh sial." Beberapa kali Arkan memukul dinding dengan keras membuat jarinya berdarah.
Lalu ia pergi ke kamar mandi untuk menenangkan pikirannya dibawah percikan air.
"Apa yang harus aku lakukan pada Kanaya, ini salah ku kenapa aku tak bisa mengendalikan nafsuku. Gara gara wanita sialan itu yang memasukkan obat perangsang di minumanku Argh." Arkan mengacak acak rambutnya dengan berteriak.
Kanaya yang berada di kamarnya ia masih menangisi nasibnya hingga matanya sembab, ia tak tahu harus berbuat apa sedangkan masa depannya sudah dihancurkan oleh Kakak tirinya.
Ting pesan masuk pada ponsel Kanaya.
"Kanaya ini sudah siang, kau tak akan pergi kuliah?" pesan yang dikirimkan oleh Nita.
Kanaya semakin menangis setelah membaca pesan dari Nita, ia tak ingin pergi kuliah lagi karena masa depannya sudah tidak diharapkan lagi.
***
Ana sudah kembali pulang dari Amerika tanpa sepengetahuan Arkan, ia sudah berada di halaman rumahnya Arkan dengan membawa sebuah koper.
"Pagi nona, anda sudah pulang."
"Iya bi, mas Arkan mana ya?"
"Masih di kamarnya nona."
"Baiklah, terima kasih bi tolong bawa koper kedalam ya."
Lalu Ana pun pergi menuju kamar Arkan ia ingin memberi kejutan untuk Arkan.
Ana perlahan membuka pintu kamarnya, ia melihat Arkan yang sedang duduk dengan memegang kepalanya.
Perlahan Ana berjalan mendekati Arkan, lalu ia menutup mata Arkan dari belakang.
"Siapa Kamu." Kata Arkan.
"Tralalala ini aku istri tercinta mu."
"Ana, sejak kapan kau pulang kenapa tidak memberitahu ku."
__ADS_1
"Kalau aku memberitahu mu bukan kejutan dong, kok kamu kaya gak senang aku sudah pulang. Biasanya kamu selalu menyambut ku dengan senyuman manis."
"Maaf sayang, aku sedang banyak kerjaan dan sedang banyak masalah di perusahaan ku." Arkan berbohong pada Ana ia tak akan menceritakan kejadian semalam, Ana pasti akan marah padanya dan Ana pasti akan memberitahu Louis Ayah mertuanya.
"Oh iya, Kanaya dimana ya?"
"Em aku tidak tahu, mungkin di kamarnya."
"Kalau begitu aku mau ketemu Kanaya dulu, rasanya badanku pegal aku ingin meminta dia yang memijat ku."
"Jangan." dengan cepat Arkan menghalanginya.
"Kenapa?"
"Biar aku saja yang memijat mu,"
Ana merasa aneh dengan sikap Arkan, Arkan tak pernah memijat badannya selama pernikahan tapi sekarang Arkan mau melakukannya.
"Sayang kamu serius, sejak kapan kamu mau memijatku."
"Aku serius demi kamu aku mau melakukannya."
Dengan senang hati Ana mendapat perhatian dari Arkan, padahal Arkan tak mau membuat Kanaya kecapean hanya gara gara perintah istrinya.
"Non Kanaya kenapa wajah mu sangat pucat sekali,"
"Aku gak apa apa bi, hanya sedikit meriang."
"Sejak kapan bi."
"Belum lama non."
Kanaya pun hanya menganggukkan kepalanya, entah kenapa setelah Arkan merenggut kesuciannya ia merasa cemburu pada Ana padahal Ana tak punya salah apapun padanya. Kanaya hanya ingin pertanggung jawaban dari Arkan yang sudah menghancurkan masa depannya.
"Hai Kanaya," Ujar Ana yang baru saja turun dari kamarnya.
"Eh Kak Ana sudah pulang ya, kok aku gak tahu."
"Iya ini kan kejutan buat kalian."
Arkan menatap Kanaya dengan perasaan bersalahnya, ia ingin meminta maaf pada Kanaya namun terhalang oleh Ana jadi ia hanya bisa menatap Ana dari jauh.
"Kanaya kenapa wajah mu pucat sekali." Tanya Ana.
"Aku sedikit meriang Kak."
"Kamu sudah minum obat?" Sambung Arkan.
Kanaya tak menjawabnya, ia hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau gita mari makan."
"Aku lagi nunggu bubur buatan bi Atum Kak, kalau gitu Kanaya mau makan di kamar saja ya Kak,"
__ADS_1
"Ya sudah kamu lagi gak enak badan kan, nanti biar bi Atum yang membawa buburnya kesana." Kata Ana.
"Iya Kak."
Kanaya pun kembali ke kamarnya dengan jalan sangat perlahan karena ia masih merasakan sakit di selangkangannya.
"Kanaya tunggu!" Panggil Ana.
"Ada apa lagi Kak."
"Kenapa jalan mu seperti yang kesakitan."
Uhuk uhuk Arkan tersedak makanannya, ia pun memperhatikan Kanaya dari atas hingga bawah.
"Aku kemarin jatuh dikamar mandi Kak dan ini masih sakit."
"Astaga Kanaya kamu ini ada ada saja, apa mau ku bantu ke kamar mu."
"Tidak usah Kak, Kakak lanjut makan saja."
Setelah sampai kamarnya Kanaya kembali menangis mengingat kejadian semalam apalagi ia melihat Ana dan Arkan bersama. Ada rasa cemburu dalam dirinya entah sejak kapan perasaan itu muncul.
"Mas kok aku merasa ada yang aneh dari Kanaya yah,"
"Apa maksudmu."
"Aneh aja gitu cara jalannya dia."
"Kan dia sudah bilang kalau dia jatuh."
"Iya juga sih mas, tapi aku merasa dia bukan karena jatuh. Apa jangan jangan Kanaya melakukan sesuatu dengan kekasihnya, aku melihat cara jalannya berbeda kalau jatuh tak mungkin seperti itu."
"Suts kamu tak boleh seperti itu Ana, Kanaya anak baik."
"Tapi aku melihat tanda merah di tengkuknya loh mas, dia seperti sudah bercumbu dengan kekasihnya."
"Ana aku bilang jangan berbicara seperti itu." Tegasnya membuat Ana heran dengan sikap Arkan.
"Loh kok mas malah emosi sih, kan aku hanya memberitahu mu bagaimana kalau memang benar."
Prangggg Arkan melempar piring yang masih berisi makanan nya ke lantai.
"Mas apa apaan kamu! apa kamu gila ya."
"Aku bilang jangan berbicara seperti itu Ana, jaga mulut mu itu." Kemudian Arkan meninggalkan Ana yang masih duduk menikmati makanannya.
"Ada apa dengan mas Arkan kenapa dia seperti itu, dulu ia sangat membenci Kanaya kenapa sekarang ia tak suka jika aku membicarakan Kanaya. Sangat aneh sekali tingkah suamiku setelah ku tinggal dua minggu."
Namun Ana tetap melanjutkan sarapannya ia tak peduli Arkan marah padanya.
Arkan terus saja mondar mandir ia bingung harus melakukan apa, ia ingin menemui Kanaya namun ia tak bisa karena sekarang ada Ana.
Hai readers jangan lupa beri like dan komentarnya ya. SELAMAT MEMBACA
__ADS_1